Hujan di Jakarta Selatan tidak pernah sekadar air; ia adalah tirai yang menyamarkan dosa-dosa kota ini. Bagi Ustadz Aris, hujan sore itu adalah ujian kesabaran ketiga kalinya hari ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jesa Cristian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: SENYUM YANG TERTUKAR
Hujan di Jakarta Selatan tidak pernah sekadar air; ia adalah tirai yang menyamarkan dosa-dosa kota ini. Bagi Ustadz Aris, hujan sore itu adalah ujian kesabaran ketiga kalinya hari ini.
Aris bukan ustadz selebriti. Tidak ada mobil mewah yang menjemputnya, tidak ada ribuan jamaah yang berebut salaman. Ia hanyalah khatib pengganti di sebuah musholla kecil di gang sempit Tebet, yang atapnya bocor di tiga titik berbeda. Usianya baru 28 tahun, tapi matanya menyimpan kelelahan orang berusia 50 tahun.
Siang itu, setelah salat Dzuhur, seorang wanita paruh baya bernama Bu Siti datang dengan mata bengkak. Anaknya, seorang remaja putri, hilang sejak semalam. Katanya, anak itu kabur bersama seorang pria yang dikenalnya dari pengajian online.
"Ustadz, doakan dia, Nak," isak Bu Siti mencengkeram lengan baju gamus Aris yang sudah tipis. "Dia anak baik, Ustadz. Dia hanya salah pilih teman. Jangan sampai dia... jangan sampai dia hamil di luar nikah, Ustadz. Saya lebih baik mati daripada melihat aib itu."
Aris menatap wanita itu. Di balik keputusasaan Bu Siti, Aris melihat sesuatu yang ganjil. Bukan ketakutan akan keselamatan anaknya, melainkan ketakutan akan opini tetangga. Ada nada posesif yang dingin dalam tangisnya, seolah sang anak adalah properti yang rusak, bukan nyawa yang tersesat.
"Sabar, Bu. Kita ikhtiar cari," ucap Aris lembut, melepaskan lengannya pelan. "Allah Maha Menutupi Aib, tapi Allah juga Maha Penyayang pada yang tersesat. Doa Ibu harusnya untuk kembalinya hati anak Ibu, bukan hanya untuk bersihnya nama keluarga.
Bu Siti terdiam sejenak, lalu mengangguk cepat, seolah tidak menangkap makna sindiran halus itu. "Iya, Ustadz. Yang penting jangan sampai viral. Nanti suami saya marah besar."
Aris menghela napas panjang saat wanita itu pergi. Hatinya sesak. Ini realitas yang sering ia telan: agama sering kali dijadikan tameng gengsi, bukan jalan pulang.
Sore harinya, giliran pria itu datang. Namanya Pak Hendra, pengusaha sukses yang baru saja menyumbangkan AC baru untuk musholla. Wajahnya berseri, senyumnya lebar, tipe manusia yang selalu merasa benar di hadapan Tuhan dan manusia.
"Ustadz Aris," sapa Hendra sambil menepuk pundaknya, meninggalkan aroma parfum mahal yang menyengat. "Saya dengar ada anak hilang? Hati-hati, Ustadz. Zaman sekarang banyak oknum yang memanfaatkan situasi begini untuk memeras atau membuat fitnah. Kalau perlu, kita lapor polisi saja biar jelas."
Aris menatap mata Hendra. Ada kilatan licik di sana. Kilatan seseorang yang tahu persis di mana anak itu berada, atau setidaknya, siapa yang membawanya pergi.
"Pak Hendra," kata Aris pelan, membersihkan debu dari mimbar kayu yang lapuk. "Kadang, polisi tidak bisa menjangkau sudut-sudut hati yang gelap. Hanya kejujuran yang bisa menerangkannya."
Hendra tertawa renyah, terlalu keras untuk situasi se genting ini. "Ah, Ustadz ini terlalu puitis. Yang penting bukti. Tanpa bukti, kita jangan mudah menuduh. Nanti malah kita yang kena pasal pencemaran nama baik."
Malam tiba. Salat Isya berlangsung khidmat meski jamaah hanya belasan orang. Aris naik mimbar. Niatnya pagi tadi ingin berbicara tentang "Kesabaran Orang Tua", tapi lidahnya terasa berat. Kata-kata itu tertahan di tenggorokan, digantikan oleh firasat buruk yang menusuk-nusuk dada.
Ia memulai khutbah dengan hamdalah yang getar. Lalu, tanpa naskah, ia berbicara apa adanya.
"Hadirin sekalian," suara Aris bergema di ruangan sempit itu, membelah suara hujan di luar. "Hari ini, ada anak yang hilang. Ibunya menangis bukan karena rindu, tapi karena takut malu. Ayahnya mungkin tersenyum, tapi senyum itu menutupi rahasia yang busuk."
Jamaah tersentak. Beberapa saling berpandangan. Pak Hendra, yang duduk di saf depan, mendadak menghentikan tasbihnya. Wajahnya berubah kaku.
"Kita sering kali sibuk menutupi aib dengan tembok tinggi," lanjut Aris, suaranya mulai meninggi, penuh getaran emosi yang tak bisa ia bendung lagi. "Kita lebih peduli pada 'apa kata orang' daripada 'apa kata Allah'. Kita rela anak kita tersesat di neraka dunia, asalkan nama kita tetap harum di arisan ibu-ibu."
Tiba-tiba, pintu musholla terbuka kasar. Angin malam menerbangkan beberapa lembar kertas pengajian di lantai.
Di ambang pintu, berdiri seorang gadis remaja. Bajunya compang-camping, wajahnya pucat pasi, dan di pelukannya ada tas ransel sekolah yang sobek. Itu dia. Anak Bu Siti.
Seluruh jamaah menoleh. Hening mencekam.
Gadis itu tidak langsung lari ke arah saf perempuan. Ia justru menatap lurus ke arah Pak Hendra. Tatapan itu bukan tatapan korban pada penyelamat. Itu adalah tatapan ngeri pada monster yang selama ini ia kira manusia.
"Bapak..." suara gadis itu pecah, lirih namun terdengar jelas hingga ke barisan belakang. "Bapak bilang kalau Bapak bawa saya ke rumah sakit karena saya sakit. Tapi kenapa... kenapa kita malah ke rumah kontrakan Bapak?"
Darah di wajah Pak Hendra surut seketika. Ia berdiri tergagap, kursi di belakangnya jatuh terbanting. "Apa... apa kamu ngomong, Dek? Kamu bingung! Saya cuma mau bantu!"
"Bantu?" Gadis itu tertawa getir, air matanya mengalir deras. "Bantu dengan membuka baju saya? Bantuan seperti apa itu, Pak? Ustadz Aris... tolong..."
Gadis itu jatuh berlutut, tubuhnya gemetar hebat.
Kekacauan terjadi. Ibu-ibu berteriak histeris. Pria-pria bangkit menahan amarah. Bu Siti yang tadi pulang, entah dari mana munculnya, menerobos masuk dan langsung menampar wajah anaknya sendiri.
"Dasar anak jalang! Malu-maluin aku!" teriak Bu Siti, bukan memeluk, tapi memukul. "Kenapa kamu pulang?! Kenapa tidak mati saja di sana?! Sekarang habis sudah harga diri keluarga kita!"
Aris terpaku di atas mimbar. Dunianya seakan berhenti berputar.
Ini dia realitas yang paling sulit ditebak. Bukan kejahatan si kaya yang sudah ia duga. Tapi kekejaman seorang ibu yang lebih memilih anaknya mati daripada menanggung malu. Dan diamnya puluhan jamaah lain yang awalnya marah pada Hendra, kini perlahan terdengar berbisik-bisik menyalahkan si gadis. "Makanya jangan pakai baju ketat," "Pasti dia yang goda," "Dasar anak zaman sekarang."
Aris turun dari mimbar dengan langkah gontai. Ia melewati kerumunan yang sibuk menghakimi. Ia mendekati gadis itu yang sedang dipukuli ibunya, lalu membentangkan tubuhnya, melindungi tubuh ringkih itu dari tangan-tangan yang konon melahirkan dan mengasihi.
"Cukup!" bentak Aris. Suaranya bukan lagi suara lembut dai, tapi raungan singa terluka. "Siapa di antara kalian yang belum pernah berbuat salah? Siapa yang berani melempar batu pertama?"
Ia menatap Bu Siti yang masih histeris, lalu menatap Pak Hendra yang mencoba menyusup keluar lewat pintu belakang.
"Keadilan hari ini terbalik, Bu," bisik Aris pada ibu itu, dengan air mata yang akhirnya tumpah, membasahi jenggotnya yang tipis. "Anakmu selamat dari serigala, tapi dia baru saja dimakan oleh induknya sendiri."
Aris menoleh ke arah jamaah, matanya menyapu satu per satu wajah mereka yang penuh penghakiman.
"Musholla ini mungkin atapnya bocor," kata Aris lirih, suaranya bergetar menahan amarah dan sedih yang campur aduk. "Tapi yang lebih bocor dari atap ini... adalah hati kita."
Gadis itu menjerit pilu dalam dekapan Aris, sementara di luar, hujan semakin deras, seolah langit pun ikut menangisi manusia yang telah kehilangan kemanusiaannya.
Dan di sudut ruangan, Pak Hendra berhasil lolos ke dalam kegelapan malam, membawa serta senyum liciknya yang belum sepenuhnya pudar, meninggalkan pertanyaan besar yang menggantung: Apakah keadilan benar-benar akan tegak, ataukah uang dan kekuasaan akan kembali membeli keheningan esok hari?
Aris memeluk gadis itu erat, menyadari satu hal yang paling menyakitkan: Menjadi penjaga moral di tengah masyarakat yang munafik adalah pekerjaan paling sepi di dunia.
Bersambung...