NovelToon NovelToon
ANASTASIA

ANASTASIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Penyelamat / Kelahiran kembali menjadi kuat / Time Travel / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Balas Dendam
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: frj_nyt

Ongoing

Lady Anastasia Zylph, seorang gadis muda yang dulu polos dan mudah dipercaya, bangkit kembali dari kematian yang direncanakan oleh saudaranya sendiri. Dengan kekuatan magis kehidupan yang baru muncul, Anastasia memutuskan untuk meninggalkan keluarganya yang jahat dan memulai hidup sederhana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#30

Angin malam menyusup melalui celah jendela istana pusat, membawa aroma besi, asap, dan kecemasan. Seluruh ibu kota terasa seperti sedang menahan napas. Lonceng penjaga berbunyi dua kali—menandakan keadaan siaga tinggi.

Di dalam ruang rapat agung, para bangsawan tingkat atas duduk melingkar. Suasana dingin… bukan karena musim, tetapi karena ketakutan yang melekat di tulang. Lampu kristal bergetar pelan, seolah tahu bahwa ruangan itu kini menjadi tempat lahirnya keputusan-keputusan yang dapat menghancurkan kerajaan.

Pintu besar terbuka.

Duke Aloric Silas melangkah masuk.

Seluruh ruangan sontak membisu. Bahkan mereka yang pernah melihatnya di pertemuan sebelumnya sekalipun secara refleks menahan napas. Mantel bulu hitamnya berkibar ringan, mata hitamnya memancarkan ancaman seperti pedang yang belum disarungkan.

Di sisi belakang, berdiri Anastasia, berselendang putih, wajahnya kalem namun matanya menyapu ruangan tajam—mencari siapa pun yang berpotensi menjadi ancaman. Keberadaannya tidak diumumkan kepada publik, tetapi para bangsawan bisa merasakan sesuatu yang berbeda dari gadis itu.

Aloric berhenti di ujung meja utama.

“Pertemuan dimulai sekarang,” ucapnya singkat.

Para bangsawan saling memandang. Tidak ada seorang pun yang berani menyela.

 

Tuduhan Pemberontakan Menguat

Kanselir tua, Marquess Dragor, membersihkan tenggorokannya.

“Duke Silas… seluruh penjaga kerajaan melaporkan aktivitas mencurigakan di menara timur. Putra Mahkota tidak hadir dalam lima rapat berturut-turut. Kami… mulai khawatir, apakah rumor itu benar adanya.”

“Rumor apa?” Aloric bertanya, tanpa ekspresi.

Bahunya sedikit bergerak, memberi sinyal pada Anastasia untuk tetap diam. Ia paham bahwa para bangsawan mulai memperhatikan gadis itu.

Kanselir menelan ludah. “Bahwa… Yang Mulia Putra Mahkota telah melakukan kontak dengan penyihir terlarang dari lembah barat. Ada desas-desus bahwa ia mempelajari sihir yang dilarang oleh leluhur kerajaan.”

Ruangan langsung dipenuhi bisikan resah.

Sihir terlarang.

Sihir yang hanya digunakan para penjahat perang berabad-abad lalu.

Sihir yang dapat memusnahkan kota dalam satu malam.

Anastasia merasakan bulu kuduknya berdiri. Ia tahu sihir itu… pernah menyentuhnya dalam kehidupan sebelumnya, ketika kakaknya menghancurkannya perlahan.

“Jika rumor itu benar,” lanjut Marquess Dragor, “kita bukan hanya menghadapi pemberontakan, tapi… kiamat politik.”

Salah satu bangsawan wanita menutup mulut, pucat.

Yang lain menggenggam kipasnya sampai patah.

Aloric mengangkat tangan—dan ruangan kembali hening total.

“Aku sudah mengonfirmasi rumor itu.”

Jawaban yang singkat, tetapi cukup untuk membuat sebagian bangsawan terjatuh dari kursi.

“Putra Mahkota,” lanjut Aloric dengan suara rendah bergemuruh, “memang sedang membangun kekuatan. Sumber dayanya… bukan dari kerajaan.”

“Ya Tuhan…” salah satu bangsawan berbisik ketakutan.

 

Rencana Penahanan Putra Mahkota

Petinggi militer memukul meja.

“Duke Silas! Jika kita tidak bertindak, Putra Mahkota akan meledakkan pusat kerajaan! Kami butuh perintah!”

Aloric menatapnya dingin.

“Tidak ada yang bertindak tanpa izinku.”

Prajurit itu langsung diam.

Anastasia memperhatikan Aloric dari kejauhan. Ada sesuatu yang berbeda malam ini—auranya lebih pekat, nyaris seperti bayangan berwujud. Sejak ia membangkitkan Aloric di medan perang, kekuatan di tubuh pria itu tampak semakin liar dan tak bisa diprediksi.

Entah karena efek kebangkitannya…

Atau karena pengaruh dari sihir gelap Putra Mahkota.

Tetapi satu hal jelas:

Aloric kini bukan hanya prajurit. Ia adalah ancaman sekaligus tameng terbesar kerajaan.

“Aku akan menangkap Putra Mahkota sendiri,” ujar Aloric akhirnya.

“Se-seorang diri?!”

Beberapa bangsawan terpekik.

Aloric menatap mereka seakan mereka adalah anak kecil yang tidak mampu mengikat tali sepatu.

“Kalian ingin hidup? Kalian ingin kerajaan ini berdiri esok hari? Maka diam dan jangan ikut campur.”

Nada suaranya tidak keras. Namun dingin menusuk.

Perintah absolut.

Tak ada yang berani melawan.

 

Kemarahan Keluarga Kekaisaran

Tiba-tiba, suara langkah tergesa-gesa terdengar.

Pintu samping terbuka dengan kasar.

Putri Kaisar, tunangan Aloric—Lady Valéria—masuk dengan wajah merah penuh amarah. Rambut emasnya berkibar, gaunnya terbuat dari sutra berlapis emas. Ia tidak tampak seperti seseorang yang baru saja mendengar kerajaan di ambang kehancuran. Ia tampak seperti seseorang yang tersinggung… karena tidak diikutsertakan.

“Duke Silas! Apa maksudmu mengadakan rapat tanpa aku?! Aku adalah tunanganmu dan calon permaisuri!”

Semua bangsawan menunduk. Mereka tahu Valéria adalah gadis berlidah tajam, mudah tersinggung, dan… sedikit manja.

Aloric bahkan tidak menoleh.

“Pertemuan ini bukan untukmu.”

Valéria ternganga, marah sampai wajahnya memerah.

“Aku tunanganmu! Aku berhak—”

“Tidak lagi.”

Semua orang membeku.

Aloric mengucapkannya begitu datar seolah hanya mengatakan cuaca hari ini dingin.

Valéria gemetar. “A… apa maksudmu?”

“Pertunangan kita dibatalkan mulai detik ini.”

“Si—Duke Silas!”

Valéria memekik, suaranya pecah.

“Kau tidak bisa lakukan itu! Ayahku akan—”

“Ayahmu tidak berwenang menentukan siapa yang kumenikahi.”

Ia berhenti sejenak.

“…dan aku tidak menikahi alat politik.”

Suasana ruangan meletup. Bisikan terkejut pecah seperti badai.

Valéria menangis, tetapi bukan menangis sedih—melainkan menangis marah, penuh amarah membara.

“Ini… ini karena dia, bukan?!”

Ia menuding Anastasia dengan jari gemetar.

“That girl! The common girl you picked from the snow!”

Anastasia memutar bola mata sedikit. Sungguh, drama tak pernah lekang oleh waktu.

Aloric menggerakkan kepala pelan ke arah Valéria, tatapannya gelap.

“Anastasia tidak ada hubungannya dengan keputusanku.”

Itu bohong.

Atau—setidaknya, sebagian bohong.

Anastasia berkedip, menahan tawa kecil. Tentu saja, Duke. Teruslah menyangkal hatimu.

Valéria mundur, memegangi dada.

“Duke… kau menghancurkan hidupku.”

“Jika hidupmu bisa hancur karena seorang pria,” Aloric berkata pelan, “berarti hidupmu memang tidak punya fondasi.”

Valéria menutupi wajah dan berlari keluar.

 

Ketakutan Para Bangsawan Memuncak

Setelah kepergiannya, Marquess tua kembali berbicara.

“Duke… apakah keputusan itu tidak akan memperburuk keadaan politik?”

“Politik kerajaan sudah busuk,” jawab Aloric.

“Pertunangan itu tidak akan menyelamatkannya.”

Ia melangkah mundur sedikit.

“Aku berangkat malam ini.”

“Menuju menara timur?” tanya salah satu jenderal.

“Menuju Putra Mahkota.”

Ruangan kembali membeku.

Semua orang tahu, ini bukan hanya penahanan.

Ini kemungkinan perang saudara.

Anastasia maju setengah langkah.

“Aloric.”

Hanya itu yang ia ucapkan.

Tapi suara lembut itu… menembus seluruh tembok yang dibangun Aloric selama puluhan tahun.

Ia menatapnya sekilas.

“Kau tetap di belakangku. Jangan mendekati garis depan.”

“Aku harus ikut.”

“Kau tidak boleh.”

“Aku bisa menyembuhkanmu.”

“…dan kau juga bisa mati.”

Anastasia tersenyum kecil. “Lalu siapa yang membangkitkanmu kalau kau mati lagi?”

Beberapa bangsawan terbatuk panik.

Aloric memijit pelipis.

“Anastasia…”

“Jika kau tidak mengizinkan, aku akan tetap ikut. Dalam diam. Seperti hantu.”

Aloric memejamkan mata sebentar.

Ia kalah.

“Nanti. Kau tetap berada di belakangku.”

Anastasia mengangguk patuh… padahal dalam hatinya ia sudah menyiapkan rencana untuk tidak patuh sedikit pun.

 

Titik Balik Kerajaan

Ketika rapat darurat ditutup, para bangsawan keluar dengan wajah ngeri dan tubuh lesu. Mereka tahu: malam ini sejarah akan berubah.

Aloric berdiri sendirian di tengah pintu keluar, menatap langit malam yang gelap tanpa bintang.

“Dunia ini…” gumamnya pelan, “…akan terbakar.”

Anastasia berdiri di sampingnya.

“Jika terbakar,” ucapnya lembut, “maka aku akan menjadi air.”

Aloric menoleh.

Untuk pertama kalinya, mata hitam itu melembut.

Hanya sedikit—tapi cukup untuk membuat hatinya terasa hangat.

“…jangan jadi air,” katanya.

“Air bisa membeku di tempat seperti dunia ini.”

“Lalu, aku harus jadi apa?”

Aloric menjawab tanpa jeda.

“—Tetaplah menjadi cahaya.”

Anastasia membeku.

Karena untuk seorang pria yang tidak pernah berbicara tentang kehangatan…

Ucapan itu terasa seperti pengakuan yang tidak pernah terucap.

1
Wahyuningsih
q mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!