Aluna terjebak dalam pernikahan neraka. Di mata dunia, dia adalah istri Arvino Hardinata. Namun di balik pintu tertutup, dia dianggap sebagai "pembunuh" oleh suaminya sendiri. Aluna bertahan demi Lili, satu-satunya sumber kekuatannya, sambil berharap suatu hari Arvino melihat ketulusan cintanya—sebelum penyakit dan kelelahan batin menggerogoti Aluna sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Terapi Cahaya
Arvino, meskipun masih terbaring di lantai bawah, menjalankan penebusannya dengan kecerdasan dan sumber daya penuh. Dia tidak lagi menggunakan bunga atau hadiah mahal yang umum, melainkan menggunakan kekuasaannya untuk memperbaiki kerusakan yang ia timbulkan.
Sore itu, aku pulang dari Rumah Sakit Merdeka dan terkejut menemukan ada beberapa pekerja konstruksi kecil di lantai atas.
"Ada apa ini, Mbok Nah?" tanyaku.
"Itu permintaan Tuan Arvino, Nyonya. Katanya ingin merenovasi kamar tidur utama. Khususnya pencahayaan," jawab Mbok Nah sambil tersenyum misterius.
Aku segera naik ke atas, dan tertegun melihat perubahan di kamar itu. Sofa yang menjadi tempat tidurku sudah raib. Karpet tebal sudah diganti. Dan yang paling mengejutkan: pekerja sedang memasang sistem pencahayaan khusus di langit-langit. Lampu-lampu itu bukan lampu biasa, melainkan LED strip yang memancarkan cahaya hangat, dilengkapi dengan tombol dimmer yang sangat sensitif.
Aku turun ke lantai bawah, menuju kamar Arvino. Dia sedang berbaring di tempat tidur, membaca laporan.
"Apa maksud dari renovasi di atas, Kak?" tanyaku, nadaku formal.
Arvino menatapku. Tidak ada senyum kemenangan, hanya ketulusan yang tenang. "Aku membuat kamar itu aman untukmu, Aluna. Aku memasang sistem pencahayaan yang bisa kau kontrol dari remot genggam, dari warna dingin hingga warna paling hangat. Kau bisa mengatur intensitas cahayanya seminimal mungkin, tanpa harus mematikannya total. Kau tidak perlu lagi takut gelap di kamar itu."
Dia kemudian menunjuk sebuah tombol kecil di dinding. "Aku juga memasang saklar panic button darurat di samping ranjang. Jika ada yang mengganggumu, atau jika nyctophobia-mu kambuh, kau bisa menekannya, dan lampu di seluruh lantai atas akan menyala, serta alarm akan berbunyi di kamar Ardo. Itu janji perlindungan dariku."
Aku tidak bisa berkata-kata. Ini adalah hadiah paling berharga yang pernah kuterima—pengakuan dan penghormatan terhadap traumaku yang selama ini ia gunakan untuk menyiksaku.
"Terima kasih, Kak," bisikku, air mata hangat menggenang.
"Jangan berterima kasih. Aku hanya memperbaiki apa yang kuhancurkan," katanya.
Malam harinya, kejutan lain datang. Aku menerima panggilan telepon dari Direktur RS Merdeka.
"dr. Aluna, saya senang memberitahu Anda bahwa aplikasi spesialisasi penuh Anda di sini telah disetujui. Dan saya mendapat kabar baik dari dewan spesialis Jakarta. Rekomendasi Anda sangat kuat, dan Anda mendapat dukungan penuh dari Hardinata Group. Ini luar biasa, Dokter. Anda bisa mulai fokus pada Bedah Saraf minggu depan."
Aku tahu. Ini adalah ulah Arvino.
Aku segera masuk ke kamar Arvino. Dia sedang menyesuaikan gipsnya.
"Apa yang Kakak lakukan dengan Hardinata Group?" tanyaku, nada bicaraku kini bercampur antara terima kasih dan kehati-hatian.
"Aku hanya menggunakan koneksiku," Arvino mengangkat bahu. "Aku tahu kau tidak akan bekerja di Hardinata, itu hakmu. Tapi sebagai suamimu, aku punya kewajiban memastikan istriku mendapatkan karier terbaik di mana pun ia berada. Lagipula, aku tidak mau ada yang meragukan kredibilitas dokter yang merawat Lili."
"Aku tidak memintamu melakukan ini," kataku.
"Aku tahu. Tapi aku harus. Aku tidak bisa mencintaimu dengan kata-kata saat aku terikat di ranjang. Aku hanya bisa mencintaimu dengan tindakan dan hormat."
Dia menatapku serius. "Aluna, aku tahu kau masih memegang surat cerai. Aku tahu aku tidak pantas mendapat kesempatan. Tapi aku tidak bisa membiarkanmu pergi dengan merasa bahwa kau adalah wanita yang tidak berharga. Aku akan membuktikan bahwa kau adalah wanita yang paling berharga di mataku."
Aku duduk di sofa kamar Arvino. Untuk pertama kalinya, aku tidak melihat Arvino yang sinis, yang sombong, atau yang marah. Aku melihat Arvino yang tulus, yang berjuang dengan keterbatasan fisiknya untuk menunjukkan cintanya.
"Aku akan menerimanya, Kak. Aku akan menerima dukungannya," kataku. "Tapi aku akan tetap memegang kendali atas emosiku. Aku butuh waktu untuk mencairkan hatiku."
"Aku akan menunggumu. Bahkan jika harus setahun lagi," katanya.
"Baiklah. Aku akan membatalkan gugatan itu untuk sementara waktu," kataku. "Tapi ada satu hal lagi. Bisakah kita... makan malam bersama malam ini? Bukan sebagai pasien dan dokter. Tapi sebagai dua orang yang terikat pada Lili."
Arvino tersenyum. Senyum itu tidak sempurna—ada rasa sakit, ada penyesalan—tapi itu adalah senyum tulus yang kuingat dari masa kecil kami.
"Tentu. Aku akan minta Mbok Nah menyiapkan meja di sini. Dan kita bisa bicara tentang Lili... dan tentang rencanamu di Rumah Sakit Merdeka."
Aku tersenyum kembali. Itu adalah senyum yang sama sekali baru—senyum yang lahir dari rasa aman yang baru ditemukan. Perjalanan penyembuhan kami dimulai dari meja makan, dipisahkan oleh jarak fisik, namun disatukan oleh komitmen yang baru.
...****************...
Bersambung....
Terima kasih telah membaca💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️