menceritakan sang pangeran bernama iglesias Lucyfer seorang pangeran yang manja dan kekanak-kanakan suatu hari dia dan kakak perempuan Lucyfer iglesias Elice ingin menjadi penyihir high magnus dan bertahun tahun berlalu di mana saat sang kakak kembali lagi ke kerajaan vantier Elice berubah pesat dan menjadi sangat dingin, perfeksionis,fokus dan tak peduli dengan siapapun bahkan Elice malah menantang sang adik dan bertarung dengan sang adik tetapi sang adik tak bisa apa apa dan kalah dalam satu teknik sihir Elice,dan Elice mulai menyadarkan Lucyfer kalau penyihir seperti nya tak akan berkembang dan membuat lucyfer tetap di sana selama nya dan sang adik tak menyerah dia ke akademi yang sama seperti kakak nya dan mulai bertekad menjadi high magnus dan ingin membuktikan kalau diri nya sendiri bisa jadi high magnus tanpa kakak nya dan Lucyfer akan berjuang menjadi yang terhebat dengan 15 teman teman nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakuho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sedikit lagi aku menang
Di sebuah ruang sunyi yang dipenuhi cahaya redup, Lucyfer duduk tenang di depan papan catur hitam-putih.
Bidak-bidaknya hampir habis. Keringat dingin tidak terlihat, tapi sorot matanya jelas—tajam, waspada.
Sang raja hitam nyaris terpojok.
Lucyfer menggerakkan jarinya, menyentuh pion terakhir di papan.
“Tak buruk, Toma,” gumamnya dengan suara dingin.
“Kupikir kau manusia konyol… yang hanya sibuk menyelamatkan orang lain.”
Matanya menyipit, menatap papan itu seolah melihat langsung medan pertempuran.
“Nyaris skakmat…”
“Menarik.”
— — —
Di dalam hutan yang telah berubah menjadi ladang kehancuran, Sylva masih berdiri kokoh.
Di depannya, Toma dan Alven terengah-engah.
Di belakangnya, nampak seperti seseorang tapi tak begitu jelas—Klee—terus memburu tanpa henti, aura merah mudanya menekan udara di sekitar.
Akar-akar raksasa menjalar di tanah, naga-naga kayu berkelok seperti ular purba.
Toma menggertakkan gigi.
“Sial…”
“Kakiku… tubuhku…”
“Rasanya seperti mau hancur semua.”
Namun ia tak bisa berhenti.
Masalahnya satu—mawar inti kloning itu berada di dalam tubuh salah satu naga kayu.
Alven menarik busurnya, menembakkan panah.
—DUUM!
Ledakan kecil terjadi, api menyambar.
Namun seketika naga kayu lain muncul, menghembuskan angin ekstrem.
Hembusan itu memaksa Sylva langsung berbelok arah, menghentikan laju Klee.
“TOMAAA!!” teriak Alven panik.
klee kembali mengeluarkan api cinta dan kembali menyerang, memaksa Sylva fokus padanya.
Alven melirik Toma, otaknya berputar cepat.
“Oii, Toma!”
“Ambil beberapa akar itu—buat aku tiru sihirnya!”
“Aku punya ide!”
Sebelum Toma sempat bertanya—
Alven mengangkat tubuh Toma dan melemparkannya ke depan.
“OIIII, BUNGA SIALAN!”
“MAKAN NIH TOMAAA!!”
“WOYYYY—!!”
Toma berputar di udara, namun refleksnya bekerja.
Ia mencengkeram salah satu akar naga kayu, mencabutnya, lalu melemparkannya kembali ke Alven.
Toma mendarat dan langsung berlari, melompat di antara tubuh naga-naga kayu yang saling melilit.
Tiba-tiba—
Salah satu naga muncul dari cabang tubuh naga lain, menyemburkan api.
FWOOSSHH!
“—!!”
Toma berguling tepat waktu.
Api itu melewati kepalanya, membakar pepohonan di belakang.
Alven menggenggam akar itu erat.
“Oke…”
“Sekarang atau tidak sama sekali.”
Di kepalanya, rencana mulai terbentuk.
“Bawa mereka ke jurang padang rumput…”
“Aku akan mengikat semuanya sekaligus.”
Toma terus berlari, sengaja memancing naga kayu menjauh dari Klee.
“Alven…”
“Semoga rencanamu berhasil.”
Salah satu naga kayu berhasil melilit lengannya.
Toma berpegangan erat, membiarkan dirinya terseret, matanya mencari posisi jurang di kejauhan.
Di kejauhan, Alven sudah menarik busurnya. Ujung panahnya berkilau—siap untuk menjalankan rencana nya.
Namun—
Toma menciptakan Sihir Matahari: Bola Matahari ufuk.
Cahaya panas meledak ke arah naga kayu itu.
Namun…
panah Alven tidak dilepaskan.
Toma menoleh.
Matanya membelalak.
Alven kini dikepung beberapa naga kayu.
Ia melompat, menghindar, berguling—akar dan rahang naga nyaris meremukkan tubuhnya.
"ULAR ULAR INI TERUS MENGANGGU KU,"Teriak alven dari kejauhan
Toma tetap berpegangan pada salah satu naga kayu itu dan tak melepaskan nya.
“SIAL!”
“Pantas dia belum nembak!”
Jika Alven terkena satu hantaman serius—
regenerasinya akan melambat.
Dan itu berarti kekalahan bagi Toma, Alven dan klee.
Toma mengepalkan tangan.
“Aku harus cari momen lain…”
“Sekarang belum waktunya.”
Ia berbalik, fokus kembali ke mawar inti.
Namun Toma tahu satu hal—
Ia tidak bisa memakai sihir matahari secara penuh.
Jika ia membakar naga kayu itu…
—mereka akan mengamuk.
—hembusan angin ekstrem akan menghantamnya.
—dan ia akan terpental jauh.
Rencana akan gagal total dan itu sama saja mengundang kekalahan itu sendiri.
Di kejauhan, benturan dahsyat terjadi—
Klee masih bertarung, sendirian, menahan kloning terkuat Lucyfer.
Dan di ruang sunyi itu—
Lucyfer tersenyum tipis, menggerakkan bidaknya.
“Menarik…”
“Sekarang kita lihat…”
“Apakah kau akan skakmat… atau justru tumbang, Toma.”
Sebuah peluncur nyaris mengunci pergerakan raja bidak Lucyfer.
Tatapan Lucyfer sangat tajam dan serius.
Karena ia juga sama sama kesulitan.