"Arina Andrews!" Panggil seorang guru saat Arin hendak berlalu.
Arin lalu berbalik dan mendapati jika orang yang memanggil dirinya adalah sang guru. Orang yang membuat dirinya merasa hidup. Namun Arin terkejut saat mengetahui gurunya hendak menikah. Baginya Ibu Sarah adalah ibu baginya.
"Ibu guru tidak akan melupakan sayakan ?" Tanya Arin...
Ibu Sarah hanya terdiam, dia lalu mengelus kepala anak muridnya itu..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jauhadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Bab 32
Maxim POV:
Aku duduk-duduk saja di kelas, dan mendapati dua teman perempuanku yang baru datang. Salah satu dari mereka adalah gadis yang kusukai, tapi sepertinya dia enggan kudekati sebab ada yang mengatakan jika aku dulunya play boy. Padahal sungguh, pacaran saja aku tak pernah.
Tapi sepertinya enggan nya dia untuk ku dekati bukan hanya soal aku pay boy, tapi sebab dia memang cuek, dingin, dan tidak pernah menanggapi percintaan, dan sejenisnya.
Ku dekati meja ke dua temanku itu. Dan ku sapa mereka seperti pagi yang sudah lalu.
"Hai Arina, Felicia." Ucapku pada kedua teman sekelasku itu. Mereka berdua menoleh kan kepalanya. Dan aku melihat Arina tampak dingin seperti biasanya.
Padahal baru dua hari aku berteman dengan Arina, tapi hatiku sungguh tak bisa di kendalikan. Aku sungguh suka pada gadis ini.
Aku bahkan kemarin pura-pura serius belajar hanya agar Arina menatapku, dan memperhatikan diriku. Tapi nyatanya dia lebih fokus dalam belajar dari yang aku duga.
Arina tampaknya suka sekali belajar, dan aku yang merupakan cowok jenius tentu tidak mau kalah dengan Arina. Secara sudah berturut-turut di sekolahku aku mendapatkan juara satu, meski aku tidak pernah juara umum. Hanya saja aku yakin jika kali ini setidaknya bisa menyaingi Arina Andrews.
"Maxim Hazard." Panggil seorang gadis yang ku kenali. Bella namanya. Dia teman satu High school denganku dulu. Kenapa dia memanggilku? Dengan nama lengkap pula.
"Haaa.... Bella. Ada apa?" Tanyaku padanya. Rasanya canggung bicara pada seorang perempuan yang selama ini ku abaikan.
"Aku meminjam buku temanmu Arina, aku ingin mengembalikan padanya, tapi mukanya dia seperti tidak dalam mood baik, aku takut, jadi tolong kau kembalikan padanya. " Ujar Bella padaku. Aku memiringkan kepala bingung. Kenapa tidak dia sendiri sih yang mengembalikan? Padahal tahu kalau Arina moodnya sedang tidak baik.
"Baiklah." Aku tersenyum padanya. Ah, jangan-jangan dia Bella lah yang cerita ke Arina jika aku ini Play boy? "Bella, aku ingin tanya sesuatu." Ujarku padanya.
"Apa itu?" Tanyanya sambil menoleh padaku.
"Apa kau yang mengatakan pada Arina kalau aku Play boy? Di antara teman sekelas, hanya kamu yang mengenalku." Ucapku padanya. Bella seperti berpikir sejenak.
"Oh iya, kamu kan memang play boy, banyak gadis di dekatmu saat kita di high school." Ujar Bella padaku.
Pantas saja Arina tahu, apa aku memang busa di anggap play boy? Secara para gadis itu yang mendekati aku, bukan sebaliknya.
"Apa kau bercanda?" Tanyaku padanya. Bella hanya cekikikan lalu berlalu pergi meninggalkan aku. Aku melihat ke arah Arina, dia tampak sebal karena sesuatu, dan aku tidak tahu apa penyebabnya.
Bella ada masalah apa sih denganku? Dia tampaknya tak menyukaiku seperti perempuan pada umumnya di high school dulu. Tapi dia benar-benar menyebalkan dengan menganggu hubunganku, dan Arina.
Saat aku perhatikan dari tempat dudukku ternyata Arina merasa sebal sebab Felicia meraih buku yang sedang dia baca. Felicia sepertinya menggoda Arina? Aku berjalan ke arah Arina, dan mendapati dia menoleh ke arahku.
"Arina, ini buku yang Bella pinjam darimu." Ujarku pada Arina. Arina langsung meraih buku itu.
"Thanks." Ujarnya singkat, aku hanya menganggukkan kepala, dan berlalu. Aku tak mau membuat Arina kesal juga.
Aku duduk kembali ke tempat dudukku, ku lihat seorang masuk ke dalam kelas. Ternyata dosen, aku merasa lega, sebab biasanya pelajaran akan membuat mood Arina berubah membaik. Dan kulihat seperti dugaanku benar. Mood Arina membaik, dan dia belajar dengan serius.
Aku tak mau kalah dari Arina, setidaknya cukup di high school dulu aku tidak serius belajar, dan kalah dari temanku. Setidaknya sekarang aku tak mau kalah lagi.
Dosen menjelaskan dengan seksama, tak lama berselang, dosen menanyakan beberapa pertanyaan pada kami. Aku, dan Arina mengangkat tangan, tampak dia menatap sengit padaku.
"Baik Maxim Hazard. Jawab pertanyaan bapak tadi." Ujar dosen padaku. Aku pun menjawab dengan lancar pertanyaan dosen. Arina menatapku, tatapannya, seperti menunjukkan ketertarikan, bukan tertarik antara perempuan, dan laki-laki, tapi tertarik untuk bersaing.
Baiklah, aku rasa aku sudah membangunkan singa betina yang sedang tidur. Dan kurasa Arina lah singa tersebut. Aku menatap bukuku lagi. Dan fokus belajar.
∆∆∆
Siang hari waktunya makan, makan siang gratis? Bukan. Ini makanan dengan harga terjangkau yang kampus sediakan untuk kami. Hanya sarapan saja yang gratis, dan itu di sediakan oleh asrama.
Ku tatap sekeliling, dan mengedarkan pandanganku. Ku lihat satu titik, dan mendapati apa yang aku cari. Aku menghampiri meja salah seorang gadis cantik yang sudah ku lihat dari tadi.
"Arina Andrews." Ujarku. Arina menoleh ke arah sumber suaraku. Tapi dia masih cuek seperti biasa, dan dia memakan makanannya dengan lahap. Tidak akan ada yang merebut makanannya kan? Kenapa dia seperti takut aku merebutnya?
"Maxim Hazard." Ucap Felicia, kenapa hari ini ada dua orang yang memanggil nama lengkapku sih? "Ambilkan lada!" Titah Felicia.
Dasar kukira dia mau bilang apa. Ternyata hanya minta di ambilkan lada. Ku ambil lada, dan menaruhnya di dekat Felicia, gadis itu berterima kasih dengan senyuman. Ternyata dia sedang makan sup. Sementara Arina sibuk makan roti lapis. Tak lupa dengan es susu di samping nampannya.
"Katanya besok akan ada udang, dan daging. Kita harus lebih dulu ke sini, agar tidak kehabisan." Ujar Arina pada Felicia. Kusimak saja percakapan dua gadis ini.
"Tidak akan kehabisan kan?" Ujar Felicia pada Arina.
"Tidak sih, tapi kalau terlambat nanti dapat yang kecil-kecil." Ujar Arina yang kemudian menyuapkan roti lapis pada mulutnya.
Felicia mengangguk mengerti, dia sepertinya setuju dengan Arina. Apa dua gadis ini takut kehabisan makanan? Jika pria lain mungkin akan berpikir mereka berdua tidak anggun, tapi bagiku Arina imut.
Aku menyuapkan laksa ke dalam mulutku, dan memakannya perlahan. Kemudian tak lama Arina, Felicia, dan aku selesai memakan makanan kami.
Kami kembali ke kelas lagi. Saat sampai di sana Arina langsung duduk di kursi. Aku yang sudah tahu aktifitasnya selama kami berkenalan akhir-akhir ini pun memutuskan duduk di dekatnya, tepat nya di tempat duduk Bella. Tali baru aku hendak duduk, seorang lelaki dengan rambut hitam, bola mata hitam duduk di bangku milik Bella.
"Hai Arina Andrews? Kenalkan aku Jefry." Ujar Pria itu dengan aksen Inggris Australia. Apa dia orang Australia? Kenapa dia mendekati Arina?
"Ya, kamu sudah tahu namaku, salam kenal Jeff, ada perlu apa?" Tanya Arina pada lelaki itu. Dia tampak santai menanggapi pria itu. Dan sepertinya ini familiar. Apa dia akan...
"Aku tertarik padamu, kamu sangat jenius, itu yang aku dengar." Ujar Jefry. "Aku juga memperhatikan kamu selama dua hari ini. Kamu sungguh manis. Mau gak jadian sama aku?" Tanyanya. Sudah kuduga dia juga tertarik pada Arina sama seperti diriku.
Menyebalkan. Apa orang itu tidak tahu siapa aku?
"Maaf Arina sibuk, jangan ganggu." Ujarku pada lelaki itu. Aku sebal sekali dia mendekati Arina.
"Siapa ya?" Ujarnya dengan muka masam.
"Maxim Hazard." Ujarku.
"Maxim Hazard? Maxim Hazard yang itu?" Ternyata dia tahu aku. Baguslah.
Pria itu lari tunggang langgang, dia lari begitu saja, dan meninggalkan aku, dan Arina. Felicia menatap kepergian orang itu dengan heran.
"Kenapa orang yang mendekatimu Arin?" Ujar Felicia pada Arina.
"Entahlah." Ujarnya mengendikkan bahu.
Arina tidak tahu saja jika aku adalah anak orang berpengaruh setidaknya di Singapore.
Maxim pov end...