Viona tidak menyangka jika dirinya akan ber transmigrasi menjadi seorang ibu tiri jahat pada tahun sembilan puluhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Senggrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Draft
Vina terpaksa menunda rencananya untuk pergi ke pasar, karena Kakek mengajak semuanya untuk memetik kopi. Ternyata kopi yang ada di kebun sudah banyak yang sudah siap untuk dipanen.
Tanda utama kopi siap panen adalah kulit buah ceri berubah menjadi merah cerah/terang secara menyeluruh, menandakan kematangan sempurna. Ceri kopi yang matang terasa lunak, mudah dipetik, dan memiliki kandungan gula tinggi.
Kakek Darma tidak hanya mengajak Vina dan Jaka. Kedua anak buahnya juga ikut bersama mereka.
Kakek Darma dan yang lainnya berangkat terlebih dahulu. Meninggalkan Vina yang harus membawa perbekalan.
Si kembar juga berangkat bersama mereka. Jika di kediaman Jaka ada orang, Jaka berniat menitipkan si kembar. Namun jika tidak ada orang yang ada di rumah, dengan sangat terpaksa si kembar akan mereka bawa ke ladang.
Orang tua disini sudah terbiasa membawa anak-anaknya pergi keladang sejak usianya masih dini. Meski tidak ikut membantu, mereka bisa mulai beradaptasi dan membiasakan diri.
Biasanya anak kelas tiga SD sudah mulai mencari kayu bakar sendiri. Ataupun mencarikan rumput untuk ternak mereka. Tentu saja jumlahnya tidak sebanyak hasil kerja orang dewasa. Semua dikerjakan sesuai dengan kemampuan mereka.
Vina yang tinggal dirumah memasak untuk jumlah yang banyak. Dia memasak dua kilo beras untuk sekali masak. Untuk lauknya, pagi-pagi sekali Kakek Darma sudah memotong satu ekor ayam.
Agar tidak repot saat membawanya, Vina memasak ayam itu menjadi ayam kecap pedas dan juga ayam krispi . Tidak hanya dua hidangan itu saja, Vina juga membuat tumis kangkung, dan perkedel talas .
Setelah semuanya matang ia memasukan kedalam wadah yang ia persiapkan. Kemudian memasukkannya ke dalam keranjang. Barulah setelah itu ia menyusul ke ladang.
Di ladang Kakek Darma dan yang lainnya bekerja sambil berbincang. Meski berbincang namun tangan mereka tidak berhenti bekerja.
Untuk memetik kopi tidak bisa memanen secara langsung atau menghabiskan semua kopi di pohon dalam satu waktu. Ada tata cara yang perlu diperhatikan.
Pertama pastikan kopi yang hendak di panen sudah matang. Biasanya ditandai dengan warna merah atau kuning kemerahan.
Selanjutnya pemetikan dilakukan berulang kali (setiap 7-14 hari) untuk memastikan hanya buah yang matang sempurna yang dipanen.
Metode terbaik adalah memutar buah merah dengan lembut agar tidak merusak tangkai, dan memisahkannya dari buah hijau/hitam.
Jika terdapat buah hijau/mentah yang tidak sengaja terpetik, buah tersebut harus dipisahkan dan diolah secara terpisah dari buah merah agar tidak menurunkan kualitas.
Saat Vina tiba diladang, si kembar langsung berhambur ke arahnya dengan gembira.
"Bunda!"
"Hai...capek nggak?" tanya Vina dengan lembut.
"Nggak," jawab keduanya dengan semangat.
"Sudah lapar apa belum?"
"Lapar."
"Ayo Kita ke tempat ayah sama Kakek dulu," kata Vina.
Adin dan Bian dengan semangat menuntun Vina ke tempat Kakek Darma berada. Tentu saja ketiga lelaki lainnya berada disana juga.
"Sarapan dulu yuk," kata Vina setelah tiba di dekat sang Kakek. Jaka agak cemburu karena bukan dia yang disapa untuk pertama kali. Ia segera menghentikan pekerjaanya dan membantu Vina menyiapkan makanan.
"Kek...Paklik...makan dulu yuk!"
"Sebentar lagi," jawab Kakek Darma.
"Mumpung masih hangat loh."
"Tolong ambilin air dong," kata Vina pada Jaka yang sudah duduk di dekatnya.
"Baru tahu ada orang disini," sindir Jaka dengan cemberut. Namun ia segera mengambil air di sumur kecil yang ada ditengah lahan.
"Ha?" Vina bingung sendiri mendengarnya. Mau tanya , tapi Jaka sudah pergi.
"Masak apa Vin? Baunya harum banget,' kata Pak Ramli yang berjalan ke arahnya.
"Tinggal pilih Paklik. Ada ayam kecap. Ayam goreng krispi. Tumis kangkung _"
"Aku mau ayam krispi!" seru Adin menghentikan ucapan Vina. Vina terkekeh geli mendengarnya.
"Cuci tangan dulu yang bersih. Baru Bunda ambilin. "
"Airnya mana? "
"Ayah masih ambil. Duduk manis dulu ya, " pinta Vina yang disambut dengan anggukan kepala.
"Bagus! tadi Adin sama Bian main apa saja? "
"Bantuin Kake sama Ayah, " jawab Bian dengan bangga. Sedari tadi kedua anak kecil itu memang bersama ayahnya memungut biji kopi yang berhamburan di tanah.
"Wah... hebat dong. Karena kalian sudah membantu ayah, maka Bunda akan memberikan hadiah buat kalian berdua. "
"Benarkah? "
"Tentu saja. Tapi tidak sekarang. "
"Kenapa tidak sekarang? ”
"Karena hadiahnya tidak ada disini.
cie jaka ngambek gk di sapa😁
semangat nulis bab nya😘😘❤️❤️❤️