Hari yang seharusnya menjadi hari yang paling bahagia, tapi nyatanya tidak.
Hari yang seharusnya berganti status menjadi seorang istri dari lelaki bernama Danish, kini malah berganti menjadi istri dari lelaki bernama Reynan, tetangga barunya. Yang katanya Duda.
Dia adalah Qistina Zara, bagaimana kisahnya? kemana Danish? kenapa malah menjadi istri dari lelaki yang baru dikenalnya?
yuk, ikuti kisah Zara di sini😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecupan Pertama
“Acie … itu suami kamu, Za. Mau ngapain ya?” tanya Dian dengan penuh goda.
Seketika Zara terkejut. Pertama, suaminya datang karena sang Nenek meninggal. Kali ini apa? Pikir Zara.
“Sana samperin,” titah Dian lagi seraya mendorong kecil bahu Zara.
Zara pun melangkahkan kakinya menuju mobil sang suami.
Zara mengetuk kaca mobil itu.
Di dalam mobil, Reynan yang sibuk dengan laptopnya pun menoleh.
Senyum tipis terukir di bibirnya, lekas ia pun menurunkan kacanya.
“Ada apa?” tanya Zara.
“Gak ada apa-apa. Cuma mau ngajak makan siang bareng,” kata Reynan. “Udah makan siang belum?” tanyanya.
“Belum. Ini mau nyari,” ujar Zara.
“Ya udah, ayo. Kita cari,” ucap Reynan.
Zara melihat jam di pergelangan tangannya. “Memangnya keburu?”
“Keburu. Satu jam ‘kan waktu istirahatnya?” tanya Reynan.
Zara pun menganggukan kepalanya.
“Ya udah, ayo masuk.”
Zara menoleh ke arah kedua temannya, yang sedang senyum-senyum tidak jelas ke arahnya.
Tanpa mengindahkan itu, Zara pun langsung masuk ke dalam mobil.
Begitupun dengan Reynan yang menutup laptopnya.
“Mau makan di mana?” tanya Reynan seraya menyalakan mesin mobil.
“Dekat sini aja,” jawab Zara.
“Mau makan apa?” tanya Reynan lagi.
“Warteg aja, kalo enggak nasi padang,” ucapnya.
Reynan pun menganggukan kepalanya.
“Gimana di pabrik?” tanya Zara.
Reynan mengulum senyum. Ia senang, di tanya seperti itu oleh Zara.
Berarti, Zara mulai care padanya.
“Sesuai rencana,” jawab Reynan.
“Gak di penjara orangnya?” tanya Zara lagi.
“Nggak,” jawab Reynan.
“Kenapa gak di penjara? Nanti dia buat ulah lagi,” kata Zara.
“Saya malas berurusan dengan mereka. Saya rasa buang-buang waktu, tenaga juga uang.”
“Kalo orang itu gak jera, gimana?”
Reynan menggerakkan bahunya.
“Entah, ya semoga saja tidak.”
Seketika, mereka pun terdiam.
“Oh ya … resign kamu gimana?” tanya Reynan.
“Belum tau. Gimana ya?” Zara pun bingung mau mengambil langkah apa.
“Kamu, masih belum ingin resign?”
“Ya kalo jujur sih, iya.”
Reynan menghela napas berat. “Nanti kita pikirkan lagi. Ayo turun,” ujarnya. Mengingat mobil mereka sudah terparkir di restoran pagi sore.
Keduanya keluar dari mobil, lalu masuk ke restoran.
Setelah mendapatkan tempat duduk, pelayan pun datang.
Keduanya memesan nasi padang dengan lauk yang berbeda.
Zara dengan rendang, dendeng balado, telur badalo, tidak lupa sayur serta sambal dan juga kerupuk kulit yang disiram kuah gulai.
Sedangkan Reynan, ia pesan ikan asam padeh, gulai tunjang, ayam pop dengan sayur serta sambal juga, dan tidak lupa kerupuk kulit yang disiram kuah gulai juga.
Tidak lupa keduanya memesan air minum, es jeruk.
***
Setelah makan siang selesai, lalu mengantar Zara kembali ke kantor. Reynan pun pulang.
Setelah berganti pakaiannya, Reynan duduk di ruang tengah dengan laptop di depannya. Sungguh kerjaannya sangat banyak.
Pukul setengah tiga sore, ponselnya berdering. Sang Papa lah yang menelponnya.
“Iya, Pah?”
“Pulang dulu, Rey. Nanti malam keluarga Keyla ingin bertemu,” ucapnya.
“Apa Papa langsung buat janji?” tanya Reynan. Mengingat kemarin membicarakan tentang itu.
“Papa belum bicara, tapi tadi siang Papa bertemu dengan Ayah-nya Keyla. Ya, dia ingin memastikan perjodohan ini. Papa Rasa, ini waktunya kamu untuk bicara pada mereka,” ucap Reza.
“Ya sudah, sore ini Rey pulang.”
“Jangan lupa, Zara harus ikut.”
“Iya, Pah.”
“Oh iya, pabrik gimana?”
“Udah Rey pecat orangnya.”
“Serius, gak kamu jebloskan ke penjara?” tanya Reza.
“Serius. Toh kerugian gak terlalu besar ini. Dia cuma mengambil untung, tanpa mengurangi uang setoran,” ucapnya.
“Iya … tapi distributor yang rugi,” kata Reza.
“Ayah mau masukin dia ke penjara?” tanya Reynan.
“Kalo kamu udah buat keputusan itu, ya udah, kayak gitu aja.”
Reynan pun menganggukan kepalanya. “Masalah ini selesai, Rey akan tinggal lagi di Jakarta. Kerjaan Rey banyak yang terbengkalai,” ucapnya. “pabrik, Rey serahkan ke Hendri,” lanjutnya.
“Iya. Asalkan pembukuan sesuai, orangnya amanah.”
Setelah mengiyakan, panggilan pun selesai.
Rey melihat jam, sebentar lagi Zara pulang. Lekas ia ke kamar untuk mengambil pakaiannya, mengingat ia akan sekalian pulang. Soal Zara, nanti ia akan pikirkan lagi. Karena sungguh, kerjaan di Jakarta sudah tidak bisa ditinggal-tinggal lagi.
Barang-barangnya sudah dimasukkan ke koper, tinggal pakaian Zara saja yang ada di sana.
Reynan masukkan koper itu ke dalam mobil. Setelah itu, ia pun pergi ke rumah Budi.
“Assalamualaikum …”
“Waalaikum salam. Eh, Rey?” Lia yang menyambutnya.
“Bu … Ayah mana?” tanya Reynan.
“Ayah lagi ke pasar. Lagi beli bahan buat kudapan nanti tahlilan. Ada apa Rey?” tanya Lia lagi.
“Gini, Bu. Rey izin bawa Zara ke Jakarta.”
“Oh iya … iya … Ayah dan Ibu pasti izinkan, toh kalian sudah menikah.” Lia bicara dengan tersenyum.
“Sekalian, Rey juga izin mau kembali tinggal di Jakarta.”
“Oh … begitu. Zara gimana, Nak?” tanya Lia.
“Masih kami bicarakan, Bu. Masih cari keputusan yang baik,” kata Reynan.
“Oh iya … iya … Ibu percaya sama kalian.”
“Iya, Bu. Ya sudah, Rey pamit dulu ya. Mau sekalian jemput Zara,” ucapnya.
“Iya, hati-hati ya.”
“Iya, Bu. Maaf juga, Rey dan Zara gak bisa ikut tahlilan nanti malam,” ucapnya.
“Iya, Rey gak apa-apa. Jangan khawatir,” jawab Lia.
Reynan pun kembali ke rumah, lalu ia masuk ke dalam mobil dan mengendarai mobilnya menuju kantor Zara.
***
“Jadi sekarang, langsung ke Jakarta?” tanya Zara, saat ini ia sudah duduk di dalam mobil.
“Iya, soalnya nanti malam kita akan bertemu dengan keluarga Keyla.”
“Lah, terus baju ganti saya gimana?”
“Nanti kita beli,” ucap Reynan seraya melajukan mobilnya.
Zara menarik napas dengan dalam, lalu ia menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi.
Setelah menempuh perjalanan empat puluh lima menit, Reynan memberhentikan mobilnya di pusat perbelanjaan.
“Kita beli di sini,” kata Reynan.
Kini keduanya pun keluar dari mobil. Lalu melangkahkan kakinya menuju toko pakaian.
“Silahkan Pak dosen, mau beli kemeja atau jas?” tanya salah satu pelayan di sana, yang memang toko itu adalah langganan Reynan.
“Oh … nggak. Tolong carikan istri saya pakaian,” ucapnya.
Seketika pelayan itu terkejut. Pasalnya, ia tahu jika Reynan belum menikah.
“Pak dosen udah nikah?” tanyanya dengan raut wajah sendu.
Reynan tersenyum tipis. Sedangkan Zara, membulatkan matanya.
Serius pelayan bertanya seperti itu? Tidak sopan itu namanya. Batin Zara.
“Tolong carikan ya. Mbak,” ucap Reynan lagi.
“O-oh ya … mari, Bu. Mau model apa?”
Zara pun mengikuti langkah pelayan itu, ia mencari pakaian yang cocok untuk dipakai bertemu keluarga mantan calon istri suaminya itu.
“Ini, mau gak, Bu?” tanyanya.
“Em- nggak,” jawab Zara. Baju itu bukan seleranya.
“Ini?” tanya pelayan lagi.
“Nggak …”
Nampak pelayan itu kesal pada Zara. Namun Zara bodo amat, toh pembeli adalah raja. Begitu pikirnya. Lagian, masa baju bukan seleranya harus dibeli.
Setelah berkeliling, Zara pun menemukan pakaian sesuai dengan seleranya.
***
“I-ini … rumah siapa lagi?” tanya Zara. Pasalnya Reynan membawa Zara bukan ke rumah Yola.
“Ini rumah saya,” jawab Reynan lagi.
“Hah?”
“Iya … ini rumah saya di Jakarta. Saya udah lama gak tinggal di rumah Papa Mama,” ujarnya.
“Oo …” Zara membulatkan mulutnya.
“Ayo, masuk.”
Zara mengedarkan pandangannya, rumah ini tampak lebih besar dari rumah di Tangerang. Bertingkat pula.
Lantainya dari marmer, perabotan dan tata letak barang juga, begitu pas.
Sehingga rumah itu begitu nyaman dan terlihat elegan.
“Ini kamar kita,” ujar Reynan.
Zara pun masuk ke kamar itu.
“Kamu mandi di sini, saya mandi di kamar mandi bawah. Nanti kita pergi ke rumah Papa dulu,” ucap Reynan.
Zara pun menurut.
Karena tubuhnya terasa lelah, Zara pun memutuskan untuk berendam air hangat.
Reynan selesai mandi lebih dulu, ia pun berganti pakaian dengan pakaian yang casual.
Tidak lama, Zara pun keluar dari kamar mandi sudah mengenakan pakaian.
“Za,” panggil Reynan.
“Y-ya?” jawab Zara terbata. Jujur, entah kenapa ada perasaan gugup dan canggung, yang biasanya, biasa saja.
Reynan pun mendekat pada Zara. Lalu—
Cup!
Sontak Zara membulatkan matanya. Ia mematung.