Bagi Arlan, harga diri adalah segalanya. Namun, ketika sebuah kekalahan memaksanya memacari gadis paling "tak kasatmata" di sekolah, ia memulai permainan manipulasi yang paling berbahaya—tanpa sadar bahwa kepolosan adalah senjata yang paling mematikan bagi egonya.
Arlan tidak pernah kalah. Dengan wajah rupawan dan kekuasaan di tangannya, dia adalah "Tuhan" di SMA Nusantara. Hingga satu malam, sebuah taruhan konyol di meja biliar mengubah segalanya. Taruhannya sederhana: Taklukkan Lulu, si gadis kutu buku yang kuper, polos, dan selalu menunduk, lalu campakkan dia di malam perpisahan.
Bagi Arlan, ini hanyalah tugas mudah. Dia akan menggunakan pesonanya, melakukan love bombing, dan membuat Lulu bertekuk lutut. Namun, Lulu bukanlah lawan yang biasa. Kepolosan Lulu yang keterlaluan membuat semua taktik manipulasi Arlan mental. Saat Arlan mencoba menyakitinya, Lulu justru membalas dengan ketulusan yang menampar ego narsistiknya.
Siapakah yang akan hancur lebih dulu? Arlan dengan egonya, ata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Saksi yang gak berdaya
Sisil bersandar di balik tembok koridor yang dingin, tangannya membekap mulutnya sendiri agar isakannya tidak terdengar. Dari celah pilar, ia menyaksikan pemandangan yang paling mengerikan sepanjang hidupnya: Lulu, sahabatnya yang dulu menghabiskan malam-malam tanpa tidur demi menyusun catatan biologi yang sempurna, kini sedang melepaskan buku itu ke dalam api.
Ia melihat abu hitam beterbangan, hinggap di rambut Lulu dan kacamata tebalnya. Ia melihat Arlan berdiri di sana dengan senyum kemenangan yang tipis—sebuah senyum iblis yang sedang merayakan kematian jiwa seseorang.
"Lulu... bodoh... kenapa kamu lakuin itu?" bisik Sisil lirih, air matanya jatuh membasahi seragamnya.
Sisil teringat setahun lalu, saat mereka berdua berjanji di perpustakaan untuk masuk ke universitas terbaik bersama-sama. Lulu pernah bilang bahwa buku catatan itu adalah hartanya yang paling berharga karena di sanalah ia menuliskan semua mimpinya. Sekarang, mimpi itu sudah menjadi abu, hancur hanya karena satu perintah dari laki-laki yang baru ia kenal beberapa minggu.
Sisil ingin sekali berlari, menendang tempat pembakaran itu, dan menarik Lulu pergi. Namun, ia melihat cara Lulu menatap Arlan—tatapan penuh ketakutan sekaligus ketergantungan yang luar biasa. Sisil sadar, Arlan bukan sekadar pacar bagi Lulu, tapi sudah menjadi tuhan baru bagi dunianya yang sempit.
Saat jam pelajaran berlangsung, Sisil tidak bisa fokus. Ia mencuri pandang ke sampingnya. Lulu duduk dengan meja kosong. Tidak ada pena yang menari-nari di atas kertas, tidak ada gumaman rumus yang biasanya keluar dari bibirnya. Lulu hanya menatap kosong ke papan tulis, namun matanya seolah melihat ke tempat yang sangat jauh.
"Lu," panggil Sisil dengan suara yang nyaris tak terdengar saat guru sedang menulis di depan.
Lulu tidak menoleh. Ia seolah sudah mematikan semua indranya terhadap Sisil.
"Lu, aku punya rangkuman materi minggu lalu. Kamu mau fotokopi punya aku?" Sisil mencoba menyodorkan bukunya ke arah Lulu di bawah meja.
Lulu melirik buku itu sekilas. Untuk sesaat, Sisil melihat ada binar rindu di mata Lulu. Namun, sedetik kemudian, Lulu teringat ucapan Arlan: "Sisil itu iri sama kamu, dia cuma mau narik kamu jatuh."
Lulu menjauhkan tangannya dari buku Sisil seolah benda itu beracun. "Simpan aja buat kamu sendiri, Sil. Aku nggak butuh lagi. Arlan bener, buku-buku cuma bikin aku jadi aneh."
Sisil merasa hatinya diremas. "Arlan nggak sayang kamu, Lu! Dia cuma mau nguasain kamu! Kamu nggak liat apa yang baru aja kamu lakuin? Kamu ngebakar masa depan kamu sendiri!"
"Diam, Sil!" bentak Lulu pelan tapi penuh penekanan. "Kamu nggak tahu apa-apa soal kami. Arlan itu satu-satunya orang yang mau nerima aku pas aku gagal. Kamu? Kamu cuma diem aja pas aku di-bully Shinta kan?"
Sisil terbelalak. Air matanya kembali mengalir. "Gue diem karena gue mau lo sadar kalau Arlan itu pelindung palsu! Gue pengen lo pake logika lo lagi, Lu!"
"Pergi, Sil. Jangan bicara sama aku lagi," ucap Lulu dingin, lalu ia membuang muka.
Saat bel pulang berbunyi, Sisil mengikuti Lulu dari jauh. Ia melihat Lulu berjalan dengan langkah gontai menuju mobil Arlan. Arlan menyambutnya, mengusap pipi Lulu, namun matanya justru melirik ke arah Sisil yang berdiri di kejauhan. Arlan memberikan seringai licik, seolah berkata: “Lihat? Dia sudah benar-benar milikku. Kamu kalah.”
Sisil jatuh terduduk di pinggir koridor setelah mobil BMW itu melesat pergi. Ia menangis tersedu-sedu, memeluk tasnya sendiri. Ia merasa gagal sebagai sahabat. Ia melihat seorang gadis jenius berusia 15 tahun sedang digiring menuju jurang, dan ia tidak bisa melakukan apa pun karena sang "mangsa" justru mencintai sang "predator".
"Maafin gue, Lu," isak Sisil di tengah koridor yang mulai sepi. "Gue kasihan sama lo... gue bener-bener kasihan liat lo yang sekarang."
Sisil tahu, ini baru permulaan. Dengan buku-buku yang sudah terbakar dan hubungan yang sudah putus dengan satu-satunya teman, Lulu kini benar-benar sendirian di dalam genggaman Arlan. Sisil hanya bisa berdoa agar suatu saat nanti, kacamata tebal Lulu tidak hanya membantu penglihatannya, tapi juga membantu hatinya untuk melihat kebenaran yang mengerikan itu.
Sisil masih tidak beranjak dari tempatnya. Ia menatap telapak tangannya yang gemetar, teringat bagaimana dulu tangan Lulu selalu dipenuhi noda tinta karena terlalu rajin menulis. Kini, tangan itu mungkin hanya akan digunakan untuk memegang ponsel, menunggu instruksi dari Arlan, atau lebih buruk lagi: digunakan untuk menghapus air mata yang akan terus jatuh akibat manipulasi laki-laki itu.
"Dia bukan Arlan yang kamu kenal, Lu," gumam Sisil pada angin yang berhembus di koridor. "Dia pemangsa yang sedang menikmati caramu hancur perlahan."
Sisil kemudian berdiri, menyeka air matanya dengan kasar. Ia tidak akan menyerah, namun ia sadar bahwa untuk saat ini, ia harus mundur. Setiap kali ia mencoba mendekat, Arlan akan menggunakan itu sebagai bahan bakar untuk semakin mengadu domba mereka. Sisil berjalan menuju gerbang sekolah dengan langkah berat, melewati tempat pembakaran sampah yang masih menyisakan kepulan asap tipis. Di sana, ia melihat sisa potongan sampul buku biru milik Lulu yang belum habis terlalap api.
Ia memungut potongan kecil itu dan menyimpannya di saku seragam. Sebuah bukti bisu bahwa di sekolah ini, di bawah hidung para guru dan siswa lainnya, sedang terjadi pembunuhan karakter yang paling kejam. Sisil bersumpah dalam hati, meski Lulu membencinya sekarang, ia akan tetap menunggu di garis akhir. Ia akan tetap di sana saat Arlan akhirnya membuang Lulu, saat gadis itu tersadar bahwa ia telah kehilangan segalanya demi sebuah cinta palsu yang hanya berujung pada abu.
Kesedihan Sisil bukan lagi karena ia kehilangan teman mengobrol, melainkan karena ia menyaksikan sebuah berlian paling bersinar di sekolah itu sengaja dihancurkan hingga menjadi butiran pasir yang tak berharga oleh kesombongan seorang Arlan Wiraguna.