Viola Denada Danuarta, itulah namanya, seorang gadis berparas cantik memiliki darah keturunan Belanda. Ia adalah anak kedua dari keluarga Danuarta yang cukup berpengaruh.
Namun, memiliki ekonomi yang serba berkecukupan tak bisa membuat seorang Viola bahagia. Karena ujian nya ada di kisah asmara nya.
Di kali kelima dia menunggu sang kekasih, tepatnya didepan kantor catatan sipil untuk mendaftarkan pernikahan, dia kembali di bohongi dan di hianati oleh sang tuanangngan.
Setelah dia memutuskan untuk melupakan segalanya tentang laki-laki itu dia malah mengalami kecelakaan hebat, pada akhirnya kecelakaan tersebut merenggut ingatan Viola selama tiga tahun terakhir, tak hanya itu dia juga di nyatakan lumpuh sementara.
****
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab #31
Sementara itu di kamar, Viola masih sangat bingung tentang bagaimana dia bisa tidur di samping Zehan, tampa dia ketahui kalau Zehan lah yang menggendong nya naik ke atas ranjang.
"Huh sudahlah, lupakan," kata Viola sambil memijat alis nya, dia kembali menoleh ke arah Zehan dan kemudian mendekatkan wajah lebih dekat ke arah sang suami.
"Kenapa garis wajahnya begitu tampan? Tertidur saja dia sangat tampan," lirih Viola dengan suara kecil.
Dia terus memperhatikan hal-hal kecil dari sang suami, perlahan jari telunjuk nya mulai menyentuh hidung Zehan dan memegang nya dengan lembut.
"Hidung mancung," ucap Viola sambil terkekeh.
"Apa yang dia lakukan dengan hidung ku? Rasanya gatal sekali, aku tidak tahan ingin bersin," batin Zehan berusaha menahan.
Namun Viola malah keasikan memainkan hidung suaminya.
"Hatcihhhm ..." Seketika Zehan pun tak bisa menahan diri untuk bersin.
Viola yang melihat itu sontak kaget dan segera menarik tangan nya dari hadapan Zehan.
"Mau kemana," ucap Zehan sambil memegang pergelangan tangan Viola.
"A-aku, aku," Viola yang gugup tak bisa berkata apa-apa.
"Kau? Kau pura-pura tidur?" Lanjut Viola sambil menunjuk ke arah Zehan.
"Aku tampan? Apakah kau sudah jatuh cinta kepada ku sekarang?" tanya Zehan sambil tersenyum dan dia tidak melepaskan tangan Viola dari genggaman nya.
"Ma, mana mungkin," Viola segera menarik tangan nya dan mengalihkan pandangan.
"Oh ya? Aku mendengar nya tadi," lirih Zehan setengah berbisik di kuping Viola.
Seketika Viola bergidik negeri.
"Aku, hanya kagum, cinta dan rasa kagum adalah dua hal yang berbeda," lanjut Viola.
Zehan yang mendengar itu hanya tersenyum tipis, dia kemudian bangkit dari tempat tidur nya.
Beberapa puluh menit kemudian ...
Viola kini kembali ke kamar nya untuk mandi di bantu oleh Hani, dia meninggalkan Zehan di kamar sendirian saat sang suami pergi ke toilet.
"Nyonya," panggil Hani.
"Iya, ada apa Hani?" jawab Viola sambil menoleh.
"Tuan muda, tangan nya mungkin akan sangat sakit, dia mestinya tidak bisa mandi dan melakukan aktifitas lain dengan sendirinya, perban di kepala nya juga ..." jelas Hani sambil menatap Viola penuh arti.
"Aku mengerti, aku akan ke kamar nya setelah ini," balas Viola yang mengingat permintaan Zehan tadi malam.
"Baiklah nyonya, kalau begitu aku antar," Hani dengan bersemangat mengantarkan Viola ke kamar Zehan tanpa menunggu ungkapan selanjutnya dari bibi Viola.
"Astaga," kata Viola tak habis pikir dengan semangat Hani.
Sementara itu ...
"Aku pikir kau sudah melupakan janji mu," ucap Zehan yang saat ini duduk di pinggiran ranjang nya.
"Kenapa kau tidak pakai baju mu?" ucap Viola sambil memalingkan wajahnya, terlihat Zehan yang duduk di pinggir ranjang tampa mengunakan baju.
"Lengan ku terluka, punggung dan kepala ku juga, dan kau masih memaksa ku untuk mengunakan baju? Ini rumah kita dan kau adalah istri ku, aku tidak mungkin melupakan hal itu kan?" kata Zehan dengan wajah kesalnya.
Viola perlahan menyadari semua yang di ucapkan Zehan, dia menatap sang suami dengan malu-malu dan bimbang.
"Ternyata tubuhnya begitu sempurna, aku pikir hanya wajah nya saja," batin Viola mengebu-gebu melihat perut Zehan yang seperti roti sobek dan tangan nya yang terlihat berotot dan juga kekar.
"Aku mau mandi, bisakah kau membantuku?" ucap Zehan berdiri dan kemudian menghampiri Viola.
"Hah? Ma-mandi?" ucap Viola kaget sambil menatap Zehan dengan tatapan tak percaya.
"Ya," jawab Zehan yang kemudian mendorong kursi roda Viola masuk ke dalam kamar mandi bersama dirinya.
"Tunggu-tunggu, bagaimana bisa aku membantu mu? Kak Zehan tolong jangan mempersulit ku," ucap Viola mengoceh.
Namun Zehan tidak memedulikan nya, dia menghidupkan shower dan mengisi bak mandi dengan air.
"Tolong," katanya kepada Viola sambil berdiri di depan sang istri.
Viola mengerutkan keningnya menatap Zehan tak mengerti apa yang di inginkan sang suami.
"Tangan ku sakit, tolong buka ikat pinggang nya," lanjut Zehan lagi.
Seketika mata Viola membulat sempurna mendengar permintaan Zehan barusan.
"Tidak! Kak Zehan apa kau gila!" ucap Viola marah.
"Kau istri ku," tiga patah kata itu kembali diucapkan oleh Zehan.
Viola seketika bungkam, dia tau kalau saat ini tak ada alasan lagi untuk membantah Zehan.
Dia menatap ikat pinggang Zehan yang berdiri di hadapannya, jantung nya berdegup kencang, tangan nya juga tiba-tiba tidak bisa di gerakan sama sekali seolah-olah mati rasa.
"Ayolah, air nya sudah siap," kata Zehan yang kemudian memegang tangan Viola lalu menuntun nya untuk memegang ikat pinggang nya.
Dengan gemetar dan mata yang di pejamkan, Viola pun berusaha membuka ikat pinggang tersebut. Namun karena dia tidak bisa melihat posisi tangan nya dia malah tanpa sengaja menyentuh arah lain.
"Oh astaga," ringis Zehan yang kemudian buru-buru mengalihkan tangan Viola ke tempat yang benar, dia terlihat fursatsi dengan keadaan tersebut.
"Sudah selesai," ucap nya lagi.
Viola pun menarik Ikat pinggang sang suami, sementara Zehan buru-buru masuk ke dalam bathtub dan merendam dirinya di sana.
"Tetap di sini," ungkap Zehan.
"Tadi itu," kata Viola seperti merasakan sesuatu yang ganjil.
"Lain kali jangan sampai salah tempat," ucap Zehan melirik Viola sekilas dan kemudian kembali fokus.
"Salah tempat?" batin Viola tak mengerti.
Zehan terpaksa untuk tidak menyentuh atau melakukan apapun yang seharusnya bisa dia lakukan kepada Viola sebagai sepasang suami istri, semua ini semata-mata karena dia ingin Viola jatuh cinta terlebih dahulu kepada nya dan juga menyembuhkan kaki Viola terlebih dahulu.
"Viola," lirih Zehan.
"Iya," jawab Viola sambil menatap sang suami.
Entah sudah berapa kali Viola menelan ludah melihat pemandangan di depannya saat ini.
"Aku ingin membasahi rambut ku," ucap Zehan lagi.
"Tidak, tidak boleh, tangan dan punggung kanan juga jangan sampai basah," reflek Viola langsung menahan Zehan.
"Tapi aku gerah," ucap Zehan tak puas.
Berikan handuk kecil yang ada di sana," tujuk Viola ke satu arah.
Zehan pun menuruti nya.
"Untuk apa?" tanya nya sambil menyerahkan benda tersebut.
Viola tidak menjawab, dia merendam handuk tersebut dan kemudian melakukan ritual lain untuk bagian tubuh Zehan yang terluka.
Ya dia mengompresi nya, agar Zehan tidak merasa gerah di bagian luka, dia melakukan nya dengan perlahan, namun hal ini membuat sentuhan lembut di antara tangan nya dan juga beberapa bagian tubuh Zehan, mereka pun harus lebih berdekatan.
Terutama saat Viola membasahi sedikit rambut Zehan, dan menghindari luka tersebut itu sangat lah dekat karena Viola harus benar-benar berhati-hati mengamati luka nya agar tidak terkena.
Sementara itu Zehan malah menikmati pemandangan indah yang ada di hadapannya saat ini, di mana sang istri yang sedang fokus terlihat sangat cantik dan manis.
Bibir merah muda itu membuat Zehan merasa ingin sekali mengecup nya bahkan hanya sekilas saja.
"Viola," lirih Zehan.
"Hmm," ucap Viola singkat tanpa memperhatikan Zehan.
Tiba-tiba Zehan mengerakan tangan nya yang satu lagi, dia menarik tengkuk Viola dan kemudian ....
Cuphhh ...
Sebuah ciuman lembut berhasil mendarat tepat dan bibir merah muda sang istri. Author percaya kalau kali ini Zehan benar-benar tidak tahan.
"Mata Viola seketika membulat merasakan benda kenyal dan dingin itu menempel di bibir nya, ini adalah ciuman pertama keduanya.
"Maaf, maafkan aku," kata Zehan segera menarik kembali dirinya dengan rasa gugup.
Sementara Viola tak bisa berkata apa-apa, mau marah juga tidak mungkin, ini sangat tiba-tiba, membuat kedua pipi putih nya itu memerah seperti kepiting rebus.
"Apa dia refleks?" batin Viola lagi.
Keduanya yang merasa canggung segera kembali melakukan aktivitas masing-masing, kini tak satu pun dari mereka yang angkat bicara.
Sementara itu di sisi lain ...
"Sial! Benar-benar sial! Sekar, awas saja kau! Menyebalkan!" Liam mengamuk setelah beberapa hari menunggu dan ternyata Sekar sama sekali tidak datang kepada nya.
Dia juga mendapat telpon dari rumah sakit kalau ternyata bibi nya telah di pindahkan ke rumah sakit lain yang lebih bagus, bukan nya mendapatkan kabar tentang Viola, Liam kini malah menjadi musuh bagi saudara nya sendiri.
"Hans, ya dia, hanya dia harapan ku satu-satunya saat ini, aku harus menemukan nya," ucap Liam yang segera mengambil kunci mobil dan kemudian berlalu pergi untuk mencari Liam.
Penyelidikan yang dia lakukan sama sekali tidak membuahkan hasil sampai sekarang, dia juga kehilangan kesempatan untuk dapat informasi dari Sekar, harapan nya saat ini hanya lah Hans sahabat nya, itupun kalau Hans mau mengatakan yang sebenarnya terjadi.
Sementara itu Laura yang selalu mengamati tingkah laku Liam merasa sangat gelisah, dia benar-benar khawatir kalau Liam akan segera mengetahui hal tentang Viola dan dirinya akan segera tersingkir kan.
"Mau kemana lagi dia? Aku harus mengikuti nya," batin Laura seperti cecurut sungai saja.
Sementara itu di sisi lain ...
"Kak Doha! Kak Doha!" teriak Lola yang saat ini menggedor-gedor pintu kediaman keluarga Doha.
"Apa yang kau lakukan di sini? Jangan membuat keributan!" ucap penjaga pintu dengan wajah galak nya.
"Aku ingin bertemu dengan kak Doha, aku adalah Lola, katakan kepada nya kalau aku mencari nya," ucap Lola penuh percaya diri.
Namun tiba-tiba pintu rumah tersebut terbuka, terlihat seorang gadis berdiri di hadapan mereka dengan tatapan tajam menatap Lola.
"Nona muda Celine," ucap sang penjaga pintu.
"Pergilah, biar aku yang menangani orang ini," ucap wanita muda yang di panggil Celine itu.
"Baik nona," sang penjaga dan kemudian berlalu pergi dari sana.
"Celine," panggil Lola segera mengubah perilaku nya.
"Kau itu adalah sepupu tiri kak Zehan yang di buang kan? Orang yang tidak di anggap, kenapa kau datang ke sini untuk mencari kak Doha?" ucap Celine yanag tak lain adalah adik dari Doha.
"Aku, dan kak Doha pernah punya hubungan spesial, jadi aku ingin bertemu dengan nya, aku mohon, ada hal yang ingin aku bicarakan dengan nya," ucap Lola lagi.
Celine mengerutkan keningnya dan menatap Lola dengan tatapan tak bisa di artikan, beberapa menit kemudian tawa renyah pun terdengar dari mulut nya.
****
kesian Zehan sih udah suami istri malah udah cinta tapi gak bisa nyentuh Viola...
duuuh nona muda,mulut nya lho
😆😆😆😆
semua perhatian mu selalu di terima lain ma Viola...
Sabar ya Zehan...tunjukan terus niat tulus mu ma Viola,lama lama ntar vio luluh juga
sama pikiran kita Zehan 😆😆😆
Dulu dengan Liam kok cupu bener sampai bolak balik di kibulin