NovelToon NovelToon
The Phantom

The Phantom

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dark Romance / Kriminal
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: Nameika

Di kota Valmere, nama Phantom dibisikkan seperti legenda.
Seorang kurir bayangan. Pembunuh yang tak pernah gagal.

Leon hidup di dunia yang gelap dan presisi—sampai satu malam peluru yang bersarang di tubuhnya memaksanya masuk ke sebuah klinik kecil di Distrik 6.
Di sana ia bertemu Alice Arden, seorang dokter yang tidak bertanya siapa dia, dan tidak takut pada darah yang dibawanya.

Namun ketika dunia bawah mulai memburu sesuatu di distrik itu, Leon menyadari satu hal yang berbahaya.
Target yang mereka cari…

Mungkin adalah satu-satunya orang yang memperlakukannya seperti manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 — Pemburu

“Dia masih hidup.”

Suara Gray merayap masuk ke gendang telinga Leon melalui frekuensi radio yang sangat halus. Nada suaranya datar, namun mengandung semacam rasa ingin tahu yang tertahan.

Leon berdiri di tepian atap yang sama seperti malam sebelumnya. Udara pagi di Distrik 6 terasa lembap dan menusuk tulang, membawa aroma oli mesin dan debu industri yang belum sempat tersapu angin. Matahari baru saja merangkak naik di balik bayangan bangunan pabrik tua yang membatasi cakrawala kota Valmere, menyiram gang-gang sempit dengan cahaya jingga yang pucat.

Di bawah sana, pintu kayu Klinik Arden berderit pelan saat terbuka. Alice melangkah keluar sejenak, mengenakan sweter rajut berwarna abu-abu yang menutupi apron medisnya. Ia meraih papan kayu kecil yang tergantung di pintu, lalu membaliknya.

BUKA.

Leon mengamati setiap detail gerakan wanita itu melalui teropong taktis di tangan kanannya. “Ya,” sahut Leon pendek.

Gray mulai mengetik sesuatu di sisi lain sambungan, menciptakan irama monoton yang menemani kesunyian Leon. “Dilihat dari pola napasmu dan kestabilan fokusmu, kau sama sekali tidak tidur semalaman.”

Leon tidak menjawab. Matanya terpaku pada seorang wanita muda yang menggendong anak kecil di ujung gang. Mereka berjalan terburu-buru dan masuk ke dalam klinik. Melalui jendela yang sedikit terbuka, Leon melihat Alice berjongkok di depan anak itu. Ia mengulurkan tangan, memberikan sebuah permen atau mainan kecil sebelum mulai memeriksa suhu tubuh sang bocah. Alice tersenyum, sebuah ekspresi yang terlihat sangat tulus, sangat berbeda dari ketegangan yang Leon saksikan saat wanita itu menjahit luka tembak di perutnya.

Gray berbicara lagi, kali ini nadanya lebih mendesak. “Leon.”

“Apa.”

“Kau sudah mengawasi target itu selama hampir dua puluh jam tanpa jeda. Rekam jejakmu tidak pernah mencatat durasi pengawasan selama ini untuk satu target eliminasi yang tidak bersenjata.”

Leon menurunkan teropongnya sejenak, membiarkan matanya beristirahat dari lensa pembesar. “Ada pasien lagi.”

Gray mendengus pelan, suara desisan digital yang terdengar skeptis. “Sekarang kau mulai mengklasifikasikan orang-orang yang berinteraksi dengannya? Itu bukan bagian dari tugasmu.”

Leon tetap membisu. Beberapa menit berlalu sebelum seorang pria tua keluar dari klinik dengan tangan yang terbebat perban bersih. Alice mengantar pria itu sampai ke ambang pintu, memberikan beberapa instruksi akhir dengan gerakan tangan yang lembut. Leon kembali mengangkat teropongnya. Gerakan Alice begitu tenang, begitu manusiawi. Tidak ada tanda-tanda kecemasan atau kewaspadaan tingkat tinggi yang biasanya dimiliki oleh seseorang yang pernah bekerja untuk organisasi bayangan seperti Helix.

“Leon,” panggil Gray lagi.

“Apa.”

“Aku baru saja mendapatkan informasi terbaru tentang Rook. Kali ini lebih spesifik.”

Leon menurunkan teropongnya sepenuhnya, merasakan otot lehernya menegang. “Cepat sekali kau menemukannya.”

“Dia memang tidak berencana untuk bersembunyi,” jawab Gray. Suara ketikan di latar belakang berhenti. “Rook tiba di Valmere tiga hari yang lalu melalui jalur pelabuhan ilegal di Distrik 4. Dia membawa logistik lengkap, termasuk senapan runduk jarak jauh dan bahan peledak taktis.”

Leon berkata pendek, mengakui ancaman tersebut. “Profesional.”

“Sangat profesional,” Gray menambahkan. “Dan dia punya kebiasaan yang menjengkelkan. Dia bertanya tentang keberadaan Phantom di setiap bar dunia bawah yang ia kunjungi sejak semalam. Dia sengaja meninggalkan jejak agar kau tahu dia sedang mencarimu.”

Leon menyandarkan bahunya ke pagar besi berkarat di atap gedung. “Berarti dia memang ingin segera bertemu.”

“Lebih dari sekadar bertemu, Leon,” Gray berbicara dengan nada yang lebih berat. “Dia tidak hanya mengejar kepalamu.”

Leon menunggu kelanjutan kalimat Gray sambil menatap aspal di bawah yang mulai ramai oleh beberapa pekerja pabrik.

“Rook juga menanyakan lokasi dokter spesialis bedah darurat di Distrik 6 yang sering dikunjungi oleh kurir-kurir bermasalah,” Gray membacakan log data dari informannya. “Dia sedang menyatukan kepingan informasi yang sama dengan yang kita miliki.”

Leon terdiam. Angin pagi meniup ujung jaket hitamnya, menciptakan bunyi kepakan kecil yang ritmis.

“Kau ingin aku mengirimkan gangguan atau tim pengecoh untuk menghentikannya?” tanya Gray.

Leon menggeleng sedikit, sebuah gerakan refleks meskipun ia tahu Gray tidak bisa melihatnya melalui satelit. “Tidak perlu.”

“Jika dia menemukan dokter itu lebih dulu, kontrak Helix akan selesai di tangannya, dan reputasimu sebagai kurir tercepat akan hancur,” Gray mengingatkan dengan nada klinis.

Leon menjawab datar, menekan setiap kata dengan dingin. “Aku tahu.”

Sunyi menyelimuti mereka selama beberapa detik. Di bawah sana, Alice keluar lagi dari klinik membawa sebuah kotak obat kecil. Ia memberikannya kepada seorang pria kurir bermotor yang sudah menunggu di trotoar. Alice berbicara sebentar, memberikan catatan kecil, lalu menepuk bahu pria itu sebelum kembali masuk ke dalam.

Leon berbisik pelan, suaranya nyaris menyerupai desis angin. “Dia sama sekali tidak terlihat seperti seseorang yang menyimpan formula biologis bernilai jutaan dolar.”

“Orang yang paling berbahaya di dunia ini memang jarang terlihat seperti ancaman,” sahut Gray. “Itulah alasan mengapa mereka bisa bertahan hidup begitu lama.”

Leon tidak membantah. Beberapa menit kemudian, suara deru mesin motor yang berat terdengar dari kejauhan, memecah keheningan pagi di gang tersebut. Leon segera mengangkat teropongnya dan mengarahkan fokus ke ujung jalan.

Sebuah motor besar berwarna hitam pekat berhenti tepat di mulut gang. Pengendaranya bertubuh tinggi besar, mengenakan jaket kulit gelap yang tampak tebal. Helm hitam menutupi seluruh wajahnya, namun aura yang dipancarkannya begitu dominan.

Leon berkata pelan melalui mikrofonnya. “Gray.”

“Aku melihatnya di radar thermal. Apa itu dia?” Gray langsung kembali ke mode siaga penuh.

“Kita punya masalah di sini,” Leon menjawab sambil memperbesar lensa teropongnya.

Pria itu turun dari motornya dengan gerakan yang sangat terukur. Ia melepas helmnya, menyingkapkan rambut pirang pendek yang dipotong rapi dan wajah dengan garis rahang yang sangat tajam. Ada bekas luka tipis yang melintang di alis kirinya, memberikan kesan kejam yang permanen. Leon segera mengenali tipe wajah seperti itu; wajah seorang pemangsa yang sudah terlalu sering membunuh.

“Konfirmasi identitas,” Gray berkata cepat. “Itu Rook.”

Leon menjawab pendek. “Ya.”

Rook berdiri mematung selama beberapa detik di ujung gang. Matanya menyapu sekeliling, mengamati bangunan-bangunan tua sebelum pandangannya berhenti tepat di Klinik Arden. Ia berdiri di sana seperti seorang predator yang sedang menghitung jarak dan sudut serangan.

“Leon,” Gray berbicara dengan cepat melalui earpiece. “Jika dia melangkah masuk ke klinik itu, seluruh situasi taktis kita akan berubah menjadi kekacauan.”

Leon sudah bergerak bahkan sebelum Gray menyelesaikan kalimatnya. Ia melompat melewati pagar atap dan menuruni tangga darurat baja dengan kecepatan yang luar biasa. Sepatu botnya menghantam anak tangga besi, menciptakan bunyi dentang yang tertutup oleh suara bising lingkungan sekitar.

“Kau akan menghentikannya sekarang?” tanya Gray.

Leon melompat dari anak tangga terakhir, mendarat dengan senyap di atas aspal, lalu berjalan cepat menuju arah gang utama. “Aku tidak punya pilihan lain.”

Rook mulai melangkah dengan santai menuju klinik. Alice masih berada di dalam, mungkin sedang mencuci peralatan medisnya, sama sekali tidak menyadari badai yang sedang menuju ke arahnya.

Leon mempercepat langkahnya, tangannya sudah bersiap di balik jaket, dekat dengan gagang senjatanya. “Gray, tutup semua akses komunikasi publik di area ini.”

“Sudah dilakukan,” sahut Gray. “Tapi Leon, ingat satu hal. Jangan sampai tindakanmu ini terlihat seperti kau sedang melindungi target utama kontrak.”

Leon menjawab dengan nada dingin yang menusuk. “Aku tidak melindungi siapa pun. Aku hanya sedang melindungi eksklusivitas kontrakku.”

Leon berhenti tepat di tengah gang, menghalangi jalur Rook.

Rook juga berhenti. Langkah kakinya yang berat terhenti tepat sepuluh meter di depan Leon. Mereka saling berhadapan di tengah gang yang sempit dan berdebu, menciptakan ketegangan yang membuat udara seolah membeku.

Rook tersenyum kecil, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. Ia berbicara dengan aksen Eropa Timur yang berat dan serak. “Phantom. Aku tidak menyangka kau akan menunjukkan wajahmu secepat ini di tempat sampah seperti ini.”

Leon menjawab pendek, suaranya tetap tanpa emosi. “Kau terlambat.”

Rook mengangkat bahu dengan santai, namun matanya tetap waspada mengamati setiap gerakan kecil Leon. “Ada tiga juta dolar untuk kepalamu di pasar terbuka. Itu angka yang sangat menarik untuk sekadar basa-basi pagi hari.”

Leon tidak bergerak seinci pun. Tangannya tetap tenang di sisi tubuhnya. “Kau berdiri di tempat yang salah, Rook.”

Rook melirik sedikit ke arah pintu Klinik Arden yang berada di belakang bahu Leon. “Ah, begitu rupanya.”

Senyum predator di wajah Rook semakin lebar, memperlihatkan aura ancaman yang nyata. “Jadi rumor yang beredar di bar-bar semalam itu benar adanya.”

Leon menatapnya dengan pandangan dingin yang mematikan. “Pergi sekarang juga.”

Rook tertawa kecil, suara tawanya terdengar kering dan kasar. “Sekarang aku justru menjadi semakin penasaran dengan tempat ini.”

Ia menunjuk ke arah klinik dengan ibu jarinya. “Apa sebenarnya yang sedang kau sembunyikan atau lindungi di dalam sana, Phantom?”

Leon menatap Rook tanpa ekspresi, meskipun di dalam hatinya ia tahu bahwa garis antara profesionalisme dan naluri pribadinya mulai mengabur. Beberapa detik keheningan yang menyesakkan menyelimuti mereka berdua, hanya suara napas mereka yang terdengar di gang itu.

Rook akhirnya berkata dengan nada suara yang penuh ejekan namun tajam. “Jangan bilang padaku.”

Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap lurus ke mata Leon dengan tatapan yang sangat cerdas. “Target utama dalam kontrak Helix yang bernilai tujuh juta itu ada di dalam sana, bukan?.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!