NovelToon NovelToon
JANDA 35 RASA 26: NANA ENGGAN MENUA

JANDA 35 RASA 26: NANA ENGGAN MENUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Beda Usia / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir
Popularitas:560
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Siang hari, dia Ekantika, CEO berhati dingin yang ditakuti semua orang. Malam hari, dia Nana, gadis 26 tahun yang ceria di aplikasi kencan.

Setelah diceraikan dan dicap 'barang bekas' oleh mantan suaminya, Ekantika membalas dendam dengan cara yang gila: meretas algoritma aplikasi kencan untuk menciptakan identitas palsu. Tak disangka, ia malah match dengan Riton, mantan karyawannya yang kini jadi CEO saingan!

Riton benci wanita manipulatif, tapi dirinya jatuh cinta setengah mati pada 'Nana'. Apa yang terjadi jika Riton tahu bahwa gadis impiannya itu mantan bosnya, kini berusia 35 tahun yang menyandang status janda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 Kena Prank oleh Kebohongan Sendiri

Kata-kata Riton bagai pisau bermata dua. Di satu sisi, ia merasa sangat tersentuh. Ini yang aku inginkan. Pria yang melindungiku, yang mencintaiku tanpa melihat statusku. Namun di sisi lain, keputusasaan merayapi. Ia terjebak dalam perangkap yang ia ciatkan sendiri. Semakin Riton ingin melindunginya, semakin dalam ia masuk ke dalam jaring kebohongan ini.

"Bagaimana, Na? Kamu punya info tentang Toni?" Riton bertanya lagi, suaranya penuh harap.

Ekantika menghela napas panjang. Ini sudah terlalu jauh. Aku harus menghentikannya. Tapi bagaimana?

Ia sadar ia tidak bisa terus menghindar. Riton tidak akan menyerah. Jika ia menolak terlalu keras, Riton mungkin akan curiga pada Nana.

"Oke," Ekantika akhirnya menyerah, suaranya pelan. "Aku akan coba cari info tentang dia. Tapi kamu janji, kamu cuma mau ngobrol, ya. Jangan macam-macam."

"Janji!" Riton terdengar lega. "Pokoknya aku mau Toni itu berhenti ganggu kamu."

Malam itu, Ekantika tidak bisa tidur. Ia menatap langit-langit kamarnya yang gelap. Aku menciptakan monster, dan sekarang pahlawanku akan menghadapi monster itu. Ini adalah risiko terbesar yang ia ambil sejauh ini. Bagaimana jika Riton menemukan bahwa Toni hanya fiktif? Bagaimana jika Riton mengetahui bahwa semua ini adalah kebohongan lain?

Keesokan harinya, Ekantika segera menghubungi Dimas.

"Dimas, Riton ingin menemui Toni," Ekantika berkata, suaranya tanpa ekspresi, namun ada keputusasaan yang kentara.

Dimas menganga. "Apa? Menemui? Bu, itu... gawat! Toni itu kan cuma AI! Kita nggak punya Toni sungguhan!"

"Aku tahu!" Ekantika membentak, frustrasinya memuncak. "Makanya aku bilang gawat! Apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita tidak bisa membiarkan Riton bertemu Toni yang tidak ada!"

"Ehm... mungkin kita bisa bilang Toni sudah pindah ke luar negeri? Atau mendadak sakit? Atau tiba-tiba... meninggal?" Dimas menyarankan, nada suaranya terdengar absurd.

"Gila! Riton pasti akan curiga!" Ekantika mengusap wajahnya kasar. "Tidak ada yang namanya 'mati mendadak' setelah meneror orang, Dimas!"

"Kalau begitu... kita harus buat Toni jadi lebih 'mengancam' agar Riton takut dan mundur?"

"Tidak! Riton bukan orang yang penakut! Justru itu masalahnya!" Ekantika menjerit tertahan. Riton terlalu heroik untuk kebaikanku sendiri.

Mereka menghabiskan beberapa jam berikutnya dalam suasana tegang, mencoba mencari solusi untuk masalah Toni yang fiktif ini. Tapi setiap ide yang muncul terasa lebih buruk dari yang sebelumnya.

"Kita tidak punya pilihan lain, Bu," Dimas akhirnya berkata, wajahnya pucat. "Kita harus menghapus semua jejak Toni di internet. Bilang ke Riton kalau Toni akhirnya menyerah dan menghilang."

"Dan bagaimana jika Riton tidak percaya? Bagaimana jika dia tetap ingin mencari tahu? Dia ini pintar, Dimas. Dia tidak akan mudah dibodohi," kata Ekantika, hatinya berdenyut.

Akhirnya, Ekantika memberanikan diri mengirimkan detail kontak Toni yang sudah Dimas manipulasi agar terlihat samar dan sulit dilacak. Alamat email palsu, nomor telepon yang tidak aktif, dan akun media sosial yang Dimas bersiap untuk segera menghapusnya setelah Riton melihat.

Riton membalas pesan Nana dengan antusias.

Riton: "Oke, Na! Makasih banyak ya infonya. Aku akan cari dia. Kamu tenang aja, biar aku yang urus."

Ekantika menatap ponselnya, tangannya gemetar. Ia baru saja mengirim pria yang ia cintai untuk mencari sosok hantu.

Beberapa hari berlalu. Ekantika hidup dalam ketegangan. Ia menunggu kabar dari Riton, antara takut dan harap. Takut Riton menemukan kebenaran, harap Riton tetap percaya.

Ponselnya berdering. Nama Riton.

Ekantika mengangkatnya, suaranya tercekat. "Halo, Ton?"

"Na," suara Riton terdengar aneh. Ada nada kebingungan, sedikit marah, tapi juga... mengherankan. "Aku... aku baru saja ketemu Toni."

Jantung Ekantika berhenti berdetak. Mustahil!

"Apa? K-ketemu di mana? Kamu... kamu baik-baik saja?" Ekantika bertanya, suaranya nyaris tidak keluar.

"Aku baik-baik saja, Na. Tapi... ada yang aneh," Riton berkata, suaranya kini lebih dingin. "Aku kenal Toni ini, Na."

Ekantika merasakan seluruh darahnya mengering. Tidak. Ini tidak mungkin.

"Maksudmu... kau kenal dia? Dari mana?"

"Na, aku kenal Toni ini. Dia bukan content creator," suara Riton kini penuh penekanan, dan ada nada yang Ekantika kenal betul: kecurigaan yang telah berubah menjadi fakta. "Dia sepupuku!"

Ekantika ambruk di kursinya, ponselnya nyaris terlepas dari genggaman. Seluruh dunia terasa runtuh di sekitarnya. Sepupu? Dimas! Apa yang kau lakukan?

Kerusakan Data Digital"Na, aku kenal Toni ini. Dia bukan content creator," suara Riton kini penuh penekanan, dan ada nada yang Ekantika kenal betul: kecurigaan yang telah berubah menjadi fakta. "Dia sepupuku!"

Ekantika ambruk di kursinya, ponselnya nyaris terlepas dari genggaman. Seluruh dunia terasa runtuh di sekitarnya. Sepupu? Dimas! Apa yang kau lakukan? Otaknya berputar, mencari alasan, mencari celah, mencari apa pun yang bisa menambal lubang besar yang baru saja tercipta dalam jaring kebohongannya. Ini adalah bencana. Toni yang fiktif, yang seharusnya hanya menjadi hantu digital, kini memiliki wajah, darah, dan hubungan keluarga dengan Riton.

"S-sepupumu?" Ekantika tergagap, suaranya tercekat di tenggorokan. Ia berusaha sekuat tenaga agar tidak terdengar terlalu panik. "M-mana mungkin, Ton? Aku... aku ingat betul namanya Toni Praditya, dan dia itu content creator yang... yang sedikit aneh. Kamu mungkin salah orang?"

"Salah orang bagaimana, Na?" Suara Riton kini lebih keras, ada nada terluka yang menusuk hati Ekantika. "Aku baru saja telepon sepupuku, namanya Toni juga, Toni Wijaya. Dia ngaku tadi dihubungi sama cewek yang mengaku namanya Nana, terus minta dia untuk berakting kayak mantan pacar posesif. Dia cerita dapat tawaran iseng dari salah satu temannya di dunia digital marketing. Dan tahu tidak, Na? Wajah di foto-foto Toni yang kamu kirimkan itu... persis banget sama Toni Wijaya, sepupuku! Bahkan dia sempat screenshot beberapa unggahan Instagram Toni Praditya sebelum hilang. Ternyata itu semua deepfake wajah sepupuku! Ini prank apa sebenarnya, Na?"

Ekantika merasakan kepalanya pusing, berdenyut-denyut. Dimas telah melakukan kesalahan fatal. Ia tidak hanya menggunakan AI untuk menciptakan wajah Toni, tapi wajah itu terlalu spesifik, terlalu identik dengan seseorang yang nyata di lingkaran pertemanan Riton. Dimas sialan! Ini bukan sihir, ini bencana!

"T-Ton, dengerin aku dulu!" Ekantika memotong, suaranya bergetar. Ia harus berimprovisasi. Cepat. Sekarang. "Ini... ini pasti kesalahpahaman! Toni yang aku maksud itu... dia punya kembaran identik! Iya, kembar identik yang terpisah! Namanya Toni Praditya, dia content creator. Mungkin sepupumu itu... Toni Wijaya, kembarannya? Ini beneran deh, Ton, aku nggak bohong!"

Riton terdiam di seberang telepon. Keheningan itu terasa lebih berat dari ribuan makian. Ekantika bisa merasakan Riton sedang mencerna alibi gilanya. Kembar identik yang terpisah? Ya ampun, ini benar-benar ide paling konyol yang pernah kukarang. Tapi ia harus mencobanya. Ini satu-satunya kesempatan.

"Kembar identik yang terpisah?" Riton mengulangi, nadanya terdengar skeptis, hampir mencemooh. "Na, kedengarannya itu kayak cerita sinetron yang dipaksakan. Ini terlalu banyak kebetulan, nggak sih? Dari kartu Tante kamu yang ternyata bos lamaku, parfum yang familiar, sampai sekarang mantan pacar kamu yang ternyata kembaran sepupuku?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!