Setelah ayahnya hilang dalam kecelakaan mobil, Ella hidup dengan satu tujuan yaitu menemukan kebenaran tentang ayahnya.
Sementara Leo seorang jaksa muda hidup dengan satu prinsip yaitu menegakkan hukum tanpa pengecualian.
Ketika mereka bertemu di pesta dansa, keduanya tak sadar mereka berada di sisi yang berlawanan dari permainan yang sama.
Ketika perasaan mulai tumbuh, satu pertanyaan tak bisa dihindari, apa yang harus dimenangkan? Kebenaran atau cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CGS 14
“Dan kalau memang ada sesuatu yang kamu curigai,” lanjutnya, “itu berarti aku harus siap menghadapi siapa pun yang ada di sana.”
Beberapa detik berlalu. Ella tetap diam. Menunggu.
"Aku bukan bagian dari keluarga kalian, Ella." ungkap Tante Rosa.
"Nggak. Bagiku Tante sudah seperti keluarga. Bahkan, andai ayah tidak memutuskan menikah dengan Bu Vero, mungkin Tante lah yang aku pilih sebagai ibu pengganti." Ella menatap sepupu ibunya dengan jujur. "Kita sama-sama tahu apa harapan ibuku sebelum pergi untuk selamanya agar Tante menggantikan posisinya. Lagipula, Tante itu paling cocok mendampingi aku saat ini. Tante itu saudara Ibu, masih keluarga, ngerti hukum dan bisa bela diri juga!" Ella menunjukkan betapa ia berharapnya pada Tante Rosa.
Akhirnya, Tante Rosa mengangguk kecil. “Baik,” katanya. Satu kata itu cukup.
Ella tidak langsung tersenyum, tapi bahunya sedikit turun, seolah beban yang sejak tadi ia tahan mulai terbagi.
“Tapi kita lakukan dengan cara yang benar,” tambah Tante Rosa. “Aku masuk bukan sebagai tamu biasa.”
Ella menatapnya.
“Sebagai kuasa hukum keluarga,” lanjutnya. “Itu alasan yang paling aman. Dan sekaligus memberi kita ruang untuk bergerak.”
Untuk pertama kalinya sejak percakapan ini dimulai, Ella merasa ia tidak benar-benar sendirian lagi. Namun di saat yang sama, ia juga tahu dengan membawa Tante Rosa ke dalam rumah itu, ia tidak hanya mencari bantuan. Ia juga membuka babak baru dari sesuatu yang mungkin jauh lebih berbahaya.
"Tante, terimakasih banyak!" Ella memeluk Tante Rosa dengan erat.
***
Saat mobil berhenti di halaman rumah, suasana langsung terasa berbeda bahkan sebelum mereka turun. Pintu utama sudah terbuka, dan Bu Vero berdiri di sana, seolah memang sudah menunggu, tatapannya langsung tertuju pada sosok yang turun bersama Ella. Tidak ada senyum. Tidak ada sapaan hangat. Hanya ekspresi kaku yang sulit disembunyikan.
Ella menyadarinya. Dan kali ini, ia tidak mundur.
Ia melangkah lebih dulu, mendahului situasi sebelum berkembang menjadi sesuatu yang lebih rumit. “Ini Tante Rosa,” katanya tegas, tanpa memberi ruang untuk asumsi. “Saudara dari pihak Ibu.” Ia berhenti sejenak, menatap langsung ke arah Bu Vero. “Dan rumah ini juga rumah Ibu. Tante Rosa sudah sering ke sini.”
Bu Vero tidak langsung menjawab. Matanya sempat beralih ke Tante Rosa, lalu kembali ke Ella, seolah mencoba membaca sesuatu yang tidak diucapkan.
“Tante Rosa akan tinggal di sini sementara,” lanjut Ella, nadanya tetap tenang tapi jelas tidak bisa ditawar. “Sekaligus sebagai pengacara aku.”
Kalimat itu jatuh seperti garis batas. Sesuatu yang langsung mengubah posisi.
Tante Rosa melangkah maju satu langkah, cukup untuk menunjukkan kehadirannya tanpa terlihat mengintimidasi. “Saya hanya ingin memastikan semua berjalan sesuai prosedur,” katanya singkat, suaranya profesional, tidak berlebihan tapi cukup tegas untuk memberi makna.
Hening beberapa detik. Bu Vero menarik napas pelan. “Rumah ini sedang dalam situasi sensitif,” katanya akhirnya, nadanya lebih terkendali, meski jelas ada keberatan di baliknya. “Banyak hal yang harus dijaga.”
“Justru itu,” potong Ella cepat, tanpa meninggikan suara. “Makanya aku butuh pendamping.”
Tatapan mereka bertemu. Tidak ada lagi kepura-puraan. Tidak ada lagi jarak yang ditutupi dengan sopan santun. Untuk pertama kalinya, Ella benar-benar berdiri di hadapan Bu Vero bukan sebagai anak yang diam, tapi sebagai seseorang yang mulai mengambil kendali.
Sisil muncul dari dalam rumah, berdiri di belakang Bu Vero, memperhatikan tanpa berkata apa-apa. Ekspresinya tipis, seperti biasa, tidak jelas apakah ia terkejut, tertarik, atau justru sudah menduga ini akan terjadi.
Beberapa detik berlalu. Akhirnya, Bu Vero bergeser sedikit dari pintu. Gerakan kecil tapi cukup sebagai jawaban. “Silakan,” katanya singkat. Tidak hangat. Tapi tidak menolak.
Ella melangkah masuk lebih dulu, diikuti Tante Rosa di belakangnya. Dan saat mereka melewati ambang pintu itu, Ella tahu ini bukan lagi sekadar rumah. Ini sudah menjadi medan. Dan sekarang ia tidak lagi sendirian di dalamnya.
"Kita berhasil Tante!" Ella bersorak riang saat mereka sampai di kamarnya. Ia kembali memeluk tantenya. "Lalu sekarang harus bagaimana?" tanya Ella.
"Kita mulai misi ini!" ungkap Tante Rosa sambil melempar senyum pada Ella.
***
Sejak Tante Rosa tinggal di rumah itu, ritme hidup Ella berubah tanpa terlihat mencolok dari luar, tapi sepenuhnya berbeda di dalam. Siang hari tetap berjalan seperti biasa, Ella menjalankan peran yang dipaksakan padanya, membersihkan rumah, memasak, dan menjaga agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Namun malam hari menjadi milik mereka. Di balik pintu kamar yang terkunci, dengan suara yang ditekan serendah mungkin, dunia lain perlahan terbuka.
Tante Rosa tidak langsung memberi jawaban. Ia justru menguji. “Kalau kamu yakin ayahmu tidak bersalah,” katanya suatu malam sambil menunjuk layar laptop, “buktikan. Jangan pakai perasaan. Pakai logika.”
Sejak itu, setiap data yang mereka lihat bukan lagi sekadar angka, tapi latihan. Tante Rosa meminta Ella membaca pola, mencari anomali, menghubungkan satu transaksi dengan transaksi lain. Awalnya Ella kesulitan. Semua terlihat acak, rumit, dan membingungkan. Tapi perlahan, ia mulai melihat sesuatu, alur yang berulang, jalur uang yang tidak berhenti pada satu nama, melainkan berpindah, berputar, lalu menghilang di titik tertentu.
“Ini bukan uang pribadi,” gumam Ella suatu saat, matanya menyipit menatap layar. “Ini… dialihkan.”
Tante Rosa tidak langsung membenarkan. Hanya mengangguk kecil. Dan dari situlah dugaan pertama muncul. Ayahnya mungkin bukan pelaku. Tapi bagian dari sesuatu yang lebih besar. “Atau,” lanjut Tante Rosa pelan, “dia tahu terlalu banyak.”
Kemungkinan itu terasa lebih dingin. Lebih berbahaya. Karena jika benar berarti ayahnya bukan hanya dituduh. Tapi bisa saja dijebak.
Mereka mulai membuka file lain, simbol-simbol yang sebelumnya tampak tidak berarti kini mulai menunjukkan pola. Bentuk lengkung seperti sepatu yang terpotong, angka-angka kecil di bawahnya, koordinat yang tersamar dalam kode transaksi. Ella mulai belajar memecahkannya, satu per satu, dengan bimbingan Tante Rosa. Setiap simbol ternyata merujuk pada titik tertentu, rekening bayangan, perusahaan cangkang, atau bahkan lokasi pertemuan.
Dan semakin mereka masuk semakin jelas bahwa ini bukan kasus biasa. Nama-nama mulai muncul. Bukan orang sembarangan. Pejabat. Pengusaha. Orang-orang yang wajahnya sering muncul di berita. Orang-orang yang selama ini terlihat bersih.
“Ini jaringan,” bisik Ella, lebih pada dirinya sendiri.
“Ini sistem,” koreksi Tante Rosa pelan.
Perbedaan itu kecil tapi maknanya besar. Karena jaringan bisa diputus. Tapi sistem hidup. Dan bertahan.
“Kalau kamu mau masuk lebih jauh,” kata Tante Rosa suatu malam, menutup laptop dengan pelan, “kamu nggak bisa tetap jadi Ella yang sekarang.”
Ella menatapnya.
“Orang-orang ini nggak bicara dengan sembarang orang,” lanjutnya. “Mereka punya dunia sendiri. Dunia elit. Dunia yang terlihat bersih di luar tapi gelap di dalam.”