Artha Jayendra adalah seorang pemuda yang kini menjadi pengangguran setelah dikhianati oleh sahabat-sahabatnya sendiri dan bahkan oleh kekasihnya. Pengkhianatan itu menghancurkan hidupnya hingga membuatnya terpuruk dalam keputusasaan. Dalam kondisi depresi, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat dari sebuah jembatan. Namun sebelum ia melompat, cahaya terang tiba-tiba muncul di langit, dan sebuah menara raksasa misterius muncul di tengah kota. Bersamaan dengan itu, sebuah sistem aneh muncul di hadapannya. Alih-alih terkejut, Artha justru melihatnya sebagai kesempatan baru. Dengan tekad yang dingin, ia bersumpah dunia telah berubah dan dia akan menjadi lebih kuat dan membalas semua penghinaan, penindasan, dan pengkhianatan yang pernah ia terima. Dari sinilah perjalanan Artha Jayendra dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yikkii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab VII—Terbukanya Dungeon
Pagi ini, kota terasa sangat sunyi. Langit masih tak mau membiru karena pagi seolah malam tidak pernah benar-benar pergi. Jalanan yang biasanya dipenuhi kendaraan kini dipenuhi mobil yang ditinggalkan begitu saja. Beberapa bahkan masih terparkir dengan pintu terbuka.
Angin bertiup pelan melewati bangunan kosong. Jay berdiri di depan rumah kontrakannya sambil menatap langit. Di tangannya tergenggam Goblin Bone Sword, pedang tulang pucat yang ia dapatkan kemarin. Ringan, tapi cukup tajam untuk membelah daging monster tingkat rendah tanpa kesulitan.
Ia menghela napas perlahan. “Asha.”
Sebuah jendela biru transparan muncul di hadapannya. “Ya, Tuan.”
“Apkah Monster masih akan bermunculan kembali…tampaknya yang kemarin sudah terbunuh semua?.”
“Untuk sekarang tidak tuan, karena fase outbreak telah selesai, yang dimana outbreak sendiri jarang terjadi. Jika memang terjadi maka keadaan kota sekarang mungkin akan lebih kacau jika manusia enggan untuk berevolusi…Tuan”
Jay mengangguk kecil. Belum sempat ia berkata lagi…Sebuah suara menggema di seluruh kota. Bukan suara dari manusia. Bukan juga suara dari monster. Suara itu datang dari arah menara yang menjulang tinggi di pusat kota. Terdengar dingin, datar, tanpa emosi. Seolah sumber suara tersebut sedang memanggil setiap manusia untuk kesana.
...----------------...
...[NOTIFIKASI SISTEM]...
...Dungeon pertama telah dibuka....
...Manusia kini dapat memasuki dungeon untuk memperoleh kekuatan, item, dan pengalaman....
...Pergilah ke pusat kota dan harap bertahan hidup....
...----------------...
Jay menaikkan alisnya sedikit. “Dungeon?”
Asha menjawab dengan intonasitenang. “Izin menjawab tuan. Dungeon adalah ruang terisolasi yang terpisah dari dunia manusia. Di dalamnya terdapat monster, sumber daya, dan berbagai tantangan yang dirancang sebagai tempat manusia memperoleh pengalaman, kekuatan, dan item. Struktur dungeon bisa berupa gua, reruntuhan, atau bahkan adanya tempat seperti neraka atau bahkan seperti syurga.”
“Setiap dungeon memiliki tingkat kesulitan tertentu setiap dungeon dapat di taklukan jika ada seseorang mengalahkan suatu Boss. Namun tetap saja mereka akan bangkit kembali jika anda sudah keluar dari lantai dungeon yang telah anda taklukan. Karena itu dungeon menjadi tempat utama bagi manusia untuk berkembang, namun juga sangat berbahaya karena kematian di dalamnya sering kali berarti kematian yang sebenarnya dan tak terbantahkan.” Lanjutnya agak memeringatkan.
Jayendra kembali masuk kedalam rumah dengan senyuman sinis berada di ujung mulutnya “Jadi tempat berburu ya.”
Ia menyalahakn televisi untuk melihat keadaan, setiap berita acara menyoroti menara yang menjulan tinggi di pusat kota. Para reporter juga mewawancarai orang-irang yang sekarang sedang berada di depan gerbang sana.
Sekilas di fikirannya oleh keinginan, yaitu keinginan untuk pergi ke menara tersebut. “Apa aku kesana saja ya…sudahlah ayo kesana Sha…”
“Baik tuan…saya selalu bersama Anda”
Tepat di tengah kota berdiri menara yang jika di lihat ujungnya maka tak akan terlihat dengan gerbang batu raksasa. Tingginya kisaran hampir lebih dari limabelas meter. Permukaan batu itu dipenuhi ukiran aneh yang bersinar merah samar, seperti simbol kuno yang tidak pernah ada di dunia manusia.
Di tengah gerbang tersebut terdapat pusaran energi hitam yang berputar perlahan. Seolah ruang itu sendiri sedang dilubangi.
Puluhan orang berdiri di sekitarnya. Beberapa orang terlihat ketakutan. Beberapa malah terlihat penasaran.
“Jadi ini dungeon?”
“Kelihatannya seperti portal…”
“Kalau kita masuk…kita bisa keluar lagi gak ya?”
Seorang pria besar memegang tongkat besi dan berkata keras, “kita tidak bisa terus berlari!”
Orang-orang menoleh kepadanya.
“Dunia kita telah di buat kacau balau oleh mereka! Jika memang ini rumah monster yang telah mneyelrang kita kemarin, maka ayo kita kedalam dan berganti kita yang menyerang mereka!.” Ucapnya dengan lantang menarik mata orang sekitarnya.
Seorang pria yang lebih tua mengangguk. “Dia benar. Kita tidak bisa berlari terus-terusan.”
Namun seorang wanita terlihat pucat. “Bagaimana kalau saat kita masuk sudah banyak monster yang menunggu dan kita…kita tak dapat kembali lagi lalu mati di sana?.”
Karena perkataan wanita tersebut, hening sejenak menerpa gerombolan orang-orang di depan dungeon.
Lalu seorang pria bertopi baseball melangkah maju. “Kalau kita tetap di luar… kita juga bisa mati…karena mereka juga bisa menyerang kita.”
Ia berjalan menuju portal. Ketika tubuhnya menyentuh pusaran energi, ia langsung menghilang. Kerumunan langsung gaduh.
“Dia masuk!”
“Dia tersedot kedalam sana!”
Beberapa orang mulai membentuk kelompok kecil.
“Kita masuk bareng saja, Minimal lima orang. Kalau ada monster kita bisa saling bantu.” Ujar pria pemegang tongkat baseball.
Jay berdiri sedikit jauh dari mereka. Ia hanya mengamati tak mau menggerombol dengan mereka. Manusia memang seperti ini. Ketika dunia runtuh, sebagian akan menyerah. Sebagian lainnya akan tetap mencoba melawan.
Suasana depan Menara sungguh ramai akan manusia, mereka hanya melihat saja, sedikit yang bergerak dan mereka melihat dari kejauhan, kecuali para gelombolan ini yang sekarang ingin masuk kedalam.
Ketika para manusia gerombolan tersebut sudah memasuki portal dungeon. Jay kemudian baru berjalan mendekati portal. Udara di sekitar pusaran energi terasa dingin dan berat, seperti berdiri di depan jurang yang tidak terlihat.
“Asha.” Panggilnya
“Ya Tuan.”
“Apakau bisa memberiu identifikasi tentang dungeon ini?.”
“Baik tuan”
...----------------...
...[DUNGEON]...
...Goblin Nest...
...Kesulitan : E...
...Rekomendasi Level Players : 1—5...
...----------------...
Jay mengangguk pelan. “Huh kroco ya….” Ucapnya sambil melangkahkan kaki maju kearah portal.
Tubuhnya menyentuh pusaran energi. Seolah tubuhnya ditarik masuk ke dalam ruang kosong. Dunia langsung berubah.
Cahaya hilang.
Suara hilang.
Beberapa detik kemudian, Kakinya menyentuh tanah. Jay membuka mata. Di matanya sekarang tak melihat birunya langit lagi, namun melihat tumpukan bebatuan di dalam gua. Udara di dalamnya dingin dan lembap. Namun tempat itu tidak terasa seperti gua biasa. Bau tanah basah bercampur dengan bau busuk yang samar, seperti daging yang membusuk di tempat tersembunyi.
Air menetes perlahan dari langit-langit batu.
Tik…
Tik…
Suara tetesan itu menggema di dalam kegelapan dari gua. Dinding gua juga dipenuhi lumut tebal berwarna gelap. Beberapa bagian bahkan terlihat seperti bekas goresan cakar.
Jay menatap sekeliling. Beberapa orang yang masuk dungeon tadi juga muncul di ruangan itu. Sekitar sepuluh orang lebih, beberapa terlihat gelisah.
Hingga seorang pria berbisik pelan. “Tempat ini… menyeramkan.”
Orang lain menatap lorong gelap di depan. “Ini benar-benar sarang monster.”
Udara di dalam gua terasa berat.
Sunyi.
Terlalu sunyi.
Tiba-tiba seorang wanita menunjuk ke depan. “Tunggu… itu apa?”
Di ujung lorong gua yang gelap terlihat tiga sosok kecil. Kulit mereka hijau kusam samar oleh gelapnya gua. Tubuh kurus yang tampak kurus dengan tangan yang lebih panjang dari pada badannya. Dengan mata kuning yang menyala di dalam gelap gua.
“Goblin!” Teriak salah satu orang.
Makhluk itu sedang memakan sesuatu di lantai. Ketika mereka melihat manusia, mereka menjerit “Kyaa!”
Goblin langsung menhampiri para manusia dan ingin menyerang.
Seorang pria panik mundur. “Sial! Mereka datang!”
Pria bertubuh besar tadi maju dengan aba-aba. “Ayo! Serang!”
Tongkat besinya menghantam goblin pertama.
BRAK!
Goblin itu terpukul mundur. Goblin kedua melompat ke arah seorang pria muda. Namun Jay sudah bergerak terlebih dahulu. Pedangnya berkilat di udara.
SLASH!
Kepala goblin itu terbelah menjadi dua dan tubuhnya tersungkur ke tanah. Lalu jendela biru muncul di depan Jay.
...----------------...
...[NOTIFKASI SISTEM]...
...Goblin Lv.2 dikalahkan...
...EXP +15...
...----------------...
Goblin terakhir mencoba menyerang seorang wanita di belakang, “AAAH!” teriak wanita tersebut
Seorang pria merespons lihai lalu menusuknya dengan pisau dapur. Goblin itu jatuh. Tubuh ketiga goblin kemudian pecah menjadi partikel hitam.
Beberapa orang terdiam.
“Ada jendela biru lagi di depanku…seperti kemarin”
“Aku juga…”
Namun sebelum mereka sempat bernapas lega, dari dalam lorong gua terdengar suara lain.
“Kyaa…”
“Kya… kya…”
Lebih banyak. Jauh lebih banyak. Kegelapan di lorong depan mulai bergerak.
Satu.
Dua.
Sepuluh.
Puluhan mata kuning perlahan menyala di dalam gelap. Seseorang berbisik dengan suara gemetar. “Sial… jumlahnya banyak…”
Beberapa orang mundur. Namun Jay justru melangkah maju. Ia menggenggam erat Goblin Bone Sword. Dengan mata yang fokus menatap lorong gelap itu. Dan di sana, puluhan goblin mulai keluar dari kegelapan.
Jay menyeringai girang “Ayo…kemari…bunuhlah aku….” Ujarnya seakan seperti ucapan orang yang tak waras.
Dungeon pertama baru saja menunjukkan taringnya. Hingga sebuah fenomena aneh menimpa mereka semua.