lanjutkan Jek adalah seorang yang terlahir di keluarga
kurang mampu namun ia memiliki kecerdasan dan kejeniusan tentang dunia apa saja karena ia memiliki
sistem yang dapat membuat ia kaya mendadak dalam percintaan ia menemukan ratu yang mencintainya dengan tidak kenal kondisi suka maupun duka bagaimana kelanjutan langsung ajaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 24
"Kaget karena bau sabun itu teori yang harus masuk ke buku sejarah, Jek," Maya masih terkekeh sambil menyeka air mata saking geli hatinya. "Tapi aku serius, lihat ke belakang."
Jek melirik tipis dari balik pundaknya. Salah satu teknisi Ares yang tadi—pria dengan bekas luka gores di pipi—masih berdiri di depan tenda medis. Dia tidak melihat ke arah mesin, tapi menatap punggung Jek dengan tatapan yang tajam, penuh selidik, seolah sedang mencoba memecahkan teka-teki logika yang tidak masuk akal.
"Dia tidak sebodoh yang kita kira," bisik Jek, mempercepat langkahnya tanpa terlihat terburu-buru. "Dia tahu mesin tidak menyala hanya karena disenggol oleh orang jatuh."
"Maka kita harus lebih miskin lagi," Rara menyambar tangan Jek, menariknya masuk ke jalur setapak yang lebih becek dan kotor. "Ke tempat pembuangan barang rongsokan di sektor barat. Kita perlu mencari sesuatu yang benar-benar tidak berguna agar mereka pikir kita cuma pemulung amatir."
Mereka sampai di sebuah lembah kecil yang berisi tumpukan logam berkarat dan sisa-sisa panel surya yang sudah hancur. Bau logam teroksidasi menyengat tajam.
"Lihat ini," Maya memungut sebuah kerangka radio kuno yang kabelnya sudah berantakan seperti mi instan. "Ini sampah yang sempurna. Kalau kau membawanya ke mana-mana dan pura-pura mencoba 'memperbaikinya' dengan cara yang salah, orang akan yakin kau memang bodoh."
Jek mengambil radio itu, lalu sengaja memasang sebuah kabel ke arah yang benar-benar salah, membuatnya terlihat sangat berantakan. "Seperti ini?"
"Terlalu rapi," kritik Rara. Ia mengambil radio itu, mengikatnya dengan tali rafia kusam, lalu menggantungkannya di leher Jek. "Nah. Sekarang kau terlihat seperti orang gila yang terobsesi pada barang rongsokan. Itu jauh lebih aman daripada jadi teknisi misterius."
Tiba-tiba, suara ranting patah terdengar dari balik tumpukan besi.
Seorang pria muncul—teknisi Ares berpipi gores tadi. Dia sendirian. Ia melipat tangan di dada, menatap Jek dengan senyum miring yang tidak enak dilihat.
"Menarik," kata pria itu. Suaranya dingin. "Aku bertahun-tahun menangani sirkuit model itu. Fuse-nya ada di balik panel pengunci yang hanya bisa dibuka dengan alat khusus atau... kecepatan tangan yang luar biasa. Dan kau, si 'Kuli Pingsan', baru saja melakukan mukjizat dengan sekali jatuh."
Jek membeku, tapi ia segera mengatur ekspresi wajahnya. Ia melongo, membiarkan sedikit air liur tertahan di sudut mulutnya (sebuah dedikasi akting yang luar biasa), lalu mengguncang-guncangkan radio di lehernya.
"Bapak... mau radio? Ini bisa bunyi 'ngung-ngung' kalau saya putar talinya," ujar Jek dengan nada bicara yang ditarik-tarik.
Pria itu mendekat, matanya menatap langsung ke mata Jek—mencari pendar perak atau setidaknya kecerdasan yang tersembunyi. "Jangan main-main denganku. Aku tahu siapa kau. Tidak mungkin seorang gelandangan punya kecepatan motorik seperti itu kecuali dia adalah—"
"Kecuali dia adalah orang yang kelaparan dan gemetar karena gula darahnya rendah!" potong Maya sambil berdiri di antara mereka, berkacak pinggang. "Heh, Tuan Teknisi Hebat. Kalau kau sepintar itu, kenapa kau tidak bisa membetulkan mesin tadi? Malah kakak iparku yang bodoh ini yang berhasil secara tidak sengaja. Mungkin kau yang harus belajar cara jatuh yang benar!"
Pria itu terdiam, menatap Maya dengan geram. "Aku akan terus mengawasi kalian. Di kamp ini, hal-hal yang 'tidak sengaja' biasanya berakhir dengan pengkhianatan."
Begitu pria itu pergi, Jek mengembuskan napas yang sedari tadi ia tahan. "Dia tidak percaya."
"Memang tidak," jawab Rara sambil menatap jalan yang dilewati pria tadi. "Tapi selama dia tidak punya bukti, dia hanya akan dianggap sebagai teknisi yang iri karena dikalahkan oleh keberuntungan seorang gembel. Ayo, kita harus segera kembali ke gubuk dan menyembunyikan sisa sabun ini. Hidup sederhana ternyata jauh lebih melelahkan daripada menguasai dunia."
"Bagus sekali," gerutu Jek sambil berusaha melepaskan tali rafia yang mencekik lehernya. "Sekarang aku resmi menjadi maskot gangguan jiwa di kamp ini. Terima kasih, Rara. Terima kasih, Maya."
"Jangan protes," sahut Maya sambil memungut baut berkarat dan melemparkannya ke dalam tas karung Jek. "Semakin kau terlihat seperti tumpukan sampah berjalan, semakin aman nyawa kita. Lagipula, akting air liurmu tadi... itu dedikasi yang patut diberi penghargaan, meski sangat menjijikkan."
Mereka kembali ke gubuk saat hari mulai temaram. Namun, ketenangan yang mereka harapkan tidak ada di sana. Di depan pintu gubuk mereka yang reyot, pria berpipi gores itu—yang belakangan mereka ketahui bernama Gidion—sudah menunggu. Kali ini dia tidak sendirian. Dua orang penjaga kamp yang membawa tombak kayu runcing berdiri di sampingnya.
Di atas tanah, di depan kaki Gidion, tergeletak sebuah mesin generator tua yang ukurannya cukup besar. Kabel-kabelnya menjuntai keluar seperti usus yang terburai, dan baunya sangat sangit, bekas terbakar hebat.
"Nah, ini dia si jenius kita," ujar Gidion dengan nada mengejek yang kental.
Rara langsung pasang badan, tangannya secara refleks mencari posisi belati di pinggangnya. "Apa lagi ini? Kami baru saja mau istirahat."
"Hanya ujian kecil," Gidion menendang badan generator itu. "Mesin ini menyuplai air bersih untuk sektor barat. Mati total sejak tadi sore. Karena kau punya 'tangan ajaib' yang bisa menyembuhkan mesin hanya dengan jatuh, silakan coba keberuntunganmu lagi, Gembel. Jika kau bisa menyalakannya, aku akan memberimu sekarung beras."
Jek menatap generator itu. Di kepalanya, dia langsung tahu bahwa kumparannya sudah hangus total. Memperbaikinya butuh waktu berjam-jam dan peralatan yang tidak mungkin dimiliki seorang "gembel". Ini adalah jebakan murni. Jika Jek menolak, dia terlihat mencurigakan. Jika dia berhasil, dia membongkar identitasnya.
"Beras?" Maya memotong, matanya berbinar (kali ini akting lapar yang sangat natural). "Jek! Ayo jatuh lagi! Jatuh yang keras ke arah mesin itu!"
Jek menatap Maya, lalu menatap Gidion. Ia tahu apa yang harus dilakukan.
Jek mendekati generator itu dengan langkah limbung yang sudah dipoles. Ia memutar-mutar radio di lehernya, lalu mulai mengelilingi mesin itu sambil menggumamkan kata-kata yang tidak jelas.
"Mesin marah... mesin haus..." gumam Jek.
Ia mulai melakukan hal yang paling bodoh: ia mengambil botol air keruhnya, lalu menyiramkan sedikit air ke arah kabel yang telanjang.
Percikan listrik kecil meletup.
"Hei! Apa yang kau lakukan, Bodoh!" teriak salah satu penjaga.
Jek tidak berhenti. Ia mengambil sabun batangan yang baru mereka tukar, lalu mulai menggosokkan sabun itu ke badan generator yang panas. "Biar bersih... biar wangi... mesin suka mandi..."
Gidion memperhatikan dengan mata menyipit. "Kau menghina kecerdasanku, ya?"
"Jangan marah, Tuan Pipi Gores," Jek menoleh dengan wajah polos yang sangat menyebalkan. "Mesin ini cuma kotor. Kalau wangi, dia pasti mau kerja lagi."
Jek terus menggosokkan sabun itu sampai busanya menutupi bagian panel. Kemudian, dengan gerakan yang terlihat seperti orang yang sedang mengamuk karena frustrasi, ia menendang tangki bahan bakarnya dengan keras. Dugh!
Tiba-tiba, mesin itu terbatuk. Asap hitam mengepul tebal. Suara mesin yang kasar mulai terdengar, meskipun sangat tidak stabil.
"Dia bangun! Dia bangun!" Jek berteriak kegirangan, melompat-lompat seperti anak kecil sambil memeluk radionya.
Gidion ternganga. Ia segera berlutut, memeriksa mesin itu. Ternyata tendangan Jek tadi—yang sebenarnya diarahkan tepat pada katup udara yang tersumbat—telah memaksa aliran bahan bakar masuk kembali. Mesin itu belum benar-benar "sembuh", tapi ia cukup hidup untuk memompa air sementara.
"Kau..." Gidion menatap Jek dengan tatapan yang sangat benci sekaligus bingung. "Kau benar-benar hanya beruntung, atau kau adalah aktor terbaik yang pernah kutemui."
"Berasnya mana?" tagih Maya sambil menadahkan tangan. "Kakak iparku sudah mandi sabun demi mesin rongsokanmu itu!"