Ghazali Atharrazka adalah perwujudan dari presisi dan kedinginan yang sempurna. Sebagai Kapten termuda dengan rekam jejak tanpa celah, hidupnya diatur oleh jam dinding dan hukum militer yang kaku. Baginya, kesalahan adalah aib dan kecerobohan adalah gangguan yang harus dimusnahkan. Dia adalah pria dengan tatapan sedingin es yang mampu membungkam satu batalion hanya dengan satu kata.
Lalu hadir seorang bernama Keyra Azzahra
Seorang mahasiswi tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi dari kata chaos, Sebuah insiden memaksa mereka tinggal di bawah atap yang sama di lingkungan barak. Di antara derap sepatu laras dan aroma mesiu, mampukah si mahasiswi perusuh mencairkan hati sang Kapten yang membeku? Ataukah markas ini akan meledak karena ulah Keyra yang selalu di luar kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
INTEROGASI DI RUANG KELAM
Lampu pijar di ruang interogasi berayun pelan, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding beton yang lembap. Ruangan itu kedap suara, dingin, dan hanya berisi sebuah meja besi serta dua kursi yang dipaku ke lantai. Keyra duduk tegak, tangannya yang terbalut kemeja militer Ghazali yang kebesaran diletakkan di atas meja.
Letnan Sarah berdiri di sudut ruangan, membelakangi kamera pengawas yang sengaja ia matikan fungsinya untuk sementara.
---
"Lepaskan cincin itu, Dokter," suara Sarah terdengar datar, namun ada nada urgensi yang tertahan.
Keyra mengepalkan tangannya. "Tidak. Ini milikku."
Sarah melangkah mendekat, sepatu botnya berdentum keras di lantai beton. Ia membungkuk, menatap mata Keyra dengan tajam. "Jangan bodoh. Jenderal Aditama tidak mengirim Clarissa ke sini hanya untuk pamer gaun. Mereka punya alat pemindai frekuensi mikroskopis. Jika mereka menemukan chip itu di jarimu, mereka punya alasan hukum untuk mengeksekusimu di tempat."
Keyra tertegun. Ia menatap Sarah, mencoba mencari jejak pengkhianatan di wajah prajurit wanita itu. "Kenapa kamu membantuku? Bukankah kamu lebih suka jika aku pergi dari barak ini... dan dari hidup Ghazali?"
Sarah terdiam sejenak. Rahangnya mengeras. "Aku sudah bersama Ghazali di medan tempur selama tujuh tahun. Aku tahu dia tidak akan pernah memberikan cincin bahkan yang terbuat dari kabel rongsokan kepada wanita yang tidak ia percayai sepenuhnya. Jika dia mempercayaimu, maka tugasku sebagai bawahan setianya adalah memastikanmu tidak mati konyol di sini."
Sarah mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi antiseptik cair. "Berikan cincin itu padaku. Aku akan menyembunyikannya di dalam tabung oksigen darurat di ruang medis. Clarissa akan menggeledahmu sebentar lagi."
"Bagaimana aku bisa percaya padamu?" bisik Keyra.
"Kamu tidak punya pilihan, Dokter," Sarah melirik jam dinding. "Dua menit lagi Clarissa akan masuk dengan surat penggeledahan fisik. Pilihannya: serahkan padaku, atau biarkan Clarissa memotong jarimu untuk mengambilnya."
Dengan tangan gemetar, Keyra perlahan melepas lilitan kabel tembaga itu. Ia merasakan berat chip yang terselip di dalamnya. Saat cincin itu berpindah tangan ke Sarah, pintu interogasi terbuka dengan kasar.
Clarissa masuk dengan senyum kemenangan, didampingi oleh dua petugas wanita berseragam unit Provost.
"Waktu habis, Letnan Sarah," ucap Clarissa ketus. "Dokter, silakan berdiri. Kami akan melakukan pemeriksaan menyeluruh. Saya ingin melihat apa yang membuat cincin sampah itu begitu berharga bagi tunanganku."
Keyra berdiri pelan, merentangkan tangannya. Petugas mulai menggeledah setiap lipatan kemeja militer yang ia pakai. Clarissa sendiri melangkah maju, meraih tangan kanan Keyra dan menariknya kasar.
Matanya membelalak. Jari manis Keyra kosong. Hanya ada bekas merah tipis akibat lilitan kabel yang terlalu kencang.
"Di mana cincin itu?" bentak Clarissa, wajahnya yang cantik berubah menjadi beringas.
"Aku membuangnya ke lubang ventilasi saat Sarah masuk tadi," bohong Keyra, suaranya tetap tenang meski jantungnya berpacu gila. "Seperti katamu, Clarissa... itu hanya sampah. Kenapa kamu begitu terobsesi?"
*PLAK!*
Satu tamparan mendarat di pipi Keyra hingga sudut bibirnya berdarah. Clarissa tampak kehilangan kendali. "Bohong! Geledah seluruh ruangan ini! Bongkar ventilasinya!"
Di sudut ruangan, Sarah tetap berdiri tegak, wajahnya tanpa ekspresi. Cincin itu sudah aman di balik sarung tangan taktisnya.
Sementara itu, di luar ruang interogasi, suara gaduh terdengar. Pintu utama blok hunian digedor dengan keras. Ghazali muncul dengan wajah pucat namun mata yang menyala penuh amarah, ia memegang sepucuk surat dengan stempel biru bukan merah.
"Berhenti!" teriak Ghazali, suaranya menggelegar di lorong beton. "Jenderal, Clarissa... surat penangkapan kalian sudah dibatalkan oleh Mahkamah Militer Pusat atas perintah Jenderal Besar Atharrazka Senior. Ayahku ingin bertemu dengan Dokter Keyra... di kediaman utama malam ini."
Clarissa membeku. Rencananya hancur berantakan. Namun bagi Keyra, ini adalah awal dari neraka yang baru Menghadapi kepala keluarga Atharrazka yang asli.
---
keyra...
Bastian...
yudha....
kamu dimana....