NovelToon NovelToon
Pendekar Naga Pengembara

Pendekar Naga Pengembara

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:14.9k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Tian Shan, pendekar terkuat yang pernah ada, memilih mengorbankan dunia demi satu tujuan—memutar balik waktu.

Ia terlahir kembali di keluarga bangsawan. Namun karena sifatnya yang dianggap aneh dan tubuhnya yang tak mampu berkultivasi, ia dipandang sebagai sampah.

Saat waktunya tiba, ia memilih pergi—bertekad membuktikan dirinya dan membalas segalanya dengan kekuatan yang akan mengguncang dunia.

Mampukah sang legenda menggapai impiannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Pembersihan

Halaman kediaman Klan Lu berubah menjadi lautan baja dan jeritan. Puluhan pendekar bayaran merangsek maju, namun mereka tertahan oleh dinding pertahanan yang tak terduga.

​Di garis depan, Tian Feng memutar tombak naga pemberian Tian Shan dengan kecepatan penuh.

Setiap putaran senjatanya menciptakan pusaran angin kencang yang mementalkan anak panah beracun.

Di sampingnya, Yue Ling bergerak bagaikan tarian hantu. Cahaya ungu pucat memancar dari jemarinya, menciptakan distorsi ruang yang membuat tebasan pedang musuh meleset jauh dari sasaran.

​"Lindungi Tuan Muda Lu!" seru Tian Feng, menusukkan tombaknya ke arah perisai lawan hingga hancur berkeping-keping.

​Di tengah kekacauan itu, Tian Shan berjalan dengan tenang. Ia tidak berlari, tidak juga menghunus pedangnya segera.

Namun, setiap langkah yang ia ambil membuat ubin batu di bawah kakinya retak dan amblas sedalam tiga inci.

Tekanan gravitasi yang ia lepaskan secara pasif membuat para pendekar ranah awal yang mencoba mendekat langsung jatuh tersungkur, memuntahkan darah karena paru-paru mereka tertekan hebat.

​Seorang kapten pengawal dengan kapak raksasa melompat dari atap, mengincar kepala Tian Shan.

​WUSH—

​Tanpa menoleh, Tian Shan hanya mengangkat tangan kirinya. Dua jarinya menjepit mata kapak yang tajam itu di udara.

Dengan sentakan pergelangan tangan yang minimalis, kapak itu hancur menjadi serpihan logam.

Serpihan tersebut melesat balik secepat peluru, menembus zirah sang kapten hingga ia terpental menghantam tembok luar.

​Tian Shan terus melangkah. Matanya terkunci pada aula utama.

​Paman Lu, yang berdiri di atas tangga, berteriak ketakutan melihat pasukannya tumbang seperti rumput yang disabit. "Bunuh dia! Gunakan Formasi Pengikat Jiwa!"

​Dua belas pendekar berpakaian hitam muncul dari bayang-bayang pilar. Mereka melemparkan rantai-rantai besi yang berpendar hijau gelap, mencoba melilit tubuh Tian Shan.

Rantai-rantai itu mengandung racun korosif yang mampu melelehkan daging dalam sekejap.

​Tian Shan berhenti. Matanya berkilat emas redup.

​SRING!

​Pedang Penjaga Langit keluar dari sarungnya. Bukan tebasan lebar yang ia lakukan, melainkan satu tusukan ke udara kosong di depannya.

​Gelombang energi gravitasi berbentuk cincin meledak keluar. Rantai-rantai besi itu tidak hanya putus, tapi hancur menjadi debu halus.

Ke-12 pendekar hitam itu terlempar ke segala arah dengan tulang rusuk yang patah secara bersamaan.

Hening sejenak menyelimuti halaman; hanya suara langkah kaki Tian Shan yang kembali terdengar di atas batu yang pecah.

​Tian Shan menendang pintu aula utama hingga hancur menjadi serpihan kayu. Di dalam, bau busuk racun "Embun Hitam" terasa sangat menyengat.

Di sudut ruangan, seorang pria berjubah hitam dengan topeng tengkorak—Mo Sha, sang Master Racun dari sekte hitam—sedang berdiri di samping tempat tidur sang Patriark Lu yang sekarat.

​Mo Sha tidak banyak bicara. Ia menggerakkan tangannya, melepaskan ribuan jarum halus yang terbuat dari energi hitam pekat. Jarum-jarum itu membawa kutukan pemakan jiwa.

​Tian Shan hanya mengayunkan pedangnya satu kali secara vertikal.

​BOOM!

​Lantai aula terbelah menjadi parit dalam yang memanjang hingga ke kaki Mo Sha. Seluruh jarum energi itu terserap masuk ke dalam retakan tanah akibat tarikan gravitasi yang masif.

Mo Sha terkejut, ia mencoba menghilang ke dalam bayang-bayang, namun ia menyadari bahwa kakinya seolah-olah dipaku ke lantai.

​Tian Shan muncul di depan Mo Sha dalam sekejap mata. Kecepatannya melampaui batas penglihatan manusia.

​Tangan kanan Tian Shan mencengkeram leher Mo Sha, sementara pedangnya menembus bahu sang Master Racun, mematikan aliran Qi-nya secara total.

Mo Sha mencoba meronta, namun setiap gerakan hanya membuat tulang lehernya berderak di bawah genggaman Tian Shan yang sedingin es.

​"Penawarnya," ucap Tian Shan singkat. Suaranya rendah, namun mengandung otoritas yang membuat jiwa Mo Sha bergetar hebat.

​Mo Sha yang tercekik menunjuk ke arah botol giok di pinggangnya dengan gemetar. Tian Shan merampas botol itu, lalu melemparkan tubuh Mo Sha keluar jendela aula hingga menghantam pilar di halaman luar.

​Paman Lu mencoba melarikan diri lewat pintu belakang, namun ia mendapati kakinya tidak bisa bergerak.

Ia menoleh dan melihat Tian Shan sedang berdiri di samping tempat tidur kakaknya, memberikan penawar ke mulut sang Patriark tanpa sedikit pun ekspresi di wajahnya.

​Tian Shan melirik Paman Lu dari sudut matanya.

​"Darahmu ... terlalu kotor untuk klan ini," bisik Tian Shan.

​Ia menjentikkan jarinya ke arah udara. Sebuah tekanan gravitasi berbentuk bola tak terlihat menghantam punggung Paman Lu, menekannya ke lantai hingga ia pingsan karena syok hebat.

Tian Shan tidak membunuhnya; ia membiarkan hukum klan yang akan menghakiminya setelah sang Patriark bangun.

​Di halaman, pertempuran berakhir. Tian Feng dan Yue Ling masuk ke dalam aula dengan napas terengah-engah, menemukan Tian Shan sedang menyarungkan pedangnya dengan sangat tenang, seolah ia baru saja menyelesaikan makan malam, bukan membasmi puluhan pendekar elit.

​Tuan Muda Lu berlari menuju tempat tidur ayahnya, menangis tersedu-sedu saat melihat warna kulit ayahnya mulai kembali normal. Ia berbalik dan berlutut di depan kaki Tian Shan.

​"Terima kasih ... terima kasih, Tuan!"

​Tian Shan mengabaikan itu. Ia berjalan menuju jendela, menatap langit Kota Teratai Merah yang kini mulai tertutup awan mendung.

​"Urus sisanya," ucap Tian Shan kepada Tian Feng dan Yue Ling.

​Ia duduk di sudut ruangan, kembali memejamkan mata untuk bermeditasi, membersihkan sisa-sisa hawa membunuh yang sempat meluap.

"Semakin banyak masa depan yang berubah. Aku merasa aneh dengan diriku," Batin Tian Shan sambil melihat ke dalam jiwanya yang tampak perlahan terkikis.

​Beberapa pekan berlalu di kediaman Klan Lu dengan ketenangan yang kontras dari badai sebelumnya.

Patriark Lu perlahan pulih, sementara Tuan Muda Lu mulai belajar memegang tanggung jawab dengan lebih serius.

Di balkon paviliun tertinggi, Tian Shan duduk mematung, dikelilingi oleh pusaran energi Qi yang begitu padat hingga udara di sekitarnya tampak bergelombang.

​Sinar rembulan malam itu seolah-olah tersedot ke arah tubuh Tian Shan.

Setiap pori-porinya terbuka, menyerap energi alam dan membuang sisa-sisa kotoran dalam aliran yang konstan.

Cahaya perak samar menyelimuti kulitnya, sebelum akhirnya sebuah dentuman internal yang sunyi bergema di dalam meridiannya.

​Tian Shan kini telah mencapai Ranah Pendekar Bumi Tahap Puncak.

​Ia perlahan membuka mata. Pupil matanya yang memiliki lingkaran emas berkilat tajam, menembus kegelapan malam.

Namun, perhatiannya tidak tertuju pada kekuatannya yang baru, melainkan pada garis cakrawala yang sangat jauh.

​"Lagi ... aura itu muncul sesaat lalu menghilang," batinnya. "Jaraknya ribuan mil dari sini, tapi getarannya begitu purba. Makhluk apa yang memiliki kehadiran sekuat itu di zaman ini?"

​Tian Shan mencoba melacak sisa-sisa energi itu dengan kesadaran mentalnya, namun hasilnya nihil. Sosok itu seolah tahu cara bersembunyi di balik lipatan ruang.

​Di taman bawah, Yue Ling berdiri di balik bayangan pohon ginkgo, matanya tak lepas dari sosok pria yang sedang bermeditasi di atas sana.

Baginya, Tian Shan adalah teka-teki yang paling menarik—dingin seperti es, namun memiliki kehangatan tersembunyi yang ia tunjukkan melalui tindakan, bukan kata-kata.

​"Kak Yue Ling sedang apa?" Suara cempreng Tian Mei tiba-tiba muncul dari belakang.

​Yue Ling tersentak kaget, hampir saja ia mengeluarkan teknik cahayanya karena refleks.

Ia langsung membuang muka, pura-pura sibuk merapikan gaun birunya dengan wajah yang mulai merona. "T-tidak sedang apa-apa! Aku hanya ... sedang mengecek kelembapan udara malam!"

​Tian Mei menyipitkan mata, senyum jahil tersungging di bibirnya. Ia kemudian menatap balkon tempat kakaknya berada, lalu kembali menatap Yue Ling. "Hmm ... Kak Yue suka Kak Tian Shan, ya?"

​"M-mana ada?! Aku tidak suka pria kaku dan acuh tak acuh seperti dia, Tian Mei!" protes Yue Ling cepat, namun suaranya justru terdengar tidak yakin.

​"Yang benar? Kalau tidak suka, kenapa wajah Kak Yue merah sekali seperti tomat matang?" Tian Mei tertawa kecil sambil mencolek pipi Yue Ling yang terasa panas.

​Yue Ling benar-benar salah tingkah. "A-aku ... aku sepertinya harus ke kamar mandi! Perutku sakit!" Ia segera berbalik dan berlari pergi secepat kilat, meninggalkan tawa Tian Mei yang menggema di taman.

​"Hei, Kak Yue! Tunggu aku! Aku belum selesai bicara!" seru Tian Mei sambil mengejarnya dengan semangat.

​Malam berikutnya, suasana Kota Teratai Merah sedang dalam puncaknya. Festival pasar malam diadakan untuk merayakan pemulihan Patriark Lu. Tian Mei, yang memiliki rencana rahasia untuk "mendekatkan" kakaknya dengan Yue Ling, memaksa Tian Shan keluar dari kamarnya.

​Tian Shan berjalan di tengah keramaian dengan tangan di belakang punggung, ekspresinya datar seolah ia sedang berjalan di pemakaman, bukan pasar malam yang ceria.

Di sampingnya, Yue Ling berjalan dengan sangat canggung, masih teringat ledekan Tian Mei semalam.

​"Kakak, lihat! Ada panggung musik kosong di sana. Kenapa kakak tidak main sebentar? Aku rindu mendengar petikan kecapimu," pinta Tian Mei sambil menarik-narik lengan jubah Tian Shan.

​Awalnya Tian Shan ingin menolak, namun melihat tatapan penuh harap dari adik dan juga Yue Ling yang diam-diam mencuri pandang, ia akhirnya menghela napas. "Hanya satu lagu."

​Tian Shan melompat dengan anggun ke atas panggung kayu di tengah pasar. Ia mengeluarkan Kecapi Perunggu Kuno miliknya. Saat jemarinya menyentuh senar, kebisingan pasar malam perlahan-lahan mereda.

​TRENG ...

​Satu petikan nada yang sangat dalam bergema, membawa getaran Qi yang menenangkan ke seluruh sudut pasar.

Tian Shan mulai bermain, namun kali ini lagunya terasa berbeda—ada kerinduan akan masa lalu dan tekad untuk masa depan yang tertuang dalam setiap melodi.

​Penjual bakpao berhenti berteriak, anak-anak yang berlarian terpaku di tempat, bahkan hewan-hewan ternak di sekitar pasar menundukkan kepala.

Melodi itu seolah-olah mencuci segala kelelahan dan kesedihan dari hati setiap orang yang mendengarnya.

​Yue Ling berdiri di barisan depan, matanya berkaca-kaca.

​Saat lagu berakhir, keheningan total menyelimuti pasar selama beberapa detik sebelum ledakan tepuk tangan dan teriakan "Sekali lagi!" membahana. Banyak orang mulai mengerumuni panggung, melemparkan koin perak dan bunga ke arahnya, memohon agar sang pendekar misterius itu bermain lagi.

​Tian Shan segera berdiri, menyampirkan kecapinya, dan melompat turun dari panggung sebelum kerumunan itu semakin menggila. Ia segera menarik tangan Tian Mei dan memberi isyarat pada Yue Ling untuk segera pergi.

​"Ayo pergi. Terlalu berisik di sini," ucap Tian Shan singkat.

​Meskipun suaranya tetap dingin, Tian Mei dan Yue Ling bisa melihat sedikit gurat kepuasan di wajahnya.

Malam itu, di tengah keramaian pasar, mereka menyadari bahwa meski Tian Shan ingin menjadi bayangan, cahayanya terlalu terang untuk disembunyikan.

1
Aisyah Suyuti
bagus
Nanik S
NEXT 💪💪💪
Nanik S
Shiiiiip
Nanik S
Lanjutkan Tor
Nanik S
Mengenang mas lalu Lewat Kua
✞👁️👁️✞
lanjit thor💪
Nanik S
Satu satunya orang yang tidak dibunuh oleh Tian Shan di Alam Abadi
✞👁️👁️✞
/Pray/
✞👁️👁️✞
pecahan jiwa
✞👁️👁️✞
lanjut💪
Nanik S
cuuuuuuust👍👍👍
Nanik S
Lanjutkan Tor🙏🙏
Nanik S
Bai Yaoju bukankah dulu kekasih Tian Shan dimasa lalu sebelum rekarnasi
Kenaya: Iya/Pray/
total 1 replies
✞👁️👁️✞
pendekar tersantuy tian shen🔥
Kenaya: /Ok//Pray//Pray//Pray/
total 1 replies
✞👁️👁️✞
apa trio Tian akan berkelana bersama?
✞👁️👁️✞
🔥🔥
✞👁️👁️✞
mantap
lanjut thor💪
✞👁️👁️✞
🐬🐬semangat
✞👁️👁️✞
tian shan!! kau pergi tanpa berpamitan😁
Kenaya: ketemu lagi kok nanti/Grievance//Pray/
total 1 replies
✞👁️👁️✞
kontrak darah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!