NovelToon NovelToon
CINTA DATANG BERSAMA SALJU PERTAMA

CINTA DATANG BERSAMA SALJU PERTAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Karir / One Night Stand / Duniahiburan / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:447
Nilai: 5
Nama Author: chrisytells

Di Shannonbridge, satu-satunya hal yang tidak bisa direncanakan adalah jatuh cinta.
​Elara O'Connell membangun hidupnya dengan ketelitian seorang perencana kota. Baginya, perasaan hanyalah sebuah variabel yang harus selalu berada di bawah kendali. Namun, Shannonbridge bukan sekadar desa yang indah; desa ini adalah ujian bagi tembok pertahanan yang ia bangun.
​Di balik uap kopi dan aroma kayu bakar, ada Fionn Gallagher. Pria itu adalah lawan dari semua logika Elara. Fionn menawarkan kehangatan yang tidak bisa dibeli dengan kesuksesan di London. Kini, di tengah putihnya salju Irlandia, Elara terperangkap di antara dua pilihan.
​Apakah ia akan mengejar masa depan gemilang yang sudah direncanakan, atau berani berhenti berlari demi pria yang mengajarkannya bahwa kekacauan terkadang adalah tempat ia menemukan rumah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chrisytells, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 35 : Badai dari Dublin

Gema musik biola masih terasa bergetar di papan kayu dermaga baru saat warga desa mulai berangsur pulang. Lilin-lilin di dalam paviliun kaca hampir habis, menyisakan cahaya remang yang menari di wajah Elara. Ia masih menggenggam kunci perak pemberian Fionn, merasakan dinginnya logam itu kontras dengan kehangatan dadanya.

"Kau melamun lagi, Nona Arsitek?" Fionn mendekat, menyampirkan jaket wolnya yang besar ke bahu Elara. Aroma kayu bakar dan kopi yang selalu melekat pada Fionn seketika mengepung indra penciuman Elara.

"Hanya... mencoba menyimpan momen ini di memori permanenku, Fionn," bisik Elara. Ia bersandar pada dada Fionn, merasakan detak jantung pria itu yang tenang. "Aku tidak pernah menyangka hidupku akan berubah dari beton Dublin menjadi kayu ek Shannonbridge."

Fionn terkekeh pelan, tangannya melingkar protektif di bahu Elara. "Kadang hidup memang tidak butuh cetak biru yang kaku. Cukup sedikit kopi, banyak doa, dan keberanian untuk jatuh cinta pada pria desa yang menyebalkan."

"Sangat menyebalkan," Elara mendongak, matanya berkilat jahil. "Terutama saat dia mencoba membuat latte art tapi malah terlihat seperti awan mendung."

"Hei! Itu bentuk cinta yang abstrak!" Fionn memprotes, namun sedetik kemudian ia mendaratkan kecupan lembut di kening Elara.

Biscotti menggonggong pelan dari kejauhan, mengejar bayangan tikus air di tepi sungai, mengingatkan mereka bahwa malam belum sepenuhnya berakhir. Namun, di balik kedamaian Shannonbridge yang baru saja pulih, sebuah badai sedang terbentuk di ibu kota.

...****************...

Di sebuah ruang makan mewah di distrik terelit Dublin, suasana sangat kontras dengan kemeriahan di Shannonbridge. Arthur O’Connell, seorang pengacara korporat yang disegani, duduk di ujung meja dengan wajah yang sekeras batu granit. Di sampingnya, Isla O’Connell—wanita yang selalu menjaga penampilan dan martabat keluarga di atas segalanya—menatap piring porselennya dengan tangan bergetar.

Di depan mereka berdiri Mark, rekan kerja saingan Elara di firma Doherty & Associates, yang tampak sangat puas membawa berita buruk.

"Saya rasa Anda perlu melihat ini, Tuan O’Connell," Mark menggeser sebuah tablet yang menampilkan rekaman amatir keributan di balai kota Shannonbridge. "Putri Anda, Elara, terlibat dalam konfrontasi publik yang sangat liar. Dia berteriak di depan polisi, bekerja sama dengan penduduk desa yang kasar, dan... yah, ada insiden dengan seorang pria lokal bernama Cillian yang kini ditahan."

Isla menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak ngeri melihat putrinya berdiri di tengah kerumunan orang desa dengan pakaian yang—menurut Isla—sangat tidak layak.

"Cillian?" suara Arthur rendah dan berbahaya. "Keluarga Cillian yang memiliki properti di Offaly itu? Mengapa Elara berurusan dengan mereka?"

"Kabarnya, pria itu mencoba melecehkan Elara di Malam Natal, Tuan," Mark menambahkan dengan nada simpatik yang palsu. "Dan Elara dilindungi oleh seorang pemilik kedai kopi lokal. Masalahnya, insiden ini sudah menjadi konsumsi publik di kalangan firma. Reputasi Elara sebagai arsitek profesional sedang dipertanyakan."

Arthur membanting sendok peraknya ke atas meja, menimbulkan bunyi denting yang memekakkan telinga. "Cukup!"

"Arthur, tenanglah..." Isla mencoba meredakan kemarahan suaminya, meski ia sendiri tampak ingin pingsan.

"Lihat ini, Isla?! Putri kita tinggal di sebuah pondok desa, berkelahi dengan preman lokal, dan sekarang namanya terseret dalam skandal kriminal?" Arthur berdiri, auranya begitu mengintimidasi hingga Mark pun sedikit mundur. "Dia tidak sedang melakukan proyek modernisasi, Isla. Dia sedang menghancurkan hidupnya sendiri demi sebuah desa yang bahkan tidak ada di peta GPS!"

"Apa yang akan kita lakukan?" bisik Isla.

"Kita akan menjemputnya. Besok pagi. Tidak ada diskusi lagi," Arthur menatap layar tablet itu, tepat pada wajah Fionn yang berdiri di samping Elara. "Aku tidak peduli siapa pria tukang kopi itu. Elara akan pulang ke tempat di mana dia seharusnya berada."

...****************...

Kembali di Shannonbridge, Elara terbangun karena sinar matahari yang masuk melalui celah jendela pondok. Ia menghirup aroma roti jahe yang sedang dipanggang Moira. Hidup terasa begitu sempurna, sampai suara klakson mobil yang asing dan berwibawa memecah kesunyian desa.

Karena penasaran, Elara keluar ke teras dengan piyama dan cardigan wolnya, hanya untuk menemukan sebuah mobil Jaguar hitam mengkilap terparkir di depan The Crooked Spoon.

Jantung Elara seolah berhenti berdetak saat melihat sosok pria tinggi berjas rapi dan wanita anggun melangkah keluar dari mobil itu.

"Ayah? Ibu?" suara Elara nyaris tak terdengar.

Arthur O’Connell tidak melihat ke arah putrinya. Ia menatap bangunan kedai kopi di depannya dan Biscotti yang sedang menggonggong pada sepatunya yang mahal.

"Jadi ini tempatnya," gumam Arthur, suaranya dingin seperti es. "Tempat di mana putriku menukar masa depannya dengan aroma lumpur domba-domba."

"Arthur, tolong, jangan mulai di sini," Isla mendekati Elara, matanya berkaca-kaca. "Oh, Elara... lihat dirimu. Kau terlihat sangat... berbeda. Apa yang terjadi padamu, Nak?"

Fionn keluar dari dalam kedai dengan celemek yang masih ternoda tepung, wajahnya mendadak tegang saat melihat situasi di depannya. Ia segera melangkah ke sisi Elara, secara insting meletakkan tangan di pinggangnya.

Arthur menajamkan tatapannya pada tangan Fionn. "Lepaskan tanganmu dari putriku, Tuan."

Ketegangan di depan kedai itu begitu pekat hingga warga desa yang lewat pun berhenti untuk menonton. Moira keluar dari dapur, berdiri di ambang pintu dengan wajah cemas.

"Ayah, apa yang kalian lakukan di sini?" Elara mencoba bicara dengan suara stabil, meski lututnya gemetar.

"Menjemputmu pulang, Elara. Mark telah menceritakan semuanya. Tentang Cillian, tentang pelecehan itu, tentang kau yang menjadi pemimpin pemberontakan desa," Arthur melangkah maju, kehadirannya seolah menelan seluruh kedamaian di teras itu. "Kau dalam bahaya di sini. Orang-orang ini... mereka tidak selevel denganmu. Mereka hanya memanfaatkan otakmu untuk kepentingan mereka sendiri."

"Itu tidak benar!" seru Elara. "Mereka adalah keluargaku sekarang! Mereka melindungiku saat aku tidak punya siapa-siapa!"

"Melindungimu?" Arthur menoleh pada Fionn. "Dengan berkelahi seperti preman jalanan? Kau adalah seorang O’Connell, Elara. Kau tidak seharusnya berada di tempat di mana hukum diselesaikan dengan kekerasan."

Fionn melangkah maju, menatap mata Arthur tanpa rasa takut. "Tuan O’Connell, saya mungkin hanya pemilik kedai kopi, tapi saya tahu cara menghargai pilihan putri Anda. Dia bukan lagi anak kecil yang bisa Anda seret pulang."

"Beraninya kau bicara soal pilihannya!" Arthur membalas dengan tajam. "Kau tahu apa yang dia tinggalkan di Dublin? Proyek bernilai jutaan Euro, apartemen mewah, masa depan yang sudah tertata rapi. Dan kau menahannya di sini untuk apa? Untuk merancang dermaga kayu yang akan busuk dalam sepuluh tahun?"

"Arthur, cukup!" Elara berteriak, air mata mulai mengalir di pipinya. "Dermaga itu punya jiwa! Orang-orang ini punya hati! Sesuatu yang tidak pernah kutemukan di meja makan kita di Dublin!"

Isla memegang tangan Elara, suaranya memohon. "Elara, sayang, kami hanya takut. Berita tentang Cillian... kami pikir kau terluka. Kami pikir kau diculik atau dipaksa. Pulanglah dulu, hanya untuk beberapa hari. Kita bicara baik-baik di rumah."

"Ibu, jika aku pergi sekarang, aku tidak akan pernah bisa kembali," Elara menggeleng. "Ayah akan mengurungku dengan jadwal dan wawancara baru."

"Tentu saja aku akan melakukannya!" sahut Arthur. "Karena itu adalah tugas seorang ayah—menyelamatkan anaknya dari kehancuran!"

Fionn menatap Elara. Ada gurat keraguan dan luka di matanya. Saat ia melihat Arthur dan Isla—pasangan yang begitu berkelas dan berkuasa—ia merasa dirinya tiba-tiba menjadi sangat kecil. Ia melihat tangan Elara yang halus kini memiliki kapalan karena bekerja di dermaga. Ia mulai bertanya-tanya: Apakah aku benar-benar egois karena menahannya di sini?

"Elara," bisik Fionn, suaranya serak. "Mungkin... mungkin kau harus bicara dengan mereka."

Elara menoleh pada Fionn, matanya membelalak penuh pengkhianatan. "Fionn? Kau juga menyuruhku pergi?"

"Bukan begitu, tapi..." Fionn menelan ludah, melihat Jaguar hitam itu dan memikirkan gubuk kayunya. "Mereka orang tuamu. Mereka mencintaimu dengan cara mereka sendiri. Aku tidak ingin kau membenci mereka karena aku."

Arthur tersenyum sinis. "Setidaknya pria ini punya sedikit akal sehat."

Elara merasa dunianya runtuh. Di satu sisi ada orang tuanya yang membawa otoritas masa lalu, di sisi lain ada pria yang ia cintai yang kini tampak minder di depan kemewahan kota.

"Aku tidak akan pergi," kata Elara tegas, namun suaranya pecah.

"Kau akan pergi, Elara. Bahkan jika aku harus menyeretmu," Arthur meraih lengan Elara.

"Jangan sentuh dia!" Fionn menepis tangan Arthur dengan kasar.

Suasana memanas. Biscotti menggonggong keras, Moira berteriak panik, dan warga desa mulai mendekat dengan wajah mengancam ke arah Arthur. Di tengah kekacauan emosional itu, Elara menyadari satu hal—Perang sesungguhnya baru saja dimulai, dan kali ini musuhnya bukanlah orang asing yang licik, melainkan darah dagingnya sendiri.

Matahari Shannonbridge yang tadinya cerah kini tertutup awan mendung yang datang dari selatan. Badai Dublin telah tiba, dan ia tidak akan pergi sebelum mengambil kembali apa yang dianggapnya miliknya.

1
Alnayra
👍🏻👍🏻👍🏻 top
d_midah (Hiatus)
ceilah bergantung gak tuh🤭🤭☺️
d_midah (Hiatus): kaya yang lebih ke 'sedikit demi sedikit saling mengenal, tanpa terasa gitu' 🤭🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!