Satu like salah. Satu DM berantai. Satu hidup yang kacau.
Ardi cuma ingin menghilangkan bosannya. Kinan ingin hidupnya tetap aesthetic. Tapi ketika Ardi accidentally like foto lama Kinan yang memalukan, medsos mereka meledak, reputasi hancur, dan mereka terpaksa berkolaborasi dalam proyek paling absurd: menyelamatkan karir online dosen mereka yang jadi selebgram dadu.
#SalahFollow Bukan cinta pada like pertama, tapi malu pada like yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: ALGORITMA PEMBERONTAK
Tiga Bulan setelah Dadu Challenge viral.
Tagline: Hidup sudah kembali (agak) normal. Tapi di dunia digital, 'normal' adalah kata yang relatif.
---
Pukul 10.00. Kinan sedang live Instagram dengan judul "How To Curate Your Life (Without Losing Your Mind)". Latar belakangnya masih aesthetic rak buku warna earth tone, tanaman monstera, dan cahaya matahari pagi yang sengaja diatur dari lampu ring.
"Jadi, intinya adalah intentional living," ujarnya dengan suara lembut namun penuh keyakinan, sambil menunjuk ke bullet point di iPad-nya. "Kita yang memilih apa yang kita konsumsi, baik secara visual di feed kita, maupun secara mental di"
Ding! Notifikasi WhatsApp muncul di layar streaming nya. Sebuah pesan dari Ardi.
Ardi: Ka, ada aplikasi aneh nih. Namanya "MatchMade". Promosinya di IG gue, bilangnya "Dating app buat yang udah lelah dengan swipe". Ada kode undangan khusus buat "konten kreator". Mau coba? Katanya kalo kita berdua gabung, kita bisa dapet brand deal.
Kinan membacanya dengan cepat, sambil tetap menjaga senyum profesionalnya di kamera. Jari kirinya mengetik balasan cepat di HP lain.
Kinan: Dating app? Seriously? Lo tau gue nggak percaya yang begituan. Persona gue aja "self-love warrior", remember?
Ardi: Tapi katanya brand deal nya gede. Buat dua orang. Bisa buat modal nge upgrade equipment.
Kinan: Nama app nya aja udah cheesy. MatchMade. Kayak judul film India.
Ardi: Coba dulu kali? Sumpah ini bukan scam. Gue udah cek review nya. Unik. Katanya pake algoritma "kecocokan konflik" atau apa gitu.
Kinan menghela napas halus. Di live, dia sedang membahas poin tentang "mengatakan tidak pada distraksi". Ironi yang sempurna.
Kinan: Oke. Tapi ini cuma untuk konten. Kita bikin series "Review Dating App: Konten Creator Edition". Bukan beneran nyari jodoh.
Ardi: Deal. Gue daftarin kita berdua. Tinggal isi kuis panjangnya.
Live selesai dengan closing statement yang manis. Begitu kamera mati, ekspresi Kinan langsung berubah menjadi lelah. Dia membuka link yang dikirim Ardi.
MatchMade. Ikonnya sebuah hati yang disatukan dari dua puzzle yang tidak cocok. Slogan: "Because perfect matches are boring."
"Boring?" Kinan menggerutu. "Who wants drama?"
Tapi dia mengisi kuisnya. Pertanyaannya aneh-aneh:
"Apa kamu lebih memilih resolusi konflik dengan
(a) Berdiskusi tenang,
(b) Menghindar sementara,
(c) Langsung konfrontasi, atau
(d) Mem-post quote pasif-agresif di Story?"
Kinan memilih (a), meski dalam hati kadang (d) sangat menggoda.
"Jika pasanganmu mengunggah foto yang menurutmu tidak aesthetic, kamu akan:
(a) Diam saja,
(b) Memberi tahu dengan sopan,
(c) Langsung unfollow,
(d) Mengunggah foto yang lebih aesthetic tanpa kata-kata."
Kinan, setelah berpikir sejenak, memilih (b). Dia adalah seorang curator, kejujuran adalah mereknya.
Pertanyaan berlanjut selama 30 menit. Mulai dari preferensi makanan (“Indomie kuah atau goreng?”) hingga pendapat tentang kapitalisme (“Apakah hustle culture adalah bentuk eksploitasi modern?”).
Sementara itu, di kosannya, Ardi juga sedang mengerjakan kuis yang sama dengan serius. Saat sampai di pertanyaan "Apa pendapatmu tentang konten 'love coaching' di media sosial?", dia menjawab pilihan: "(c) Helpful untuk beberapa orang, tapi seringkali tidak realistis."
Setelah selesai, ada loading screen dengan tulisan: "Our algorithm is finding your perfect... mismatch. The one who will challenge you to grow."
"Beneran nih gue," gumam Ardi sambil menunggu.
---
24 jam kemudian.
Kinan terbangun dengan notifikasi dari aplikasi MatchMade.
"Congratulations! We've found your Match. You have 97% Compatibility... in Conflict."
Dia mengangkat alis. Compatibility in Conflict? Apa artinya? Dia membuka aplikasi.
Profil match nya muncul. Nama: "A". Foto profil: gambar burung hantu. Bio: "Music nerd. Professional overthinker. Accidentally viral because of a dice."
Kinan membeku.
Tidak mungkin.
Dia mengetuk layar untuk melihat detail lebih lanjut. Jawaban kuis si "A":
· Resolusi konflik: Langsung konfrontasi (c). (Ardi pilih ini karena jujur merasa itu lebih cepat selesai, meski biasanya dia panik).
· Foto tidak aesthetic: Diam saja (a). (Ardi: "Ngapain ribet?")
· Love coaching: Helpful tapi sering tidak realistis (c).
Semuanya adalah jawaban Ardi. Yang paling menyakitkan: pilihan Ardi untuk pertanyaan "Ideal first date?" adalah: "Nongkrong di warteg atau warung kopi butut, ngobrol santai." Sementara pilihan Kinan: "Coffee shop dengan atmosfer tenang dan desain yang bagus untuk konten."
Algoritma menyatukan mereka bukan karena kesamaan, tetapi karena perbedaan yang saling melengkapi atau paling tidak, menurut algoritma itu, saling menantang.
Kinan langsung menelepon Ardi.
"Lo dapat match siapa?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Eh, ka Kinan. Baru buka app-nya. Bentar." Suara Ardi terdengar sambil mengunyah. "Ini nih... match gue... 'K'. Foto profil... gambar kupu-kupu aesthetic. Bio: 'Curator of beautiful moments. Possibly burnout.' HA! Ini pasti lo!"
"Ardi. Lo sadar nggak? Aplikasi ini menjodohkan kita berdua."
"Ya iya, kan kita masuknya pake kode undangan berdua. Mungkin emang match sesama konten kreator."
"Bukan itu maksudku. Lihat presentase nya. 97% Compatibility in Conflict. Mereka secara sengaja memasangkan kita karena kita berbeda. Ini jadi bahan konten yang bagus sih, tapi... agak aneh, ya?"
Ardi terdiam sejenak. "Sebenernya... lucu juga. Mereka bilang 'perfect matches are boring'. Mungkin kita emang nggak boring."
"Kita memang nggak boring. Kita kacau."
"Same thing."
Kinan tidak bisa menyangkal. Dia melihat notifikasi lain dari aplikasi. "Your first challenge: Have a 'Unfiltered Date'. No aesthetics, no curation. Document your raw interaction and upload to the app. Top 10 most authentic couples get a brand deal with a coffee company."
"Ardi, ada challenge nya. Date tanpa filter."
"Wah, cocok! Kita kan udah sering. Warung kopi kemarin juga unfiltered banget."
"Tapi ini harus di upload ke aplikasi. Dinilai 'keaslian' nya sama pengguna lain."
Ardi mendengus. "Jadi penilaiannya kayak kontes? Kurang ajar juga ya. Tapi... brand deal kopi... itu lumayan buat beli microphone baru."
Kinan mempertimbangkan. Ini adalah konten yang sempurna sekaligus menyeramkan. Mengeksploitasi dinamika mereka yang sudah nyata untuk sebuah aplikasi kencan. Tapi di sisi lain... bukankah itu yang sudah mereka lakukan dengan Dadu Challenge? Hanya saja kali ini, platformnya berbeda.
"Oke," akhirnya Kinan setuju. "Tapi kita bikin aturan sendiri. Kita nggak akan berpura-pura. Kita akan jadi... ya kita. Dan kita akan kritik habis-habisan aplikasi ini di akhir konten."
"Deal. Kapan date nya?"
"Besok sore. Tapi kita putusin tempatnya sekarang, tanpa aplikasi. Biar nggak dikendaliin algoritma."
"Mau dimana?"
"Tempat yang bener-bener netral. Bukan 'aesthetic' dan bukan 'kumuh'."
".... Mall?"
Kinan menghela napas. "Mall food court, level paling atas yang sepi. Jam 4."
---
Sementara itu, di sebuah ruang server yang dingin, seorang data scientist bernama Genta (25) menatap layar yang menampilkan pasangan "A" dan "K". Dia adalah salah satu pembuat algoritma MatchMade.
"Pair 047 menunjukkan interaksi awal yang tinggi," ujarnya pada rekan kerjanya. "Mereka punya sejarah digital sebelum bergabung. Konflik dan chemistry mereka... organik. Ini akan menjadi studi kasus yang sempurna untuk algoritma 'Growth Through Friction' kita."
"Apakah tidak etis?" tanya rekannya.
"Semua sudah menyetujui terms and conditions," jawab Genta sambil menyeruput kopinya. "Dan bukankah semua hubungan butuh gesekan untuk menghasilkan cahaya? Kita hanya... mempercepat prosesnya."
Di layar, profil Ardi dan Kinan bersinar dengan ikon "High Potential Match".
Algoritma telah bergerak. Dan sekarang, ia mengamati.
---
Besok sore. Food court mall tingkat 5.
Ardi datang dengan kaus band rock vintage yang sobek di bagian lengan. Kinan datang dengan hoodie dan celana training pilihan paling "tidak aesthetic" yang dia miliki.
Mereka saling memandang, lalu tertawa.
"Lo kelihatan aneh," komentar Ardi.
"Lo juga. Kaus itu dari mana? Dari zaman batu?" balas Kinan.
Mereka memesan es teh dan wedang roti, lalu duduk di sudut yang menghadap ke jendela besar. HP diletakkan di atas meja, merekam audio (untuk bahan konten), tapi mereka berusaha mengabaikannya.
"Jadi," mulai Kinan. "Challenge nya adalah 'unfiltered date'. Menurut lo, apa hal paling unfiltered tentang gue?"
Ardi berpikir. "Lo itu... perfectionist yang lelah. Lo bisa ngomong panjang lebar tentang self-love, tapi pas lagi sendiri, lo mungkin mikirin berapa like yang bakal lo dapet besok."
Kinan terdiam, lalu mengangguk pelan. "Fair. Lo juga. Lo itu... awkward bukan karena nggak pede, tapi karena lo terlalu jujur sama perasaan lo sendiri. Sampe nggak tau cara nyamainnya."
"Gue nerima." Ardi tersenyum. "Jadi, menurut lo, algoritma ini bener nggak? Apa kita cocok karena kita beda?"
"Gue nggak tahu," jawab Kinan jujur. "Tapi gue belajar sesuatu dari lo. Kadang, nggak semua hal perlu dikurasi. Kadang, indah itu... ya berantakan."
Percakapan mengalir. Mereka membicarakan kekhawatiran akan masa depan, tekanan dari keluarga, betapa mereka benci namun butuh media sosial. Mereka berdebat kecil tentang musik (Ardi: indie rock, Kinan: piano instrumental), dan menemukan titik tengah: film soundtrack.
Tanpa mereka sadari, rekaman telah berjalan selama satu jam. Dan mereka hampir lupa itu adalah sebuah "challenge".
Saat akan pergi, Kinan melihat aplikasi MatchMade. Ada notifikasi baru: "Authenticity Level: 94%. Congratulations. You are currently #3 on the leaderboard."
Mereka saling memandang.
"Kita menang karena jadi diri sendiri?" tanya Ardi, tidak percaya.
"Sepertinya iya," jawab Kinan. Tapi ada rasa tidak nyaman. Seberapa banyak data yang dikumpulkan aplikasi ini dari percakapan mereka? Seberapa dalam algoritma itu menganalisis?
Di dalam taksi online yang membawa mereka pulang, Kinan membuka laptop dan mulai menelusuri terms of service MatchMade yang panjang dan membosankan. Di suatu paragraf tersembunyi, dia menemukan klausul:
"...dengan bergabung, Anda setuju untuk membagikan data interaksi, termasuk analisis sentimen percakapan, untuk pengembangan algoritma dan kemungkinan konten promosi..."
"Ardi," bisiknya. "Aplikasi ini bukan cuma nyariin jodoh. Dia belajar dari kita. Kita jadi bahan percobaan."
Ardi membaca klausul itu. "Jadi... kita kelinci percobaan digital?"
"Sepertinya iya." Kinan menutup laptop. "Tapi... kita sudah terlanjur. Dan brand deal kopinya..."
"Masih mau lanjut?"
Kinan memandang keluar jendela. Kota berkelap-kelip di malam hari, setiap cahaya mungkin berasal dari seseorang yang sedang mencari pasangan lewat layar. "Gue penasaran. Penasaran sejauh mana algoritma ini akan membawa kita. Dan... ini bahan konten yang terlalu bagus untuk dilewatkan."
Ardi mengangguk. "Gue juga. Tapi kita harus tetap kontrol. Jangan sampe algoritma yang bikin keputusan buat kita."
"Setuju."
Malam itu, sebelum tidur, Kinan mengunggah cuplikan singkat date mereka ke aplikasi hanya sepuluh detik di mana mereka tertawa terbahak-bahak karena Ardi menumpahkan es teh. Caption: "Unfiltered, uncurated, unexpectedly fun."
Dalam hitungan menit, likes mengalir. Komentar: "Kalian natural banget!", "Ini date beneran atau cuma akting?", "Algoritma emang jitu!".
Dan di ruang server, Genta tersenyum. Pair 047 melampaui ekspektasi. Algoritmanya bekerja. Gesekan menghasilkan percikan. Dan percikan itu... menarik perhatian.
Notifikasi baru muncul di HP Kinan dan Ardi, bersamaan:
"Congratulations! You've unlocked the next level: 'The Social Experiment'. For one week, let our algorithm guide your daily interactions. Top couple wins a grand prize: an all expenses paid trip to a digital detox retreat... together."
Kinan dan Ardi membaca pesan itu, lalu saling menelepon.
"Ini semakin aneh," kata Kinan.
"Tapi... retreat digital detox? Gratis? Itu ironis banget jadi konten," balas Ardi.
"Lo mau?"
"Gue sih iya. Lo?"
Kinan berpikir panjang. Inilah intinya: sebuah eksperimen sosial yang disutradarai algoritma. Berbahaya? Mungkin. Menarik? Pasti.
"Oke," akhirnya dia menjawab. "Tapi kita bikin vlog dokumentasi lengkap dari sisi kita. Kalau ada yang salah, kita ekspos."
"Deal."
Mereka menekan "Accept Challenge".
Di layar Genta, status Pair 047 berubah menjadi: "EXPERIMENT: ACTIVE."
Algoritma kini tidak hanya menjodohkan. Ia mulai mengarahkan.
#ToBeContinued
(Minggu depan: 7 Hari Hidup Menurut Algoritma, Konflik yang Diinduksi, dan Batas Antara Eksperimen Sosial dan Eksploitasi Digital.)