Sebuah kesaksian hidup yang di angkat dari kisah nyata yang pernah terjadi di kota Manado di tahun1998,tentang keterlibatan seorang gadis bernama Laura dalam kelompok penyembah iblis/ Satanic Church,sebuah perjanjian lama dan satu nyawa sebagai taruhan.
Bagi Laura,kebebasan adalah segalanya.namun,ia tidak pernah menyadari bahwa apa yang ia dapat dari kebebasannya harus ia bayar dengan potongan jiwanya sendiri.
Dalam pelarian mencekam antara logika dan mistis,Laura harus mencari cara untuk membatalkan dan memutuskan kontrak darahnya dengan Lucifer.
Bisakah ia lepas dari cengkraman Lucifer sebelum fajar terakhir menyapa? ataukah ia akan menjadi penghuni abadi dalam kegelapan tak berujung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gans March, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lambaian tangan sang penguasa
Malam di perbukitan mencapai puncaknya. Di dalam aula besar rumah tua itu, suasana tidak lagi sunyi. Begitu sesi formal berakhir, ruangan meledak dalam gumaman rendah yang intens. Ratusan delegasi, mulai dari bankir berpangkat tinggi hingga pemimpin sekte rahasia, berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil. Mereka sibuk membedah poin-poin "Integrasi Global" yang baru saja dipaparkan.
Laura berdiri di sudut, memegang segelas sampanye yang sudah tidak dingin lagi. Ia melihat bagaimana "oleh-oleh" informasi yang ia catat dengan keringat dingin tadi kini menjadi komoditas yang paling di bicarakan di ruangan itu.
Tiba-tiba, suara lonceng perak berdenting satu kali. Keheningan instan menyapu seluruh aula. Sang Pemandu muncul di ambang pintu besar, memberikan isyarat bahwa Sang Tuan akan segera meninggalkan kediaman pertemuan tersebut.
Tanpa komando, seluruh hadirin bergerak menuju halaman rumah yang sangat luas. Rumput hijau yang terpangkas rapi itu kini dipenuhi oleh deretan pria dan wanita berbusana hitam, menciptakan pemandangan yang mencekam di bawah sinar bulan sabit.
Di tengah halaman, sebuah limosin hitam panjang dengan bendera tanpa lambang sudah menunggu dengan mesin yang menderu halus. Sang Tuan keluar dari teras gedung, langkahnya tenang namun berwibawa.
Begitu ia mencapai tengah barisan, secara serempak, ratusan hadirin—termasuk Steven dan Laura—melakukan penghormatan khas: Mereka menempatkan tangan kanan di atas jantung, lalu membentuk simbol segitiga dengan ibu jari dan telunjuk yang saling bertautan di depan kening—sebuah gestur pengabdian total kepada mata yang melihat segalanya.
Steven berdiri tegak dengan mata yang tajam, sementara Laura melakukannya dengan tangan yang sedikit bergetar, merasakan berat liontin hati di balik gaunnya yang kini terasa kontradiktif dengan simbol yang ia bentuk.
Sang Tuan berhenti di depan pintu mobilnya. Ia berbalik, memandang satu per satu wajah para abdi setianya. Tatapannya berhenti sejenak pada Laura—sebuah tatapan yang mengingatkan pada peringatannya di ruang pribadi tadi—lalu beralih ke arah Steven.
Sang Tuan dengan suaranya yang berat memecah keheningan malam.
"Benih telah ditanam. Sekarang, biarkan dunia menyaksikannya tumbuh dalam kegelapan. Sampai jumpa lagi di fajar Zaman Baru."
Ia mengangkat tangannya, melambaikan tangan dengan gerakan yang kaku namun elegan, seolah-olah sedang memberkati kekacauan yang akan datang. Sang Tuan kemudian masuk ke dalam mobil, dan kaca hitam pekat itu tertutup rapat.
Iring-iringan mobil itu mulai bergerak perlahan meninggalkan halaman, melewati gerbang besi tinggi yang dijaga ketat, menghilang ke dalam kabut tebal jalanan. Para hadirin tetap dalam posisi hormat sampai lampu belakang mobil itu tidak lagi terlihat.
Begitu rombongan itu hilang, suasana di halaman kembali cair, namun dengan ketegangan yang lebih tinggi. Steven segera mendekati Laura, melingkarkan lengannya di pinggang gadis itu seolah ingin mengklaim kembali apa yang sempat "dipinjam" oleh Sang Tuan.
"Dia sudah pergi. Sekarang, permainan yang sebenarnya baru saja dimulai bagi kita, Laura."
Laura menatap ke arah gerbang yang kosong. "Atau mungkin... kita baru saja menyaksikan awal dari akhir yang sesungguhnya."
Mobil sedan hitam itu meluncur membelah kegelapan Lembang yang kental. Di luar, kabut pegunungan menyelimuti pepohonan, menciptakan siluet raksasa yang seolah mengawasi perjalanan mereka kembali ke hotel. Suasana di dalam kabin sangat sunyi, hanya deru mesin halus dan aroma kulit jok yang mahal.
Steven duduk di samping Laura, sesekali melirik profil wajah gadis itu yang terpantul di kaca jendela. Ia membiarkan Laura tenggelam dalam pikirannya, menghargai keheningan setelah badai emosi di aula konferensi tadi.
Laura menempelkan keningnya pada kaca mobil yang dingin. Matanya menatap kerlip lampu kota Bandung di kejauhan yang tampak seperti barisan semut api di lembah gelap. Namun, penglihatannya tidak berhenti di sana. Pikirannya menerawang jauh, menembus batas waktu menuju tahun-tahun yang akan datang, yang baru saja ia catat dalam buku hitamnya.
Dalam benaknya, ia melihat kota-kota besar di dunia yang tidak lagi memiliki jiwa. Ia membayangkan sebuah masa di mana setiap transaksi, setiap napas, dan setiap pikiran manusia dipantau oleh teknologi yang dikendalikan oleh tangan-tangan dingin para delegasi yang baru saja ia salami. Ia mulai menyadari bahwa "Integrasi Global" ini bukan sekadar politik. Ini adalah rancangan jahat Lucifer untuk menghapus kemerdekaan memilih yang dimiliki manusia. Sebuah dunia di mana penderitaan anak-anak di pinggir rel tadi siang bukan lagi sebuah kecelakaan, melainkan bagian dari desain sistemis untuk menjaga hierarki kekuasaan.
Laura merapatkan mantelnya, meskipun pemanas mobil menyala. Rasa dingin itu berasal dari dalam jiwanya.
"Ternyata Lucifer tidak butuh tanduk atau api untuk menguasai dunia. Dia hanya butuh gedung-gedung kaca ini, kode-kode digital, dan keserakahan manusia yang haus akan kontrol. Dan aku... aku duduk di sini sebagai saksi matanya."
Ucap Laura di dalam batinnya.
Ia menyentuh liontin hati di lehernya. Emas itu kini terasa sangat berat, seolah menarik jiwanya jatuh ke dasar jurang yang tak berdasar.
Steven perlahan mengulurkan tangannya, menggenggam jemari Laura yang terasa sedingin es.
"Kau terlalu jauh melamun, Laura. Apa yang kau lihat di luar sana?"
dengan suara parau, hampir berbisik ia menjawab.
"Aku melihat dunia yang tidak lagi mengenali dirinya sendiri, Steven. Aku melihat masa depan di mana matahari terbit, tapi tidak ada lagi cahaya di hati manusia."
Steven menarik tangan Laura dan mencium punggung tangannya dengan lembut.
"Itulah harga dari sebuah keteraturan. Jangan biarkan visi itu menakutimu. Kita adalah para arsiteknya, bukan korbannya. Di dunia itu, kau akan tetap aman di sampingku."
Laura hanya mengangguk lemah, namun dalam hatinya ia tahu: di bawah rancangan Lucifer, tidak ada tempat yang benar-benar aman—bahkan di samping sang arsitek sekalipun.
Hening malam di perbukitan itu sirna, digantikan oleh deru mesin mobil yang membawa Laura dan Steven membelah kegelapan kembali menuju hotel. Di luar jendela, kabut tipis merayap di sela-sela pohon yang berjejer, menciptakan siluet yang seolah-olah mengawasi perjalanan mereka. Namun, pikiran Laura tidak lagi berada di jalanan yang berkelok itu.
Bayangan Sang Tuan di halaman rumah pertemuan tadi, dengan lambaian tangannya yang dingin dan tatapannya yang menembus jiwa, terus berputar di benaknya. Pengumuman tentang "Zaman Baru" dan "Integrasi Global" yang terdengar seperti janji surga bagi para pengikutnya, di telinga Laura terdengar seperti lonceng kematian bagi kebebasan manusia.
Sambil menempelkan keningnya pada kaca mobil yang dingin, pikiran Laura melesat melampaui waktu, menembus masa depan yang baru saja digariskan dalam catatan rahasianya.
Di bawah sana, di lembah yang luas, Kota Kembang tampak seperti hamparan permata yang berserakan. Namun, dalam penglihatan batin Laura, kerlip lampu kota itu perlahan berubah. Cahayanya tidak lagi hangat dan mengundang, melainkan dingin dan mengawasi.
Ia melihat garis-garis cahaya merah yang tipis, menjalar dari gedung-gedung tinggi yang mulai bermunculan, menjerat setiap sudut jalan, setiap rumah, dan setiap individu. Itu bukan jaring laba-laba biasa, melainkan jaring kontrol digital dan finansial yang tak kasat mata namun mutlak yang akan tercipta di masa depan.
Di pusat kota, di atas bangunan tertinggi yang menjadi simbol kekuasaan baru, Laura seolah melihat sebuah mata tunggal yang raksasa dan tak berkedip. Mata itu memancarkan aura kegelapan yang pekat, mengawasi setiap gerak-gerik, setiap transaksi, bahkan setiap pikiran manusia.
Tiba-tiba, pemandangan kota di bawah sana seolah bergeser. Di tengah hiruk-pikuk lampu dan bayangan gedung, muncul sebuah siluet raksasa yang mengerikan. Itu bukan lagi Sang Tuan dalam wujud manusianya, melainkan manifestasi dari kekuatan yang sesungguhnya "Lucifer"
Siluet itu tidak memiliki bentuk yang jelas, melainkan terbuat dari kegelapan murni yang pekat. Dua sayap raksasa yang legam, seperti terbuat dari asap dan penderitaan, membentang luas, menaungi seluruh Kota. Angin malam yang berembus di luar mobil seolah-olah membawa suara kepakan sayap tersebut, sebuah suara yang sunyi namun menggetarkan bumi.
Laura tidak bisa melihat wajahnya, namun ia bisa merasakan energi penderitaan dan keputusasaan yang dipancarkannya. Ia bisa merasakan senyum kemenangan yang dingin dan kejam dari sang penguasa kegelapan, melihat bagaimana seluruh kota yang indah ini perlahan-lahan runtuh ke dalam pelukannya.
Steven, yang duduk di sampingnya, tampak tidak menyadari pergolakan yang ada di dalam batin gadis itu.. Mobil pun terus melaju, membawa mereka semakin dekat ke hotel, dan semakin jauh dari dunia yang pernah mereka kenal.