Carisa pernah menjalin hubungan dengan Reynanda sejak masa kuliah. Awalnya terasa hangat dan penuh cinta, hingga akhirnya ditinggalkan tanpa penjelasan, bahkan saat ia mengandung anak Reynanda.
Sejak itu, hidup Carisa runtuh pelan-pelan. Ia menanggung luka yang dalam dan sempat berada di titik terendah.
Waktu berjalan, tetapi luka itu tidak benar-benar hilang. Hanya mengendap dan membuat Carisa semakin tertutup. Hingga suatu hari, ia dijodohkan dan bertemu dengan seorang pria yang tenang dan tidak banyak bertanya. Dari pernikahan itu, Carisa perlahan kembali menjalani hidup, meski trauma masa lalunya tetap ada dalam diam.
Dan ketika Carisa mulai benar-benar terbiasa hidup tanpa nama itu di kepalanya, takdir justru mempermainkannya lagi. Setelah lima tahun berlalu, mereka dipertemukan kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Carisa keluar dari ruang meeting. Langkahnya stabil. Map di bawah lengan, tas di bahunya. Di lorong yang panjang dan terang itu, ia berjalan seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan pertemuan biasa.
Lift belum datang. Ia menekan tombol, lalu berdiri dengan punggung tegak dan mata pada panel angka di atas pintu.
Di sepanjang lorong, staf kantor berlalu lalang dengan berkas dan kopi dan percakapan kecil yang tidak ada hubungannya dengan apa pun yang baru saja terjadi di balik pintu ruang meeting yang kini sudah tertutup rapat.
Carisa menatap angka yang terus bergerak turun.
Di ujung lorong, di balik kaca ruang kerja yang menghadap ke lorong, Reynanda masih berdiri. Ia tidak duduk kembali sejak meninggalkan ruang meeting, hanya berdiri di sana, dengan satu tangan di saku celananya dan mata yang tidak berpindah dari sosok yang sedang menunggu lift.
Ia seharusnya kembali ke mejanya. Membuka laptopnya. Menyelesaikan laporan yang sejak pagi belum ia sentuh. Ada tiga rapat besok yang belum ia siapkan, ada email dari klien lain yang menunggu balasan, ada pekerjaan yang nyata dan mendesak yang memberinya alasan untuk tidak melangkah ke arah pintu.
Tangannya bergerak dari sakunya ke pegangan pintu. Kakinya membawa ia keluar dari ruang kerja sebelum kepalanya sempat memutuskan apa pun.
Carisa mendengar langkah di belakangnya.
Terlalu cepat untuk sekadar seseorang yang hendak menekan tombol lift yang sama. Ia menoleh dan hanya sempat melihat wajah Reynanda sebentar sebelum tangannya dipegang dan tubuhnya ditarik ke pintu darurat.
"Nanda!"
Pintu darurat di ujung lorong terbuka, lalu tertutup.
Dunia di luar pintu besi itu menghilang, suara dering telpon, langkah kaki, percakapan yang mengambang di udara, semua digantikan oleh keheningan yang berbeda. Keheningan yang terasa menegangkan.
Carisa menarik tangannya. "Apa yang kamu..." Punggungnya membentur dinding.
Reynanda memojokkannya, kedua pergelangan tangannya tertahan di atas kepalanya dengan satu genggaman yang tidak memberi ruang. Wajahnya terlalu dekat. Jarak yang tidak ada lagi. Dan di matanya, bukan lagi sorot lelaki yang tadi duduk rapi di seberang meja dengan kalimat-kalimat terjaga. Ini sorot yang lain. Yang lebih intens dari semua yang sudah mereka bangun untuk menjaga jarak.
"Lepaskan aku!" Suaranya pelan. Tapi tegas.
"Sebentar saja."
"Apa yang kamu lakukan... kita tidak boleh begini."
"Aku tahu." Napasnya tidak teratur. Ada sesuatu yang retak di suaranya, bukan nafsu semata. Lebih seperti seseorang yang sudah terlalu lama memegang sesuatu yang terlalu berat dan baru saja terlepas. "Aku tahu, Carisa. Tapi aku tidak bisa lagi menahan diriku."
Carisa meronta, mencoba menarik pergelangan tangannya.
Genggaman Reynanda tidak bergerak.
"Lepaskan," suara Carisa menegang, lebih rendah sekarang. "Kamu tidak berhak menahan aku seperti ini."
Reynanda diam sejenak. Tatapannya masih tertahan di wajah Carisa, tapi rahangnya mengeras.
"Aku tidak berniat menyakitimu."
"Tapi kamu tetap melakukannya," potong Carisa cepat.
Napas mereka sama-sama tidak teratur, tapi tidak ada yang mau mengalah lebih dulu.
"Lepaskan aku, Nanda."
Ada yang berbeda dari caranya berdiri malam ini atau mungkin tidak berbeda sama sekali, mungkin ini Reynanda yang sebenarnya, yang selalu ada di balik semua yang sudah ia pelajari untuk ditampilkan kepada dunia. Reynanda yang tidak pernah bisa menahan dirinya ketika Carisa ada di dekatnya. Dulu di kamar kos yang sempit, di sudut perpustakaan kampus, di lorong apartemen yang sepi, ia selalu seperti ini. Impulsif. Tidak sabaran. Seperti orang yang tahu persis bahwa yang ia lakukan salah tapi memilih melanjutkannya.
Kelemahan yang tidak pernah berubah meski bertahun-tahun berlalu.
Bibirnya menyentuh bibir Carisa tanpa memberi ruang untuk menolak.
Carisa membeku. Hanya satu detik sebelum akalnya kembali dan dalam satu detik itu tubuhnya mengingat sesuatu. Memori yang tersimpan di tempat yang lebih dalam dari kesadaran, yang tidak peduli pada waktu atau pernikahan atau semua alasan yang sudah dengan susah payah ia bangun.
Lalu kesadarannya kembali. Ia meronta dengan seluruh kekuatan yang tersisa, dengan kemarahan yang bukan hanya untuk Reynanda tapi juga untuk dirinya sendiri karena satu detik itu.
Reynanda mundur satu langkah. Napasnya berat.
"Jangan pernah lakukan ini lagi!" Carisa terengah dan suara nya bergetar.
Ia mengambil map-nya yang jatuh ke lantai. Mendorong pintu darurat dengan bahunya.
Carisa berjalan sambil menahan diri agar tetap terlihat tenang, meski detak jantungnya tidak karuan.
Lift terbuka tepat saat ia sampai. Ia masuk, menekan tombol lantai dasar. Pintu pun menutup.
Dan di dalam kotak kecil yang mulai turun itu, saat tidak ada lagi yang melihat, tidak ada lagi yang perlu ia jaga, ia menyandarkan punggungnya ke dinding lift, lalu menutup mata.
Bibirnya masih menyimpan sisa sentuhan itu. Tangannya gemetar, pelan, tanpa bisa ia kendalikan.
Di sudut hatinya yang paling tidak jujur, ada sesuatu yang tidak bisa ia tepis, sesuatu yang tidak punya nama yang mau ia berikan, yang tidak punya tempat yang layak di dalam hidupnya sekarang. Sesuatu yang berbahaya justru karena tidak sepenuhnya ia sesali.
Ini tidak boleh terjadi lagi, batinnya.
Tapi batin tidak selalu lebih kuat dari yang lain.
Di sisi kota yang lain, Humaira duduk di atas kursi kecil di hadapan puluhan jamaah.
Ruangan majelis taklim itu sederhana, karpet hijau yang sudah sedikit pudar di sudut-sudutnya, dinding putih bersih, satu kipas angin di pojok yang berputar pelan tanpa terlalu banyak membantu. Tapi perhatian semua orang di ruangan itu tertuju penuh pada perempuan yang duduk di depan mereka.
Humaira menatap mereka satu per satu sebelum kembali melanjutkan tausiahnya.
"Perselingkuhan bukan hanya soal fisik." Suaranya jernih, tenang—terdengar seperti seseorang yang sudah terbiasa bicara di depan banyak orang. "Hati yang berpaling, perhatian yang terbagi, rahasia yang disimpan dari pasangan, semuanya adalah bentuk pengkhianatan. Bentuknya mungkin berbeda, tapi lukanya sama."
Beberapa kepala mengangguk pelan. Ada yang menyeka sudut matanya.
Seorang ibu paruh baya di baris tengah mengangkat tangan. Wajahnya terlihat ragu, tapi juga seperti sudah lama menyimpan sesuatu.
"Ustazah, kalau kita sudah melihat tanda-tandanya, apa yang sebaiknya kita lakukan? Bertanya langsung pada pasangan kita, atau tetap diam dan menunggu bukti?"
Humaira tersenyum tipis. Tatapannya tenang, tapi ada makna yang terasa dalam.
"Kebenaran itu penting," jawabnya lantang. "Tapi cara mencarinya juga tidak kalah penting. Jangan sampai dalam mencari kebenaran, kita justru menyakiti diri sendiri lebih dulu. Tetaplah bijak meski hati sedang tidak baik-baik saja."
Hening sejenak mengisi ruangan. Masing-masing orang menyimpan kata-kata itu di tempat yang berbeda-beda.
Humaira berhenti sejenak, memberi jeda sebelum melanjutkan.
"Ada orang yang mengira bisa menjaga dua hati sekaligus." Nada suaranya tetap tenang. "Padahal hati bukan sesuatu yang bisa dibagi begitu saja. Selalu ada yang terluka. Selalu ada yang hancur. Dan biasanya, yang paling dulu hancur bukan yang berbuat salah, tapi yang benar-benar tulus mencintai."
Ia menatap jamaah di depannya, pelan.
"Allah sudah mengingatkan dalam Al-Qur’an," ucapnya, lalu melanjutkan dengan lebih jelas,
"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk."
(QS. Al-Isra: 32)
"Bukan hanya dilarang perbuatannya," lanjutnya, "tapi juga semua yang mendekatkan ke arah sana."
"Perhatian yang berlebihan selain pada pasangan kita, kedekatan yang tidak seharusnya, perasaan yang mulai disembunyikan… sering dianggap hal kecil."
Ia berhenti sebentar.
"Padahal dari situlah semuanya biasanya bermula."
Ruangan kembali hening. Tidak ada yang langsung menanggapi. Seolah setiap orang sedang memikirkan sesuatu yang terlalu dekat untuk diabaikan.
Beberapa jamaah saling menatap diam-diam. Ada yang menunduk. Ada yang menggigit bibir.
"Dan ingat..." Humaira menutup dengan suara yang mantap, menatap jamaahnya satu per satu, "Allah selalu punya cara memperlihatkan kebenaran. tidak ada yang bisa disembunyikan selamanya. Hal-hal yang ditutup-tutupi, entah itu perasaan, hubungan, atau kebohongan pada akhirnya akan terbuka juga, dengan cara apa pun."
Tepuk tangan pelan berpencar di ruangan.
Humaira tersenyum, menatap satu per satu wajah di hadapannya. Ada yang mengangguk, ada yang diam dengan mata basah, ada juga yang menunduk, sibuk dengan pikirannya sendiri.
Senyumnya tetap sama. Tapi di balik itu, ada sesuatu yang sejak tiga hari ini tidak benar-benar hilang dari pikirannya.
Sejak di Bandung. Sejak kejadian di meja makan itu.
Sejak ia melihat suaminya bergerak terlalu cepat, seperti tanpa berpikir, ke arah perempuan bernama Carisa, yang baru pertama kali mereka temui.
Humaira bukan perempuan yang bodoh. Selama ini ia memilih untuk percaya karena itulah dasar dari pernikahan yang ia bangun. Dan meragukan itu semua bukan hal ringan, tidak cukup hanya karena firasat. Tapi firasat itu ada, tidak juga hilang.
Dan perempuan yang barusan bicara tentang tanda-tanda pengkhianatan itu, diam-diam mulai mencoba membaca tanda-tanda dalam hidupnya sendiri.
siapa pemeran utamanya, siapa pemeran pembantunya, ungkap ustadzah Humairah
geregetan deh. ingin numpuk pala Yuda pakai bakiak