NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Diam-Diam Pada CEO Cantik

Jatuh Cinta Diam-Diam Pada CEO Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Cintapertama / CEO
Popularitas:750
Nilai: 5
Nama Author: Djginting

gimana kalo cowok pas-pasan kebelet cinta sama bosnya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djginting, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BALASAN DEWA TELAT

Fajar baru saja menyingsing di cakrawala Tanjung Priok. Kabut tipis yang bercampur dengan aroma garam dan solar masih menyelimuti deretan kontainer yang menjulang tinggi seperti raksasa baja yang tertidur. Namun, di gerbang utama cabang logistik Wiratama Trading, sebuah pemandangan yang melawan hukum alam sedang terjadi. Bima Pradana—pria yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai "Dewa Telat" karena kemampuannya muncul tepat saat semua orang sudah mulai bekerja—kini sudah berdiri tegak di depan pos penjagaan.

Bima tidak mengenakan baju kantoran. Ia memakai rompi safety oranye yang sudah agak kusam, helm proyek yang dipasang sedikit miring, dan sebuah kacamata hitam murah yang ia klaim bisa mendeteksi "radiasi pengkhianatan". Tangannya bersedekap di dada, sementara matanya menatap tajam satu per satu truk yang mulai mengantre di depan gerbang.

"Satu... dua... tiga... Ah, alien-alien ini mulai bermunculan," batin Bima licik. Senyum miring tersungging di sudut bibirnya. "Kalian pikir bisa menyusup ke bumi ini lewat jalur distribusi Wiratama? Alien-alien pengecut ini akan segera kuenyahkan kembali ke galaksi andromeda sebelum matahari benar-benar naik."

Bima mengingat betul wajah-wajah supir yang ada dalam daftar map-nya. Ia juga mengingat lambang perusahaan logistik milik Anton yang terpampang di pintu-pintu truk tersebut. Dendamnya atas pengkhianatan Anton di televisi semalam telah mengubah energi "Lubang Hitam"-nya menjadi energi kinetik yang meledak-ledak.

Pukul tujuh pagi, para karyawan mulai berdatangan. Paman Tino, yang baru saja memarkir mobilnya, hampir saja menabrak tiang listrik saat melihat sosok tinggi kurus yang sangat ia kenali sedang berdiri di gerbang sambil memegang papan jalan.

"Astaga... Bima?" gumam Tino sambil mengucek matanya berkali-kali. "Kenapa anak ini bisa ada di sini? Bukannya kemarin dia sudah teriak-teriak mau resign sampai lempar rompi segala? Tapi syukurlah kalau dia kembali."

Tino keluar dari mobil dengan langkah tergesa, masih merasa tidak percaya. "Bim! Kamu beneran Bima? Sejak kapan kamu di sini? Tumben-tumbennya kamu datang jam segini. Apa matahari tadi terbit dari arah Utara?"

Bima hanya melirik sekilas lewat kacamata hitamnya. "Paman, atmosfer pelabuhan ini sedang mengalami kebocoran frekuensi. Kalau aku tidak datang lebih awal untuk menambalnya, perusahaan ini akan terhisap ke dalam dimensi kegelapan selamanya. Tolong, jangan ganggu ritual pembersihan ini."

Tino hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Meskipun absurdnya sudah kembali ke level maksimal, Tino merasa jauh lebih tenang. Kehadiran Bima seolah mengembalikan "ruh" yang hilang dari pelabuhan tersebut selama beberapa hari terakhir.

Setelah melakukan absen singkat, Bima langsung memulai rencana jahatnya—atau yang ia sebut sebagai "Operasi Sterilisasi Kosmik". Tanpa kompromi, Bima menghentikan semua armada milik Anton dan armada vendor lain yang supir-supirnya masuk dalam catatan kecurigaannya.

"Berhenti! Matikan mesin!" teriak Bima sambil melambaikan papan jalan ke arah sebuah truk besar milik perusahaan Anton.

Seorang supir bertubuh tambun keluar dengan wajah garang. "Woi! Kenapa dihentikan? Kami mau muat barang, kontraknya jelas!"

Bima melangkah maju, menatap supir itu dengan pandangan dingin yang membuat supir tersebut sedikit bergidik. "Siapa suruh atmosfer mukamu sangat menyebalkan pagi ini? Frekuensi wajahmu mengganggu stabilitas gravitasi di dermaga ini. Kamu dan trukmu dilarang muat!"

"Apa-apaan kamu?! Saya laporin kamu ke Bos Anton!" teriak supir itu tidak terima.

"Silakan," jawab Bima pendek. "Kalau kalian ingin muat barang, suruh Bos kalian yang bermuka dua itu datang ke sini sendiri. Bilang padanya, Dewa Telat sudah bangun dari tidurnya."

Bima menahan seluruh armada tersebut di pinggir jalan, menciptakan kemacetan kecil yang sengaja ia buat untuk memancing "sang parasit" keluar dari sarangnya.

Di saat yang sama, di pusat kota Jakarta, Anton sedang memacu mobil mewahnya menuju kantor pusat Wiratama Trading. Wajahnya merah padam. Setelah memberikan klarifikasi palsu di televisi, ia merasa berada di atas angin dan ingin menekan Alina lebih jauh lagi. Ia ingin meminta pertanggungjawaban atas kerugian yang ia alami, sekaligus mencoba memainkan peran sebagai "penyelamat" yang terkhianati.

Baru saja ia menginjakkan kaki di lobi kantor Alina, ponselnya berdering kencang. Itu dari kepala operasional lapangannya di pelabuhan.

"Halo? Apa?! Ditahan?!" teriak Anton di depan resepsionis. "Siapa yang berani menahan armada saya? Bima? Bukannya dia sudah berhenti? Kurang ajar!"

Anton mematikan telepon dengan kasar. Kemarahannya kini mencapai puncaknya. Ia merasa Alina sengaja mengerahkan "anjing peliharaannya" untuk menyabotase armada miliknya di lapangan. Dengan langkah lebar, ia menuju ruangan Alina.

Susi, yang sedang duduk di meja sekretaris, langsung berdiri menghadang. "Maaf, Pak Anton. Bu Alina sedang sibuk, tidak bisa diganggu."

"Minggir! Saya mau ketemu direktur kamu!" bentak Anton kasar, mendorong pintu ruangan Alina tanpa izin.

Di dalam ruangan, Alina sedang menatap tumpukan berkas dengan mata yang lelah. Ia terkejut melihat Anton masuk dengan wajah murka.

"Alina! Apa-apaan ini?! Kamu sengaja, kan?" teriak Anton sambil menggebrak meja kerja Alina. "Baru saja aku mencoba membantu reputasi perusahaanmu, sekarang stafmu yang tidak tahu aturan itu—si Bima—menahan semua armada saya di pelabuhan! Dia melarang orang-orang saya muat barang!"

Mendengar nama "Bima", Alina seketika terkesiap. Jantungnya berdegup kencang, sebuah perasaan lega yang bercampur dengan rasa tak percaya merayap di dadanya. Bima kembali?

Susi, yang berdiri di ambang pintu karena pintu ruangan itu tidak ditutup, hampir saja memekik kegirangan. Ia segera menutupi mulutnya, tapi matanya berbinar-binar. Pahlawan kosmiknya telah kembali ke medan tempur.

Anton terus memaki, menceritakan betapa kasarnya Bima di lapangan. Namun, semakin Anton bercerita, Alina justru semakin merasa mendapatkan kembali kekuatannya. Ia mengenal Bima. Bima tidak akan melakukan tindakan senekat itu tanpa alasan yang kuat. Pikirannya langsung melayang pada map data supir yang pernah Bima berikan.

Alina berdiri, merapikan blazer hitamnya dengan gerakan yang jauh lebih mantap dari sebelumnya. "Anton, lebih baik sekarang kita ke pelabuhan dulu. Bima bukan orang yang suka menahan barang tanpa sebab. Mungkin dia merasa ada sesuatu yang tidak beres pada armada atau supirmu."

Anton mendengus sinis. "Sesuatu yang tidak beres? Dia itu cuma orang gila yang cemburu!"

Alina tidak memedulikan ocehan Anton. Ia melangkah keluar ruangan, memberikan isyarat pada Susi untuk segera menyiapkan mobil. Saat melewati Susi, Alina tidak bisa menahan diri untuk memberikan sedikit godaan kecil, sebuah tanda bahwa sisi cerianya mulai kembali berkat berita kembalinya Bima.

"Ayo, Susi. Segera ke cabang pelabuhan. Itu 'calon suamimu' sudah mengacau di sana. Ayo ikut saya," ejek Alina sambil berlalu dengan langkah cepat.

Susi tersipu malu, wajahnya memerah, tapi ia segera menyambar tasnya. "Siap, Bu! Calon suami saya memang harus dijagain biar nggak diculik alien!" teriak Susi semangat, mengikuti Alina dari belakang.

Perjalanan menuju pelabuhan terasa sangat berbeda bagi Alina. Jika beberapa hari lalu ia merasa seperti orang asing yang dikutuk di tanahnya sendiri, kini ia merasa memiliki "pelindung" yang sedang menunggu di ujung jalan. Ia melihat Anton yang membuntuti mobilnya dari belakang dengan wajah kesal, dan Alina hanya bisa tersenyum tipis.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!