Arga Ardiansyah baru saja dikhianati setelah tiga tahun berdedikasi saat perusahan tersebut mencapai puncaknya, namun yang membuat dia tetap waras adalah Elina yang sedang berada di Praha.
Arga Ardiansyah kemudian bertekad untuk bangkit kembali dan menyusul cintanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilham Basri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Surat Dari Masa Lalu
Setelah meninggalkan gedung Winata Tower, Arga tidak langsung pulang ke hotel. Dia meminta Dani untuk membawanya ke makam kakeknya, Pak Broto, di pinggiran Jakarta yang jauh dari hiruk-pikuk gedung pencakar langit. Hujan rintik mulai turun, membasahi nisan batu yang sederhana itu. Arga berdiri di sana cukup lama, membiarkan bahu jas mahalnya lembap oleh air.
"Kek, aku sudah mengambil kembali apa yang mereka curi," bisik Arga. "Tapi kenapa rasanya ini baru permukaan saja?"
Dia merogoh saku jasnya, mengeluarkan koin perak yang tadi dia bawa ke ruang rapat. Koin itu terasa hangat di telapak tangannya. Saat dia hendak menyimpannya kembali, jarinya menyentuh sesuatu yang ganjil di dalam saku rahasia map kulit hitamnya. Sebuah amplop tua yang warnanya sudah menguning, terselip di antara dokumen hukum PT Cakrawala.
Arga membuka amplop itu dengan hati-hati. Di dalamnya ada secarik kertas dengan tulisan tangan kakeknya yang gemetar namun tegas.
Arga, jika kamu membaca ini, artinya kamu sudah berdiri di atas reruntuhan orang-orang yang meremehkanmu. Tapi ingat, harta Winata itu tidak ada apa-apanya dibanding apa yang kutinggalkan di Zurich. Koin perak itu bukan sekadar kenang-kenangan. Itu adalah kunci akses Safe Deposit Box nomor 712 di Bank Volkstadt.
Hati-hati, Nak. Ada alasan kenapa aku menyembunyikanmu di Jakarta selama ini. Orang-orang yang mencariku sepuluh tahun lalu di Eropa belum tentu sudah lupa. Jangan pergi ke Praha sebelum kamu mengambil apa yang ada di Zurich. Jika kamu langsung menemui Elina tanpa 'perisai' itu, kamu hanya akan membawanya ke dalam maut.
Darah Arga terasa mendidih sekaligus membeku. Dia meremas surat itu. Praha. Elina. Jarak yang tadinya tinggal satu langkah lagi untuk ditembus, tiba-tiba terasa kembali menjauh ribuan kilometer. Arga menatap ponselnya. Ada tiga pesan masuk dari Elina.
Ga, aku sudah masak sup jamur kesukaanmu. Di sini dingin sekali, aku butuh pelukanmu.
Kamu jadi berangkat malam ini kan? Aku sudah pesan taksi buat jemput kamu di bandara besok pagi.
Aku sayang kamu. Cepat datang ya.
Arga memejamkan mata rapat-rapat. Rasa perih menghujam dadanya lebih tajam daripada penghinaan Siska selama tiga tahun ini. Dia sudah membayangkan akan memeluk Elina besok pagi, mencium aroma rambutnya, dan melupakan semua kegilaan di Jakarta. Tapi surat kakeknya mengubah segalanya.
"Tuan Arga?" Dani mendekat dengan payung hitam besar. "Tiket ke Praha sudah siap untuk penerbangan jam sepuluh malam ini. Mobil jemputan ke bandara juga sudah stand by."
Arga diam cukup lama. Suara gemericik hujan di atas payung Dani terasa seperti detak jam yang mengejar nyawanya.
"Batalkan tiket ke Praha, Dan," ucap Arga dengan suara serak namun stabil.
Dani tertegun. "Maaf, Tuan? Tapi Nona Elina..."
"Cari penerbangan pertama ke Zurich besok pagi. Atas nama anonim. Dan pastikan tidak ada satu pun orang Winata atau informan mereka yang tahu keberangkatanku," potong Arga. Dia menoleh ke arah Dani dengan tatapan yang sangat tajam. "Lalu, kirim tim keamanan terbaik kita ke Praha. Jaga Elina dari jarak jauh. Jangan sampai dia tahu, dan jangan biarkan siapa pun mendekatinya."
"Baik, Tuan. Lalu... apa yang harus saya katakan pada Nona Elina?"
Arga menarik napas panjang, mengeluarkan ponselnya. Jempolnya gemetar di atas layar. Dia mulai mengetik, menghapus, dan mengetik lagi.
El, maafkan aku. Ada urusan bisnis yang sangat mendadak dan krusial di Swiss. Aku tidak bisa ke Praha malam ini. Mungkin aku butuh waktu seminggu atau lebih di sini. Aku akan segera menemuimu setelah semuanya selesai. Jaga dirimu baik-baik ya. Aku mencintaimu.
Pesan itu terkirim. Arga langsung mematikan ponselnya. Dia tidak sanggup melihat balasan Elina. Dia tidak sanggup mendengar suara tangis atau kecewa perempuan itu melalui telepon.
Jarak di antara mereka yang tadinya hampir mencapai titik nol, kini kembali membentang luas. Bukan lagi sekadar jarak fisik, tapi jarak kejujuran. Arga harus membohongi orang yang paling dia cintai demi keselamatan wanita itu sendiri.
"Ayo pergi, Dan. Kita harus bersiap," ajak Arga sambil melangkah meninggalkan makam kakeknya.
Malam itu, di dalam kamar hotelnya yang mewah, Arga tidak bisa tidur. Dia menimang koin perak itu di bawah lampu redup. Dia baru sadar, menjadi kaya dan berkuasa ternyata lebih sepi daripada menjadi menantu yang dibuang. Di Jakarta dia ditakuti, di Zurich dia ditunggu bahaya, dan di Praha... dia baru saja menghancurkan hati satu-satunya orang yang tulus padanya.
Arga menatap ke luar jendela, ke arah langit Jakarta yang hitam. "Jarak ini... kapan akan benar-benar habis, El?"
Besok pagi, petualangan Arga yang sebenarnya dimulai. Bukan lagi soal balas dendam pada keluarga kecil seperti Winata, tapi soal menghadapi rahasia besar di belahan dunia lain yang mempertaruhkan segalanya.