Raisa anak kedua dari keluarga dengan ibu tunggal bernama Sri, Sri telah lama menjadi tulang punggung keluarga setelah suami nya meninggal saat Raisa masih kecil.
Kakak nya yang lebih tua bernama Ratna menikah dengan Rio dari keluarga yang berada.
masalah muncuk ketika Ratna dan Rio yang sudah lima tahun menikah masih belum juga memiliki keturunan karna kesuburan Ratna kurang,, tekanan yang di berikan keluarga Rio membuat Ratna memiliki niat untuk membuat Raisa hamil anak suami nya ..
Niatan itu di ungkap kan Ratna kepada ibu dan adik nya walau pun tanpa sepengetahuan suami nya sendiri..
Apa yang harus di lakukan Raisa untuk bisa membantu kesulitan Ratna kakak nya,, Apa dia akan menerima nya dan setuju menjadi pelakor apa menolak nya..?
Jangan lewatkan cerita nya untuk mengetahui kelanjutan nya🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti_1234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 11: "JARAK DAN KEBINGUNGAN
*****
Rio datang lebih awal dari kantor hari ini. Dia langsung masuk ke ruang kerja dan mulai mengerjakan laporan proyek dengan penuh fokus—bahkan lebih keras dari biasanya. Dia tahu bahwa bekerja ekstra keras adalah satu-satunya cara untuk mengalihkan pikirannya dari perasaan yang tidak diinginkan terhadap Raisa.
Pak Sudarto masuk ke ruangan dan melihat Rio yang sudah sibuk mengetik di depan komputer. “Rio, kamu datang terlalu awal ya. Apakah ada masalah dengan Bu Ratna?”
“Tidak, Pak. Cuma ingin menyelesaikan laporan sebelum rapat sore nanti,” jawab Rio dengan senyum yang terlihat dipaksakan. “Selain itu, mungkin lebih baik aku menghabiskan lebih banyak waktu di kantor saja agar bisa membantu lebih banyak untuk proyek.”
Sementara itu, Raisa sedang duduk di taman kampus bersama teman sekelasnya, Maya. Wajahnya tampak murung dan sering melihat ponselnya seolah-olah sedang menunggu pesan atau panggilan tertentu.
“Kok kamu kayak gitu aja, Ras? Seperti kehilangan sesuatu ya?” tanya Maya dengan perhatian.
“Ya juga sih,” jawab Raisa pelan. “Kak Rio biasanya selalu menjemput aku dari kampus dan memberikan makan siang yang sudah dibuatnya sendiri. Tapi sejak beberapa hari terakhir, dia jadi berbeda. Jarang menghubungi, bahkan kalau bertemu pun dia tampak jauh dan tidak seperti biasanya.”
“Mungkin dia sedang kesusahan dengan kondisi kakakmu kan?” ucap Maya mencoba menghibur. “Bu Ratna masih di rumah sakit kan? Pasti dia banyak mikir dan capek.”
Raisa mengangguk tapi tetap merasa ada sesuatu yang salah. “Ya mungkin begitu. Tapi rasanya ada yang berbeda, Maya. Seperti aku melakukan kesalahan apa yang membuat dia marah padaku.”
Sore hari itu, Rio pulang ke rumah hanya untuk mengambil baju ganti sebelum kembali ke rumah sakit menemani Ratna. Raisa sedang berada di ruang tamu dan segera berdiri ketika melihatnya masuk.
“Kak Rio, mau makan dulu sebelum pergi ke rumah sakit?” tanya Raisa dengan suara lembut. “Aku sudah memasak makanan kesukaan Kak Rio.”
Rio berhenti sejenak dan melihat meja makan yang sudah diatur rapi dengan hidangan favoritnya—rendang daging dan sambal matah. Hatinya terasa sakit karena harus menjauh dari orang yang sebenarnya dia ingin perhatikan.
“Maaf, Ras. Aku tidak punya waktu untuk makan. Aku harus segera pergi ke rumah sakit karena Dokter Arif akan memberikan kabar tentang kondisi kakakmu,” jawabnya dengan nada yang jauh. Dia langsung mengambil baju dari kamar dan segera pergi tanpa melihat ke belakang.
Raisa berdiri di sana sendirian, matanya mulai berkaca-kaca. Dia merasa sangat bingung dan sedih dengan sikap Rio yang tiba-tiba berubah drastis. Sri Wahyuni yang melihatnya datang dan membelainya dengan lembut.
“Jangan sedih ya, Nak. Rio sedang sangat tertekan dengan kondisi Ratna. Mungkin dia tidak sengaja menyakiti perasaanmu,” ucap Sri Wahyuni dengan penuh kasih.
“Tapi Bu, aku merasa seperti aku telah melakukan kesalahan apa. Kak Rio tidak pernah seperti ini padaku sebelumnya,” jawab Raisa sambil menahan tangisan.
Untuk mengatasi perasaannya, Rio memutuskan untuk mengajukan diri untuk mengikuti kunjungan bisnis ke Jakarta selama tiga hari bersama Pak Hendra dan tim. Dia berpikir bahwa dengan menjauh dari rumah dan Raisa selama beberapa hari, dia bisa lebih tenang dan mengendalikan perasaannya dengan baik.
“Saya pikir ini akan baik untuk perusahaan dan juga untuk saya pribadi, Pak. Saya bisa belajar banyak dari kantor pusat mereka dan mendapatkan wawasan baru untuk proyek kita,” ucap Rio saat mengusulkannya kepada Bapak Darmawan.
Bapak Darmawan mengangguk setuju. “Baiklah, Rio. Semoga perjalanan ini bermanfaat. Jangan khawatirkan rumah dan Bu Ratna, kita semua akan membantu merawatnya.”
Pada hari keberangkatan Rio, Raisa datang untuk mengantarnya ke bandara. Dia membawa kotak kecil berisi makanan yang sudah dibuatnya sendiri.
“Untuk makan di jalan ya, Kak Rio. Jangan sampai kelaparan di perjalanan,” ucap Raisa dengan senyum yang paksa.
Rio menerima kotaknya dengan hati yang berat. “Terima kasih, Ras. Kamu baik-baik saja ya selama aku tidak ada di rumah. Jangan lupa untuk menjenguk kakakmu di rumah sakit dan beri tahu aku jika ada kabar darinya.”
Selama tiga hari di Jakarta, Rio bekerja dengan sangat keras. Dia menghabiskan waktu dari pagi hingga malam untuk bertemu dengan mitra bisnis dan mengunjungi berbagai proyek konstruksi. Namun setiap saat, pikirannya selalu kembali ke rumah—kepada Ratna yang sedang berjuang untuk kesembuhan, dan kepada Raisa yang mungkin sedang merasa kebingungan dengan sikapnya.
Dia sering melihat foto keluarga di ponselnya, terutama foto Ratna dan Raisa bersama-sama. Setiap kali melihatnya, dia mengingatkan dirinya sendiri tentang tanggung jawabnya sebagai suami dan kakak tiruan bagi Raisa.
“Saya harus lebih kuat,” bisik Rio sendiri di kamar hotel saat malam hari. “Ratna adalah istri saya, dan saya mencintainya dengan sepenuh hati. Raisa adalah keluarga saya, tidak lebih dari itu.”
Keesokan paginya, sebelum pulang ke Semarang, Rio membeli oleh-oleh khusus untuk Ratna dan Raisa. Untuk Ratna dia membeli kain batik pilihan, dan untuk Raisa dia membeli buku referensi kuliah yang dia tahu sedang dicarinya serta sebuah gelang kayu kecil yang unik.
“Mungkin dengan memberikan oleh-oleh ini, dia akan mengerti bahwa aku tidak marah padanya,” pikir Rio sambil menyimpan barang-barang itu dengan hati-hati.
Ketika tiba di rumah pada malam hari, Rio langsung pergi ke kamar Raisa. Dia mengetuk pintu lembut dan masuk ketika mendengar suara “masuk”. Raisa sedang belajar di depan meja dan terkejut melihatnya masuk dengan tas oleh-oleh.
“Kak Rio sudah pulang?” tanya Raisa dengan suara sedikit terkejut.
Rio memberikan tas oleh-oleh padanya dengan senyum lembut. “Ya, aku baru saja tiba. Ini untukmu, Ras. Aku tahu kamu sedang mencari buku ini, dan gelangnya aku pikir akan cocok denganmu.”
Raisa menerima barang-barangnya dengan mata yang berkaca-kaca. “Terima kasih banyak, Kak Rio. Aku tidak menyangka kamu masih ingat tentang buku ini.”
“Tentu saja aku ingat,” jawab Rio dengan nada yang lebih hangat dari biasanya, meskipun dia tetap menjaga jarak fisik. “Aku hanya ingin kamu tahu bahwa kamu tetap keluarga bagi aku. Hanya saja aku sedang sedikit kesusahan mengatur waktu dan pikiran akhir-akhir ini. Maaf jika aku menyakiti perasaanmu.”
Raisa mengangguk dengan senyum lega. “Tidak apa-apa, Kak Rio. Aku hanya senang kamu kembali dan tidak marah padaku lagi.”
Setelah itu, Rio pergi ke rumah sakit menemani Ratna. Dia memeluk istri nya dengan erat dan mencium dahinya. “Aku mencintaimu, sayang. Aku akan selalu ada untukmu dan keluarga kita,” ucapnya dengan penuh keyakinan, berusaha untuk menghapus semua perasaan yang tidak pantas dari hatinya.
Di luar kamar rumah sakit, bulan bersinar terang—seolah menjadi bukti bahwa Rio sedang berjuang dengan sekuat tenaga untuk menjaga keharmonisan keluarga yang dicintainya.
......................
...****************...
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...