NovelToon NovelToon
Lies Of Marriage

Lies Of Marriage

Status: tamat
Genre:Konflik etika / Selingkuh / Pelakor / Romansa / POV Pelakor / Pihak Ketiga / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Poporing

Liana adalah seorang wanita yang paling berbahagia karena ia bisa menikah dengan lelaki pujaannya, Yudistira. Hidupnya lengkap dengan fasilitas, suami mapan dan sahabat yang selalu ada untuknya, juga orang tua yang selalu mendukung.
Namun, apa yang terjadi kalau pernikahan itu harus terancam bubar saat Liana mengetahui kalau sang suami bermain api dengan sahabat baiknya, Tiara. Lebih menyakitkan lagi dia tahu Tiara ternyata hamil, sama seperti dirinya.
Tapi Yudistira sama sekali tak bergeming dan mengatakan semua adalah kebohongan dan dia lelah berpura-pura mencintai Liana.
Apa yang akan dilakukan oleh Liana ketika terjebak dalam pengkhianatan besar ini?

"Aku gak pernah cinta sama kamu! Orang yang aku cintai adalah Tiara!"

"Kenapa kalian bohong kepadaku?"

"Na, maaf tapi kami takut kamu akan...."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35 : Kejadian tak terduga

Keesokan harinya Yudis berangkat ke kantor dari rumahnya Tiara, ya rumah mereka. Dia sudah bertekad akan menjalani kehidupan normalnya kembali lepas dari semua panggung sandiwara yang selama ini sudah ia mainkan selama satu tahun.

"Ra, aku pergi dulu ya, kamu di rumah hati-hati," ucap pria itu sebelum berangkat dan sempat memberi peringatan kepada Tiara. "Nanti aku bakal pulang cepat, ini hari terakhir bekerja di sana," sambungnya yang sudah membuat keputusan bulat.

"Kamu yakin, Mas?" Tiara tampaknya sedikit mencemaskan Yudis.

"Ya, kamu gak usah khawatir ya...," ucap Yudis memberi tatapan sayang pada satu-satunya wanita yang ia cintai. "Setelah ini kita akan pergi ke kampung orang tua kamu, jauh dari Liana," imbuhnya sambil membelai lembut wajah Tiara.

Tiara tiba-tiba saja memeluk Yudis dengan sangat erat dan berkata, "aku yakin kita akan baik-baik saja dan dapat mengakhiri ini semua tanpa ada pihak yang terluka."

"Iya, Ra..., doakan saja...," balas pria itu dan langsung mengusap lembut rambut Tiara yang panjang. "Aku pergi dulu ya...." Kemudian pria itu mengecup kening Tiara lalu pergi.

Tiara berdiri di ambang pintu, tersenyum tipis dan melambaikan tangan. Namun, saat itu Tiara gak tau kalau sebentar lagi akan datang badai berbahaya ke arahnya.

.

.

Tepat beberapa saat setelah Yudis pergi, Liana yang sebenarnya sudah datang dan mengawasi sejak pagi. Ia memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu gerbang rumah itu tanpa diketahui oleh sang pemilik, lalu menyelinap masuk.

Ia berlari pelan sambil melihat ke arah kiri dan kanan untuk memastikan gak ada satu orang pun yang melihat kedatangannya. Lalu, pelan-pelan ia membuka pintu pagar yang tidak terkunci. Tiara memang tak mengunci karena biasanya pembantu yang akan mengurus rumah selalu datang pagi agar memudahkannya langsung masuk kalau Tiara sedang ada di kamar mandi atau dapur.

Namun, saat itu suara pintu pagar itu berbunyi sedikit. Tiara yang mendengar hanya mengira kalau sang ART sudah datang.

"Masuk Bi, langsung cuci sayur ya, saya mau ke kamar mandi," ucapnya berteriak agak lantang tanpa menoleh.

Tapi begitu membalikkan tubuh, Tiara terkejut karena yang datang adalah Liana. Reflek ia bergerak mundur, wajahnya berubah pucat.

"Li-Liana...? Kok, kamu bisa ada di sini...? Bagaimana kamu bisa tau kalau..., aku ada di sini...?" Ucapannya langsung terbata-bata.

"Tentu aku tau, Tiara..., kenapa? Kamu gak suka aku datang berkunjung...?" Liana tersenyum sinis dan berjalan mendekati Tiara yang masih ada di dapur, memblokir akses wanita itu untuk keluar.

"Umm, duduk dulu, An..., ka-kamu mau minum apa?" Tiara mencoba untuk berkompromi halus.

"Oh gak usah repot, ngomong-ngomong, Yudis tadi kemari 'kan? Kalian udah bersama lagi, huh?" Tatapan Liana semakin intens dan membuat Tiara merasa jadi tak nyaman.

"I-iya, An..., Ma-Mas Yudis u-udah balik tinggal lagi sama aku...," jawab Tiara dengan jujur tanpa menutupi apapun lagi kali ini.

"Enak ya, Ra? Kamu bisa hidup damai berdua sama Mas Yudis, dan kayaknya kamu mulai berani majang foto pernikahan kalian di depan," ujar Liana setengah menyindir. Ia melirik sedikit ke arah belakang, di mana foto pernikahan Yudis dan Tiara terpampang pada tembok ruangan tamu.

"Kenapa harus takut? Foto pernikahan itu bukti kami menikah sah," balas Tiara sedikit terprovokasi karena Liana bicara seolah memasang foto resmi itu seperti sebuah dosa yang tak termaafkan. Padahal dia dan Yudis resmi menikah dan dirinya gak pernah merebut siapapun sejak awal.

"Oh, kamu mau unjuk gigi sebagai pemenang." Liana tersinggung. Sepertinya ia salah menangkal dari respon Tiara.

"Apaan sih kamu, An? Kamu sebenarnya kemari mau apa?" Tanya Tiara langsung frontal.

"Aku mau menghukum kamu sebagai pengkhianat! Kamu munafik Ra! Kamu ternyata diam-diam suka sama Yudis, padahal aku yang lebih duluan dekat dan kenal sama dia!" Liana mengambil sebuah pisau kecil dari balik tasnya.

"An, kamu jangan macam-macam!" Tiara melotot saat menyadari benda apa yang dikeluarkan oleh Liana dan sekarang berada dalam genggamannya.

Wanita itu terpojok karena satu-satunya pintu keluar terhalangi oleh Liana. Namun, untungnya sang ART datang tepat waktu dan melihat kejadian tersebut.

"Ya ampun, Bu! Ibu Tiara!" Wanita berusia paruh baya itu menjerit histeris saat melihat Liana yang memegang pisau. "Kamu siapa!? Jangan macam-macam atau saya teriak biar kamu digerebek!" Ia pun langsung mengancam Liana, bersiap untuk berlari keluar.

"Kamu jangan ikut campur ya!" Liana berbalik arah dan melotot tajam ke arah wanita tua itu sambil mengacungkan pisau sebagai ancaman.

"Saya gak takut! Saya bakal teriak ke depan!" Ujarnya dan langsung berlari keluar rumah dengan cepat.

"Sialan kamu!" Liana mengumpat dan niat mengejar tapi gerakannya tertahan karena Tiara tiba-tiba merintih.

"Ah, aduh..., A-An, tolong...!" Ya, Tiara merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya dan secara reflek meminta pertolongan Liana.

Liana menoleh, melihat ke arah Tiara dan ia menyadari sesuatu. Ada air yang keluar dari kedua kaki wanita itu.

"An, tolong..., kayaknya aku bakal melahirkan...!" Ujar Tiara dengan suara lemas dan perlahan tubuhnya merosot jatuh hingga ia terduduk di bawah sambil bersandar pada kaki bangku.

Sementara di depan orang-orang berdatangan karena mendengar suara permintaan tolong. Mereka berbondong-bondong datang, memasuki rumah Tiara.

Di dalam mereka mendapati Tiara yang sedang kesakitan dengan wanita lain berjongkok di sebelahnya.

"Ada apa ini? Apa yang kamu lakukan sama Mbak Tiara!?"

Orang-orang itu tampak marah dan bersiap melakukan eksekusi kepada Liana. Tapi Liana dengan tegas berteriak kepada mereka.

"Kalian enggak lihat dia mau melahirkan!? Cepat bawa ke mobil dan antar ke rumah sakit!" Ujarnya memarahi semua orang yang bahkan tidak peka melihat keadaan Tiara.

Spontan para lelaki yang datang langsung bergerak membantu. Awalnya mereka mencoba membantu Tiara berdiri, tapi tubuh wanita itu terlalu lemah, hingga mau gak mau tubuhnya harus dibopong oleh tiga orang.

"Masukkan dia ke dalam mobil saya!" Perintah Liana yang kemudian ia segera berlari keluar, membuka pintu mobil belakangnya.

Saat itu Tiara sudah hampir tak sadarkan diri. Ia hanya bisa mendengar suara orang-orang yang panik, juga Liana yang sepertinya ikutan khawatir. Samar, ia tersenyum....

Akhirnya Liana masuk ke dalam mobil, Tiara terbaring di bangku belakang dengan ditemani oleh beberapa wanita di sekitar perumahan itu.

"Kita ke rumah sakit sekarang," ucapnya sambil tancap gas karena kebetulan mobilnya memang langsung terparkir di depan gerbang.

Sementara sang ART langsung menelepon Yudis dan memberikan kabar kalau Tiara dibawa ke rumah sakit karena mau melahirkan.

"Tiara melahirkan!?" Ujar Yudis panik, karena pasalnya hari kelahiran itu seharusnya masih 2 minggu lagi. "Kok bisa, apa yang terjadi, Bi?" Tanyanya curiga.

"Mbok juga gak ngerti, tapi ini darurat dan katanya, Bapak disuruh telepon orang yang bernama Liana."

Rahang Yudis langsung mengeras saat mendengar pernyataan dari sang ART.

"Ya udah, Mbok saya akan langsung susul ke sana, makasih."

Telepon dimatikan, Yudis terdiam dengan hati gelisah. "Liana! Kamu melakukan apa lagi kepada Tiara?"

Apa yang akan terjadi setelah ini. Apa Tiara dapat melahirkan dengan lancar dan anaknya selamat?

1
sutiasih kasih
jgn lm" hmpaskn para pnghianat....
semakin cpt... semakin baik untuk kewarasan mentalmu liana....
beri mereka hadiah terakhir yg tak akn prnah mereka lupakan.... dan akn mnjadi penyesalan seumur hidup untuk laki" bodoh sprti yudis...
Panda: siapkan jiwa raga kak

makasih sudah mampir
total 1 replies
sutiasih kasih
klo km ngotot cerai.... setidaknya punya lah hrga diri yudis.... srcara sadar keluar dri zona nyamanmu slm ini yg mmberimu ketenaran karir...
dan saat nanti trbukti liana memang hamil.... jgn lgi ada kta mnyesal yg berujung mngusik ketenangan hidup liana dan anknya....🙄🙄
dan untuk liana.... brhenti jdi perempuan bodoh jdi jdi pngemis cinta dri laki" yg g punya hati jga otak...
jgn km sia"kn air matamu untuk mnangisi yudis sialan itu..
sutiasih kasih
knapa km msih mau prtahanin laki" macam yudis....
sdh tau km tak prnah di anggp.... bhkn km matpun yudis g akn sedih liana....
justru klo yudis km buang.... yg bkalan hidup susah itu dia dan gundiknya...
yudis manusia tak tau diri.... g mau lepasin km krna dia butuh materi untuk kelangsungan hidup gundik dan calon anaknya...
jdi... jgn lm" untuk mmbuang kuman pnyakit...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!