NovelToon NovelToon
KAF FA RO

KAF FA RO

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Kutukan / Balas Dendam
Popularitas:542
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Rafiq Al-Farizi adalah pria agamis yang kehilangan segalanya dalam waktu singkat. Ujian itu membuat imannya runtuh.

Ia bertemu dengan Mbah Jaya, seorang dukun yang menawarkan "keadilan" melalui ilmu hitam. Langkah demi langkah, hingga akhirnya Ia mengucapkan sumpah setia kepada makhluk gaib.

Sebagai tanda perjanjian, muncul tulisan KAF FA RO di jidatnya—stempel bahwa jiwanya telah menjadi milik kegelapan. Dengan kekuatan barunya, ia memburu balas dendam kepada semua yang menghancurkannya.

Namun semakin dalam ia melangkah, semakin ia sadar: bukan ia yang mengendalikan kegelapan, tapi kegelapan yang mengendalikannya. Dan harga dari perjanjian ini lebih mahal dari nyawanya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka Sedalam Jurang

Di atas tempat tidur itu, Aisyah—istrinya, wanita yang pernah ia cintai dengan segenap hati, wanita yang pernah ia pandang sebagai penyejuk matanya—berbaring telentang.

Rambut panjang hitamnya terurai di atas bantal, sedikit basah oleh keringat. Wajahnya... Ya Tuhan, wajahnya...

Ekspresi Aisyah adalah sesuatu yang tidak pernah Rafiq lihat sebelumnya.

Matanya terpejam setengah, bibirnya terbuka sedikit, dan di sudut bibir itu ada senyum—bukan senyum lembut yang biasa ia lihat ketika Aisyah memasak sarapan di pagi hari.

Ini adalah senyum yang penuh dengan kenikmatan duniawi yang tak terkendali. Senyum yang membuat Rafiq ingin muntah.

Aisyah mengenakan daster tidur panjang berwarna pink muda yang kini terbuka di bagian bahu hingga memperlihatkan kulit putih bersihnya. Daster itu naik hingga atas paha, memperlihatkan kakinya yang terbuka lebar.

Dan di antara kakinya, di atas tubuhnya, Tono.

Sahabatnya.

Tono—pria yang selalu ia anggap seperti saudara sendiri, yang selalu ia percaya, yang selalu ia ajak berbagi rezeki dan doa—kini tanpa celana, hanya mengenakan kaus oblong hitam yang menggantung di tubuhnya yang kekar.

Keringat membasahi dahi Tono, rambutnya yang sebentar lagi gimbal karena keringat. Wajahnya—wajah yang biasanya ramah dan selalu tersenyum ketika bertemu Rafiq—kini meringis dengan kenikmatan yang sama seperti Aisyah.

"Kencang... jangan pelan-pelan..." bisik Aisyah dengan suara parau.

Tono menuruti. Gerakannya semakin cepat. Tempat tidur berderit pelan mengikuti ritme yang mereka ciptakan.

Rafiq berdiri di ambang pintu. Ia tidak bergerak. Ia tidak bersuara. Darahnya seperti berubah menjadi es. Pikirannya kosong, tapi pada saat yang sama terlalu penuh dengan sejuta pertanyaan yang tidak bisa ia susun menjadi kalimat.

Mengapa?

Mengapa Aisyah?

Mengapa Tono?

Mengapa di rumahnya? Di kamarnya? Di atas tempat tidur yang ia beli dengan keringatnya sendiri?

Mengapa ketika ia sedang berjuang di luar kota untuk membangun masa depan bersama mereka berdua?

Ia melihat tangan kanan Tono meraih tangan kiri Aisyah. Mereka saling menggenggam.

Jari-jari mereka bertautan. Gerakan Tono melambat, berubah menjadi gerakan yang lebih lembut, lebih mesra. Seperti dua orang yang saling mencintai. Bukan sekadar hubungan terlarang. Bukan sekadar nafsu sesaat.

Tono menunduk, mengecup kening Aisyah. Kemudian pipinya. Kemudian bibirnya.

"Aku cinta kamu, Ay," bisik Tono. Suaranya serak tapi penuh dengan sesuatu yang Rafiq kenal betul. Ketulusan.

Dan Aisyah menjawab dengan bisikan yang membuat dunia Rafiq runtuh seketika.

"Aku juga cinta kamu, Ton. Aku cinta kamu lebih dari apapun."

Rafiq merasakan sesuatu patah di dalam dadanya. Bukan hanya hatinya. Seluruh dirinya. Tulang-tulangnya. Sendi-sendinya. Semua yang membuatnya berdiri tegak sebagai manusia, sebagai suami, sebagai pria yang selalu berusaha menjalankan perintah agama dengan baik.

Ia ingin berteriak. Ia ingin menerobos masuk, meraih kerah Tono, dan menghantamkan tinjunya ke wajah sahabatnya itu berulang-ulang hingga darah dan air mata bercampur menjadi satu. Ia ingin meraih Aisyah, memegang pundaknya, dan membentaknya dengan pertanyaan yang selama setahun ini mengganggu pikirannya:

"Mengapa kau lakukan ini padaku? Apa salahku? Apa kekuranganku? Bukankah aku sudah berusaha menjadi suami terbaik untukmu?"

Tapi ia tidak bergerak.

Rafiq hanya berdiri di sana. Matanya terus menatap. Air mata mengalir deras di pipinya, tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Seperti ada yang membekukan tenggorokannya. Seperti ada yang merenggut haknya untuk bersuara.

Tangan kirinya yang memegang gagang pintu mulai gemetar hebat. Kayu pintu terasa dingin, tapi telapak tangannya panas membara.

Dan pada saat itulah, mungkin karena gerakannya yang gemetar, atau mungkin karena takdir yang sudah dituliskan, gagang pintu itu bergerak. Menimbulkan bunyi klik kecil.

Suara sekecil itu, tapi di dalam keheningan malam yang hanya diisi oleh desahan dan gerakan tubuh di atas tempat tidur, bunyi itu terdengar seperti petir di langit cerah.

Gerakan Tono berhenti seketika.

Kepala Tono menoleh ke arah pintu.

Mata mereka bertemu.

Tono membeku. Wajahnya—yang sedetik sebelumnya masih merah karena nafsu—kini berubah pucat seketika. Matanya membelalak. Bibirnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Ia seperti kehilangan kemampuan untuk bernapas.

Aisyah, yang masih dalam posisi terlentang dengan mata terpejam, merasakan perubahan pada tubuh Tono. Ia membuka matanya.

"Apa... ada apa, Ton?" suaranya masih setengah sadar, masih terbuai oleh kenikmatan yang baru saja ia rasakan.

Ia menoleh mengikuti arah pandangan Tono.

Dan kemudian Aisyah melihat.

Wajahnya—wajah yang sedetik sebelumnya dipenuhi kebahagiaan dan kenikmatan—berubah dalam sekejap. Dari merah karena birahi menjadi pucat seperti mayat. Matanya membelalak dengan ekspresi yang tidak bisa Rafiq jelaskan.

Apakah itu ketakutan? Apakah itu penyesalan? Apakah itu keterkejutan karena ketahuan?

Atau—dan ini yang paling menyakitkan—apakah itu kekecewaan karena kebahagiaan terlarangnya terganggu?

"A-Ab... Abi..." bisik Aisyah. Suaranya hanya berbisik, tapi di tengah keheningan yang mematikan itu, bisikan itu terdengar sangat jelas.

Panggilan itu. Abi. Panggilan yang biasa Aisyah gunakan ketika mereka sedang mesra. Panggilan yang dulu selalu membuat hati Rafiq meleleh.

Kini panggilan itu terasa seperti ludah yang dimuntahkan ke wajahnya.

Rafiq tidak menjawab. Ia hanya berdiri di sana. Matanya beralih dari Aisyah ke Tono, bergantian. Tidak ada kata-kata yang bisa ia ucapkan. Tidak ada teriakan. Tidak ada amarah yang meledak-ledak seperti yang biasa digambarkan dalam film-film.

Yang ada hanya keheningan.

Keheningan yang begitu pekat, begitu berat, seperti seluruh alam semesta sedang berhenti berputar untuk menyaksikan kehancuran seorang pria.

Tono akhirnya bergerak. Dengan gerakan lambat seperti robot yang kehabisan baterai, ia menarik tubuhnya dari atas Aisyah.

Celananya yang melorot di mata kaki ia tarik naik dengan tangan gemetar. Ia duduk di tepi tempat tidur, menunduk, tidak berani menatap Rafiq lagi.

Aisyah juga bergerak. Ia merapikan daster pink mudanya yang terbuka, menutupi bahu dan lehernya yang masih basah oleh keringat dan mungkin oleh bekas ciuman Tono.

Rambutnya yang terurai ia sisir dengan jari-jari gemetar. Matanya tidak lepas dari sosok suaminya yang berdiri di ambang pintu.

"Abi... aku..." suara Aisyah pecah. Air mata mulai mengalir di pipinya.

Tapi Rafiq tidak melihat penyesalan di sana. Yang ia lihat adalah kepanikan. Ketakutan karena ketahuan. Bukan ketakutan karena telah melakukan dosa besar.

Rafiq akhirnya membuka mulut. Suaranya keluar, tapi bukan suara yang ia kenal. Suara itu parau, kering, seperti suara orang yang sudah mati namun masih bisa berbicara.

"Seberapa lama?"

Hanya tiga kata. Tiga kata yang keluar dengan susah payah dari tenggorokannya yang terasa terbakar.

Aisyah menunduk. Bahunya bergetar. Air matanya jatuh ke pangkuannya yang masih basah oleh keringat.

"Jawab."

Kali ini suara Rafiq lebih keras. Masih tidak berteriak, tapi ada nada yang membuat seluruh ruangan bergetar. Nada seorang pria yang sudah kehilangan segalanya dan tidak punya apa-apa lagi untuk dipertahankan.

Tono yang sejak tadi menunduk, akhirnya mengangkat wajahnya. Matanya merah, tapi Rafiq tidak tahu apakah itu karena menahan tangis atau karena efek dari apa yang baru saja mereka lakukan.

"Raf..." suara Tono serak. "Gue..."

"Jangan panggil gue Raf!" bentak Rafiq tiba-tiba. Suaranya memecah keheningan malam. Tangannya yang memegang gagang pintu kini mencengkeram erat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Lu tidak berhak panggil gue Raf. Lu tidak berhak panggil gue apapun. Jawab pertanyaan gue. Seberapa lama?"

Tono menunduk lagi. Ketika ia berbicara, suaranya hampir tidak terdengar.

"Setahun."

Dunia Rafiq kembali runtuh. Setahun. Selama setahun ini, setiap kali ia meninggalkan rumah untuk urusan pekerjaan, setiap kali ia berjuang di luar kota untuk membangun masa depan mereka berdua, di sinilah mereka. Di rumahnya. Di kamarnya. Di atas tempat tidurnya.

Setahun.

Selama setahun ia merasakan ada yang ganjil. Selama setahun ia mendapat mimpi-mimpi buruk. Selama setahun firasatnya berteriak bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

Dan selama setahun pula ia memilih untuk percaya, untuk tidak berprasangka buruk, untuk terus berusaha menjadi suami yang baik.

Dan inilah balasannya.

Rafiq tersenyum. Bukan senyum bahagia. Senyum yang membuat Aisyah merinding. Senyum yang membuat Tono bergidik. Senyum seorang pria yang baru saja kehilangan semua yang ia cintai dalam sekejap mata.

"Setahun," ulang Rafiq pelan. "Setahun kalian main di belakang gue. Di rumah gue. Di tempat tidur gue. Dengan istri gue."

Ia menoleh ke arah Aisyah. Matanya—yang biasanya teduh ketika memandang istrinya—kini kosong. Kosong seperti lubang sumur yang tak berdasar.

"Aisyah."

Istrinya itu tersentak mendengar namanya disebut. Ia mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata.

"Abi... aku minta maaf... aku..."

"Jangan minta maaf," potong Rafiq datar.

"Maaf tidak akan mengembalikan apa yang sudah kalian hancurkan."

Ia melangkah mundur satu langkah. Kemudian dua langkah.

"A-Abi! Abi jangan pergi!" Aisyah berusaha turun dari tempat tidur, tapi kakinya terasa lemas. Ia hampir jatuh jika Tono tidak menangkapnya.

Rafiq melihat Tono memegang lengan istrinya. Dan untuk pertama kalinya malam itu, api di dadanya mulai menyala. Bukan api amarah biasa. Api yang lebih gelap. Api yang membakar semua kebaikan yang pernah ia tanam selama ini.

"Jangan pegang dia," kata Rafiq dengan suara rendah. "Jangan pernah pegang dia lagi di depan gue."

Tono melepaskan tangannya seolah tersengat listrik.

Rafiq menatap mereka berdua untuk yang terakhir kalinya. Di matanya, tidak ada lagi air mata. Air mata sudah habis. Yang tersisa hanya kegelapan.

"Gue akan ingat malam ini," katanya pelan.

"Gue akan ingat setiap detailnya. Wajah kalian. Suara kalian. Pemandangan di atas tempat tidur itu. Gue akan ingat semuanya. Dan suatu hari nanti..."

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia hanya tersenyum lagi—senyum yang sama, senyum yang membuat bulu kuduk Aisyah dan Tono berdiri.

Kemudian Rafiq berbalik.

Ia melangkah keluar dari kamar itu. Setiap langkahnya di lorong terasa seperti langkah seorang pria yang sedang berjalan menuju jurang.

Dari belakang, ia mendengar suara Aisyah yang mulai menangis tersedu-sedu, suara Tono yang mencoba menenangkannya dengan bisikan-bisikan.

Bisikan yang dulu mungkin pernah ia lontarkan pada Aisyah di malam-malam yang berbeda.

Rafiq menuruni tangga. Ia mengambil sepatunya di teras, tapi tidak memakainya. Ia hanya menggenggamnya di tangan kanan. Kaki berkaus kakinya menapaki halaman yang gelap.

Ia berjalan menuju Fortuner hitamnya yang masih terparkir di bawah pohon rindang. Udara malam terasa lebih dingin dari sebelumnya. Angin bertiup kencang, menerbangkan beberapa helai daun kering yang berputar-putar di depannya.

Ketika ia membuka pintu mobil dan duduk di kursi pengemudi, untuk pertama kalinya malam itu ia membiarkan dirinya menangis.

Tangis yang ia tahan sejak pertama kali mendengar desahan dari lantai atas itu kini keluar dengan keras. Ia membenturkan keningnya ke setir mobil berulang-ulang, menangis seperti anak kecil yang kehilangan segalanya.

Tapi di antara tangisnya, ada sesuatu yang mulai terbentuk di dalam hatinya.

Bukan kesedihan.

Bukan kekecewaan.

Bukan bahkan amarah.

Itu adalah sesuatu yang lebih gelap. Lebih dingin. Lebih mematikan.

Rafiq mengangkat kepalanya. Matanya menatap rumah yang masih menyala redup di kejauhan. Rumah yang dulu ia bangun dengan cinta dan doa. Rumah yang kini menjadi saksi bisu pengkhianatan paling keji dalam hidupnya.

Ia menyalakan mesin mobil. Dan dalam gelapnya malam di pinggiran kota kecil Jawa Barat itu, seorang pria yang dulu agamis, yang dulu suka dengan ketenangan, yang dulu menghindari keramaian kota, memulai perjalanan menuju sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia bayangkan sebelumnya.

Malam itu, Rafiq Al Farisi mati.

Dan dari abu kehancurannya, lahirlah sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

1
La Rue
Sensasi horornya benar² terasa. Tapi aku suka,karena gaya penulisan yang khas dari Sang Penulis. Semoga banyak yang mampir karena ceritanya bagus dan jarang typo 👍
La Rue: sama-sama
total 2 replies
La Rue
Waduh makin seram tapi semakin penasaran 😱🤭
La Rue
seram tapi penasaran 😱🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!