Rona gadis cantik yang memiliki keberanian dibanding gadis lain, memilih menikmati hidup damai dan menjalankan usaha yang ditinggalkam kedua orangtuanya. Adakalanya setiap sore ia menikmati pemandangan indah berbukitan di belakang desanya dan menemukan sosok lelaki tampan jatuh tepat pada pelukkannya. Aroma tubuh lelaki itu berhasil memikatnya, dan siapa kah lelaki tersebut? dan apakah yang terjadi padanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reviie Aufiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Kepingan ingatan
Bagaikan hilir bunga layu, hentakkan sepatu kuda yang menapak bumi bergetar dengan hebat, pacuan kuda Rona secepat kilat meninggalkan jauh seseorang di belakangnya.
Sampailah Rona di sebuah pondok kecil di ujung jurang. Butuh waktu 4 jam untuk dirinya berpacu dengan kudanya.
Rona merundukkan tubuhnya dan melihat kepala desa bersama seseorang menandatangani sebuah kontrak besar dan sudah pasti ilegal. Semua rombongan meninggalkan gua itu. Jika diingat kembali ia pernah mengunjungi tempat itu bersama Ayahnya. Sebuah butiran kecil ingatan menyerang kepalanya. Rona sedikit merunduk dan tersungkur jatuh di bawah pohon di balik semak.
Ingatan yang samar namun familiar untuk diungkapkan, Rona memegangi kepalanya mencoba mengingat kejadian masa kecilnya. Memori kecil itu hilang timbul, anak mana yang bisa mengingat dengan jelas dari ingatannya dimasa itu.
Setelah beberapa orang pergi dengan kereta kuda dan para pengawalnya, Rona baru berani berjalan maju ke depan. Memasuki gua usang dengan langkah kaki perlahan lalu dilihatnya sekeliling gua tersebut.
Rona membawa korek kayu dan menghidupkannya sebagai bantuan cahaya untuk ia melihat lebih dalam lagi. Langkah kaki Rona terus memasuki gua di bantu dengan penciuman hidungnya yang pekah akan aroma.
Langkah kaki Rona menapak maju kedepan dan dilihatnya sekeliling jauh lebih jauh. Ada sebuah obor tertancap di dinding gua tersebut. Dengan korek yang tersisa ia hidupkan obor tersebut dan masuk lebih dalam lagi. Terlihat tidak asing seakan kepala Rona berputar-putar bagai ingatan yang menyerang kepalanya secara bersamaan, langkah kakinya agak sempoyongan. Tangan Rona meraih sebuah tempat tersembunyi. Mata Rona memicing dan dahinya berkerut sedikit namun tangannya dengan spontan membuka sebuah kerak di balik dinding tanah liat bercampur batu tersebut.
Terlihat sebuah tuas lalu ia tarik dan terlihat sebuah pintu terbuka, Rona meletakkan obor di tiang dinding dan keluar melihat cahaya dari mana yang datang.
Rasa tak juk tak terkira, Rona berada diatas tebing tinggi yang di bawahnya terlihat jalan pintas menuju Ibu Kota. Ingatan demi ingatan mulai bermunculan lagi-lagi Rona terduduk sambil tiba-tiba menangis haru.
“Ayahh…ayah aku ingat pernah kesini bersamamu.” Tangisnya dalam keadaan tersungkur.
Dihapusnya air matanya lalu ia merebahkan tubuhnya menatap langit cerah dengan warna biru pekat dengan indahnya. Ingatan masa kecilnya saat ia dan ayahnya pernah mendatangi gua ini.
Kembali ia memejamkan matanya sejenak mengingat ingat kemana ia pernah pergi bersama ayahnya saat mengunjungi Ibukota. Segera Rona kembali mengambil kudanya dan melewati gua itu, tak lupa ia mengunci kembali pintu tersebut. Kali ini ia benar-benar ingat letak pembuka dan penutup tuas pintu tersebut.
Sebelum memasuki Ibukota ia membersihkan dirinya dan mengelap wajahnya lalu berkaca pada cermin. Untungnya peralatan kecil yang diberikan Pelayannya tersebut dapat dipakai dengan muda. Walaupun Rona sempat berpikir ia tak membutuhkan alat-alat tersebut.
Ditariknya kudanya mengelilingi Ibu kota, beberapa tempat ia ingat pernah mengunjunginya bersama ayahnya. Pada saat itu ayahnya selalu menggendong Rona kecil diatas bahunya.
“Ah kepalaku.” Rona menjongkok di bawah sambil memegang kepalanya dan masih memegang tali kudanya.
“Nona? Nona? Anda tidak apa-apa?” Ucak salah satu bibi yang tak sengaja melihatnya.
“Ah aku tak apa, maafkan saya mengganggu jalan anda.” Rona hanya menunduk dan melanjutkan perjalanannya.
Langkah kakinya sampai pada rumah besar mewah yang tak tahu kenapa ia melangkah sampai disana. Ia hanya mengikuti langkah kakinya dan mencium aroma dan mengikuti indra penciumannya.
“Astaga kau ada dimana Rona?” Kembali Rona memukul dahi kepalanya dan berbalik.
Suasana disini begitu familiar, banyak pertanyaan demi pertanyaan dalam benaknya namun hari sudah mau sore saja, Rona memutuskan untuk kembali dan mencari tahu nantinya.
“Aku harus cepat, kakak pasti menungguku untuk acara puncak kembang api.” Dengan cepat Rona menaiki kudanya dan masih menatap Rumah mega yang tak sengaja ia datangi.
Agak lama Rona menata Rumah Putih dengan pagar hitam besar dan didalamnya terlihat tanah dengan bunga-bunga mawar yang subur. Rona tersenyum menatap bunga-bunga dari balik pagar tersebut dan memacu kudanya kembali ke gua.
Sosok lelaki dari lantai dua menatap Rona dari jendela, lelaki itu menyadari tak ada kunjungan rumah untuk hari ini.
“Hmm akankah ada yang berkunjung?” Batinnya, sedikit ia mengibaskan kain jendela dan menatap sosok itu dari jauh.
“Bukankah itu nona Rona dari desa kecil?” Gumamnya dengan senyuman.
Sekembalinya Rona melewati gua, tak lupa ia menutup tuas tersebut dan menghilangkan jejak kudanya dan menyapunya dengan ranting semak yang ia ambil dari pepohonan.
“Baiklah sudah beres tanpa ada satupun bukti bahwa ada orang lain yang memasuki gua ini.” Rona kembali keluar dari sana dan berpacu secepat mungkin menuju tempat stan festivalnya diadakan.
Pada saat yang sama Gray yang memutari hutan mencari Rona uring-uringan menatap jalan setapak, melihat langkah bekas kaki kuda, mempelajari ranting-ranting yang patah dan tak menemukan gadis itu melewati jalan yang mana.
Hanya segerombolan orang dan ada dua kereta kuda yang melintasinya dengan beberapa pengawal.
“Sungguh aneh, hutan ini kan jarang sekali dilalui kenapa mereka lewat sini ya.” Gray merunduk dibalik semak bersama kudanya menatap sekitar.
“Apakah mereka ada urusan dengan nona?” Gray hanya memperhatikan kuda dan para pengawal siapa tahu ada kuda nona Rona atau ada yang terjadi pada dirinya.
“Tak ada yang mencurigakan, namun sepertinya nona tak ada urusan dengan mereka.” Gray hanya menatap mereka berlalu melintasinya.
Tak lama Gray berjalan dengan kudanya terdengar hentakkan yang familiar melewatinya. Benar saja Rona keluar dari ujung hutan yang entah dari mana, setelah ke bar dan menerima bisikan dan selembar kertas yang sangat diyakini sebagai peta. Hal yang pasti adalah cuma gadis itu yang tau tempat yang akan ia datangi.
“Nona… nona tunggu aku.” Grey mengejar Rona, kali ini ia tak akan kehilangan gadis tersebut.
Rona sedikit memelankan pacuan kudanya perlahan, dan melirik Gray yang sedikit berantakan.
“Ada apa dengan pakaianmu?” Tanya Rona datar dan hanya menatap kedepan.
“Aku mencarimu nona, syukurlah anda baik-baik saja.” Gray menghela nafas legah.
“Kau masih mengikutiku? Bukannya aku sudah bilang Nathan agar kau tak perlu mengikutiku?” Tegas lantang suara Rona.
“Ini hari terakhirku menjaga anda nona.” Gray masih berusaha mengimbangi laju kecepatan kuda Rona.
“Baiklah pergi ke tempat festival di mana kakak berada, aku akan kembali ke kediaman sebentar lalu kembali kesana.” Rona berjalan ke arah kanan sedangkan jalan menuju tempat festivalnya berada di sebelah kiri.
“Tapi nona.”
“Jangan membantahku, yang butuh perlindungan kakakku bukan aku. Ku harap kau paham tuan Grey.” Tanpa menerima jawaban Rona segera meninggalkan Grey.
Rona masih tergesah-gesah menuju rumahnya, sesampainya disana terlihat paman Bil sedang berada di pekarangan Rumah. Rona melompat dari kudanya.
“Paman aku pulang, tolong beri makan kudaku.” Tanpa menerima jawaban Rona bergegas berlari ke ruangan kerja Ayahnya.
Beberapa catatan telah ikut terbakar kala itu, sebenarnya Rona tak ingin mengingat kejadian dimasa lalu yang menyakitkan, namun kepingan-kepingan dalang di balik kejadian itu mulai ia temukan sebagai bukti nyata kejahatan yang dialaminya.
Rona mengobrak-abrik ruangan baca usang milik ayahnya. Banyak buku-buku yang telah terbakar dan banyak lagi yang masih bagus namun sudah usang. Buku-buku itu memiliki bekas terbakar dan beberapa kertasnya meninggalkan debu usai kebakaran kala itu, lembar demi lembar ia membukanya sambil sesekali batu karena demu buku lama dan sisa pembakaran waktu itu.
Saat Rona berusaha meraih lebih jauh ke atas rak, kakinya sedikit berjinjit dan hampir tak bisa menggapainya.
“Ayolah sedikit lagi.” Gumamnya.
Buku itu berhasil diambilnya namun ia terjatuh dan tertimpa beberapa buku yang jatuh bersamaan.
“Aduh pinggangku, ini sakit sekali.” Sambil memegangi pinggangnya Rona melirik ke sebelahnya terlihat tiga buku berserakan dan ada satu foto dirinya sewaktu masih kecil dalam gendongan ayahnya dan ada seseorang di sebelah mereka.
Terlihat seseorang lelaki di samping ayahnya juga menggendong anaknya sama seperti menggendong Rona. Gambaran seornag anak lelaki kecik yangs edikit lebih besar darinya. Namun sosok lelaki besar yang menggendongnya tak terlihat, wajahnya seperti terkena bekas percikan hitam. Rona menggeleng foto itu usang pasti dikumpulkan saat kebakaran waktu itu.
Kembali Rona menatap wajah anak lelaki itu matanya sedikit melotot.
“Ini kan…”