Satu malam yang tak pernah ia inginkan mengubah seluruh hidup Serene Avila. Terbangun di samping pria asing, ia memilih kabur tanpa menoleh—tak tahu bahwa pria itu adalah Raiden Varendra, konglomerat muda yang bisa mengguncang seluruh kota hanya dengan satu perintah. Dua bulan kemudian, Serene hamil… kembar. Di tengah panik dan putus asa, ia memutuskan mengakhiri kehamilan itu. Hingga pintu rumah sakit terbuka, dan pria yang pernah ia tinggalkan muncul dengan tatapan membelenggu.
“Kau tidak akan menyentuh anak-anakku. Mulai sekarang, kau ikut aku!”
Sejak saat itu, hidup Serene tak lagi sama.
Dan ia sadar, kabur dari seorang konglomerat adalah keputusan terburuk yang pernah ia buat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indriani_LeeJeeAe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 > Ketika Do'a Menjadi Senjata Terakhir
Bip... bip... bip... BIP!
Suara alarm di ruang NICU memekakkan telinga. Lampu indikator berubah merah, menyala berkedip seperti peringatan darurat yang tak mengenal belas kasihan. Raiden Varendra berdiri tepat di samping inkubator, wajahnya tegang, napasnya tertahan. Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus memerintah apa.
Tidak ada pasukan yang bisa ia kerahkan. Tidak ada uang yang bisa ia lemparkan. Tidak ada musuh yang bisa ia hancurkan. Hanya ada satu hal di hadapannya... seorang bayi mungil yang berjuang hidup.
“Tekanan oksigen turun!” seru seorang perawat.
“Siapkan ventilasi manual!”
Dokter neonatologi bergerak cepat, tangan mereka cekatan namun wajah mereka tak bisa menyembunyikan ketegangan. Tubuh kecil itu tampak begitu rapuh di balik kaca inkubator, dadanya naik turun tak beraturan. Raiden mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. Kukunya menancap ke telapak, namun ia tak merasakan sakit itu.
“Apa yang terjadi?” suaranya parau.
Dokter menoleh cepat. “Paru-parunya kolaps sebagian. Kami menduga ada komplikasi akibat stres berat saat dalam kandungan.”
Stres?
Kata itu menusuk Raiden lebih dalam dari pada peluru. Serene. Serangan, kebakaran, pelarian. Semua itu… dialami istrinya saat mengandung anak-anaknya. Raiden menutup mata sesaat, rahangnya mengeras.
“Selamatkan dia,” katanya tegas, nyaris memohon. “Apa pun yang dibutuhkan.”
Dokter menatapnya dalam. “Kami akan berusaha. Tapi Anda harus siap dengan segala kemungkinan.”
Raiden membuka mata. Tatapannya gelap. “Aku tidak menerima kemungkinan buruk,” katanya dingin. “Tidak untuk anakku.”
Sedangkan di kamar perawatan intensif, Serene terbangun dengan jantung berdebar kencang. Ia terengah, seolah baru saja ditarik dari mimpi buruk yang terlalu nyata. Tangannya refleks bergerak ke perutnya yang kini terasa kosong. “Raiden…” bisiknya panik.
Pintu kamar terbuka cepat. Seorang perawat masuk. “Bu Serene, tenang. Anda baru sadar.”
“Anakku,” Serene mencoba bangkit, namun tubuhnya terlalu lemah. “Aku merasakan sesuatu yang tidak baik. Tolong… anakku…”
Perawat itu ragu sejenak, lalu berkata jujur. “Salah satu bayi Anda sedang kritis.”
Wajah Serene langsung memucat. “Tidak…” air matanya jatuh. “Aku ingin melihatnya. Tolong.”
“Tapi kondisi Anda-”
“Aku mohon,” suara Serene bergetar. “Aku ibunya.”
Keheningan singkat. Akhirnya, perawat itu mengangguk. “Baik. Tapi hanya sebentar.”
Serene dibantu duduk di kursi roda. Setiap gerakan membuat tubuhnya nyeri, namun rasa sakit itu tak sebanding dengan kecemasan yang mencengkeram dadanya. Lorong menuju NICU terasa terlalu panjang.
Terlalu sunyi.
Saat pintu terbuka, suara alarm langsung menyambutnya. Dan ia melihat Raiden. Pria itu berdiri kaku di depan inkubator, punggungnya tegap namun bahunya menegang, seolah ia sedang menahan beban dunia. “Raiden…” panggil Serene lirih.
Raiden menoleh. Saat mata mereka bertemu, sesuatu di wajah Raiden runtuh. Ia segera menghampiri Serene, berlutut di hadapannya tanpa peduli siapa yang melihat. “Kau seharusnya tidak di sini,” katanya pelan.
“Aku ibunya,” jawab Serene tegas meski air matanya mengalir. “Aku harus di sini.”
Raiden mengangguk, lalu membimbing kursi roda itu mendekat ke inkubator. Serene menatap bayi mungil itu. Hatinya hancur. Benar-benar hancur.
“Maafkan Mama…” isaknya. “Maafkan aku…”
Raiden menggenggam tangannya erat. “Jangan menyerah,” bisiknya pada bayi itu. “Dengarkan suara ibumu.”
Serene mendekatkan wajahnya ke kaca. “Sayang… bertahanlah. Mama dan Papa ada di sini. Kami menunggumu…”
Detak jantung di monitor berfluktuasi. Semua orang menahan napas. Untuk sesaat... seolah waktu berhenti. Lalu-
Bip… bip… bip…
Detaknya melambat. Raiden dan Serene saling menatap. Ketakutan yang sama. Kemudian Dokter mengangkat tangan.
“Kita harus melakukan tindakan sekarang.”
Serene mencengkeram lengan Raiden. “Tolong…”
Raiden menunduk, mencium kening Serene dengan lembut. “Aku di sini. Apa pun yang terjadi.”
Pintu NICU tertutup. Serene hanya bisa menangis dalam pelukan Raiden. Sementara di tempat lain, jauh dari rumah sakit, suasana dingin menyelimuti sebuah ruang rapat mewah. Seorang pria duduk santai di kursi kulit, jemarinya mengetuk meja perlahan. Wajahnya tenang, bahkan terlalu tenang.
“Bagaimana kabarnya?” tanyanya ringan.
Seorang pria lain menjawab dengan gugup, “Bayi Varendra dalam kondisi kritis.”
Senyum tipis terukir di bibir pria itu. “Bagus.”
Ia menoleh ke layar besar di dinding yang menampilkan foto Serene, Raiden, dan rumah sakit tempat mereka berada. “Tekanan emosional adalah senjata paling efektif,” katanya. “Bahkan raja pun bisa runtuh karenanya.”
“Apakah kita lanjut ke fase berikutnya?”
Pria itu berdiri. “Belum.”
Ia mengambil jasnya. “Biarkan Raiden berharap.” Senyumnya menghilang, digantikan dengan tatapan tajam.
“Karena saat harapan itu hancur… dia akan melakukan kesalahan.”
Kembali di rumah sakit, Raiden duduk di bangku lorong, memeluk Serene yang menangis tanpa suara. Tangannya terus mengusap punggung istrinya, meski dadanya sendiri terasa sesak. Pintu NICU masih tertutup. Setiap detik terasa seperti hukuman.
Tiba-tiba ponsel Raiden bergetar. Pesan dari Arlo. Tuan… identitas dalang semakin jelas. Tapi ada satu masalah. Dia bergerak lebih cepat dari perkiraan.
Raiden menatap layar, rahangnya mengeras. Masalah lain. Ancaman lain. Namun sebelum ia bisa membalas-
Pintu NICU terbuka. Dokter keluar dengan wajah yang sulit dibaca. Raiden dan Serene langsung berdiri. “Bagaimana?” suara Raiden hampir tak terdengar.
Dokter menarik napas panjang. “Kami berhasil menstabilkan kondisinya… untuk sementara.”
Serene terisak lega, hampir roboh. Raiden segera memeluknya. “Tapi?” Raiden tahu ada kata itu.
Dokter mengangguk pelan. “Dua belas jam ke depan akan menentukan segalanya.”
Raiden menutup mata. Dua belas jam. Dan di luar sana, musuh sedang menunggu. Pertanyaan paling menakutkan melayang di udara: Akankah Raiden menyelamatkan anaknya… sebelum dunia menghancurkan keluarganya?
***
Bersambung…