Dibuang ibu kandungku, disiksa keluarga tiriku. Tapi itu belum cukup...
Saat Lania beranjak dewasa, ia justru harus menggantikan kakak tirinya untuk menjadi tunangan pria yang tidak dikenalnya.
Penyiksaan itu terus berlanjut sampai Lania benar-benar menikahi pria itu. Karena sebuah kesalahpahaman, suaminya terus menyiksanya karena kebencian yang tidak seharusnya ia terima.
Sabar... sabar... sabar... hanya satu kata itu yang bisa menguatkan Lania dalam menjalani kehidupannya yang sangat keras.
Akankah kehidupan Lania menjadi lebih baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 💞💋😘M!$$ Y0U😘💋💞, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terus Mendrama
Daley tidak bisa tidur, pria itu terus membalik-balikkan tubuhnya di atas ranjangnya. Ia masih menunggu kabar dari Frans, namun orang suruhan Malik tersebut masih juga belum menghubunginya.
"Benar-benar menjengkelkan sekali. Lisa mampu membuat kepalaku pusing dengan pikiran-pikiran yang aneh," gerutu Daley sendiri.
Daley pun turun dari ranjangnya, ia berulang kali melihat ponselnya.
"Sebenarnya apa yang sedang dilakukan Frans? kenapa ia masih juga belum memberikan informasi padaku? ini bahkan sudah lebih dari jam 10 malam."
Baru saja Daley bergumam kesal, ponsel yang ia pegang akhirnya berdering. Melihat Frans yang menghubunginya, sontak Daley langsung menjawabnya.
"Bagaimana? kenapa lama sekali?" tanya Daley.
"Maaf tuan muda, aku harus mengikuti wanita berbaju putih itu untuk mendapatkan informasinya."
"Lalu?"
"Wanita itu adalah salah satu staf sebuah perusahaan entertainment. Namanya Anne Arfanti, saat ini ia bekerja sebagai manager nona Lisa."
"Tunggu... jika kau mengikutinya, lalu bagaimana dengan Lisa?"
"Maaf tuan muda, aku terpaksa meninggalkan nona Lisa. Tapi sepertinya sejak mereka masuk ke rumah sakit, mereka belum keluar juga. Anne keluar dari rumah sakit tanpa mereka lagi."
"Maksudmu kemungkinan Lisa dan ibunya masih di dalam rumah sakit?"
"Benar tuan muda."
Daley memejamkan matanya sejenak, "Frans, apakah luka Lisa sangat parah?"
"Saat baru tiba di rumah sakit, nona Lisa langsung dibawa dengan bed pasien. Sepertinya wanita itu tidak bisa berjalan lagi. Jadi bisa aku pastikan keadaannya cukup parah tuan muda."
Daley mengumpat dengan keras, rasa khawatirnya bertambah saat mendengar informasi tersebut.
"Sekarang kau ada dimana Frans?"
"Aku sedang kembali ke rumah sakit tuan muda."
"Bagus, terus awasi wanita itu. Kabari aku sekecil apapun Frans. Kali ini sebenarnya aku cukup kecewa padamu karena berjam-jam kau menghilang tanpa kabar. Kedepannya, aku ingin kau memberikan informasi padaku setiap satu jam sekali."
"Baik tuan muda, maaf jika aku mengecewakan anda. Tapi kedepannya, aku akan bekerja lebih baik lagi."
"Oke... lanjutkan pekerjaanmu," ujar Daley seraya menutup teleponnya.
Daley menarik nafasnya dalam-dalam, ia kembali memikirkan keadaan Lisa saat ini.
"Lisa... Lisa... apa kakimu separah itu? sialan... aku benar-benar mengkhawatirkannya. Kau memang bodoh Ley, wanita itu sama sekali tidak pantas untuk kau khawatirkan. Ingatlah... ia akan menghancurkan keluarga Jamiko," pikir Daley.
Daley ingin sekali meminta kakeknya untuk menghubungi keluarga Furhet. Namun harga dirinya sangat tinggi, ia tidak ingin kakeknya berpikir bahwa ia sangat mengkhawatirkan Lisa. Jika kakeknya berpikir demikian, ia akan semakin sulit untuk mengungkap kebenarannya.
Daley menggertakkan giginya karena kesal, ia pun kembali naik ke atas ranjangnya. Memaksakan matanya untuk terpejam karena tubuhnya cukup lelah setelah melakukan perjalanan panjang.
Walaupun ia sangat sulit melakukannya, namun ia tidak bisa terus memikirkan Lisa saat ini. Ya... ia harus berpikir dengan jernih saat di pagi hari.
...****************...
Di rumah sakit...
Amel terus menceritakan keadaan Lania pada suaminya. Cerita itu adalah karangan yang ia buat sendiri demi melindungi dirinya dan Lisa. Ceritanya sangat dibuat-buat sambil terus terisak di depan Juanda. Lisa pun ikut bersedih demi menguatkan karangan cerita yang dibuat ibunya.
"Mama memang hebat, mama bukan hanya bisa menjadi seorang aktris, tapi bisa menjadi pengarang atau penulis sebuah drama," pikir Lisa sambil tersenyum licik.
"Jadi seperti itulah yang sebenarnya pah. Maafkan aku karena merahasiakannya darimu," kata Amel di akhir ceritanya.
"Ya Tuhan, Lania pasti sangat menderita selama ini. Ini memang salahku, aku seharusnya memperhatikannya setelah membawanya masuk ke dalam keluarga Furhet. Tapi selama ini aku malah terus sibuk bekerja. Mah, haruskah kita membawa Lania ke dokter psikiater?"
"Jangan lakukan itu pah. Lania harus menikahi Daley. Jika Lania ketahuan mengalami depresi berat, maka keluarga Jamiko pasti akan membatalkan perjodohan ini. Jika sampai itu terjadi, sama saja kita telah mengecewakan mendiang papa John. Kita juga tidak bisa memaksa Lisa untuk menikah dengan Daley saat seperti ini pah. Papa juga jangan terus menyalahkan diri sendiri, mama juga ikut bersalah dalam masalah Lania," kata Amel seraya terisak lagi.
Juanda memeluk pundak istrinya untuk menenangkan wanita itu.
"Sudah saatnya kita jujur pada mereka mah, kita memiliki anak lain selain Lisa. Mereka memiliki wajah yang sangat mirip seperti saudara kembar. Jika kita jujur, mungkin saja semuanya akan lebih baik," kata Juanda.
Amel membelalakkan matanya, begitu juga dengan Lisa.
"Papa ingin menghancurkanku? aku akan hancur pah, hancur karena Lania muncul. Karirku akan musnah karena kehadiran Lania. Mereka pasti berpikir yang tidak-tidak. Reputasiku sebagai seorang selebritas benar-benar hancur tak bersisa. Jika itu terjadi, aku lebih baik mati saja," celetuk Lisa.
"Hentikan Lisa, kau tidak boleh seperti ini sayang," pinta Amel.
Lisa menangis dengan keras, "Lania tidak boleh muncul mah. Aku bukannya memikirkan diriku sendiri, tapi Lania juga pasti akan dihujat habis-habisan karena ia anak yang lahir karena..."
Lisa menghentikan ucapannya, ia kembali menangis dengan keras. Namun dalam hatinya, ia sangat takut jika Lania muncul maka semua perbuatannya selama ini yang membuat Lania menggantikannya akan terungkap. Ia bisa hancur sedangkan Lania justru akan berada di atas angin.
"Tenanglah sayang, tenangkan dirimu," kata Amel lagi, "papa ingatlah... walaupun aku sudah menyayangi Lania seperti anakku sendiri, namun status Lania sebagai anak yang lahir dari hasil perselingkuhanmu tidak bisa dipungkiri. Jika semua itu terjadi, keluarga Furhet seketika akan hancur. Lisa dan Lania akan habis pah. Lalu bagaimana dengan bisnis keluarga Furhet? apa kau ingin membiarkannya jatuh seperti dulu lagi?" imbuhnya.
Juanda menghela nafas panjang, apa yang dikatakan istri dan anaknya memang benar. Keluarga Furhet benar-benar akan hancur jika sampai Lania muncul begitu saja. Namun jika ia membiarkannya, nasib Lania akan terus seperti ini.
"Jangan macam-macam Juan, kau sudah menghancurkan hatiku selama ini. Jika kau ingin mengungkapkan keberadaan Lania, kau akan menghancurkanku lagi. Aku tidak akan pernah membiarkanmu melakukannya lagi. Sudah cukup kau mengkhianatiku dan membawa anak haram itu pulang ke rumah," pikir Amel.
"Ya Tuhan... lalu apa yang harus aku lakukan? Lania juga anakku mah, ia butuh perlindungan dariku," kata Juanda.
"Papa jangan lupa, ia sebentar lagi akan menikah dengan Daley. Mungkin saja ini bisa membantunya sembuh. Mungkin saja jika ia masuk ke dalam keluarga Jamiko, kebiasaannya melukai dirinya sendiri akan berhenti," ucap Amel.
"Yang dikatakan mama benar juga pah. Aku yakin setelah ia menikahi Daley, ia akan lebih baik dari sekarang," sahut Lisa.
"Mereka benar, keluar dari keluarga Furhet mungkin bisa membuat Lania bisa lebih tenang. Ia mungkin bisa mengatasi depresinya saat bersama Daley. Ya... aku berharap seperti itu. Aku harap Lania bisa menahan diri untuk melukai tubuhnya saat bersama keluarga barunya nanti," pikir Juanda.
"Pah... apa kau mendengarkan kami?" tanya Amel.
Juanda menganggukkan kepalanya, "aku harap kalian benar. Kita lihat saat Lania sudah menikah dengan Daley."
"Bagus, akhirnya aku bisa meyakinkan dan membodohi suamiku lagi. Lania, terima kasih kau telah membuka jalan untukku. Kau memang berguna. Saat kau masuk ke dalam keluarga Jamiko, maka kau akan menjadi ATM berjalan untuk keluarga Furhet. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui," pikir Amel.
"Terima kasih Tuhan, akhirnya papa percaya pada kami. Jika tidak, aku yang akan hancur sendirian. Dasar anak haram sialan yang bodoh, kau benar-benar membantu sandiwara kami. Bagus... ini sangat bagus," pikir Lisa.
...****************...
Happy Reading All...
ngenes banget kamu Lisss nggak ada yang muasin 😄
harusnya minuminnya sekalian sama botol²nya tuh 😂
kasihan Lisa nungguin sampe karatan , eh yang di unboxing malah lania 🤣🤣🤣