NovelToon NovelToon
Rumus Gitar Cinta

Rumus Gitar Cinta

Status: tamat
Genre:Ketos / Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Sekolah SMA Pelita Bangsa terancam tidak bisa mengadakan Pensi tahunan karena masalah dana. Kepala Sekolah memberikan syarat: Pensi boleh jalan kalau rata-rata nilai ujian satu angkatan naik. Julian (Ketua OSIS) terpaksa menjadi tutor privat bagi siswa dengan nilai terendah di angkatan, yang ternyata adalah Alea. Di antara rumus fisika dan lirik lagu rock, mereka menemukan bahwa mereka memiliki luka yang sama tentang ekspektasi orang tua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Musuh dalam Selimut

​Gudang belakang sekolah SMA Pelita Bangsa adalah tempat di mana barang-barang rongsokan berakhir. Kursi patah, meja penuh coretan, dan tumpukan kertas ujian tahun lalu yang sudah menguning. Tempat itu bau apek, lembap, dan gelap. Sangat kontras dengan aula pesta yang penuh cahaya dan musik di sisi lain sekolah.

​Julian melangkah masuk ke area gudang dengan langkah hati-hati. Ia menyalakan senter HP-nya. Cahaya putih membelah kegelapan, menyinari debu-debu yang melayang di udara.

​"Saya sudah di sini," kata Julian, suaranya bergema pelan. "Keluar."

​Tidak ada jawaban. Hanya suara jangkrik dan sayup-sayup suara dentuman bass dari pesta yang terdengar jauh.

​"Jangan buang waktu saya," tekan Julian lagi, berusaha terdengar berani meski tangannya berkeringat dingin.

​Tiba-tiba, lampu gudang menyala. Cahayanya remang-remang karena bohlamnya sudah tua, tapi cukup untuk memperlihatkan sosok yang duduk santai di atas tumpukan meja bekas.

​Doni.

​Kakak kelas yang tempo hari ribut dengan Alea itu sedang merokok santai. Ia melompat turun, menjatuhkan puntung rokoknya dan menginjaknya.

​"Datang juga lo, Pak Ketua," sapa Doni dengan seringai lebar. "Gue kira lo bakal lari ngadu ke guru."

​"Apa mau kamu?" tanya Julian to the point. "Hapus video dan foto itu. Itu pelanggaran privasi UU ITE."

​Doni tertawa terbahak-bahak. "UU ITE? Lo pikir gue peduli sama pasal-pasal lo? Gue peduli sama ini..." Doni menggoyangkan HP-nya. "Satu kali klik 'Send', video lo dansa mesra sama si Alea bakal nyampe ke WhatsApp bokap lo. Gue denger bokap lo dokter bedah terhormat ya? Pasti malu banget punya anak yang pacaran sama cewek preman."

​Rahang Julian mengeras. "Jangan bawa-bawa Ayah saya. Dan Alea bukan preman."

​"Oh, so sweet. Masih ngebelain ceweknya," ejek Doni. Ia berjalan mengelilingi Julian seperti hiu mengitari mangsa. "Tapi sayang, Jul. Gue cuma eksekutor. Gue cuma orang lapangan."

​Julian mengerutkan kening. "Maksud kamu?"

​"Maksudnya... bos gue yang sebenernya pengen ngomong sama lo."

​Doni menyingkir ke samping.

​Dari balik bayangan lemari arsip tua di sudut gudang, seseorang melangkah keluar. Seseorang yang memakai jas panitia Pensi yang sama persis dengan Julian. Seseorang yang selama ini selalu duduk di samping Julian saat rapat, mencatat notulen, dan tersenyum sopan.

​Rian. Wakil Ketua OSIS 1.

​Mata Julian membelalak tak percaya. "Rian?"

​Rian tersenyum tipis. Wajahnya yang biasanya ramah kini terlihat dingin dan penuh kepuasan.

​"Halo, Pak Ketua," sapa Rian santai. "Gimana pestanya? Seru? Sayang banget lo harus cabut pas lagi asik-asiknya dansa."

​"Kamu..." Julian tercekat. "Kamu yang merencanakan ini? Kamu kerja sama dengan Doni?"

​"Kerja sama itu kata yang bagus," Rian mengangguk. "Gue butuh orang buat mata-matain lo di lapangan, dan Doni punya dendam pribadi sama cewek lo. Win-win solution."

​"Kenapa, Yan?" tanya Julian, benar-benar tidak paham. "Kita tim. Kita kerja bareng buat Pensi ini. Kenapa kamu mau menghancurkan saya?"

​"TIM?!" Rian meledak. Senyumnya hilang, digantikan ekspresi kebencian murni. "Tim apanya, Jul?! Selama ini yang dapet pujian cuma lo! Julian si Jenius! Julian si Penyelamat Pensi! Julian si Anak Emas Kepala Sekolah!"

​Rian melangkah maju, menunjuk dada Julian.

​"Gue yang ngerjain proposal revisi pas lo sibuk ngajarin si Alea! Gue yang ngelobi vendor pas lo sibuk main kucing-kucingan! Tapi tetep aja, di mata guru, di mata siswa, Rian itu cuma bayangan Julian. Gue muak, Jul. Gue muak jadi nomor dua."

​Julian terdiam. Ia tidak menyadari hal itu. Baginya, pembagian tugas di OSIS sudah adil. Tapi ternyata, di balik senyum penurut Rian, ada ambisi yang terinjak-injak.

​"Kalau kamu mau posisi Ketua, ambil saja tahun depan," kata Julian. "Jangan pakai cara kotor begini."

​"Tahun depan gue udah kelas 12, bego! Gue butuh portofolio sekarang buat masuk kuliah!" bentak Rian.

​Rian mengeluarkan HP-nya sendiri. Di layarnya, terpampang draf email yang sudah siap dikirim. Penerimanya: dr. Prasetyo Pradana, Sp.BS (alamat email kantor ayah Julian yang didapat Rian dari data sekolah) dan Kepala Sekolah.

​Lampirannya: Foto Julian makan di pinggir jalan, Video Julian dansa, dan... sebuah foto blur seseorang bermasker tengkorak masuk ke Studio Bising.

​Jantung Julian berhenti berdetak. Mereka punya foto Phantom?

​"Gue nggak tau siapa cowok masker ini," kata Rian, menunjuk foto Phantom. "Tapi Doni bilang dia sering liat cowok ini bareng band-nya Alea. Dan postur badannya... mirip banget sama lo, Jul. Gue yakin kalau bokap lo liat ini, dia bakal curiga."

​"Jangan," suara Julian bergetar. "Jangan kirim itu."

​"Takut?" Rian tersenyum puas melihat Julian yang selalu tenang kini terlihat hancur. "Oke. Gue kasih penawaran."

​"Apa syaratnya?"

​"Pertama," Rian mengangkat satu jari. "Lo mundur dari posisi Ketua Pelaksana Pensi. Bilang ke Kepsek kalau lo sakit atau stres mau Olimpiade. Serahin posisi Ketua ke gue. Gue mau nama gue yang dipanggil di panggung pas penutupan nanti."

​Harga diri Julian terluka, tapi itu masih bisa ia toleransi. "Oke. Saya mundur."

​"Kedua," Rian mengangkat jari kedua. "Jauhi Alea."

​Julian mendongak tajam. "Itu urusan pribadi. Tidak ada hubungannya dengan OSIS."

​"Ada hubungannya sama kepuasan gue," potong Rian. "Gue nggak suka liat lo bahagia sementara gue kerja keras bersihin sampah lo. Gue mau lo putusin hubungan lo sama dia. Bikin dia benci sama lo. Bikin dia ngejauh."

​"Saya nggak bisa—"

​"Kirim, Don," perintah Rian dingin.

​Doni sudah siap menekan tombol di HP-nya.

​"TUNGGU!" teriak Julian. Napasnya memburu. Ia terpojok. Benar-benar terpojok.

​Jika email itu terkirim, ayahnya akan tahu segalanya. Bukan cuma soal Alea, tapi soal Phantom. Ayahnya akan menariknya dari sekolah, mungkin mengirimnya ke asrama, atau lebih buruk lagi... menghancurkan gitarnya lagi. Dan yang paling parah, ayahnya pasti akan menyalahkan Alea, mungkin menekan sekolah untuk mengeluarkan Alea.

​Julian tidak punya pilihan. Untuk melindungi rahasianya, dan melindungi Alea dari murka ayahnya, ia harus mengorbankan perasaannya sendiri.

​Julian menundukkan kepala. Tangannya terkepal erat di samping tubuhnya hingga buku-buku jarinya memutih.

​"Baik," bisik Julian parau.

​"Apa? Nggak denger," ejek Doni.

​"SAYA SETUJU!" seru Julian, matanya memerah menahan air mata kemarahan. "Saya akan mundur jadi Ketua Pelaksana. Dan saya akan... menjauhi Alea."

​Rian tersenyum lebar. Ia menepuk pipi Julian pelan—sebuah gestur yang sangat merendahkan.

​"Anak pinter. Besok pagi gue tunggu surat pengunduran diri lo di meja Kepsek. Kalau lo macem-macem, atau kalau gue liat lo masih deket-deket sama si Alea... booom. Paham?"

​Julian tidak menjawab. Ia menepis tangan Rian kasar.

​"Ayo, Don. Kita balik ke pesta. Rayain kemenangan kita," ajak Rian.

​Mereka berdua berjalan keluar gudang sambil tertawa-tawa, meninggalkan Julian sendirian di kegelapan.

​Setelah mereka pergi, Julian merosot jatuh. Lututnya menghantam lantai semen yang keras. Ia tidak merasakan sakit di lututnya. Sakit di dadanya jauh lebih hebat.

​Ia harus menyakiti Alea. Ia harus menjadi antagonis lagi. Padahal baru saja, satu jam yang lalu, ia merasa menjadi pangeran yang berdansa dengan putrinya.

​"Maafin gue, Le..." isak Julian tertahan. "Maafin gue..."

​Di luar gudang, tersembunyi di balik tumpukan peti kayu bekas minuman, seseorang membekap mulutnya sendiri agar tidak berteriak.

​Alea.

​Dia menyusul Julian karena khawatir cowok itu menghilang terlalu lama. Instingnya menuntunnya ke gudang. Dan dia mendengar semuanya.

​Alea mendengar pengkhianatan Rian.

Alea mendengar ancaman Doni.

Dan yang paling menyakitkan, Alea mendengar Julian menyetujui persyaratan itu.

​Air mata menetes di pipi Alea, melunturkan eyeliner mahalnya.

​Awalnya dia marah. Kenapa Julian tidak melawang? Kenapa Julian menyerah begitu saja?

​Tapi kemudian dia sadar. Julian melakukan itu demi ayahnya. Demi melindungi rahasia mereka. Julian mengorbankan posisinya dan kebahagiaannya sendiri karena dia tidak punya pilihan. Julian terperangkap dalam sangkar emas yang bernama ekspektasi keluarga.

​Alea ingin lari ke dalam, memeluk Julian, dan bilang 'Gue tau semuanya, kita lawan bareng-bareng!'.

​Tapi logika Alea—yang mulai terasah berkat Julian—menahannya.

​Kalau Alea masuk sekarang, Rian dan Doni mungkin masih di sekitar situ. Kalau mereka tau Alea mendengar semuanya, mereka bisa nekat mengirim foto itu detik ini juga. Dan Julian akan hancur.

​Alea menghapus air matanya dengan punggung tangan. Tatapannya berubah nyalang.

​"Oke, Rian. Oke, Doni," batin Alea. "Kalian mau main kotor? Gue bakal main lebih kotor."

​Selama ini orang mengira Alea cuma modal nekat dan otot. Mereka lupa, Alea adalah street smart. Dia tahu cara bertahan hidup di jalanan yang tidak diketahui anak-anak manja seperti Rian.

​Alea tidak akan membiarkan Julian berjuang sendirian. Tapi dia harus main cantik. Dia harus pura-pura mengikuti permainan ini.

​Alea berbalik, mengendap-endap pergi dari area gudang, kembali ke pesta dengan hati yang remuk tapi tekad yang membaja.

​Malam itu, di bawah lampu neon pesta, dua hati patah. Satu karena terpaksa melepaskan, satu lagi karena harus pura-pura tidak tahu.

​Keesokan harinya.

​Berita itu menyebar cepat di mading sekolah.

​PENGUMUMAN PERGANTIAN KETUA PELAKSANA PENSI

Dikarenakan kondisi kesehatan dan fokus persiapan Olimpiade, Julian Pradana mengundurkan diri sebagai Ketua Pelaksana. Posisi tersebut kini diambil alih oleh Rian Santoso.

​Siswa-siswa berkerumun, bingung. Julian si perfeksionis mundur? Itu hal paling mustahil sedunia.

​Di koridor, Alea berjalan bersama Raka.

​"Aneh banget," komentar Raka. "Si Julian kenapa dah? Sakit apa dia?"

​Tiba-tiba, Julian lewat dari arah berlawanan bersama Sarah.

​Mata Alea dan Julian bertemu.

​Biasanya, ada senyum tipis atau kode rahasia di antara mereka. Tapi kali ini, tatapan Julian dingin. Kosong. Seperti tembok es yang lebih tebal dari sebelumnya.

​Alea berhenti, hendak menyapa. "Jul—"

​Julian membuang muka. Ia berjalan lurus, sengaja menabrak bahu Alea pelan saat lewat, tanpa minta maaf.

​"Minggir," desis Julian, cukup keras untuk didengar orang-orang di sekitar. "Jangan menghalangi jalan."

​Siswa-siswa yang melihat kejadian itu menahan napas. Drama lama dimulai lagi?

​Hati Alea nyeri, seolah ditusuk jarum. Padahal dia tahu. Dia tahu ini sandiwara. Dia tahu Julian terpaksa. Tapi melihat mata dingin itu ditujukan padanya tetap saja sakit.

​Raka melotot. "Woi! Santai dong! Lo kenapa lagi sih sama Alea?"

​Julian tidak berhenti. Ia terus berjalan, mengepalkan tangannya di dalam saku celana begitu erat hingga kukunya melukai telapak tangan.

​Jangan noleh, batin Julian menjerit. Jangan noleh. Kalau kamu noleh, kamu bakal lari ke dia.

​Alea menatap punggung Julian yang menjauh. Ia menarik napas panjang, menahan getaran di bibirnya.

​"Nggak apa-apa, Ka," kata Alea pada Raka. "Dia lagi... banyak pikiran."

​Tunggu gue, Jul, janji Alea dalam hati. Gue bakal cari celah buat jatuhin si Rian. Gue bakal balikin senyum lo.

​Perang dingin babak kedua dimulai. Tapi kali ini, Alea tidak bertarung melawan Julian. Dia bertarung untuk Julian.

...****************...

BERSAMBUNG.....

Terima kasih telah membaca💞

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!