NovelToon NovelToon
Suamiku Ternyata Konglomerat

Suamiku Ternyata Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Pernikahan Kilat / Nikahmuda / CEO
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Indriani_LeeJeeAe

Satu malam yang tak pernah ia inginkan mengubah seluruh hidup Serene Avila. Terbangun di samping pria asing, ia memilih kabur tanpa menoleh—tak tahu bahwa pria itu adalah Raiden Varendra, konglomerat muda yang bisa mengguncang seluruh kota hanya dengan satu perintah. Dua bulan kemudian, Serene hamil… kembar. Di tengah panik dan putus asa, ia memutuskan mengakhiri kehamilan itu. Hingga pintu rumah sakit terbuka, dan pria yang pernah ia tinggalkan muncul dengan tatapan membelenggu.

“Kau tidak akan menyentuh anak-anakku. Mulai sekarang, kau ikut aku!”

Sejak saat itu, hidup Serene tak lagi sama.
Dan ia sadar, kabur dari seorang konglomerat adalah keputusan terburuk yang pernah ia buat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indriani_LeeJeeAe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 > Do'a Seorang Ayah

Api menjilat dinding rumah persembunyian seperti makhluk hidup yang kelaparan. Asap tebal memenuhi udara, menyengat paru-paru dan membuat pandangan kabur. Suara kayu terbakar bercampur dengan dentuman peluru dan teriakan yang saling tumpang tindih. Malam yang seharusnya sunyi berubah menjadi neraka terbuka.

Raiden Varendra melangkah masuk tanpa ragu. Setiap langkahnya berat, bukan karena asap atau panas... melainkan karena satu nama yang terus menggema di kepalanya. Siapa lagi kalau bukan istrinya, yaitu Serene.“Tim Alfa, laporkan posisi!” perintahnya keras melalui alat komunikasi tersembunyi.

“Lantai satu tidak aman!”

“Kami terdesak di sisi timur!”

“Target menyebar, mereka tahu jalur kita!”

Raiden mengepalkan tangan. Matanya bergerak cepat, memetakan situasi dalam hitungan detik. Api di sisi kanan. Tangga utama runtuh sebagian. Jalur evakuasi belakang terputus.

Ini bukan serangan asal. Ini pembantaian terencana. “Arlo,” katanya tajam. “Ezra?”

“Belum ditemukan. Tapi sinyalnya aktif di radius satu kilometer.”

Raiden menggeram pelan. “Dia sengaja mengulur waktu.”

Ia berlari menaiki tangga darurat samping, menendang pintu yang menghalangi. Setiap sudut ruangan ia periksa, setiap bayangan ia tembus tanpa ragu. “Serene!” teriaknya lagi.

Tidak ada jawaban. Hanya suara api. Sementara di lantai atas, Serene terduduk di sudut ruangan kecil. Nafasnya pendek-pendek. Tangan kirinya mencengkeram perutnya, tangan kanannya menutup mulutnya agar tidak berteriak.

Air mata mengalir tanpa bisa ditahan. Ia takut. Takut bukan hanya untuk dirinya, tapi untuk dua kehidupan kecil yang bergantung sepenuhnya padanya. Langkah kaki terdengar di luar pintu.

Langkah kaki yang berat. Tidak tergesa. Yakin. Serene menahan napas ketika pintu berderit terbuka perlahan.

Seorang pria bertopeng hitam masuk. Senjata terangkat. “Kau istri Varendra,” katanya dingin. “Bernilai tinggi.”

Serene mundur, punggungnya menabrak dinding. “Tolong… Jangan sentuh aku. Aku sedang hamil.”

Pria itu tertawa singkat. “Justru itu.”

Ia melangkah mendekat, lalu...

DOR!

Peluru menghantam dadanya dari samping. Tubuh pria itu terlempar, menghantam rak dan jatuh tak bergerak.

Serene menjerit tertahan. Raiden berdiri di ambang pintu.

Wajahnya gelap oleh jelaga, jasnya robek, darah menetes dari pelipisnya, entah milik siapa. Namun matanya… mata itu menyala dengan sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada api di sekeliling mereka. “Serene,” suaranya bergetar untuk pertama kalinya

Malam itu. Serene terisak, tubuhnya lemas. “Raiden…”

Ia berlari, mengabaikan nyeri, asap, segalanya... dan memeluk istrinya erat. “Aku di sini,” bisiknya di rambut Serene. “Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu.”

Serene menangis di dadanya, menggigil. “Aku pikir… aku pikir aku akan mati.”

Raiden memejamkan mata, menahan amarah yang hampir meledak. “Tidak,” katanya tegas. “Tidak malam ini. Tidak akan pernah.”

Namun sebelum ia bisa bergerak, Serene meringis kesakitan. Raiden menegang ketika melihat itu. “Serene?”

“Aku… perutku… sakit,” desahnya. “Raiden, ada yang tidak beres.”

Dunia Raiden seakan runtuh. “Arlo!” teriaknya. “Butuh medis sekarang!”

“Medis terhalang api di lantai dua!”

Raiden mengangkat Serene dalam pelukannya. “Kita keluar,” katanya. “Sekarang.”

Mereka berlari melewati koridor yang mulai runtuh. Api jatuh dari langit-langit. Kayu patah. Bau bensin menyengat.

Raiden melindungi kepala Serene dengan tubuhnya sendiri saat puing-puing berjatuhan. Sebuah ledakan kecil mengguncang bangunan. Serene menjerit kesakitan. “Raiden... aku tidak kuat-”

“Lihat aku,” Raiden menghentikan langkahnya sejenak, menatap wajah Serene yang pucat. “Kau kuat. Kau lebih kuat dari siapa pun.” Ia menyentuh pipi Serene dengan lembut, kontras dengan kekacauan di sekitar mereka.

“Anak-anak kita membutuhkanmu,” katanya rendah. “Dan aku juga membutuhkanmu.”

Serene mengangguk lemah. Mereka hampir mencapai pintu belakang ketika bayangan muncul. Ezra Kael berdiri di sana, dikelilingi dua pria bersenjata. Wajahnya penuh luka, namun senyumnya tetap ada.

“Mengharukan,” katanya santai. “Sungguh.”

Raiden memutar tubuhnya, memposisikan Serene di belakangnya. “Menjauh,” perintahnya dingin.

Ezra tertawa. “Kau pikir ini akan berakhir dengan pelukan?”

Kemudian ia mengangkat senjatanya. “Aku kehilangan segalanya karena keluargamu.”

Raiden melangkah maju satu langkah. “Dan kau akan kehilangan lebih banyak.”

“Berhenti!” Serene tiba-tiba bersuara, suaranya lemah namun jelas. “Kalau kau ingin balas dendam… ambil aku. Jangan anak-anakku.”

Raiden membeku. “Serene, tidak-”

Ezra mengangkat alis, tertarik. “Pengorbanan yang sangat indah.”

Raiden berbalik tajam. “Diam.”

Ia menatap Ezra lagi, dan untuk pertama kalinya, suara Raiden berubah, bukan dingin, bukan marah... melainkan mematikan. “Kau ingin aku memilih?” katanya. “Baik.”

Ia melangkah maju, meninggalkan Serene di belakangnya.

“Aku pilih dunia yang kau tak bisa sentuh.”

Raiden mengangkat tangannya. Dari balik asap, puluhan titik merah laser muncul, mengarah tepat ke kepala Ezra dan anak buahnya. “Varendra tidak bernegosiasi dengan hantu,” lanjut Raiden. “Kami menghapusnya.”

Ezra terbelalak.

“Sekarang,” kata Raiden datar.

Ledakan tembakan memenuhi udara. Ezra terjatuh ke belakang, darah menyembur dari bahunya. Ia berteriak kesakitan, berusaha merangkak. Namun Raiden mendekat, berdiri di atasnya.

“Ini belum berakhir,” desis Ezra. “Kau tidak bisa melindungi mereka selamanya.”

Raiden berlutut, menatap mata Ezra tanpa emosi. “Aku tidak perlu selamanya,” katanya pelan. “Hanya cukup lama untuk memastikan kau tidak bernapas.”

Ia berdiri, memberi isyarat. Ezra diseret pergi oleh unit bayangan. Raiden berbalik dan jantungnya hampir berhenti. Serene terjatuh ke lantai. Darah mengalir di sela-sela kakinya.

“Serene!” Raiden berlari, berlutut di sampingnya.

Wajah Serene pucat, matanya berkaca-kaca. “Raiden… jangan biarkan… mereka…”

Raiden mengangkatnya dengan tangan gemetar. “Medis!” teriaknya panik. “Aku butuh medis sekarang!”

“Ada helikopter di atap!” teriak Arlo. “Tapi waktunya sempit!”

Raiden berlari secepat yang ia bisa, menembus api dan asap, menaiki tangga darurat terakhir. Setiap langkah terasa seperti pertaruhan hidup dan mati.

Serene meringis, tubuhnya melemah di pelukan Raiden. “Bertahan,” bisik Raiden berulang kali. “Tolong bertahan…”

Helikopter lepas landas di tengah kobaran api.

Di dalam kabin, dokter berusaha menghentikan pendarahan. Serene hampir tak sadarkan diri. Raiden duduk di sampingnya, tangannya menggenggam tangan Serene erat, seolah takut kehilangan sentuhan itu.

“Aku di sini,” katanya lirih. “Jangan pergi. Aku belum sempat mengatakan banyak hal.”

Air mata jatuh tanpa ia sadari. Dokter menatap Raiden serius. “Tuan Varendra… kami akan melakukan yang terbaik. Tapi kondisinya kritis.”

Raiden mengangguk kaku. Helikopter melaju menuju rumah sakit khusus. Di luar, malam masih gelap.

Dan di dalam hati Raiden, untuk pertama kalinya... ia berdoa. Bukan sebagai raja.

Bukan sebagai Varendra. Melainkan sebagai seorang suami… dan ayah yang ketakutan. Kini Helikopter mendarat. Pintu terbuka.

Serene dibawa pergi dengan cepat. Raiden berdiri sendiri di landasan, darah dan jelaga menempel di tubuhnya, menatap pintu ruang operasi yang tertutup rapat. Lampu merah menyala. Waktu seakan berhenti.

Dan di balik pintu itu... nasib Serene dan kedua bayi mereka dipertaruhkan.

Raiden mengepalkan tangan. “Siapa pun yang menyebabkan ini,” bisiknya dingin, “akan membayar dengan segalanya.”

Lampu ruang operasi tetap merah. Dan malam belum selesai.

***

Akankah Serene berhasil diselamatkan?

Bersambung…

1
❤Follow IG aisyah_az124 ❤
semngat Kak Lee💪💪💪
❤Follow IG aisyah_az124 ❤: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 2 replies
Wayan Miniarti
luar biasa thor... lanjuttt
Li Pena: Siap, Akak.. maacih udah mampir ya 🙏🤭
total 1 replies
Sunarmi Narmi
Baca di sini aku Paham kenapa bnyak yg tdk Like...Di jaman skrng nikah kok berdasar Status apalagi sdh kaya....Bloon bnget kesenjangan sosial bikin gagal nikah apalagi seorang Raiden yg sdh jdi CEO dgn tabungan bnyak...Kkrga nolak ya bawa kbur tuh istri dn uang " mu....Cerdas dikit Pak Ceo..gertakan nenek tidak berpengaruh.masa nenek jdi lbih unggul kan body aja ringkih
Li Pena: Terimakasih sudah mampir dan juga menilai novel ini. maaf bila alur tidak sesuai yang diharapkan dan juga banyak salahnya, mohon dikoreksi agar author bisa belajar lebih banyak lagi 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!