"Tinggalkan putraku dan ambil ini! Ingat jangan kau injakkan kaki kotor mu itu di mansion keluarga Xie." Xie Lihua
"Baik Nyonya, saya akan pergi dari sini. Dan ini amplop dari anda, saya bukan seperti apa yang anda pikirkan." Lin Wu
"Shit! Beraninya dia pergi meninggalkanku, lihat saja aku akan menghukumnya dan membawanya kembali ke sisiku." Xie Yanshen
Dua insan yang terpaksa menikah karena sebuah scandal dan juga tuntutan dari Tuan Jin Hao, Ayah Yanshen. Pernikahan yang tak diinginkan itu membawa Lin Wu ke dalam neraka kehidupan. Lihua, Ibu Yanshen begitu membencinya hingga suatu hari dia sukses menyingkirkan Lin Wu.
Tanpa ada seorang pun tahu, bahwa Lin Wu pergi membawa rahasia besar. Dan kepergiannya membuat Yanshen murka.
Akankah Yanshen tahu rahasia besar Lin Wu? Dan berhasilkah Yanshen membawa kembali wanita yang masih sah menjadi istrinya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sagitarius28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MBSK 34
"Ji Chan ... ayo dimakan sayang. Ini susu coklatnya ya," ucap Daddy Jinhao mengingatkan cucunya agar segera menyantap hidangan yang sudah tersaji di atas meja.
"Dan ini makanan kesukaan kamu Jun Jie. Ayo dimakan ya mumpung masih hangat. Jangan lupa diminum susu coklatnya," lanjut Daddy Jinhao yang saat ini beralih mengingatkan cucu laki-lakinya yang sedari tadi terdiam dengan ekspresi datarnya.
Ya saat ini mereka sedang berada di sebuah restoran yang berada di dalam mall. Akhirnya Ji Chan lah yang jadi pemenang atas perdebatan antara dirinya dan Mommy Lihua. Dengan terpaksa, Mommy Lihua pun menuruti ucapan suaminya untuk mengalah demi Ji Chan yang notabenenya cucunya sendiri.
Mommy Lihua duduk tepat di samping Daddy Jinhao dengan sorot matanya menatap lurus ke arah Jun Jie yang masih menikmati makanannya.
"Bocah itu ... sangat mirip sekali dengan Yanshen. Bagai pinang dibelah dua, tidak ada perbedaan diantara mereka. Manik matanya pun memiliki warna yang sama, sifatnya juga ... pendiam dan sangat dingin. Tunggu, tapi bukankah Yanshen belum menikah lagi, lalu ini anak siapa? Kenapa dia memanggil Daddy dengan sebutan Opa dan Daddy juga mengklaim anak itu sebagai cucu. Atau jangan-jangan ... apa yang dikatakan Dokter itu memang benar," gumam Mommy Lihua. Tak hentinya wanita paruh baya itu masih memperhatikan Jun Jie. Terlihat jelas dari raut wajah Jun Jie jika dirinya merasa risih saat diperhatikan seperti itu.
"Kalau punya mata itu harus dijaga. Jangan lihatin orang makan terus, dari tadi lihatin Abang Jun Jie aja. Tahulah emang Abang ku ini paling ganteng sejagad, nggak ada tandingannya pula. Tapi nenek sihir kan udah tua, rambutnya ada uban, bentar lagi tuh gigi pada hilang semua. Sadar diri dong, masa' iya suka sama anak kecil," sindir Ji Chan sambil melirik sekilas kemudian fokus ke makananya.
"Ck, ikut campur saja. Emang siapa sih kamu? Suka-suka aku dong lihatin siapa. Entar kalau lihatin kamu terus nanti dibilangin nggak normal," balas Mommy Lihua dengan mulut nyinyirnya.
"Dasar nenek sihir, marah-marah aja kerjaannya. Muka udah tua, peyot lagi, bentar lagi giginya pada runtuh semua tuh lihat aja," ucap Ji Chan dengan sinis.
"Hei, kamu ...."
"Cukup Mom! Kenapa sih Mommy ini nggak bisa ngalah sedikit sama cucu sendiri. Dia itu cucu kita Mom, anak Yanshen dan Lin Wu. Tapi kenapa justru Mommy menganggapnya sebagai musuh, hah?" pekik Daddy Jinhao menyorot tajam pada Mommy Lihua.
"Heran Daddy! Dari tadi dibilangin suruh ngalah, masih aja sikapnya seperti itu." Lanjutnya yang kesal dengan sikap istrinya itu.
"What? Lin Wu? Apa Mommy tidak salah dengar Dad ...," tanya Mommy Lihua membulatkan mata dengan sempurna.
"Lin Wu ... bagaimana bisa dia hamil? Bukankah dulu dia pergi dari mansion tidak dalam keadaan hamil?" Lanjutnya sambil berkerut alis dalam berusaha berpikir keras memecahkan teka-teki yang ada.
Terlihat jelas kebingungan yang tercetak di raut wajah keriput Mommy Lihua. Wanita paruh baya itu masih belum percaya jika Lin Wu telah melahirkan pewaris untuk keluarga Xie.
Daddy Jinhao sendiri tidak mempedulikan hal itu. Cukup dia bisa bertemu dengan menantu dan kedua cucunya dalam keadaan baik, itu sudah lebih dari cukup. Tidak perlu memikirkan hal lain, apalagi sampai meragukan keberadaan cucu kembarnya itu. Sudah jelas-jelas wajah Jun Jie fotocopy nya Yanshen. Jadi, tanpa dilakukan tes DNA pun sudah tahu bagaimana hasilnya.
"Berarti aku jadi Oma dong. Cucuku ada dua," ucap Mommy Lihua, sudut bibirnya terangkat ke atas membentuk sebuah lengkungan indah setelah sadar bahwa dirinya telah menjadi seorang nenek.
"Enggak, aku bukan cucumu. Nggak sudi aku punya Oma cerewet dan jahat seperti kamu. Tukang gosip lagi, sukanya hambur-hamburin uang Opaku," ucap Ji Chan menggelengkan kepala, menolak fakta jika Mommy Lihua adalah Omanya.
"Opa ... bisa nggak sih tukar tambah Oma baru yang nggak cerewet seperti dia? Pusing Ji Chan dengar omelannya terus," tanya Ji Chan dengan polosnya.
"Heh' siapa yang kamu biang cerewet? Dasar gak sadar diri, orang situ juga cerewet kok malah ngatain orang," sentak Mommy Lihua tidak terima jika dirinya dibilang cerewet.
"Akhirnya ... impianku terwujud juga punya cucu laki-laki yang sangat tampan," seru Mommy Lihua tiba-tiba.
Kini Mommy Lihua beralih menatap pada Jun Jie dengan tatapan berbinar cerah. Beda halnya dengan tatapannya pada Ji Chan yang jelas menyiratkan aura permusuhan diantara mereka. Sama sekali tidak ada chemistry-nya, yang ada bawaannya emosi terus saat melihat Ji Chan. Lain halnya ketika menatap pada Jun Jie membuat hatinya merasa berbunga.
"Jun Jie, habis itu ikut Oma pulang yuk. Nanti kita mampir dulu beli mainan buat Jun Jie," ucap Mommy Lihua mencoba melembutkan ekspresinya, menampilkan senyumnya di hadapan cucu laki-lakinya itu. Tentu saja hal itu membuat Ji Chan merasa mual dan ingin muntah di wajah wanita paruh baya itu yang pintar sekali berakting.
Ji Chan menggelengkan kepalanya cepat menatap wajah Abangnya.
"Jangan mau bang, nanti Abang kelaparan nggak dikasih makan. Dia kan pelit, maunya cuma mikirin diri sendiri. Nggak ngerti sama perutnya anak kecil, kalau udah lapar ya harus segera diisi. Nggak boleh ditahan nanti sakit," sahut Ji Chan yang secepat kilat menahan lengan saudara kembarnya dengan erat.
"Apaan sih kamu, sok tahu deh! Dengar ya, saya ini nggak pernah pelit. Apalagi sama Jun Jie, dia kan cucu kesayangan aku. Pasti apapun yang dia minta bakal aku kasih, iya kalau sama kamu ... masih mikir ribuan kali," ketus Mommy Lihua pada Ji Chan.
"Ingat ya, aku cuma ngajak Jun Jie bukan kamu!" Lanjutnya dengan tegas.
"Saya tidak akan ikut bersama orang asing, apalagi telah berbuat jahat sama saudara kembar saya. Kalau mau ngajak saya, ya berarti harus ajak Ji Chan sekalian. Jangan membeda-bedakan antara saya dan Ji Chan. Kami ini saudara kembar, dan itu artinya sampai kapanpun tidak bisa terpisahkan. Keluarga saya itu hanya ada Mommy, Ji Chan dan nenek bukan anda!" ucap Jun Jie dengan tegas.
"Dan satu hal lagi, jangan pernah menghina Mommy saya atau kalau tidak ... akan ku potong lidah anda!" Lanjutnya dengan ekspresi datarnya.
"Bagus bang, Ji Chan setuju. Ingat itu kita hanya sebatas orang asing nenek sihir, tidak lebih. Dan jangan mengklaim kami sebagai cucu, terutama pada Abang Jun Jie, camkan itu!" sahut Ji Chan mengangkat salah satu jempolnya ke atas, kemudian melengos kan wajahnya menatap ke arah lain.
DEG!
Jantung Mommy Lihua rasanya berhenti berdetak saat mendengar ucapan pedas Jun Jie barusan. Dia tak menyangka jika cucu laki-lakinya bisa bicara seperti itu dan sukses menohok hatinya. Andai saja dari awal dia mengetahui fakta sebenarnya bahwa di hadapannya itu adalah cucunya, pasti hal seperti ini tidak akan terjadi. Dan keduanya tidak akan berani melawannya, tapi sekarang ... hanya penyesalan lah yang menyeruak ke dalam benaknya. Mommy Lihua yakin jika kedua cucunya itu pasti telah merekam ucapan pedas yang terlontar dari bibirnya mengingat keduanya adalah anak-anak yang sangat cerdas, tidak dapat terkalahkan.
"Eummm ... Jun Jie, maafin Oma ya sayang. Oma tadi hanya bercanda saja, nggak punya maksud apa-apa kok sayang. Beneran. Oma itu pengen dekat sama kalian. Mau ya pulang sama Oma ...."
.
.
.
🥕Bersambung🥕