Ameera, sangat terpukul saat mengetahui suaminya Caleb selingkuh di depan matanya sendiri. senua pengorbanannya selama ini terasa sia-sia.
Ameera tidak bisa merima kenyataan itu dan memilih pergi meninggalkan rumah. meninggalkan Ibu mertua yang sakit. yang menganggapnya tidak lebih dari seorang pembantu.
Saatnya membangun harapan baru, mengejar impian yang selama ini dia hancurkan.
Berhasilkah Ameera meraih mimpi dan cintanya. Apakah Caleb berhasil menemukan istrinya yang minggat dari rumah.
Mohon dukungannya atas cerita ini. Dari awal hingga akhir. Bukan hanya sekedar mampir atau jadi pembaca hantu, tiba-tiba muncul dan tiba menghilang. Tinggalkan jejaknya sebagai tanda cinta buat Emak. Love you untuk kalian semua. Horas!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Bertemu mantan
Ameera merasa sangat canggung, saat harus duduk berdampingan dengan Edgar di kursi penumpang. Berkali-kali otaknya mengirim sinyal ke hatinya supaya bersikap rileks dan santai.
Ini kali pertama dia duduk sedekat itu dengan lawan jenisnya setelah bercerai. Berbeda dengan Richi, karena sikapnya humble, Ameera merasa nyaman dan malah terlindungi.
Berhadapan dengan Edgar, walaupun sudah beberapa kali bertemu. Tetap saja gema jantungnya terasa aneh. Entah sebabnya dimulai dari mana. Sepertinya Edgar juga bersikap yang sama.
Diam-diam Ameera melirik ke sampingnya. Nampak olehnya pria itu memejamkan kedua netranya. Entahlah, apa dia tertidur atau pura-pura. Yang jelas suasana di dalam mobil terasa dingin, ngalahin dinginnya Kutub Utara.
Untuk menetralisir keadaan, Ameera mengalihkan perhatiannya dengan membuka benda pipih yang disimpan di tas slim bagnya.
Belum juga sempat membuka aplikasi berlambang telepon warna hijau. Tiba-tiba mobil berhenti. Richi membunyikan klakson. Sengaja, untuk membangunkan Edgar. Eh, ternyata Edgar memang ketiduran.
"Kita sudah sampai ya. Aduh, aku ketiduran." Edgar gelagapan.
Sinar matanya memang tampak lelah. Mungkin semalaman dia begadang. Monolog hati Ameera.
Richi membukakan pintu untuk Ameera. Edgar menyusul ke luar. Bertiga mereka jalan beriringan. Menyusuri jalan setapak. Menuju lokasi yang biasa ditongkrongi Edgar. Dekat aliran sungai.
Angin berhembus sejuk menyapa mereka saat duduk di kursi. Dengan pemandangan langsung mengarah ke arah sungai. Nun, di bawah sana!
"Masih suka ke mari ya? Tempat ini semakin berbenah ya. Terakhir ke mari lima tahun lalu kalau gak salah." Richi membuka obrolan. Mulutnya tak berhenti berdecak kagum.
"Sudah tidak rutin lagi. Waktuku banyak tersita buat kakek dan pekerjaan." desah Edgar, seraya melayangkan pandangannya ke arah sungai.
"Padahal jaraknya gak jauh dari kantormu, Gar. Cuma dua puluh menitan dah sampai."
"Kalau hari libur, jalanan padat mengular, Bro. Bisa beberapa jam baru nyampe. Saat jam kerja, sudah kejauhan lah, kalau cuma mau makan siang doang."
"Ameera sudah pernah kemari?" Edgar bertanya ke Ameera, karena sedari tadi hanya pendengar setia.
"Baru kali pertama." ungkap Ameera jujur. Terus terang Ameera baru mengetahui tempat ini. Dia mana ada waktu menikmati hari libur selama ini. Mantan suaminya terlalu pelit dan mengabaikannya selama ini.
"Sesekali, bolehlah merencanakan liburan kemari. Viewnya bagus kok. Bisa mencari ilham untuk rancangan disini, iya kan?" saran Edgar lagi.
"Heleh, bilang saja kalau kamu mau ngajak Ame berduaan kemari. Basa-basi." tohok Richi to the point.
"Boleh, kalau Bu Ameeranya gak nolak." sahut Edgar tertantang.
"Siapa takut, iya 'kan Ame?" gelak Richi lagi.
"Dasar! Siapa yang ngajak kamu?" Edgar mengibaskan tangannya ke wajah Richi.
"Hem, beneran aku tidak diundang nih." guyon Richi lagi.
Wajah Ameera berubah mendengar guyonan kedua pri tampan di hadapannya. Sungguh, Ameera merasa terpojok menjadi bahan gosip mereka. Mana Ameera tidak punya sekutu. Dia juga termasuk si introvert. Celah bibirnya sulit mengeluarkan kata-kata sebagai serangan balik. Parah nian. Kenapa hatinya mendadak sekaku ini.
Padahal Richi, selalu melempar umpan balik padanya. Tapi mulutnya selalu serasa terkunci. Karena belum terbiasa ada Edgar di antara mereka.
Bolak-balik wajah Ameera berubah warna. Dari biasa berubah memerah. Entah kenapa pula Edgar suka melihat itu. Serasa dia dibawa pulang pada kenangan berpuluh-puluh tahun lalu. Saat dia masih di bangku kuliah. Atau masih mengenakan seragam putih abu. Tepatnya saat dia merasa jatuh cinta ke seseorang.
Setelah beberapa tahun hidup menduda, perasaan aneh itu hadir lagi. Menelusup relung-relung hatinya. Getarannya masih halus, menyentuh lembut memperdaya sukmanya.
"Buat apa juga ngundang kamu. Ngabisin isi kantong saja." kelakar Edgar.
"Oh, gitu ya. Kalau ngundang Ameera gak hitungan ya. Tega amat sama teman sendiri. Aku mau milih makanan dulu. Kalian ngobrol dulu sesukanya. Perutku sudah ngadain konser sedari tadi." Richi bergegas berdiri. Tanpa melihat gerak Ameera yang enggan ditinggalkan.
Bukannya tidak melihat, Richi memang sengaja meninggalkan Edgar dan Ameera berduaan. Memberi keduanya kesempatan untuk saling berinteraksi. Bagaiamanapun, setelah ini mereka akan menjalin kerjasama dan akan lebih banyak bersama.
Dengan dirinya, Ameera sudah merasa nyaman. Dalam hatinya juga ada niat mau mengerjain sahabatnya itu. Karena selama ini, sejak istrinya meninggal. Edgar menjadi sosok yang dingin terhadap wanita.
Apa salahnya menjodohkan keduanya. Janda dan duda, sama-sama memiliki satu anak perempuan. Klop sudah kan?
Semoga saja keduanya berjodoh. Yang satu cantik dan satunya tampan. Richi tersenyum smirk, membayangkan rencananya bakalan berhasil.
Setelah mengambil lauk kesukaannya, Richi membawa makanannya menuruni anak tangga, menuju sungai. Dia mau makan di bawah saja. Dipinggir sungai, sambil menikmati suasana alam yang asri.
"Yuk, kita ambil makanan juga. Disini sistimnya kita ambil sendiri lauk yg kita suka. Lalu sesuka kita juga mau duduk dan makan dimana." jelas Edgar dan beranjak dari kursi. Diikuti Ameera rada canggung.
Bersamaan dengan itu, entah siapa yang sudah duluan datang ke tempat itu. Ameera dan Caleb bersua saat mau ambil makanan juga. Tapi, melihat dari pakaian Caleb yang basah, sepertinya Caleb sudah duluan berada di tempat itu.
"Ame?" seru Caleb kaget saat melihat Ameera mantan istrinya tengah melangkah menuju dirinya. Tidak mungkin menghindar saat ini. Bagaiamana mantan istrinya sampai ke tempat ini? Dan siapa pria yang tengah bersamanya. Tatapan lembut serta sikap santun pria itu, seolah tamparan keras di wajah Caleb. Dari gesturnya, Caleb bisa menilai kalau pria itu, sepertinya tengah PDKT pada Ameera.
Ada denting cemburu bergema di hati Caleb. Terlebih saat melihat keduanya berjalan bersisian dan sesekali lengan mereka bersentuhan. Ameera nampak malu-malu saat menyahut setiap ucapan Edgar, ketika menawarkan menu.
Tiba saat Ameera agak menjauh dari Edgar, karena memilih jenis sayur. Caleb mendekat ke arahnya. Tanpa Ameera menyadari kalau Caleb berada di tempat yang sama dengannya saat ini.
"Siapa pria itu?" bisik Caleb lirih di sisi Ameera. Ameera menoleh cepat ke arah sumber suara. Kaget melihat mantan suaminya ada di tempat yang sama dengannya saat ini. Ameera mencari sosok Edgar. Edgar sendiri berada di ujung tempat ia berdiri.
"Apa urusanmu siapa dia." ucap Ameera sinis menanggapi pertanyaan Caleb. Caleb mendengus, tidak menyukai jawaban sinis itu.
"Tapi tidak mungkin dia pacarmu kan. Ayolah Ame, kamu jujur saja. Aku tau kamu tidak akan semudah itu melupakanku. Kita mulai lagi dari nol. Aku berjanji berubah Ame." bujuk Caleb lembut.
"Hem, kamu tau tidak. Aku mual mendengar ucapan mu itu." sahut Ame, berusaha keluar karena dia sedang terpojok dan celah satu-satunya harus melewati Caleb. Sementara Caleb tidak bergeser supaya Ameera bisa lewat. Malah memamfaatkan situasi, membuat Ameera semakin tersudut. ***