"Jadi Om mau menerima perjodohan kita?"
"Kenapa tidak?"
"Aku akuin Om ganteng tapi seleraku bukan duda Om."
"Memangnya kenapa dengan duda?"
"Ya jelas duda itu sudah tidak perawan, saya hanya mau menikah dengan orang yang masih merawan. Saya aja masih perawan."
Rajendra menahan tawanya karena Cya benar-benar polos.
***
"Kenapa sih pernikahan kita gak dibatalin aja? kalau kita menikah pasti Om akan menyesal dan tidak akan bahagia. Saya akan membuat Om kesal setiap harinya."
"Saya juga bisa membuat kamu kesal."
"Ck, terserah deh"
***
Orangtua Rajendra menjodohkan putranya dengan putri dari rekan kerjanya. Rajendra adalah seorang duda yang ditinggal mati oleh istri pertamanya di hari pernikahannya.
Rajendra belum bisa melupakan sang istri namun entah mengapa hatinya ingin menerima perjodohan dari orangtuanya.
Namun siapa sangka, bahwa istri pertama Rajendra telah membuat rencana bahwa sebenarnya ia tidak mengalami kecelakaan.
Jadi bagaimana kisahnya? Yuk ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memilih Gaun Pernikahan
Beberapa menit kemudian, mereka berdua akhirnya sampai di tempat tujuan. Setelah memarkirkan mobilnya, Rajendra labgsung keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam butik meninggalkan Cya yang baru saja selesai melepaskan sabuk pengamannya.
"Ya ampun, gue ditinggal." Gerutu Cya.
Cepat-cepat Cya membuka pintu mobil, tapi begitu ia hendak turun dari mobil, ia tersandung hingga dirinya terjatuh di samping mobil Rajendra.
"Awwsshh.." Pekik Cya sembari memegang pinggulnya.
Mendengar pekikan Cya, Rajendra otomatis berbalik, ia geleng-geleng kepala melihat Cya di samping mobilnya.
"Dasar ceroboh." Ucap Rajendra sebelum ia berjalan menghampiri Cya.
Cya tak menerima bantuan Rajendra, gadis itu memilih berdiri sendiri dengan bertumpu pada mobil Rajendra.
"Ini semua gara-gara Om!" Cya malah menyalahkan Rajendra.
"Jangan biasakan menyalahkan orang lain disaat kamu terkena musibah."
"Kalau Om gak ninggalin saya, saya gak mungkin buru-buru mau keluar dari mobil sampe saya jatuh tadi."
"Salah kamu sendiri kenapa kamu buru-buru, toh, tokonya tidak akan kemana-mana."
"Dasar nyebelin." Tangan Cya terangkat hendak menjambak rambut Rajendra, tapi lelaki itu dengan cepat menghindar hingga Cya nyaris jatuh lagi.
Untungnya Rajendra berbaik hati mau menolong Cya. Tangan lelaki itu melingkar di pinggang Cya.
Cya tadinya memejamkan matanya saat ia merasa dirinya akan terjatuh dan ia membuka kembali matanya saat menyadari ia tidak merasakan sakit.
"Om ngapain peluk-peluk saya?!"
Dengan cepat Rajendra menarik tangannya yang melingkar di pinggang Cya, hingga Cya pun tak dapat menahan bobot tubuhnya.
"Awsh! Kok saya dilepas sih Om!" Protes Cya ketika dirinya kembali terjatuh.
"Kamu sendiri yang marah-marah saat saya memeluk kamu." Ucap Rajendra tanpa rasa bersalah.
Cya mengerucutkan bibirnya sembari mengulurkan tangannya meminta bantuan pada Rajendra.
"Tadi kamu gak mau dibantu sama saya."
"Itu tadi, Om. Tapi sekarang saya sudah mau dibantu."
Akhirnya Rajendra membantu Cya untuk berdiri.
Kaki Cya terasa agak sakit begitu ia berjalan masuk ke dalam butik, tapi gadis itu berjalan di samping Rajendra tanpa mengeluh.
"Mau cari apa, Mas, Mbak?" Tanya salah satu karyawan di butik tersebut begitu Cya dan Rajendra berada di dalam.
"Gaun pengantin mbak." Jawab Cya.
"Mbaknya mau yang kaya ginana?"
"Yang simpe-"
Baru saja Cya ingin menjawab, ucapannya langsung dipotong Rajendra. "Yang bagus dan agak tertutup."
"Kenapa harus yang tertutup?" Tanya Cya pada Rajendra.
"Supaya kamu tidak memamerkan tubuh kamu." Jawaban Rajendra membuat karyawan butik yang ada di depannya malah tersenyum tipis.
Cya memutar bola matanya malas. "Gak masuk akal."
"Itu artinya calon suami Mbak gak mau lekuk tubuh calon istrinya dilihat sama orang lain." Jelas sang karyawan toko.
"Apa iya, Om?"
"Loh bukan calon suaminya ya, Mbak?" Karyawan toko tersebut heran begitu Cya memanggil Rajendra dengan sebutan Om.
"Bukan Mbak. Dia mah Om saya." Ucap Cya tanpa memperdulikan wajah Rajendra yang sudah memerah karena tak diakui.
"Oh, terus yang mau cari gaun pernikahan Mbak atau Omnya?"
Rajendra menjawabnya dengan cepat. "Kami berdua."
"Kalau boleh tau calon istri mas tingginya kira-kira berapa ya, supaya kami bisa memilihkan gaun yang cocok?"
"Dia." Rajendra menunjuk Cya menggunakan dagunya.
"Oh, tinggi calon istri Mas ini sama dengan tinggi keponakannya ya, Mas?"
"Tidak, tapi dia yang akan menikah dengan saya." Ucap Rajendra.
Karyawan toko yang ada di hadapan Rajendra membelalakkan matanya. "Memang bisa Om dan keponakan menikah?"
"Dia bukan keponakan saya."
Cya hanya cengengesan saat karyawan butik menatapnya heran.
"Ya sudah, mari ikut saya untuk memilih gaunnya." Ajak karyawan butik yang sudah berhasil dibuat pusing oleh Rajendra dan Cya.
Karyawan butik membawa Cya dan Rajendra je jajaran gaun-gaun pengantin yang terpajang indah di patung-patung.
"Silahkan dipilih mbak." Seru karyawan butik yang menemani Cya dan Rajendra.
"Kayanya yang itu lucu deh mbak." Cya menunjuk gaun berwarna putih dimana punggung gaun tersebut tampak terbuka dan rok bagian depannya pun agak tinggi hingga sebatas paha dan hanya bagian belakangnya yang menjuntai panjang.
"Tidak, jangan yang itu." Rajendra langsung tidak setuju begitu pandangannya tertuju pada gaun yang Cya tunjuk.
"Tadi kan calon suaminya mbak meminta untuk gaun yang tertutup. Kalau yang itu terlalu terbuka sepertinya." Jelas karyawan butik.
"Oke...." Cya menurut saja, gadis itu terus berjalan mencari gaun yang sekiranya cocok untuk ia kenakan di hari pernikahannya nanti.
Rajendra sendiri hanya mengekor di belakang Cya tanpa ada niatan untuk ikut memilih. Namun, ia tetap protes apabila gaun yang Cya pilih tidak sesuai dengan seleranya.
"Kalau yang itu gimana, Om?" Tanya Cya sembari menunjuk gaun yang juga berwarna putih. Gaun yang Cya tunjuk sudah panjang di bagian depan dan belakangnya. Akan tetapi, di bagian dadanya begitu terbuka.
"Gak, yang itu jelek."
Cya mendengus kasar. "Ya sudah kalau begitu Om saja yang pilih gaunnya!"
"Kamu saja, takutnya gaun yang saya pilihkan nanti tidak sesuai dengan selera kamu."
Cya misuh-misuh tanpa suara, ia jadi kesal sendiri pada Rajendra.
"Saya sudah males milihnya." Ucap Cya. Gadis itu berjongkok di tengah-tengah butik tanpa peduli dengan orang-orang di sekitarnya yang menatapnya heran.
"Cya, jangan seperti anak kecil. Ayo berdiri!" Tegur Rajendra.
"Saya capek Om dari tadi muter-muter terus." Keluh Cya. "Dari tadi gaun yang saya tunjuk, Om selalu gak setuju. Giliran saya minta Om yang pilihkan malah Om minta saya. Maunya apa sih?"
Rajendra memijat pangkal hidungnya lalu berjongkok dan menyentuh lengan Cya, membantu gadis itu untuk berdiri.
"Yaudah, kamu pilih saja gaun mana yang kamu suka asal gaunnya tidak terlalu terbuka." Rajendra membujuk Cya.
"Mbak aja deh yang pilihin!" Pinta Cya pada karyawan butik yang masih sedia menemaninya.
"Bagaimana kalau yang itu, mbak?" Karyawan butik tersebut menunjuk baju lengan panjang dengan bawahan yang mekar seperti baju princess. Warnanya putih tulang, sangat pas bila dipakai oleh Cya.
"Yaudah itu aja, mbak."
"Apa mau dicoba dulu gaunnya?"
Cya ingin menjawab tidak tapi Rajendra justru lebih dulu menjawab.
"Boleh mbak."
"Ya sudah, mbak bisa mencobanya di ruang ganti."
Mau tidak mau Cya terpaksa ke ruang ganti untuk mencoba gaun pernikahan yang ia pilih, padahal Cya sudah lelah.
Rajendra pun ikut ke ruang ganti karena ia juga harus mencoba jas yang sepasang dengan gaun pernikahan yang Cya pilih.
Hanya butuh waktu lima menit Rajendra sudah keluar darii ruang ganti sedangkan Cya belum keluar juga padahal sudah sepuluh menit berlalu.
Rajendra melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia sudah gelisah menunggu Cya yang terlalu lama.
Tak ingin lebih lama lagi menunggu, akhirnya Rajendra memutuskan untuk mendorong pintu ruang ganti yang Cya masuki tanpa memikirkan dampak buruknya bagaimana kalau ia membuka pintu dan Cya belum memakai baju.
Untungnya begitu pintu ruang ganti terbuka, gaun putih yang indan itu sudah melekat di tubuh Cya, hanya saja Cya kelihatan sulit untuk menaikkan resleting bagian belakang gaun tersebut.
"Kalau butuh bantuan bilang." Rajendra menutup pintu lalu mendekat je arah Cya yang berdiri di depan cermin.
"Om ngapain kesini?" Cya baru sadar kalau Rajendra berada di ruangan yang sama dengannya.
"Kamu terlalu lama."
Tanpa menunggu Cya minta tolong, Rajendra berinisiatif menaikkan resleting gaun yang Cya pakai. Namun, siapa sangka Rajendra akan dibuat salah fokus dengan punggung Cya yang putih mulus.. Tangan Rajendra berhenti bergerak, ia meneguk ludahnya kasar begitu aroma tubuh Cya meneruskan memanjakan hidung Rajendra.
"Wangi banget." Batin Rajendra.
Tanpa sadar, Rajendra membungkukkan tubuhnya lalu mencium punggung Cya.
"Om ngapain?" Protes Cya yang membuat Rajendra tersadar dari lamunannya. Cya merasa punggungnya seperti ada sesuatu.
Buru-buru Rajendra menegakkan tubuhnya lalu kembali melanjutkan tugasnya menaikkan resleting gaun Cya.
Ketika Cya memutar tubuhnya untuk memaki Rajendra, lelaki itu sudah berjalan kluar meninggalkan Cya.
"Ih dasar Om mesum!" Pekik Cya dengan pipi yang sudah memerah seperti tomat.
***
Dengan anggun Cya keluar dari ruang ganti, tapi ia sudah tidak menemukan Rajendra lagi. Yang menunggunya di depan ruang hantu hanya karyawan butik yang tadi melayaninya.
"Mbak, teman saya mana?" Tanya Cya.
"Oh, temannya mbak tadi katanya ada urusan mendadak, dia langsung pulang setelah dia mengembalikan baju yang barusan dia coba."
"Jadi bajunya gak jadi dibeli?"
"Jadi, mbak. Tadi sudah dibayar lunas sama calon suami mbak. Saya disuruh menyampaikan kepada mbak kalau calon suami mbak pulang duluan karena ada pekerjaan mendadak."
Cya membelalakkan matanya. "Hah, jadi saya ditinggal?"
"Iya mbak. Saya tadi disuruh juga memesankan taksi untuk mbak."
"Gak usah, saya bisa pesan taksi sendiri." Tolak Cya dengan wajah yang kembali memerah, tapi kali ini wajahnya merah karena marah bukan karena blushing.
***
Cya keluar dari butik sembari membawa gaun pengantin yang telah dibayar oleh Rajendra.
"Bisa-bisanya Om gila itu ninggalin gue sendirian di tempat kaya gini." Gerutu Cya.
"Apaan tuh, katanya dia orang yang bertanggung jawab, nah ini gue kaya anak ayam yang dibuang sama induknya."
Cya tak berhenti mengoceh sampai sebuah motor berhenti di sampingnya.
Cya berhenti melangkah memperhatikan sang pemilik motor menaikkan kaca helmnya di samping Cya.
"Cya, kan?" Tanya lelaki yang ada di hadapan Cya.
Cya menganggukan kepalanya. "Kok tau?"
"Gue Brian, orang yang kemarin ketemu lo di toko perhiasan."
"Oh, iyaaa.... Sorry, gue lupa." Cya menepuk keningnya sendiri. Pantas saja tadi ia merasa seperti pernah melihat lelaki tampan itu.
"Mau kemana?" Tanya Brian.
"Mau pulang."
"Naik apa?"
"Ini mau nunggu taksi."
"Bagaimana kalau lo pulang bareng gue aja?"
"Gak usah repot-repot." Tolak Cya.
"Gak kok, santai aja. Ayo naik."
"Tapi barang gue banyak." Cya memperlihatkan paper bag berukuran besar yang ia bawa.
Cya ragu tapi Brian sudah merebut paper bag yang dibawa Cya lalu meletakkannya di bagian depan.
"Lo yakin barang gue gak bakalan jatuh?"
"Iya, lo tenang aja pokoknya."
Akhirnya Cya menerima bantuan Brian. Dengan susah payah gadis itu naik di atas motor Ducati Brian.
"Rumah lo daerah mana?" Tanya Brian begitu ia melajukan motornya.
"Jalan bambu 1, perumahan Griya Mas blok 6F"
"Kebetulan banget, rumah gue juga di jalan sana tapi gue tinggalnya bukan di dalam perumahannya."
"Syukur deh kalau gitu. Itu artinya lo gak akan terlalu jauh putar balik kalau lo nganterin gue."
"Sekalipun nanti putar balik, gue tetep gak masalah kok."
"Oke, makasih kalau begitu."
Brian terkekeh. "Nanti aja terimaksihnya kalau lo udah sampai di rumah."
Sebisa mungkin Brian berusaha agar Cya merasa nyaman.
Motor Brian membelah jalanan di ibu kota dengan kecepatan sedang. Lelaki itu sengaja mengemudi dengan santai agar gadis yang ia bonceng tidak trauma naik motor dengannya padahal sebenarnya Brian adalah pembalap jalanan. Hampir setiap malam laki-laki itu bermain di arena balap.
"Stop! Ini rumah gue." Cya menepuk pundak Brian beberapa kali begitu motor Brian melaju di depan rumah Cya.
"Eh, iya." Brian langsung menghentikan motornya membuat Cya terhuyung ke depan. Untung saja Cya meletakkan tangannya di pundak Brian, kalau tidak mungkin dada Cya sudah menempel di punggung laki-laki itu.
"Aduh." Keluh Cya karena helmnya terbentur bagian belakang helm Brian.
"Maaf ya." Brian langsung menoleh ke belakang dan mendapati Cya yang berusaha turun dari motor Brian yang cukup besar bagi orang yang bertubuh mungil seperti Cya.
"Tadi gue kira rumah lo masih jauh makanya gue gak pelan-pelan." Jelas Brian.
"Iya gapapa kok." Cya melepaskan helm Brian. Cya tidak tau kenapa Brian bisa punya dua helm seolah-olah ia sudah mempersiapkan helm tersebut untuk Cya, tapi Cya tidak mau ambil pusing. Mungkin saja Brian habis mengantar teman atau pacarnya.
“Kapan-kapan gue boleh main ke sini gak?” tanya Brian.
Cya sedikit terdiam.
“Hem… boleh,” jawabnya akhirnya, meski terdengar ragu. Ia sebenarnya tidak enak kalau harus menolak.
Brian tersenyum, lalu menyodorkan paper bag milik Cya. “Ini punya lo.”
“Makasih.”
Cya menerimanya tanpa berniat mengajak Brian masuk.
Padahal, kalau mau, ia bisa saja mempersilakan lelaki itu mampir. Tapi membayangkan rentetan pertanyaan dari maminya saja sudah membuatnya pusing duluan.
“Oke, kalau gitu gue balik dulu ya,” ujar Brian.
“Iya, hati-hati.”
Brian mengangguk, lalu mengenakan kembali helmnya. Tak lama kemudian, motor itu melaju menjauh meninggalkan halaman rumah Cya.
***
Dengan malas Cya masuk ke dalam rumah. Sungguh ia masih kesal di tinggal begitu saja oleh Rajendra.
"Cya, kok kamu sendirian? Rajendra mana?" Tanya Bu Diana yang langsung muncul di belakang Cya begitu Cya hendak menutup kembali pintu rumahnya.
"Gak tau Mi. Mami tau gak sih, dia ninggalin aku di butik dan nyuruh aku pulang naik taksi." Cya mengadu saja pada maminya.
Diana mengerutkan keningnya. "Kok bisa?"
"Mana aku tau, mami tanya aja sendiri sama calon menantu kesayangan mami itu."
Tangan ibu Diana terangkat mengelus punggung putrinya. "Sabar sayang. Mungkin calon suami kamu lagi ada kerjaan mendadak, dia itu kan super sibuk. Dia punya waktu untuk menemani kamu memilih baju pengantin aja udah untung loh. Dulu katanya dia jarang punya waktu sama istri pertamanya."
Mendengar maminya membahas istri pertama Rajendra justru membuat mood Cya semakin jelek.
"Aku gak peduli, lagian aku juga gak buruh ditemani sama dia."
Gadis itu meninggalkan maminya sekaligus paper bag yang ia letakkan di dekat pintu.
Bu Diana hanya menghela nafasnya.
***
Rajendra keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggangnya. Rambutnya masih basah, tetesan air jatuh ke bahunya.
Ia berjalan ke depan meja rias, lalu duduk sambil memijat pelipisnya.
“Kenapa sih otak gue jadi kayak gini…” gumamnya pelan.
Ia menatap bayangannya di cermin.
Entah kenapa, pikirannya terus kembali pada satu hal - punggung mulus Cya.
Rajendra mengembuskan napas kasar. “Dulu sama Aurel aja gue bahkan gak pernah mau nyentuh…”
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Tapi tadi… gue malah—”
Kalimatnya terhenti. “Aduh!”
Ia mengacak rambutnya frustasi. “Kenapa malah jadi kepikiran terus…”
Semakin ia mencoba melupakan, bayangan itu justru semakin jelas.
Bahkan tubuhnya kembali menegang hanya karena mengingatnya.
“Astaga…”
Di tengah kekalutannya, ponselnya berdering.
Rajendra langsung meraih ponsel itu, seolah terselamatkan. “Halo, Ma.”
“Halo, Jendra. Kenapa kamu meninggalkan Cya di butik?”
Suara di seberang terdengar tegas. “Mama sudah bilang, kalau kamu memang gak bisa menerima Cya, lebih baik batalkan saja perjodohan ini sebelum terlambat.”
“Jangan dibatalkan, Ma,” jawab Rajendra cepat.
“Mama kecewa sama kamu. Tadi Tante Diana telepon. Katanya Cya sampai pulang sendiri dan ngambek.”
Rajendra terdiam sejenak.
“Aku… nggak tahan, Ma.”
“Nggak tahan apa?”
Rajendra menarik napas dalam. “Tadi aku… cium punggung dia.”
Hening seketika di seberang sana.
“Hah? Ya ampun…”
Rajendra memejamkan mata, baru menyadari apa yang baru saja ia katakan.
“Kalau aku tetap di sana sama dia, aku takut kebablasan lagi.”
Suara ibunya terdengar campur aduk antara kaget dan menghela napas panjang.
“Kamu ini memang susah ditebak, Jendra.”
Rajendra hanya diam.
“Mama senang kamu mulai bisa menerima Cya. Tapi bukan berarti kamu boleh semaunya begitu.”
“Iya, Ma…”
“Cya itu masih calon istri kamu. Kamu harus jaga diri. Jangan sentuh dia sebelum kalian menikah.”
“Iya…”
“Nanti kalau kalian sudah menikah, itu urusan kalian. Tapi sekarang, kamu harus tahan diri.”
“Iya, Ma.”
Nada suaranya lebih rendah, seolah mulai menyadari kesalahannya.
“Mama mau kamu minta maaf sama Cya. Juga ke Tante Diana.”
Rajendra menghela napas panjang.
“Iya, Ma. Nanti aku ke sana.”
“Jangan nanti. Hari ini.”
Rajendra terdiam sejenak, lalu mengangguk meski tidak terlihat.
“Iya… hari ini.”
apa Bela itu sebenarnya Aurel