Franceska wanita cerdas berpendidikan tinggi, berparas cantik dan berprofesi sebagai guru matematika. Suatu kombinasi yang melengkapi penampilannya yang good looking, cemerlang dan bersinar dari keluarga sederhana.
Prestasi akademik, serta kecerdasannya mengola waktu dan kesempatan, menghentarkan dia pada kesuksesan di usia muda.
Suatu hari dia mengalami kecelakaan mobil, hingga membuatnya koma. Namun hidupnya tidak berakhir di ruang ICU. Dia menjalani penglihatan dan petualangan dengan identitas baru, yang menghatarkan dia pada arti kehidupan sesungguhnya.
》Apa yang terjadi dengan Franceska di dunia petualangannya?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Petualangan Wanita Berduri."
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. PWB
...~•Happy Reading•~...
Ceska membiarkan Hernita mengutarakan yang ada di hatinya. Dia bisa merasakan kesedihan yang dalam, karena dadanya bagaikan gelombang laut yang terus bergulung.
Hernita memeluk guling erat. 'Mah, apa lagi sekarang setelah Papah diPHK dan setiap hari kerja bawa ojol. Nita berharap Papah bisa bangga punya anak seperti Nita.' Hernita berbicara di hati dengan suara bergetar, sambil berusaha menahan tangis.
'Nita sekarang dapat beasiswa, dan belajar di sekolah terkenal dan bagus, Mah. Nita berharap, bukan bisa dapat beasiswa saja, tapi bisa dapat hadiah uang dari kompetisi itu buat bantu Papah.' Hernita mencurahkan rasa hatinya yang sejak lama ditahan sendiri, sambil berurai air mata.
Ceska ingin sekali mengelus kepala Hernita. 'Nita, tadi Mamah bilang, semuanya belum selesai. memang belum selesai.'
'Nita harus semangat dan terus berharap, kita akan temukan jalan keluar yang baik. Kau pasti akan bisa ikut kompetisi itu.'
'Masih bisa Mah?' Hernita menghapus air mata di pipi dengan tangan.
'Bisa, asal Nita tidak putus asah. Berhenti menangis, supaya Papah tidak bertanya dan jadi khawatir melihatmu.'
'Sekarang mandi, lalu kerjakan tugasmu di rumah. Besok masuk sekolah seperti biasa.' Ceska menyemangati
'Iya, Mah.' Hernita jadi bersemangat. Dia meletakan guling perlahan, seakan dia sedang meletakan Mamahnya di atas tempat tidur.
...~▪︎▪︎~...
Di sisi lain ; Sebelum Hernita pulang dari sekolah. Pak Murai tertegun di papan pengumuman setelah membaca dua nama peserta utusan sekolah untuk ikut kompetisi. Kemudian melihat punggung Hernita berjalan di lorong meninggalkan sekolah dengan hati tergores.
"Ada apa Mas?" Tanya Ibu Yeni yang sedang mencari dan melihat Pak Murai berdiri diam sambil memandang ke satu arah.
Pak Murai menengok. "Kau sudah tahu pengumuman ini?" Tanya Pak Murai sambil menunjuk papan pengumuman.
Ibu Yeni menggeleng. "Sangat cepat, ya. Pantesan lorong ini cepat sepi." Komentar Ibu Yeni setelah membaca pengumuman nama peserta.
"Itu yang ada di pikiranku. Lihat Nita itu." Pak Murai menunjuk Hernita dengan wajahnya.
"Kasihan dia. Memiliki banyak kemampuan dan kecerdasan, kalah sama orang yang berduit."
"Itu dia, kasihan. Maaf, makan ice cream batal lagi. Hati dan pikiranku tidak bisa nikmati ice cream dengan gembira lihat ketidak adilan ini." Ucap Pak Murai pelan.
"Bisa tunggu sebentar? Aku mau bicara dengan kepala sekolah. Mengapa sangat tidak berdaya perjuangkan anak didiknya yang berprestasi cemerlang."
"Jangan sekarang Mas. Ibu wakil ada di dalam. Jangan sampai Mas bikin dia tersenyum senang. Dia sedang menunggu, reaksi guru dan kepala sekolah." Ibu Yeni mencegah, karena tahu Ibu Sance belum pulang dan masih duduk di ruang guru.
"Kalau begitu, mari kita pulang. Lainnya kita bicara di mobil sebelum aku bicara dengan kepala sekolah." Pak Murai berjalan cepat masuk ke ruang guru dan diikuti oleh Ibu Yeni.
...~▪︎▪︎~...
Di sisi lain ; Lenox dan Juke berjalan ke tempat parkir di mana sudah ada sopir menjemput. "Lenox, Niclas ke mana? Apa sudah pulang?" Tanya Juke yang tidak melihat Niclas setelah baca pengumuman di lorong.
"Iya, ya. Kemana dia?" Tanya Lenox sambil mencari. "Juke, Lu yang kasih tau Mamamu tentang persoalan dengan Hernita?"
"Ngga. Gue kira Lu yang kasih tahu. Dari mana mereka tahu?"
"Ngga tau. Apa memang hanya dua orang peserta?" Lenox melihat Juke.
"Mungkin. Jadi ngga enak sama Niclas."
"Udah'lah, pulang dulu sebelum yang lain tanya." Lenox segera naik ke mobil, karena para siswa mulai berdatangan ke tempat parkir.
...~▪︎▪︎~...
Ke esokan hari ; Hernita tiba di depan gerbang sekolah seperti biasa. Dia diantar Papahnya yang belum pakai jaket kebesaran ojol.
Papahnya sengaja lakukan itu agar putrinya tidak dipandang rendah atau dirundung oleh teman-temannya, karena pekerjaannya dibanding dengan orang tua murid lain yang sekolah di SMA Pelita.
"Kalau perlu Papah jemput, kasih tahu, ya. Jangan naik angkot terus." Ucap Papahnya saat Hernita salim.
"Iya, Pah. Hati-hati." Ucap Hernita dengan wajah riang. Dia tidak menunjukan sedang terjadi gejolak bahkan masalah di sekolah yang akan berdampak padanya.
Hernita berjalan cepat melewati halaman sekolah, seakan tidak terjadi sesuatu di hari kemarin. Dia berusaha melupakan yang terjadi, karena Mamahnya terus berbicara mengingatkan.
Ketika masuk ke dalam kelas, dia terkejut melihat teman-teman yang sudah ada di kelas unggulan jadi diam dan heran melihatnya. Mereka tidak menyangka Hernita akan masuk sekolah setelah mengetahui dia telah disingkirkan dari peserta.
"Tumben sudah masuk Sarah." Sapa Hernita pada Sarah yang duduk di dekatnya.
"Tadi jalanan lancar. Kau tidak apa-apa?" Sarah heran dengan keceriaan Hernita, seakan kemarin tidak alami kejadian mengenaskan.
"Apa aku harus apa a pa...." Ucapan Hernita terputus, saat Lenox berdiri di depannya bersama Juke.
'Nita, diam.' Ceska melarang, karena melihat aura buruk yang dipancarkan Lenox dan Juke.
"Hei, kau apakan dada kami?" Bentak Lenox sambil memukul meja Hernita, karena bekas telapak tangan Ceska tidak hilang di dadanya.
"Aduh, bikin kaget saja." Bentak Ceska dan dengan cepat memukul meja di mana tangan Lenox belum diangkat. Lenox menarik tangan sambil meringis kesakitan dan mengibaskan untuk menghilangkan rasa sakit.
"Sorry, refleks. Lagian pagi-pagi bikin kaget." Ucap Ceska cuek. Lalu mengeluarkan buku dari tas, seakan tidak tahu tangan Lenox sedang sakit.
Juke yang berdiri di tidak jauh, jadi tercengang melihat reaksi Lenox sambil mengusap tangan. "Hei, Lu apain tangan Lenox?"
"Kau tidak lihat yang terjadi tadi? Mau coba rasanya?" Ceska menatap Juke, galak.
"Ada apa ini? Mengapa ribut-ribut?" Tanya Ibu Sance yang sudah masuk kelas untuk mengajar.
"Ini Bu. Dia bikin ulah lagi. Pukul tangan Lenox..." Juke mengadu sambil menunjuk Hernita.
"Herinta, kau masih masuk ke sekolah ini?" Ibu Sance terkejut melihat Hernita menatap marah pada Juke dan Lenox.
"Apa saya dikeluarkan juga dari sekolah, Bu?" Tanya Ceska dengan suara lantang. Suasana kelas langsung sunyi mendengar Hernita berani menantang wakil kepala sekolah.
"Seharusnya, kau tahu diri, kalau sudah dikeluarkan dari peserta dikeluarkan ju...."
Ceska mengangkat tangan untuk menghentikan. "Kenapa Ibu tidak sekalian cantumkan itu di papan pengumuman kemarin? Saya bukan guru, hingga bisa menterjemahkan yang tersirat." Ceska menjawab cuek dan santai.
Ceska memasukan kembali buku ke dalam ransel. Hal itu membuat wakil kepala sekolah dan para murid lain tercengang.
Ceska melihat ke semua siswa. "Maaf semua. Saya salah masuk sekolah." Ceska mengangkat tangan.
Ceska menurunkan tangan dan menatap tajam ke satu arah. "Lenox dan Juke, kalau mau ajak duel, cari lawan yang segender. Jangan malu-maluin gendermu." Lenox dan Juke langsung mematung.
"Ini saya kasih rok, supaya bertarung yang adil dan seimbang." Ceska melepaskan rok dan lempar ke arah Lenox dan Juke.
Semua orang dalam kelas menahan nafas melihat perubahan wajah Lenox, Juke dan wakil kepala sekolah.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~•○¤○•~...