Laura Hiraya yang baru berusia 20 tahun harus rela di jodohkan dengan putra konglomerat. Keputusan egois keluarganya menjadikan ia alat tukar di dalam bisnis. Keluarga konglomerat itu menjanjikan sebuah kerjasama bisnis, dan sebagai imbalannya mereka menginginkan calon istri untuk putra mereka, Gaharu Gardapati.
Gaharu, pria cacat yang sialnya sangat tampan. Kecelakaan tragis 2 tahun lalu membuatnya harus terduduk di atas kursi roda. Ia kehilangan kedua fungsi kakinya. Itu, bersifat sementara. Ia masih menjalani perawatan.
Lalu.. bagaimana kisah rumah tangga si gadis ceria dan aktif seperti Laura Hiraya yang di hadapkan dengan Gaharu Gardapati si pria arogan yang pemarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanesa Dintiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
09. 5 Antek-antek & kelas seni (3)
BYURR
“Hel, astaga jorok banget. Main sembur-sembur minuman gitu. Kamu mau cosplay Mbah dukun, 'kah?”
Laura menyabut beberapa lembaran tisu dan membersihkan meja yang kena semburan maut dari sahabatnya. Sedangkan si oknum masih diam di tempatnya sambil melirik benda persegi yang baru saja Laura keluarkan.
Tidak peduli dengan meja yang setengah basah karena ulahnya, gadis itu mengambil benda tersebut dan membolak-balikkan benda itu dengan tangan gemetar.
“Holy sh*t! Lau, Lo bener-bener beruntung!” pekiknya tertahan.
“Kamu kenapa si?”
“Ya ampun, Lau. Lo nggak tahu ini hp impian orang-orang?”
Laura mengangkat bahunya acuh. “Aku nggak minat hp kayak gitu, Hel. Bukan tipe aku banget. Hp lama aku di ambil sama si sekertaris prosedur.”
“Lo beruntung!”
Laura menghela nafas pelan. Menatap sahabatnya yang masih sibuk meneliti benda persegi itu. “Beruntung apanya coba?”
Rahel meletakan hp tersebut dengan perlahan. Seolah-olah barang tersebut merupakan benda berharga yang mudah pecah. Wajahnya masih menunjukkan binar kekaguman pada benda tersebut.
“Beruntung karena dapat hp keluaran terbaru dengan harga fantastis ini, banyak orang-orang yang ngincer. Tapi ya gitu, harganya nggak ngotak. Kalo gue mau, mungkin gue udah jual ginjal.”
Celetukan terakhir yang lolos dari belah bibir Rahel sukses mendapatkan geplakan maut dari Laura. Omongan sahabatnya ini benar-benar ngawur.
“Jangan asal ngomong gitu. Ngapain juga jual ginjal cuma buat beli barang kayak gini. Ini bukan suatu barang yang dapat bertahan jangka panjang. Emang kamu sanggup hidup dengan satu ginjal doang. Hidup satu ginjal itu nggak enak, pola hidup kamu harus sehat. ”
“Makanan sehari-hari kamu aja ayam geprek mulu gimana bisa hidup sehat. Nanti kalo tiba-tiba ginjal satunya bermasalah gimana? Mau jual apa? Hati? Jantung? Apa hp kamu? Atau mau jual nyawa? Kamu ini kalo ngomong lebih ngeri dari kritikan Pak Baskoro tadi, Hel.”
Rahel meringis pelan, selain karena rasa sakit karena terkena geplakan maut dari sahabatnya. Gadis itu juga meringis karena bibir Laura yang terus nyerocos tidak ada habisnya. Bibir Laura selain dapat mengeluarkan kata-kata puitis dan asbun, gadis itu juga sedikit cerewet.
“Ya ampun, Lau. Cerewetnya kumat deh. Lagian gue ngomong cuma sebagai perumpamaan, nggak bener-bener gue lakuin. Gue juga masih sayang nyawa kali.” Rahel mengerucutkan bibirnya sambil mengusap-usap lengahnya yang masih sedikit berdenyut. Laura memperhatikan.
“Sakit?”
“Sedikit,” sahut Rahel pelan.
“Maaf, aku cuma nggak suka kamu ngomong asal-asalan kayak tadi.” Ungkapnya, ia meraih gelas berisikan jus jeruk lalu menyedotnya secara perlahan.
Rahel itu satu-satunya sahabat yang ia punya dari jaman SMA sampai sekarang mereka kuliah. Laura benar-benar menyayangi Rahel layaknya seorang saudara kandung.
Hidup di antara keluarga yang acuh tak acuh kepadanya, membuat ia kesepian. Dan saat ia kenal sosok Rahel, ia merasa memiliki tempat berpulang layaknya seorang saudara. Kehidupan yang dulunya monoton, abu-abu, dan penuh dengan rumus-rumus pelajaran, sedikit demi sedikit berwarna karena kehadiran sosok sahabat yang sekarang ia anggap seperti Kakak kandungnya sendiri.
Ia anak tunggal dari almarhum Ibunya. Ia memiliki 2 Kakak tiri laki-laki. Namun, mereka berdua seakan-akan menganggap dirinya tidak ada. Mereka menganggap dirinya orang asing, tidak benar-benar menganggapnya Adik ataupun keluarga.
Dan Laura paham akan hal itu.
Rahel memperhatikan raut wajah murung Laura. Ia jadi merasa bersalah. Gadis itu menggeser posisi duduknya, menyenggol tangan Laura agar perhatiannya teralihkan padanya.
“Mukanya jangan murung gitu dong, Lau. Iya deh iya gue minta maaf, nggak lagi gue ngomong asal-asalan kayak tadi.” Rahel berusaha menenangkan, namun kata-katanya tidak mempan.
“Lau, ayolah. Jangan pundung gitu.. gue cuma asal ngomong doang, lagian gue masih sayang nyawa. Gue juga mikir dua kali kalo mau jual ginjal. Kalo gue mati—”
Laura sontak melirik tajam. Rahel di sampingnya langsung kicep. Ia angkat tangan. “Oke-oke, gue nggak akan bahas itu lagi. Skip aja skip!”
Laura menghela napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa rasa sesak yang sempat mampir di dadanya. Ia meletakkan gelas jus jeruknya kembali ke meja, lalu menatap Rahel yang kini tampak serba salah.
“Jangan pernah bahas mati atau jual-jual organ lagi, meskipun cuma bercanda. Aku beneran nggak suka,” ucap Laura dengan nada yang sudah jauh lebih tenang, namun tetap tegas.
Rahel mengangguk cepat, tangannya membentuk tanda peace. “Iya, Nyonya konglomerat. Janji, cross my heart.”
Rahel kembali meraih ponsel mahal yang tadi sempat jadi perdebatan. “Terus ini hp mau Lo apain? Disimpen jadi pajangan doang atau mau dipake buat bales chat cowok-cowok yang antre di DM lo?”
“Heh! Ngomongnya.”
“Lah, bener kok. Banyak yang ngejar-ngejar Lo. Lo nggak sadar ya banyak yang suka?”
“Perasaan kamu aja kali, mereka cuma sebatas kagum? Mungkin. Nggak usah berlebihan gitu, Hel.”
Rahel berdecak gemas dengan tingkat ketidaksadaran sahabatnya itu. “Bukan berlebihan, Lau! Lo itu yang terlalu nutup diri. Kemaren waktu gue datang ke perpus, si anak teknik nanyain Lo, katanya kenapa Lo nggak hadir. Terus satu lagi, kating fakultas hukum juga datang nanyain Lo, katanya mau ngajak makan siang, tapi Lo udah balik.”
“Menurut Lo, mereka berdua cuma basa-basi doang? Jelas mereka suka banget sama Lo. Apalagi si kating, nggak pernah absen datang ke kantin fakultas seni. Padahal jaraknya lumayan jauh dari fakultas hukum.”
Laura terdiam sejenak, mengaduk pelan sisa jus jeruknya yang mulai hambar. Orang-orang yang disebutkan Rahel memang tidak asing, tapi baginya, itu semua hanyalah gangguan kecil di tengah usahanya untuk tetap tak terlihat.
“Mungkin mereka cuma penasaran sama kayak orang-orang pada umumnya, Hel. Orang biasanya suka penasaran sama sesuatu yang kelihatan tertutup, kan? Tapi begitu tahu isinya, mereka juga bakal mundur sendiri,” jawab Laura, suaranya nyaris tenggelam dalam kebisingan kantin.
“Tuh kan, mulai deh penyakit rendah diri Lo kumat!” Rahel berdesis pelan, merasa gemas dengan sahabatnya.
Laura tersenyum tipis menanggapinya. “Aku udah punya suami, Hel. Mereka pasti pelan-pelan bakal mundur kok,” ucapnya dengan yakin.
“Lo hidup di tahun berapa sih, Lau. Sekarang tuh zaman-zamannya orang suka nikung, siapa tahu Lo berubah pikiran mau selingkuh dan milih salah-satunya.”
“Ngomongnya,” Laura mengambil keripik dan menjejalkan keripik tersebut pada mulut sahabatnya.
Krauk
Krauk
Rahel mengunyah keripik itu dengan cepat. Mendelik kesal kepada Laura. Opsi selingkuh memang salah, tapi dari pada sakit hati menjalani pernikahan tanpa cinta, lebih baik pergi dengan pria yang mencintai kita, bukan?
Ada pepatah berkata, belajarlah menerima orang yang mencintai kita dari pada orang yang kita cintai. Karena orang yang mencintai kita lebih dulu sudah pasti cintanya lebih besar.
Hah, lupakan soal itu. Ada sesuatu yang ingin Rahel tanyakan kepada Laura dari tadi. Tapi tertahan karena perdebatan kecil mereka.
“Lau,” panggil Rahel.
Laura menoleh, menyahut dengan deheman pelan.
“Lo ngerasa nggak sih dari tadi kita di perhatiin? Nggak, lebih ke merhatiin Lo sih.”
Laura mengerutkan keningnya bingung. Rahel memberikan kode dengan kepalanya. “Dari kita masuk kantin tadi, 3 cowok itu merhatiin terus. Gue belum pernah liat sebelumnya. Kayak bukan anak fakultas seni. Muka mereka keliatan asing banget, nggak keliatan kayak anak-anak kampus biasanya, mirip agen rahasia.”
Laura mengikuti arah pandang Rahel. Melihat ketiga cowok yang di maksud, raut wajah Laura langsung berubah datar.
.
.
.
“Kalian bertiga ngapain ngikutin sampe masuk fakultas?” Laura berkacak pinggang, mengomel di hadapan 3 pria yang tak lain Zero, Arlo, dan Owen.
“Aku 'kan udah bilang, jaga dari jauh aja. Ngapain pake acara masuk-masuk segala?”
“Sekertaris Juan memerintahkan kami untuk mengawasi—”
“Tahu! Tapi kenapa harus masuk kantin fakultas? Dan lagi...” Laura menggantung ucapannya, memperhatikan ketiganya. Pakaian jas serba hitam, jangan lupakan kacamata hitam. Dan juga, tingkah mereka tadi di kantin, duduk tegak di salah-satu meja kantin sambil memperhatikan dirinya. Apa mereka sudah gila?
Laura mengusap wajahnya kasar, kepalanya mendadak terasa panas dan gatal. “Kalian kalo mau nyamar minimal lepas dulu kacamata hitamnya! Kalian pikir lagi syuting Men in Black atau gimana?” Laura meledak, menunjuk-nunjuk wajah Zero yang masih tampak datar tanpa dosa.
“Pakainnya juga, kenapa harus serba hitam kayak gini? Ini kampus bukan rumah duka tempat melayat orang meninggal.”
“Tapi Nyonya, instruksi protokol keamanan yang di katakan Sekertaris Juan memang harus seperti ini,” jawab Zero dengan suara baritonnya yang kaku.
Laura memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. Selain kata prosedur sepertinya ada satu kata lagi yang ia benci, protokol.
Arlo, yang sejak tadi berdiri kaku seperti manekin di samping Zero, akhirnya angkat bicara tanpa merubah ekspresi. “Mohon maaf, Nyonya Laura. Tapi menurut analisis kami, setelan ini memberikan kesan otoritas agar para pria di kantin tidak berani mendekati Anda.”
“Benar, kami menjaga Anda dari pria-pria yang memiliki niatan untuk mendekati Anda,” sahut Owen.
“Tentu saja tidak ada yang berani mendekat! Modelan kalian aja kayak gini! Cosplay agen rahasia, kah?” Laura berseru kesal. “Minimal kalo mau nyamar tuh pakai pakaian normal kayak anak-anak kampus pada umumnya. Jangan serba hitam kayak gini!”
Pantas saja hari ini ia tidak melihat dua orang cowok yang selalu merecoki dirinya. Pasti karena kehadiran ketiga pria di depannya ini. Wajah kaku mereka bertiga menang menyeramkan sih.
“Ah, sudahlah. Berbicara dengan kalian membuatku emosi.” Laura melenggang pergi meninggalkan mereka bertiga.
“Nyonya, Anda mau pergi ke mana?” Owen bergerak terlebih dahulu, mengejar langkah cepat Laura.
“Kabur! Ya, pulang lah. Gitu aja masih tanya!”
***
Halo, apa kabar? Semoga selalu baik ya. Jangan lupa berikan dukungan kalian ya teman-teman.
Terimakasih.
Rabu, 08 April 2026
Published : Rabu, 08 April 2026