NovelToon NovelToon
Peluru Dan Permata: Istri Rahasia Sang Kolonel Kaya

Peluru Dan Permata: Istri Rahasia Sang Kolonel Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Nikahmuda / Teen School/College / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Cintapertama
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Awph

Lana (17 tahun) hanyalah siswi SMA yang memikirkan ujian dan masa depan. Namun, dunianya runtuh saat ia dijadikan "jaminan" atas hutang nyawa ayahnya kepada keluarga konglomerat Al-Fahri. Ia dipaksa menikah dengan putra mahkota keluarga itu: Kolonel Adrian Al-Fahri.
​Adrian adalah pria berusia 29 tahun yang dingin, disiplin militer, dan memiliki kekayaan yang tak habis tujuh turunan. Baginya, pernikahan ini hanyalah tugas negara untuk melindungi aset. Bagi Lana, ini adalah penjara berlapis emas.
​Di sekolah, ia adalah siswi biasa yang sering dirundung. Di rumah, ia adalah nyonya besar di mansion mewah yang dikawal pasukan elit. Namun, apa jadinya saat sang Kolonel mulai terobsesi pada "istri kecilnya"? Dan apa jadinya jika musuh-musuh Adrian mulai mengincar Lana sebagai titik lemah sang mesin perang?
​"Tugas saya adalah menjaga kedaulatan negara, tapi tugas utama saya adalah memastikan tidak ada satu pun peluru yang menyentuh kulitmu, Lana."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Telepon dari Markas Saat Jam Pelajaran

Telepon dari markas saat jam pelajaran tersebut menandakan bahwa ada keadaan darurat militer yang mengharuskan sang kolonel untuk segera meninggalkan sekolah dan istrinya. Getaran kuat dari saku jas Adrian membuat suasana di koridor yang baru saja tenang kembali menegang secara mendadak. Adrian menarik gawai militer miliknya yang berwarna hitam pekat dan langsung menempelkannya ke telinga dengan gerakan yang sangat tangkas.

Lana bisa melihat perubahan drastis pada raut wajah suaminya yang semula tenang kini berubah menjadi sangat serius seolah sedang menghadapi badai besar. Mata elang Adrian berkilat tajam sementara ia mendengarkan laporan singkat dari seberang sambungan telepon dengan napas yang tertahan. Ia tidak mengucapkan banyak kata melainkan hanya memberikan kode perintah yang terdengar sangat dingin dan penuh dengan otoritas.

"Siapkan unit tempur udara sekarang juga dan tutup jalur perbatasan bagian utara tanpa pengecualian apa pun," perintah Adrian dengan nada suara yang rendah.

Lana meremas ujung seragam sekolahnya dengan perasaan cemas yang mulai menjalar ke seluruh bagian ujung jari jemarinya. Ia menyadari bahwa pria di hadapannya ini bukanlah sekadar wali murid biasa melainkan seorang mesin perang yang sewaktu-waktu bisa pergi menuju maut. Adrian menutup sambungan telepon tersebut lalu menatap Lana dengan pandangan yang sangat dalam seolah ingin menyampaikan sebuah pesan perpisahan.

"Apakah terjadi sesuatu yang sangat buruk di pangkalan militer, Tuan?" tanya Lana dengan suara yang hampir berbisik karena rasa takut.

Adrian melangkah mendekat dan mencengkeram kedua bahu Lana dengan cukup kuat namun tidak sampai menyakiti kulit gadis itu yang halus. Ia menarik napas panjang sejenak untuk menenangkan gejolak emosi yang sedang berkecamuk di dalam dadanya sebelum kembali masuk ke dalam perannya sebagai prajurit. Lana bisa mencium aroma mesiu dan minyak senjata yang samar dari balik jas kasual yang dikenakan oleh suaminya tersebut.

"Saya harus segera pergi ke markas besar karena situasi di perbatasan sedang memanas dan tidak bisa menunggu lebih lama lagi," ujar Adrian dengan tegas.

Lana merasa dunianya seakan berguncang saat menyadari bahwa ia akan ditinggalkan sendirian di tengah kerumunan siswa yang masih menaruh dendam padanya. Ia menatap punggung tegap Adrian yang mulai menjauh menuju pintu keluar sekolah dengan langkah yang sangat lebar dan penuh dengan kekuatan. Rasa hampa seketika memenuhi rongga dadanya saat ia melihat iring-iringan mobil hitam mulai melaju kencang meninggalkan area gedung pendidikan tersebut.

"Jangan pernah keluar dari area kelas sampai ajudan saya datang menjemputmu tepat pada jam pulang sekolah nanti," teriak Adrian dari kejauhan.

Lana hanya bisa mematung di tengah koridor yang sunyi sementara bayangan sosok Adrian perlahan menghilang ditelan oleh debu kendaraan yang melaju sangat cepat. Ia berbalik arah menuju kelasnya dengan langkah kaki yang terasa sangat gontai dan tidak bertenaga sama sekali karena kehilangan perlindungannya. Keadaan sekolah yang tadinya terasa aman karena kehadiran sang kolonel kini kembali menjadi tempat yang sangat mengerikan bagi Lana.

"Lihatlah, pelindungmu sudah pergi meninggalkanmu sendirian di sini," bisik Maya yang tiba tiba muncul dari balik pilar kelas.

Lana tidak membalas ucapan tersebut dan terus berjalan dengan kepala tertunduk hingga ia sampai di depan pintu kelasnya yang terbuka lebar. Namun langkahnya terhenti secara mendadak saat ia melihat seorang pemuda asing sedang duduk santai di atas meja miliknya sambil memainkan sebuah belati kecil. Seluruh teman sekelasnya nampak diam membisu dengan wajah yang dipenuhi oleh rasa takut yang sangat luar biasa hebat.

Pemuda itu menoleh ke arah Lana dan memberikan sebuah senyuman yang nampak sangat ramah namun menyimpan niat jahat yang sangat dalam. Ia melompat turun dari meja dan berjalan mendekati Lana dengan langkah yang sangat ringan seolah ia adalah seekor harimau yang sedang mengintai mangsanya. Lana merasakan aura bahaya yang jauh lebih pekat daripada aura yang biasa dipancarkan oleh Adrian saat sedang marah besar.

"Namaku adalah Aris, dan aku di sini untuk menggantikan posisi pahlawanmu yang sedang sibuk berperang itu," ucap pemuda itu dengan nada yang sangat santai.

Lana mundur beberapa langkah hingga punggungnya membentur pintu kelas yang keras sementara keringat dingin mulai membasahi dahi serta telapak tangannya. Ia menyadari bahwa perginya Adrian adalah celah yang sudah ditunggu-tunggu oleh musuh-musuh lama yang ingin menghancurkan hidup sang kolonel melalui dirinya. Aris mengeluarkan sebuah foto dari sakunya yang memperlihatkan wajah ayah Lana yang sedang terikat di sebuah ruangan yang sangat gelap.

"Ikutlah denganku secara sukarela atau ayahmu tidak akan pernah melihat matahari esok pagi," ancam Aris sambil menunjukkan foto tersebut tepat di depan mata Lana.

Lana merasakan jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat penderitaan ayahnya yang selama ini ia kira sedang berada di tempat yang aman. Ia ingin berteriak meminta tolong namun tenggorokannya terasa sangat kering dan kaku seolah ia telah kehilangan kemampuan untuk berbicara. Di saat yang bersamaan, gawai di saku Lana bergetar menandakan sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak ia kenal sama sekali.

Pesan tersebut berisi sebuah peringatan singkat agar Lana tidak mempercayai siapa pun yang mendekatinya di sekolah selama Adrian tidak ada di sisinya. Namun ancaman terhadap nyawa ayahnya jauh lebih nyata daripada sekadar peringatan pesan singkat yang bisa saja dikirim oleh siapa saja. Lana harus membuat keputusan yang sangat sulit antara menunggu bantuan ajudan Adrian atau mengikuti kemauan pria asing yang berbahaya ini.

"Cepat putuskan sekarang karena aku tidak memiliki banyak waktu untuk bermain-main dengan gadis kecil sepertimu," desak Aris dengan tatapan yang semakin tajam.

Lana akhirnya menganggukkan kepala secara perlahan sebagai tanda bahwa ia akan mengikuti perintah Aris demi keselamatan nyawa sang ayah yang sangat ia cintai. Mereka berdua berjalan keluar dari kelas melalui pintu belakang yang jarang dilewati oleh siswa lain agar tidak memancing kecurigaan dari pihak keamanan sekolah. Lana terus berdoa di dalam hatinya agar Adrian segera menyadari bahwa istri rahasianya sedang berada dalam bahaya yang sangat besar.

Siswa baru sang saingan cinta tersebut menatap Lana dengan sebuah senyuman misterius yang seolah mengisyaratkan bahwa ia mengetahui seluruh rahasia di balik pernikahan gelap sang kolonel.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!