"Gue gak akan pergi," jawab Angga akhirnya. Suaranya tegas. Pasti. Tidak ada keraguan. "Itu cuma mimpi. Gue di sini. Nyata. Dan gue gak kemana-mana."
Adea menghela napas lega. Matanya yang tadinya tegang mulai mengendur.
"Janji?"
"Janji."
"Sumpah?"
Angga tersenyum kecil. "Sumpah pake kucing."
Adea menoleh ke bawah. Cumi sedang duduk manis di samping kursinya, menatap bolak-balik antara Angga dan Adea.
"Cumi jadi saksinya," ucap Angga.
"Meong," sahut Cumi, seolah mengiyakan.
Emang boleh sahabat jadi cinta? Emang boleh sahabat tapi tinggal se atap? Emang boleh manja-manjaan ke 'sahabat'..... Emang boleh~
Ikut cerita dua anomali ini yaaa~~~~
Intip dikit gpp lahhh~ kalo betah ya tinggal, kalo nggk ya skip ajaaaa~~~~~
Happy Reading ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Sedang di Cintai
Sampai di gedung fakultas.
Halaman parkir Universitas Mataram mulai ramai. Mahasiswa berlalu-lalang dengan tas selempang, buku di tangan, dan wajah-wajah yang masih setengah mengantuk. Ada yang jalan kaki, ada yang naik motor butut, ada juga yang diantar mobil mewah.
Tapi di antara semua itu, sepasang anak manusia dengan motor Kawasaki Ninja hitam selalu menarik perhatian.
Bukan karena motornya.
Tapi karena mereka berdua.
Angga mematikan mesin. Ia turun lebih dulu, satu kaki menginjak aspal dengan mantap. Lalu ia berbalik, tangannya terulang untuk melepas helm Adea.
"Diam," ucapnya pelan saat Adea bergerak sedikit.
Jari-jari Angga yang kasar membuka kunci tali helm biru itu dengan hati-hati. Ia menarik helm perlahan, memastikan rambut Adea tidak tersangkut. Rambut hitam panjang gadis itu jatuh ke bahu, sedikit kusut di bagian belakang.
"Udah."
Angga meletakkan helm di stang, lalu mengangkat Adea turun dari motor dengan kedua tangan di pinggangnya. Tubuh gadis itu ringan, terlalu ringan untuk ukuran mahasiswi, pikir Angga. Padahal Adea makan banyak. Tapi metabolismenya cepat, seperti hamster.
Begitu kaki Adea menyentuh tanah, ia langsung menggerakkan tubuhnya. Kedua tangannya ia letakkan di belakang tubuh, jari-jarinya saling bertaut. Badannya sedikit bergoyang ke kanan dan kiri, seperti anak kecil yang sedang bahagia.
Angga diam sejenak.
Matanya tertuju pada gadis di depannya itu.
Lucu.
Senyumnya muncul tanpa izin.
Dia suka melihat Adea seperti ini. Ceria. Polos. Tidak peduli dengan dunia di sekitarnya.
Beberapa mahasiswa yang lewat melirik ke arah mereka. Ada yang tersenyum kecil, ada yang berbisik-bisik, ada juga yang melirik dengan alis terangkat. Tatapan iri atau risih, tidak ada yang tahu.
Tapi Angga tidak peduli.
Adea juga tidak menyadari.
Baginya, dunia hanya berisi Angga, Cumi, tanaman di halaman rumah, dan nasi goreng hangat di pagi hari. Sisanya... hanya latar belakang.
"Dea."
"Hm?"
Angga merogoh saku jas hujan yang melingkar di pinggangnya. Jas hujan itu selalu ia bawa ke mana-mana, meski langit sedang cerah. Kebiasaan orang yang sudah sering kehujanan.
Tangannya keluar dari saku.
Di telapak tangannya yang lebar, terdapat beberapa lembar uang kertas merah.
Dua. Tiga. Empat lembar.
Seratus ribu. Lima puluh ribu. Dua puluhan.
"Bibi Era nitip pesen buat kamu," ucap Angga sambil melipat uang-uang itu rapi. Matanya tidak menatap uang, tapi menatap Adea. "Kamu harus hemat."
Adea mengerjap.
"Terus?"
"Jadi... uang kamu selebihnya di aku." Angga menyodorkan uang itu. "Kalo ada apa-apa yang menyangkut kuliah kamu, bilang aja ke aku."
Tiga lembar uang berpindah tangan.
Dua lembar seratus ribu. Satu lembar lima puluh ribu.
Tiga lembar dengan wajah Soekarno dan Hatta yang tersenyum tipis seperti ikut bahagia melihat pemandangan di depan mereka.
Adea menerima uang itu dengan tangan mungilnya. Jari-jarinya yang pendek menggenggam kertas merah itu erat, lalu memasukkannya ke saku rok seragam.
"Bilang makasih ke Bibi Era ya," ucapnya.
"Iya," jawab Angga singkat.
Adea tersenyum lebar.
Lalu tanpa aba-aba, ia berbalik dan berlari kecil menuju gedung fakultas.
Langkahnya ringan, seperti melompat-lompat di atas awan. Kedua tangannya masih di belakang tubuh, tapi sekarang sambil memegang tali ransel merah mudanya.
Ia bersenandung.
Lagu apa? Tidak jelas. Nada naik turun tanpa aturan. Kadang fals. Tidak masalah.
Di depan gedung, beberapa mahasiswa meliriknya sekilas.
Ada yang memandang dengan tatapan mujur amat si cewek itu tiap hari diantar motor gede. Tatapan memuja yang terselubung iri. Ada juga yang melirik dengan tatapan lebay. Alis naik, bibir sedikit mencibir, lalu berpaling.
Tapi Adea tidak melihat semua itu.
Ia terlalu sibuk bersenandung.
Terlalu sibuk merasa bahwa pagi ini indah, sarapannya enak, uang sakunya cukup, dan Angga menunggunya di belakang dengan senyum yang tidak ingin ia akui.
Angga masih berdiri di samping motornya.
Ia menyandarkan tubuh ke jok, tangan disilangkan di dada. Matanya mengikuti gerak-gerik Adea yang semakin kecil di kejauhan.
Gadis itu berhenti di depan pintu fakultas.
Ia menoleh.
Melambai.
Sekali. Dua kali.
Lalu masuk ke dalam gedung, tertelan oleh keramaian mahasiswa lain.
Angga tidak segera pergi.
Ia menunggu sampai bayangan Adea benar-benar hilang.
"Dasar," gumamnya pelan, sambil tersenyum.
Ia menghela napas, lalu duduk di atas motornya. Mesin menyala. Ia akan pulang, bukan untuk istirahat, tapi untuk menyelesaikan lukisan pesanan yang deadline-nya minggu depan.
Tapi sebelum itu, ia melihat ponselnya.
Satu pesan masuk dari Adea. Padahal baru saja berpisah.
"Angga, nanti jemput aku jam 2 yaa. Jangan telat! 💙"
Angga membaca pesan itu tiga kali.
Lalu ia membalas:
"Iya. Jangan telat lagi kayak kemaren."
Balasan Adea datang cepat:
"ITU KARNA ELI SAKIT, BANGKE!!"
Angga tertawa kecil. Ia memasukkan ponsel ke saku jaket, lalu melaju perlahan meninggalkan area parkir.
Di belakangnya, kampus mulai ramai.
Di depannya, ada rumah kosong yang akan ia tunggui sampai jam 2 siang ditemani seekor kucing gembul dan kenangan tentang gadis kecil yang tidak pernah sadar bahwa ia dicintai.
Bersambung...