Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.
Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.
Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.
Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.
Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:
Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.
Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-
Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(ARC 1) Chapter 19: Tidak Lengah
Pagi datang perlahan di Skullcrack.
Cahaya matahari turun di sela-sela tebing batu tajam yang menjulang seperti taring raksasa. Kabut tipis masih menggantung rendah di dasar ngarai, sementara angin dingin bergerak pelan membawa suara samar yang menyerupai bisikan jauh.
Sunyi.
Asing.
Dan tetap terasa sedikit tidak alami.
Api unggun malam sebelumnya telah padam, menyisakan bara hitam dan asap tipis yang hampir hilang.
Grachius membuka mata.
Tidak ada gerakan malas.
Tidak ada kebingungan sesaat seperti orang yang baru bangun tidur.
Ia langsung duduk tegak.
Tenang.
Waspada.
Seolah sebagian dirinya tidak pernah benar-benar tertidur.
Tak jauh dari api padam—
seekor rubah coklat kecil meringkuk sambil tidur. Ekornya yang besar menutupi sebagian tubuhnya, bergerak pelan mengikuti napas.
Daji.
Grachius berdiri tanpa suara lalu berjalan menuju area tanah terbuka di dekat batu retak.
Ia menghentakkan kakinya sekali.
BRRKKK.
Tanah retak.
Beberapa detik kemudian—
air menyembur keluar dari celah batu bawah tanah.
Jernih.
Dingin.
Grachius berjongkok lalu minum dengan tenang. Setelah itu ia membasuh wajahnya seolah semua itu hanyalah aktivitas biasa.
Padahal—
tidak ada yang biasa dari itu.
Getaran kecil dari tanah membuat rubah coklat itu terbangun.
Daji membuka matanya perlahan.
Lalu membeku.
Ia melihat Grachius berdiri di dekat semburan air yang muncul dari tanah retak seperti mata air baru lahir.
Beberapa detik Daji hanya diam.
Bingung.
Tidak percaya.
Dan sedikit takut.
Karena Grachius bahkan tidak terlihat sedang menggunakan kekuatan.
Ia hanya…
melakukannya.
Seolah menghancurkan tanah dan menemukan air di bawahnya adalah hal biasa seperti membuka pintu.
Tatapan Daji perlahan berubah.
Dan tanpa sadar—
ia kembali mengingat kejadian semalam.
...—...
Tengah malam.
Api unggun masih menyala kecil.
Grachius tertidur bersandar pada batu besar, sementara suara angin Skullcrack bergerak di antara tebing.
Daji membuka matanya perlahan.
Tatapannya jatuh pada Grachius.
Lalu senyum tipis muncul di wajahnya.
Manusia.
Tetap saja manusia.
Ia bergerak perlahan dalam diam, mendekati Grachius tanpa suara.
Tujuannya sederhana.
Menghisap jiwanya.
Sesuatu yang sudah berkali-kali ia lakukan pada manusia lain.
Tangannya perlahan bergerak mendekati wajah Grachius.
Sedikit lagi—
Namun—
mata Grachius langsung terbuka.
Tidak ada jeda.
Tidak ada kebingungan.
Dalam satu gerakan—
tangan Grachius sudah mencengkeram leher Daji.
KRAK.
Tubuh Daji menghantam batu.
Matanya langsung melebar.
Cepat.
Terlalu cepat.
Ia bahkan tidak sempat menggunakan sihir.
Tatapan Grachius saat itu—
dingin.
Bukan marah.
Bukan panik.
Melainkan tatapan seseorang yang benar-benar siap membunuh.
Aura menekan keluar tanpa ditahan.
Udara terasa membeku.
Daji mencoba bergerak—
namun tubuhnya menolak.
Insting predatornya menjerit.
Bahaya.
Bahaya.
Bahaya.
Untuk pertama kalinya sejak sangat lama—
Daji benar-benar merasa bisa mati.
Bukan kalah.
Bukan terluka.
Namun benar-benar mati.
“L-lepas…”
Suaranya tercekat.
Grachius tidak menjawab.
Tatapannya tetap datar.
Beberapa detik terasa seperti sangat panjang sebelum akhirnya—
Grachius melepaskan cekikannya.
Daji jatuh berlutut sambil batuk keras.
Dan Grachius hanya kembali duduk.
Tidak mengancam.
Tidak marah.
Seolah kejadian itu bahkan tidak penting baginya.
Namun malam itu—
Daji memahami sesuatu.
Grachius tidak pernah benar-benar lengah.
Bahkan saat tidur.
...—...
Pagi kembali terasa dingin.
Daji masih memperhatikan Grachius dari dekat api padam.
Kini ia tidak lagi melihatnya sebagai mangsa.
Melainkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
“…monster.”
Bisikannya pelan.
Namun tanpa kebencian.
Lebih seperti seekor predator kecil yang tanpa sengaja bertemu sesuatu yang lebih tinggi darinya.
Grachius tidak menanggapi.
Dan untuk pertama kalinya—
Daji berhenti mencoba menggoda.
Berhenti bermain-main.
Berhenti mendekat sembarangan.
Tiba-tiba—
tatapan Grachius bergerak ke arah celah batu di sisi utara Skullcrack.
Ia berdiri.
“Tetap disini.”
Daji sedikit mengernyit.
Grachius melanjutkan—
“Jangan bergerak.”
Nada suaranya datar.
Namun tidak bisa dibantah.
Lalu ia berjalan masuk ke balik bebatuan.
Daji duduk sendiri.
Ekor coklatnya bergerak gelisah.
Beberapa menit berlalu.
Sunyi.
Lalu suara langkah terdengar kembali.
Grachius muncul dari balik batu sambil membawa seekor babi hutan besar di pundaknya.
Kepalanya sudah terpisah.
Darah masih menetes dari lehernya.
Daji hanya bisa menatap diam.
Beberapa menit lalu suasana terasa seperti ancaman kematian.
Dan sekarang—
Grachius pulang membawa makanan.
“…apa sebenarnya kau ini?”
Grachius tidak menjawab.
Ia menjatuhkan tubuh besar babi hutan ke tanah lalu mulai bekerja.
Cepat.
Efisien.
Enjin bergerak bersih memotong daging.
Kulit dipisahkan.
Api kembali dinyalakan.
Tidak ada gerakan sia-sia.
Semua terasa seperti kebiasaan lama.
Daji memperhatikan sambil tetap menjaga jarak aman.
Aroma daging panggang perlahan memenuhi udara Skullcrack.
Dan anehnya—
atmosfer mulai berubah.
Masih aneh.
Masih sedikit tegang.
Namun tidak lagi terasa seperti predator dan mangsa.
Daji akhirnya bergerak sedikit lebih dekat ke api.
“Kau aneh.”
Grachius membalik daging tanpa melihatnya.
Tidak menjawab.
Daji menyandarkan dagunya di lutut.
Lalu tersenyum kecil.
“Tapi…”
Tatapannya tertuju pada Grachius.
“…aku tidak menolak.”
Api unggun berderak pelan di tengah Skullcrack.
Malam sebelumnya dipenuhi ancaman.
Pagi ini dipenuhi keheningan aneh.
Dan kini—
mereka duduk bersama di depan api sambil makan daging panggang di tengah ngarai sunyi.
Belum teman.
Bukan lagi musuh.
Namun dua makhluk berbeda—
perlahan mulai berjalan dalam jalur yang sama.
Dan tanpa Grachius sadari—
dunianya yang selama ini kosong perlahan mulai terisi oleh keberadaan orang lain.
...A Novel By Franzzz...