"Jika aku bisa memiliki keduanya kenapa aku harus memilih salah satu saja." Alkama Basri Widjaya.
"Cinta bukanlah yang kamu butuhkan, pilih saja ambisimu yang kamu perjuangkan mati-matian." Nirmala Janeeta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dyawrite99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Setelah makan malam yang tidak menyenangkan karena bertemu ayah Kama yang tidak menyukai Nirmala, mereka berdua kembali ke apartemen Nirmala. Ada perasaan tidak nyaman dan sedih yang Nirmala rasakan setelah pertemuan dengan tuna Baskara. Perasaan tertolak Nirmala sudah ia rasakan sejak dulu, ia tahu ayah Kama tidak menyukai dirinya.
Kama memegang tangan Nirmala dan menariknya ke dalam pelukan. "Hey, aku tahu kamu sedih, tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku tidak peduli dengan pendapat ayahku," kata Kama dengan lembut. "Aku mencintaimu, sayang, dan aku akan selalu bersamamu, apa pun yang terjadi."
Nirmala mencoba menampilkan senyum mendengar kata-kata Kama, tapi wajahnya masih terlihat muram. Kama lalu memegang wajah Nirmala dan menatap matanya dengan dalam. "Aku serius, sayang. Kamu adalah orang yang paling penting bagi aku, dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku pastikan itu sama kamu, hm."
Nirmala merasa hatinya selalu percaya pada kata-kata Kama, dan dia tidak bisa menahan air matanya lagi. Perasaan tertolak itu tetap ada. Kama langsung memeluknya erat dan membiarkannya menangis. Setelah beberapa saat, Kama membawanya ke sofa dan mereka berdua duduk bersama.
Kama mulai mencium kening Nirmala begitu dalam. "Aku cinta kamu. Bahkan semua akan aku lakukan untuk kamu. Jadi jangan pernah merasa bahwa kamu sendiri. Ada aku sayang," Kama lalu memberi kecupan di pipi, dan berakhir di bibir Nirmala.
Nirmala memasrahkan semua perasaannya pada sentuhan Kama. Ia percayakan semua alur cinta mereka. Mau menyerah tentu Nirmala tak sanggup. Ada begitu banyak kenangan yang mereka ukir hingga sampai saat ini.
Mereka berdua saling bercumbu di sofa, dengan Kama yang terus menenangkan Nirmala lewat sentuhan yang membuat Nirmala merasa begitu dicintai.
Setelah beberapa saat, Nirmala merasa dirinya sudah tidak bisa menahan diri lagi, dan dia menyerah pada perasaan cintanya pada Kama. Mereka berdua duduk di sofa, saling memeluk dan menikmati kehangatan masing-masing. Tubuh keduanya rebah dan saling menyatu hingga benih cinta keduanya saling membasahi keduanya.
Kama membuka pintu rumah dan terkejut melihat Baskara sudah menunggu di ruang tamu. Ayahnya terlihat serius dan sedikit curiga.
"Kama, aku ingin bicara denganmu tentang sesuatu," kata ayahnya dengan nada yang serius.
Kama sudah bisa menduga apa yang akan dibicarakan oleh ayahnya. "Hal penting apa sehingga Anda meluangkan waktu mampir ke sini?" tanya Kama dengan nada yang santai, ia duduk berhadapan dengan Baskara.
Baskara memandang Kama dengan tajam. "Aku sudah mendengar tentang hubunganmu dengan perempuan itu. Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Baskara dengan nada yang curiga.
Kama merasa terusik dengan pertanyaan ayahnya. "Tidak ada apa-apa," kata Kama dengan nada yang biasa, seolah memang hubungan mereka bukan apa apa.
Baskara tidak percaya dengan kata-kata Kama. "Baiklah, aku tidak akan mencoba peduli dengan perempuan itu, namun jika ada hal yang menghambat kinerja dan rencana yang ada, maka kau tahu apa yang bisa aku lakukan. Tetap fokuslah pada rencana pertunanganmu dengan Juwita," kata ayahnya dengan nada yang tegas.
Kama merasa sedikit kesal dengan ayahnya yang memberi peringatan walau tidak secara gamblang. "Tenang saja, kita mempunyai rencana yang sama. Aku tidak akan mengkhianatinya," kata Kama dengan nada yang meyakinkan.
Ayahnya memandang Kama dengan serius. "Baik, Aku hanya ingin memastikan bahwa kamu fokus pada rencana pertunanganmu dengan Juwita. Jangan ada gangguan lain," ujar Baskara dengan nada yang tegas. Baskara meninggalkan Kamar yang menahan kekesalan sedari tadi.
***
Kama dan Juwita duduk di ruang pertemuan kantor, membahas proyek baru yang akan mereka jalankan bersama. Intensitas pertemuan mereka semakin sering karena urusan pekerjaan keduanya.
"Aku rasa kita harus fokus pada target penjualan yang tinggi," kata Juwita dengan nada yang profesional.
Kama setuju dengan pendapat Juwita. "Aku juga berpikir demikian. Kita harus memastikan bahwa proyek ini sukses," kata Kama dengan nada yang sama-sama profesional.
Setelah pertemuan, Kama dan Juwita berjalan keluar dari ruang pertemuan. "Aku senang kita bisa bekerja sama dengan baik," kata Juwita dengan senyum.
Kama tersenyum kembali. "Aku juga senang. Kita membuat tim yang baik," kata Kama.
Pertemuan mereka semakin sering membuat mereka semakin dekat dan akrab.
Intensitas pertemuan Kama dan Juwita tidak hanya terjadi di kantor, melainkan juga berlanjut setelah jam kerja usai.
Juwita dan Kama pergi berdua ke sebuah kafe yang trendy di kota. Mereka duduk di pojok yang sepi, menikmati secangkir kopi dan obrolan yang santai.
Juwita tersenyum manis kepada Kama, "Aku senang kita bisa menghabiskan waktu bersama seperti ini. Aku merasa kita semakin dekat."
Kama tersenyum kembali, tapi dia tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa dia sedang berbohong pada dirinya sendiri dan pada Juwita. Dia tahu bahwa dia tidak bisa memberikan Juwita apa yang dia inginkan, karena hatinya sudah dimiliki oleh Nirmala.
"Aku juga senang, Juwita. Bersama kamu adalah salah satu moment terbaikku," kata Kama, mencoba untuk menjadi romantis.
Juwita tersenyum senang, "Aku berharap kita bisa terus memiliki momen seperti saat ini."
Di tempat lain Nirmala merasa sedih dan kesepian ketika Kama jarang mengunjungi apartemen mereka. Mereka hanya kadang berkirim pesan singkat, dan Nirmala merasa bahwa hubungan mereka semakin jauh.
Nirmala berharap Kama bisa lebih sering menghabiskan waktu dengannya, tapi Kama selalu memberikan alasan tentang kesibukan pekerjaannya.
"Aku rindu kamu, Kama," kata Nirmala seraya memandang ruang pesan diantara mereka lewat ponselnya.
Tapi hari-hari berlalu, dan Kama tidak kunjung mengunjungi Nirmala. Nirmala merasa semakin sedih dan kesepian, tidak tahu apa yang harus dilakukan di hari-hari kosong tanpa Kama.
Nirmala mencoba untuk tetap positif dan menyemangati dirinya sendiri. Dia yakin bahwa Kama sibuk dengan pekerjaannya dan tidak ada yang salah dengan hubungan mereka.
"Aku percaya kamu Kama, dia pasti sibuk dengan pekerjaannya dan tidak ada yang salah," kata Nirmala dalam hati.
Nirmala mencoba untuk fokus pada kegiatan lainnya, ia fokus pada pekerjaannya, untuk mengalihkan pikirannya dari perasaan sedih dan khawatir tentang Kama.
Tapi meskipun dia mencoba untuk tetap positif, entah mengapa Nirmala memiliki perasaan bahwa ada yang tidak beres dengan hubungan mereka. Dia berharap Kama bisa segera menghubungi dirinya dan membuat semuanya kembali normal.
Kama memang sangat sibuk dengan pekerjaannya, terutama dengan proyek besar yang sedang dia tangani. Dia harus bekerja lembur dan memenuhi deadline yang ketat.
Kama merasa stres dan lelah, tapi dia tahu bahwa dia harus menyelesaikan proyek ini dengan baik untuk kemajuan karirnya.
Karena kesibukan ini, Kama memang jarang memiliki waktu untuk Nirmala, dan komunikasi mereka menjadi tidak seaktif sebelumnya.
Tapi Kama tidak menyadari bahwa kesibukannya ini juga berdampak pada perasaan Nirmala, yang merasa semakin jauh dan tidak dihiraukan.