NovelToon NovelToon
ISTRI BERCADAR MAFIA

ISTRI BERCADAR MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

ISTRI BERCADAR MAFIA

​Jakarta. Di bawah guyuran hujan yang meradang.
​Di dalam dinding mansion mewah bergaya Eropa, takdir dua dunia yang bertolak belakang baru saja disatukan oleh paksaan dan ancaman. Ini bukan kisah cinta, melainkan kisah pengorbanan di ujung moncong pistol.

​Alaska Ravendra. Nama itu adalah sinonim dari kekuasaan, kegelapan, dan kekejaman. Sebagai pemimpin Black Vipers, kelompok mafia yang paling ditakuti di Asia Tenggara, ia hidup dalam hukumnya sendiri, yang kuat memakan yang lemah. Di tangan dinginnya, pistol Beretta perak hanyalah mainan, dan nyawa manusia adalah alat tawar menawar.

​Di hadapannya berdiri Sania Humairah, seorang gadis sederhana yang jiwanya berhias iman dan raga terbungkus cadar hitam—simbol dari kehormatan yang ia jaga melebihi nyawanya.

Sania dipaksa menjadi "bayaran" atas hutang ayahnya kepada Alaska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ISTRI BERCADAR MAFIA

Bab 17: Fajar Berdarah di Gosong Karang.

​Langit di ufuk timur mulai memucat, menyisakan semburat jingga yang terasa dingin dan menyakitkan. Bagi Alaska, cahaya itu bukanlah pertanda harapan, melainkan lonceng kematian yang berdentang di tengah kesunyian samudera. Di pelukannya, Sania masih tak bergeming. Tubuhnya yang mungil terasa kian ringan, namun suhunya kian merosot, seolah sisa-sisa kehidupan di dalamnya sedang diserap oleh pasir pantai yang membeku.

​Alaska, sang naga yang biasanya menyemburkan api kemarahan, kini tampak seperti pria yang kehilangan arah. Ia memeluk Sania dengan sisa tenaga yang ia miliki, mengabaikan fakta bahwa pakaiannya sendiri hanya berupa compang-camping kain yang basah kuyup. Bahunya yang lebar bergetar hebat. Bukan karena kedinginan—ia sudah mati rasa terhadap suhu—melainkan karena ketakutan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

​"Sania, bangun... demi Tuhan, bangun!" Alaska mengguncang bahu Sania pelan.

Suaranya parau, pecah oleh kombinasi uap mesiu yang ia hirup dan air garam yang mengering di tenggorokannya.

"Kau tidak boleh menyerah di sini. Kau bilang doamu punya kekuatan, maka gunakan sekarang! Bangun dan maki aku, Sania! Jangan diam seperti ini!"

​Namun, hanya desiran angin laut yang menjawabnya. Bibir Sania yang tertutup kain cadar basah mulai membiru. Denyut nadinya di pergelangan tangan yang mungil itu terasa sangat tipis, nyaris seperti detak jam yang baterainya hampir habis.

​Tepat saat Alaska berada di titik nadir keputusasaannya, telinga tajamnya menangkap suara yang sangat ia kenal. Suara mesin motor tempur yang diredam, membelah air dengan putaran rendah agar tidak terdeteksi radar. Ia menoleh ke arah laut lepas. Sebuah perahu karet hitam bermesin ganda meluncur pelan menuju gosong pasir tempat mereka terdampar.

​Ada empat orang di dalamnya. Semua memakai pakaian taktis serba hitam dengan topeng tengkorak yang mengerikan. Di tangan mereka, senapan serbu laras pendek mengarah tepat ke daratan.

​"Dante..." desis Alaska.

​Amarah yang sedari tadi terpendam di balik rasa sedihnya kini meledak secara instan. Adrenalin membanjiri pembuluh darahnya, memaksa otot-ototnya yang kaku untuk kembali bergerak. Rasa sakit di tubuhnya seolah lenyap, digantikan oleh naluri membunuh yang telah mengalir di darahnya sejak remaja.

​Pertahanan Terakhir sang Naga.

​Alaska meletakkan tubuh Sania dengan sangat hati-hati di balik gundukan pasir dan sisa batang pohon kelapa yang tumbang akibat ledakan. Ia menggunakan tangannya yang gemetar untuk menumpuk pasir kering di atas kaki Sania, berusaha memberi isolasi termal alakadarnya.

​"Tunggu di sini. Jangan pergi ke mana-mana," bisik Alaska, seolah Sania bisa mendengarnya.

​Ia berdiri tegap. Sosoknya yang jangkung tampak kontras dengan latar belakang matahari terbit yang kemerahan. Meski tanpa senjata di tangan, aura yang dipancarkan Alaska tetap mengintimidasi. Ia adalah raja yang kehilangan takhtanya, namun tetap memiliki taringnya.

​Perahu karet itu berhenti sepuluh meter dari bibir pantai. Dante berdiri di haluan, memegang cerutu yang menyala, menatap Alaska dengan pandangan merendahkan dari balik kacamata taktisnya.

​"Lihatlah sang penguasa pelabuhan," ejek Dante, suaranya menggema di keheningan fajar, bercampur dengan suara deburan ombak kecil.

"Terdampar seperti lumba-lumba sekarat di atas pasir. Di mana pasukanmu, Alaska? Di mana kemewahan yang kau banggakan itu? Ternyata, tanpa besi dan bubuk mesiu, kau hanya manusia biasa yang kedinginan."

​Alaska meludah ke pasir, matanya menyipit tajam. Ia menghitung jarak. Sepuluh meter air dangkal. Empat senjata laras panjang. Satu eksekutor berpengalaman. Peluangnya untuk menang secara logika adalah nol. Namun, logika tidak berlaku bagi seorang pria yang sedang melindungi satu-satunya cahaya dalam hidupnya.

​"Kau butuh empat orang bersenjata hanya untuk menghadapi satu pria yang baru saja selamat dari ledakan?" balas Alaska dingin.

"Kau lebih pengecut dari yang kukira, Dante. Mengapa tidak turun dan hadapi aku seperti laki-laki?"

​Dante tertawa sinis, asap cerutunya terbawa angin fajar.

"Aku bukan pengecut, Alaska. Aku efisien. Aku tidak butuh kehormatan, aku butuh kepalamu. Habisi dia! Dan bawa wanita itu padaku. Aku ingin melihat apakah Tuhan yang selalu dia puji itu bisa menghentikan peluruku saat aku menjadikannya mainan di markas kita nanti."

​Mendengar ancaman terhadap Sania, sesuatu di dalam diri Alaska hancur. Dinding kendali dirinya runtuh sepenuhnya. Ia tidak lagi bertarung untuk bisnis, bukan untuk wilayah, bukan pula untuk harga diri mafia. Ia bertarung untuk sesuatu yang jauh lebih suci.

​Perang Tanpa Senjata.

​Dua anak buah Dante melompat ke air yang setinggi lutut, mengokang senjata mereka dengan suara logam yang beradu nyaring.

KLIK-KLIK!

​"Mati kau, brengsek!" teriak salah satunya sambil menarik pelatuk.

​RATATATAT!

​Pasir di sekitar kaki Alaska berterbangan tertembus peluru. Dengan ketangkasan yang mustahil bagi orang yang mengalami hipotermia, Alaska berguling ke samping, berlindung di balik batang pohon tempat Sania berbaring. Ia tidak membalas dengan tembakan, karena memang tidak punya. Ia menunggu.

​Saat salah satu musuh mendekat untuk memastikan kematian sang target, Alaska melakukan gerakan tipu daya. Ia melempar segenggam pasir ke udara untuk mengalihkan pandangan lawan, lalu dalam sekejap mata, ia menerjang dari balik kayu.

​Alaska menyambar pergelangan kaki pria itu, menariknya hingga jatuh tersungkur di atas pasir basah. Sebelum pria itu sempat berteriak, Alaska sudah berada di atasnya. Ia tidak menggunakan senjata api; ia menggunakan tangan kosong dan pisau taktis kecil yang ia sembunyikan di sepatu botnya.

​JLEB!

​Satu tusukan tepat di arteri leher. Darah panas menyembur, membasahi wajah Alaska yang dingin. Satu musuh tumbang. Alaska menyambar senapan musuh tersebut, namun air laut dan pasir telah membuat mekanismenya macet. JAMMED.

​"Sialan!"

Alaska melempar senapan yang tak berguna itu tepat ke arah wajah musuh kedua yang sedang membidik.

​Benturan keras itu membuat bidikan lawan meleset. Alaska tidak membuang waktu. Ia menerjang layaknya seekor harimau lapar. Terjadilah pergulatan brutal di pinggir pantai. Alaska menggunakan sikunya untuk menghancurkan tulang rusuk lawan, dan menggunakan kepalanya untuk menghantam hidung musuh hingga patah.

​Namun, musuh ketiga yang masih di perahu melepaskan tembakan dukungan.

​DOR!

​"Akh!"

Alaska terjerembap. Peluru menembus bahu kirinya. Darah segar, merah pekat, merembes keluar dan mengepulkan uap di udara fajar yang dingin.

​Titik Terendah sang Mafia.

​Alaska mencoba bangkit, namun kakinya terasa seberat timah. Luka tembak itu membuat keseimbangannya goyah. Dante, yang melihat lawannya sudah tak berdaya, melompat turun dari perahu karet dengan pistol Colt di tangannya. Ia berjalan santai melewati mayat anak buahnya, menuju ke arah gundukan pasir di mana Sania berada.

​"Cukup main-mainnya," kata Dante.

Ia berdiri di atas tubuh Sania yang masih tak sadarkan diri.

"Kau tahu, Alaska? Bagian paling menyenangkan dari mematahkan naga adalah melihatnya memohon."

​Dante mengarahkan moncong pistolnya ke kepala Sania.

"Bangunkan dia! Suruh dia berdoa pada Tuhannya sekarang! Aku ingin dia sadar saat peluru ini menembus cadarnya. Aku ingin melihat apakah iman yang dia banggakan bisa menjadi rompi anti-peluru!"

​Alaska merangkak di atas pasir dengan tangan kanan yang masih berfungsi.

"Dante, jangan! Ambil nyawaku! Kau ingin kepalaku, kan? Ambil! Tapi tinggalkan dia!"

​Suara Alaska pecah. Seorang pria yang tidak pernah meminta maaf, kini memohon. Seorang pria yang tidak pernah tunduk, kini merangkak di kaki musuhnya. Pemandangan itu adalah kemenangan terbesar bagi Dante.

​Namun, di tengah keputusasaan itu, sebuah keajaiban kecil terjadi.

​Jemari Sania yang semula kaku perlahan bergerak. Ia meremas butiran tasbih yang masih melingkar di tangannya. Bibirnya yang membiru bergerak samar, mengeluarkan suara yang hampir tidak terdengar namun terasa menggetarkan atmosfer di gosong pasir itu.

​"Laa... ilaha... illallah..."

​Suara itu sangat lemah, nyaris seperti bisikan malaikat maut yang lewat. Namun bagi Alaska, itu adalah suara terindah yang pernah ia dengar. Dan bagi Dante, suara itu seolah-olah menjadi beban berat yang menekan pundaknya.

​Sania perlahan membuka matanya. Pandangannya kabur, namun ia melihat moncong pistol hitam tepat di depan wajahnya. Ia tidak berteriak. Ia tidak menangis. Ia hanya menatap lubang gelap senjata itu dengan kedamaian yang melampaui logika manusia.

​"Tembaklah, Tuan," bisik Sania, suaranya kini sedikit lebih jelas.

"Jika memang ini adalah garis yang Allah tuliskan sebagai akhir perjalanan saya, maka saya siap. Namun ketahuilah, kematian saya tidak akan memberi Anda kemenangan. Kematian saya hanya akan menjadi saksi di pengadilan-Nya nanti, betapa malangnya jiwa Anda."

​Dante tertegun. Telunjuknya membeku di atas pelatuk. Selama bertahun-tahun ia membunuh orang, ia selalu melihat ketakutan, kemarahan, atau dendam di mata korbannya. Namun di mata Sania, ia hanya melihat belas kasihan. Wanita ini mengasihaninya.

​"Diam kau! Berhenti bicara!" teriak Dante, suaranya mendadak tidak stabil.

​Kedatangan sang Penyelamat.

​DUARRR!

​Bukan pistol Dante yang meledak. Melainkan suara tembakan dari jarak jauh yang memecah kesunyian fajar. Peluru runduk kaliber tinggi menghantam pergelangan tangan Dante, membuat pistolnya terpental hancur berkeping-keping.

​"ARGHHH!"

Dante terjatuh, memegangi tangannya yang hancur.

​Dari balik kabut fajar yang mulai menipis di cakrawala, muncul tiga kapal patroli cepat dengan lambang keluarga Alaska—seekor naga emas yang melilit pedang—terpampang besar di lambungnya. Mesin kapal-kapal itu menderu liar, membelah ombak dengan kecepatan maksimal.

​Bara berdiri di haluan kapal paling depan, memegang senapan mesin berat. Wajahnya penuh amarah.

​"TUAN ALASKA! TIARAP!" teriak Bara melalui pengeras suara.

​Rentetan peluru dari kapal patroli menghujani perahu karet Scorpion yang tersisa. Air laut di sekitar gosong pasir itu meledak-ledak tertembus timah panas. Dante, yang menyadari situasinya telah berbalik, berteriak pada anak buahnya yang tersisa untuk segera menariknya ke laut. Mereka terpaksa melarikan diri dengan berenang menuju kapal induk mereka yang menunggu jauh di tengah laut, meninggalkan rencana penghancuran mereka yang gagal.

​Alaska tidak peduli pada pelarian Dante. Ia tidak memberikan perintah untuk mengejar. Satu-satunya fokusnya adalah wanita yang ada di depannya.

​Ia merangkak mendekati Sania, lalu menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya dengan sangat erat. Alaska menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Sania, mengabaikan bahunya yang bersimbah darah dan kemejanya yang kini berwarna merah pekat.

​"Sania! Kau bangun? Kau mendengarku?"

Alaska menangkup wajah Sania dengan tangan yang masih berlumuran darah musuhnya.

"Lihat aku! Jangan tutup matamu lagi!"

​Sania menatap suaminya. Ia melihat luka tembak di bahu Alaska, melihat mata pria garang itu yang kini memerah dan berkaca-kaca. Sebuah pemandangan yang tak pernah ia bayangkan: sang Mafia sedang menangis untuknya.

​Sania mengangkat tangannya yang lemah, menyentuh luka di bahu Alaska dengan ujung jemarinya.

"Anda terluka lagi... karena saya, Tuan Alaska..."

​"Diam! Jangan bicara yang bodoh!" bentak Alaska, namun suaranya lembut dan penuh dengan emosi yang tertahan.

"Aku tidak peduli pada luka ini. Aku hanya peduli padamu! Demi apapun, jangan pernah berani-berani meninggalkan aku lagi seperti tadi!"

​Runtuhnya Dinding Terakhir.

​Bara dan tim medis segera melompat dari kapal patroli yang telah bersandar di pasir dangkal. Mereka berlari membawa selimut termal, tandu, dan peralatan medis darurat.

​"Tuan, biar kami ambil alih Nyonya!" kata Bara dengan nada mendesak.

​Namun Alaska menampik tangan anak buahnya.

"Jangan sentuh dia!" bentaknya.

​Alaska, meski bahunya tertembak dan tubuhnya sudah di ambang batas kelelahan, tetap memaksa untuk menggendong Sania sendiri. Ia mengangkat tubuh Sania dengan kedua tangannya, melangkah dengan pasti menuju kapal patroli. Ia tidak membiarkan siapapun menyentuh "permata" yang hampir saja hilang dari genggamannya itu.

​Di dalam kabin kapal yang hangat, tim medis segera memberikan perawatan. Alaska terduduk di lantai kabin, tepat di samping tempat Sania dibaringkan. Ia menolak untuk diobati sampai tim medis memastikan bahwa paru-paru Sania bersih dari air dan suhu tubuhnya kembali stabil.

​"Dia hanya pingsan karena syok dan kedinginan, Tuan. Tapi kondisinya stabil. Nyonya akan baik-baik saja," lapor dokter pribadi Alaska.

​Alaska menghembuskan napas yang sangat panjang, seolah seluruh beban dunia baru saja diangkat dari pundaknya. Ia baru menyetujui bahunya dijahit setelah Sania tertidur lelap di bawah pengaruh obat penenang dan selimut hangat.

​Ia menatap ke luar jendela kabin, ke arah matahari yang kini sudah naik sepenuhnya, menyinari lautan yang kembali tenang. Ia sadar, serangan Dante malam ini telah mengubah segalanya. Bukan hanya wilayah kekuasaannya yang hancur, tapi juga tatanan emosinya.

​Ia tidak bisa lagi membohongi dirinya sendiri di depan cermin. Sania bukan sekadar istri paksa. Sania bukan lagi sekadar aset untuk menutupi kelemahannya. Sania adalah pusat dari dunianya yang baru.

​"Bara," panggil Alaska tanpa menoleh. Suaranya kini kembali dingin dan tajam seperti silet.

​"Ya, Tuan?"

​"Perintahkan seluruh unit di kota. Aku tidak peduli berapa biaya yang harus dikeluarkan. Cari Dante sampai ke lubang cacing manapun. Aku ingin kepalanya berada di atas meja makanku sebelum minggu ini berakhir."

​Alaska berhenti sejenak, lalu melirik ke arah Sania yang tertidur.

"Dan satu lagi. Mulai hari ini, penjagaan untuknya ditingkatkan sepuluh kali lipat. Siapa pun yang berani menyebut namanya dengan nada menghina, cabut lidah mereka."

​Alaska menunduk, menatap Sania dengan tatapan yang sangat kompleks—perpaduan antara obsesi, rasa bersalah, dan sesuatu yang menyerupai cinta namun terlalu gelap untuk diakui. Ia mengulurkan tangannya, mengelus kepala Sania yang tertutup hijab dengan penuh takzim.

​"Maafkan aku," bisiknya sangat pelan, sebuah kata yang selama puluhan tahun ia anggap sebagai tanda kelemahan, kini justru menjadi satu-satunya kata yang membuatnya merasa kembali menjadi manusia.

​Perang besar baru saja dimulai, dan Alaska tahu, kali ini ia tidak hanya berperang untuk kekuasaan, tapi untuk melindungi satu-satunya jiwa yang berani mendoakannya di tengah neraka yang ia ciptakan sendiri.

__Terkadang, Tuhan harus mematahkan semua hal yang kita sombongkan—kekuatan, senjata, dan kekuasaan—hanya untuk menunjukkan bahwa di titik terlemah kita, satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan kita adalah kasih sayang yang murni. Penjara yang paling mengerikan adalah hati yang tidak memiliki cinta, karena di sana, matahari tidak akan pernah benar-benar terbit__

Bersambung ....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!