Naura hanya seorang gadis yang jatuh cinta terlalu dalam… dan harus membayar semuanya dengan kehilangan.
Ditinggalkan oleh lelaki yang ia cintai 'tanpa pernah tahu bahwa itu semua hanyalah kebohongan kejam'. Naura memilih pergi, membawa luka dan kehidupan baru yang tumbuh dalam rahimnya sendirian.
Selama delapan belas tahun, ia bertahan di tengah kemiskinan, mengorbankan segalanya demi satu alasan: anaknya, Genesis.
Namun saat dunia Genesis hanya tersisa ibunya… takdir kembali merenggut satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Kini, di antara sepi, kehilangan, dan batas tipis antara kewarasan dan kegilaan…
Satu minggu kemudian, Alexa datang menyelamatkan Genesis yang sedang terpuruk setelah Naura meninggal.
Namun ternyata, Alexa adalah Naura...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Udara pagi di Puncak masih dingin saat Genesis berdiri di balik deretan pohon pinus, matanya tidak pernah lepas dari pagar tinggi villa itu. Kabut tipis menyelimuti area sekitar, membuat bangunan besar di depannya terlihat samar tapi tetap terasa angkuh dan tak tersentuh.
Sudah hampir dua jam ia di sana, sejak langit masih abu-abu sebelum matahari naik sepenuhnya, tapi bukan sekadar menunggu—ia sedang menghitung, memperhatikan, mempelajari.
Setiap lima belas menit, satu penjaga berkeliling dari sisi kanan ke kiri. Ada dua titik buta di bagian belakang, dekat gudang kecil yang dipakai staf. Dan ada satu gerbang servis yang sesekali terbuka untuk kendaraan logistik masuk.
Genesis menghela napas pelan, tangannya masuk ke saku jaket, meremas sesuatu di dalamnya—kartu identitas seadanya yang ia dapat dari kenalan di bawah. Bukan miliknya, tapi cukup untuk sekadar “terlihat punya urusan”.
“Kalau mau masuk, jangan kayak maling. Harus kelihatan kayak orang yang memang berhak ada di sana…” gumamnya pelan, mengingat ucapan pria tua penjaga warung tadi malam.
Ia menatap sekali lagi ke arah villa itu, lalu melangkah keluar dari balik pepohonan. Kali ini langkahnya tidak ragu. Ia berjalan lurus ke arah gerbang samping, bahunya tegak, ekspresinya datar seolah memang punya tujuan jelas.
Di sisi lain pagar, dua penjaga berdiri. Salah satunya langsung mengangkat tangan saat melihat Genesis mendekat. “Hei! Mau ke mana?”
Genesis berhenti, memasang wajah sedikit kesal. “Dari bawah disuruh nganter barang tambahan buat dapur. Katanya stok kurang,” jawabnya cepat, nada suaranya dibuat santai tapi meyakinkan.
Penjaga itu menyipitkan mata. “Barang mana?”
Genesis mengangkat kantong plastik hitam di tangannya—isi seadanya yang ia beli tadi pagi. “Ini. Dibilangin juga buru-buru.”
Penjaga itu saling pandang dengan temannya. Ragu. Tidak sepenuhnya percaya, tapi juga tidak punya alasan kuat untuk menolak.
“Masuk lewat situ. Jangan macem-macem,” akhirnya salah satu dari mereka membuka sedikit gerbang samping.
Genesis mengangguk singkat. “Yaelah, gue juga kerja,” jawabnya sambil lewat begitu saja, menahan napas dalam hati saat langkahnya benar-benar melewati batas pagar.
Ia berhasil masuk.
Jantungnya berdegup lebih kencang sekarang, tapi wajahnya tetap datar. Ia berjalan menyusuri jalur kecil menuju area belakang villa, berusaha terlihat seperti bagian dari aktivitas normal di sana. Di dalam kepalanya hanya ada satu tujuan—mencari Alexa.
Di saat yang sama, di dalam villa, Alexa berdiri di depan wastafel dapur kecil yang biasa dipakai staf. Ia menatap aliran air yang jatuh tanpa fokus, pikirannya jauh ke mana-mana. Sejak sarapan tadi, kepalanya tidak pernah benar-benar tenang. Potongan memori itu terus muncul, samar tapi menusuk.
“Kamu masih suka minum kopi tanpa gula ya?”
Kalimatnya sendiri terulang di kepala.
Kenapa aku bisa tau…?
Ia menutup keran, menarik napas dalam. “Aku harus cari tahu,” bisiknya pelan. Bukan lagi sekadar rasa penasaran. Ini sudah berubah jadi kebutuhan. Kalau tidak, ia akan gila dengan semua kebingungan ini.
Langkah kakinya pelan saat keluar dari dapur, matanya menyapu sekitar. Villa itu besar, tapi tidak semua area bebas diakses. Ia sudah mulai mengingat jalur-jalur yang biasa dilewati pelayan, area mana yang jarang diawasi, dan waktu-waktu tertentu ketika pengawasan sedikit longgar.
Ia berbelok ke koridor samping, menuju taman belakang. Udara di luar terasa lebih segar, meski dinginnya menusuk. Rumput masih basah oleh embun, dan beberapa kursi kayu diletakkan menghadap pemandangan lembah.
Alexa melangkah pelan ke arah sana, duduk di salah satu kursi, memeluk dirinya sendiri. Ia menutup mata sejenak, membiarkan angin menyentuh wajahnya.
“Aku pernah di tempat seperti ini…” gumamnya lirih.
Dan lagi—potongan itu datang.
Suara tawa. Hujan. Bau kopi. Seorang pria yang berdiri terlalu dekat, membuat jantung berdebar dengan cara yang tidak bisa dijelaskan.
Alexa membuka matanya cepat, napasnya memburu. “Siapa kamu sebenarnya…” bisiknya, kali ini bukan hanya untuk Genta, tapi juga untuk dirinya sendiri.
Dari sisi lain taman, Genesis berjalan pelan, matanya bergerak cepat mengamati setiap sudut. Ia sudah melewati dapur belakang, gudang kecil, bahkan sempat berpapasan dengan dua staf tanpa menarik perhatian. Tapi belum ada tanda-tanda Alexa.
Sampai akhirnya—Ia melihat sosok itu.
Dari kejauhan, duduk di kursi kayu, rambutnya tertiup angin pelan, tubuhnya terlihat lebih kurus dari terakhir kali ia lihat. Tapi Genesis tidak mungkin salah.
“Lex…” bisiknya pelan, suaranya hampir tidak keluar.
Kakinya otomatis melangkah lebih cepat, tapi ia menahan diri. Jarak masih cukup jauh, tapi untuk pertama kalinya sejak kemarin, ia benar-benar melihat Alexa di depan mata, bukan bayangan di balik jendela.
Sementara itu, Alexa tiba-tiba merasa sesuatu. Bukan suara, bukan sentuhan—lebih seperti… perasaan. Seperti ada yang memanggilnya tanpa suara.
Ia menoleh perlahan.
Dan di detik itu, mata mereka bertemu.
Waktu seperti berhenti.
Genesis membeku di tempat, matanya tidak percaya tapi juga penuh kelegaan. Alexa berdiri perlahan dari kursinya, bibirnya terbuka sedikit, napasnya tertahan.
“Gen…” bisiknya pelan, air matanya langsung menggenang tanpa bisa ditahan.
Genesis mendekat satu langkah, lalu satu langkah lagi, kali ini tidak peduli siapa yang melihat. “Lex… gue di sini,” suaranya serak, penuh emosi yang selama ini ia tahan.
Alexa berlari.
Tanpa pikir panjang, tanpa peduli aturan, tanpa peduli siapa yang mengawasi. Ia berlari lurus ke arah Genesis dan langsung memeluknya erat begitu jarak di antara mereka hilang.
“Gen…” suaranya pecah di bahu pria itu, tangannya mencengkeram jaketnya seolah takut hilang lagi. “Aku takut… aku bener-bener takut…”
Genesis membalas pelukan itu tanpa ragu, lebih erat, lebih dalam. “Gue di sini. Gue nggak bakal ninggalin lo lagi,” bisiknya cepat, tangannya mengusap punggung Alexa menenangkan.
Untuk beberapa detik, dunia benar-benar hilang.
Sampai—
“Alexa.”
Suara itu datang dari belakang, tenang tapi tajam seperti pisau tipis yang memotong momen itu tanpa ampun.
Tubuh Alexa langsung menegang.
Genesis perlahan mengangkat kepalanya, matanya langsung berubah dingin saat melihat siapa yang berdiri beberapa meter dari mereka.
Genta.
Ia berdiri tegak, kedua tangannya masuk ke saku celana, ekspresinya tidak marah, tidak juga terkejut. Hanya… mengamati.
Tapi justru itu yang membuat suasana jadi lebih mencekam.
“Sepertinya aku datang di waktu yang kurang tepat,” katanya pelan, tapi jelas.
Alexa melepaskan pelukannya perlahan, berbalik dengan wajah yang masih basah air mata. Jantungnya kembali berdegup kencang, kali ini bukan karena rindu… tapi karena situasi yang tiba-tiba berubah menjadi rumit.
Genesis berdiri di sampingnya, refleks sedikit maju melindungi, tatapannya tidak lepas dari Genta.
Untuk pertama kalinya—Dua pria itu saling berhadapan.
Satu membawa masa lalu yang belum selesai. Satu lagi membawa cinta yang baru tumbuh tapi sudah membara.
Dan Alexa… berdiri di tengah-tengah keduanya, di hadapan antara seorang ayah dan seorang anak biologis dari hidup yang lalu.