"Bukankah itu suaminya Bu Daisy Elmira ya?" Bisik-bisik sebagian orang yang ada di Sekolahan TK di Kampung Pinus Buntu.
Bola mata indah itu berkaca-kaca, ketika sosok pria yang menikahinya 3 tahun lalu ada di layar televisi sedang mengadakan resepsi pernikahan super mewah dengan seorang aktris bernama Sasha Abigail.
Adnan Baskara pria tampan berusia 30 tahun itu hanya menikahi Daisy secara siri dengan alasan pernikahan mereka tidak mendapatkan restu.
"Jadi, ini alasan kepergianmu 3 bulan lalu yang hingga kini menjadi susah untuk aku hubungi? Kamu pergi bukan untuk meyakinkan keluargamu tentang hubungan pernikahan kita, tapi justru kamu menikah lagi."
"Apa aku yang terlalu bodoh? Atau sebenarnya kamu seorang pemain? Yang pasti, aku tidak butuh suami pengkhianat bermulut racun sepertimu. Jika dia pilihanmu, maka kamu harus melepaskanku di hadapan banyak orang supaya istri keduamu tahu jika dia hanya seorang PELAKOR!"
UPDATE SETIAP HARI.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lamaran Model Apa?
Saat itu Dania sedang fokus memilih daster di sebuah toko. Tiba-tiba tangannya ditarik seseorang.
"Tania?" Dania terkejut tapi juga takut melihat sorot tajam Tania.
"Ikut aku, ada yang ingin aku bicarakan." Ucap Tania dingin.
"Kemana sih? Aku belum selesai memilih daster yang aku mau." Ucap Dania berusaha melepaskan diri.
"Sudahlah jangan banyak bicara lagi, ikut kemana aku membawamu pergi. Jangan melawan atau membuat orang curiga maka kamu pasti selamat." Ucap Tania menggandeng tangan Dania, lebih tepatnya mencengkeram dengan kuat.
Dalam perjalanan dari toko menuju ke basement. Dania terus mengajak Tania berbicara sambil satu tangannya menekan tombol darurat dari ponselnya.
Setelah yakin, sudah terkirim pesan SOS ke nomer telepon darurat. Dania memencet tombol rekaman suara.
"Kenapa kamu ingin membawaku pergi? Kamu mau menculikku?" Tanya Dania.
"Lebih tepatnya aku ingin melenyapkanmu. Tapi sebelum mati, sebaiknya bertemu dulu dengan sepupuku yang tampan. Dia pecinta wanita, pasti kamu akan dipuaskan olehnya." Ucap Tania.
"Siapa namanya? Setampan apa dia?" Alih-alih takut, justru Dania mempertanyakan informasi dari penculik dirinya.
"Rafael Zubin, mantan suami Maureen. Tidak kalah tampan dari Agastya." Ucap Tania yang tidak sadar jika Dania sedang berusaha menjebaknya. Jangan ragukan otak mantan guru TK ini, yang karena keseringan nonton film mafia suka tantangan.
"Woowww... Benarkah mantan Maureen tampan. Dan dia sepupu kamu Tania?" Tanya Dania dengan binar palsu.
"Tentu apalagi dia pandai memuaskan wanita di atas ranjang. Maureen saja yang bodoh karena menceraikannya. Lebih tepatnya diceraikan akibat mandul. Kasihan sekali Dokter tapi mandul." Oceh Tania sambil tertawa mengejek, tidak sadar Dania mengulur waktu.
"Jika begitu, kenapa tidak kamu minta siapa tadi nama sepupumu untuk membuatmu puas juga Tania. Jujur saja, aku sudah dua kali menikah dan sudah tahu rasanya laki-laki, dan Mas Agastya yang paling jago memuaskanku. Lihatlah buktinya aku hamil padahal baru sebulan menikah tanpa bulan madu ke tempat yang romantis..."
"Cukup di kamar tidur saja, bahkan keesokan harinya aku kesulitan berjalan padahal aku bukan perawan. Bisa kamu bayangkan sekuat apa SUAMIKU itu." Ucap Dania sengaja menyulut api dalam diri Tania. Karena orang yang sedang emosi lebih mudah dikalahkan karena dia akan kehilangan logika dan kewaspadaannya.
PLAK
"Tutup mulut busukmu Dania."
Benar kan, cengkeraman tangan Tania terlepas dari pergelangan tangan Dania. Kesempatan itu tidak Dania sia-siakan, dia gunakan seluruh kekuatan tubuhnya untuk lari menjauhi Tania. Yang saat ini posisi mereka baru sampai di pintu basement.
Dania berlari setelah sebelumnya melempar heelsnya tepat mengenai kepala Tania sampai keluar darah cukup banyak.
"Mam... Pus..." Ucap Dania kembali berlari sekencang yang dia bisa. Hingga langkah kakinya sampai ke luar menuju pinggir Jalan Raya. Bertepatan dengan mobil Agastya sampai.
"Mas Hubby..." Teriak Dania lantang.
Kemudian langsung bergegas masuk mobil sebelum Agastya sempat ingin keluar.
"Ayo cepat, bawa aku ke Dokter Kandungan tapi bukan MANTANmu."
Ucap Dania meringis menahan sakit, karena perutnya yang terasa sakit.
"Aku tadi lari dari basement sampai sini karena menghindari Tania. Dia ingin membunuhku tapi sebelumnya dia ingin memberikan aku untuk dinikmati sepupunya yang bernama Rafael. Dan itu semua karena dia cemburu Mas, lebih tepatnya itu obsesinya sudah dalam tahap gila."
"Astaga... Sayang maafkan aku yang terlambat datang, jalanan macet parah." Ucap Agastya menggenggam tangan Dania yang terasa dingin dan berkeringat.
"Ayo Mas... Tolong lebih cepat. Aku gak mau kehilangan anakku. Masalah Tania, aku sudah merekam pembicaraannya saat tadi menyeretku pergi. Lihat pergelangan tanganku juga memar. Setelah ini laporkan Tania..."
"Ahhh...."
Darah segar mengalir dari sela kaki Dania yang sedang duduk. Tubuhnya menggeliat dan tangannya meremas perutnya yang sakit luar biasa.
"Ya Allah... Dek... Tolong bertahan." Agastya menitikkan air mata melihat Istrinya kesakitan karena melawan Tania.
"Aku tidak akan melepaskanmu, Tania." Gumam Agastya bersumpah akan membuat Tania dan Rafael hancur lebur.
Mobil Agastya melaju kencang menuju Rumah Sakit terdekat, beruntung saat itu Mall itu tidak jauh dari sebuah Klinik Bersalin kecil.
"Kita ke Klinik ini saja gak apa-apa ya Sayang. Kalau Rumah Sakit besar, masih jauh lokasinya dari posisi kita." Ucap Agastya mengelus-elus perut Istrinya yang memang teraba keras.
"Tidak masalah untuk pertolongan pertama, aku takut Hubby." Ucap Dania.
"Sayang, percayalah kedua bayi kembar kita adalah anak yang kuat. Masalah Tania, kamu tenang saja. Karena Maureen sedang menuju ke Kantor Polisi untuk melaporkan kejahatannya. Kamu tahu Sayang, ternyata sosok Pengancam yang aku cari selama ini adalah Tania dan Rafael."
"Kok bisa?" Tanya Dania heran.
"Ceritanya panjang, setelah kamu pulih. Baru kita bahas masalah ini. Yang terpenting adalah kamu dan anak-anak." Ucap Agastya lembut.
"Aku lupa belum beritahu Mama dan Papa, Agra dan Shireen." Gumam Agastya didengar oleh Dania.
"Kabari saja setelah aku diperiksa, jangan bikin cemas orang tua."
Sementara itu, Tania yang kepalanya terluka akibat lemparan heels Dania tengah mengumpat karena kepalanya bocor.
"Brengsek... Dania! Bisa-bisanya dia lari padahal katanya sedang hamil. Aku juga harus segera ke Rumah Sakit sebelum darahku habis." Terkadang orang jahat selalu kuat. Bukan karena dia manusia hebat, tapi karena setan di tubuhnya.
Sementara di Kantor Polisi, Maureen sebagai pelapor sekaligus saksi kuat atas kasus yang dilakukan Tania. Bukti laptop dan ponsel miliknya, ditambah pengakuannya sebagai orang yang ikut membantu menutupi kejahatan Tania. Bahkan Maureen juga melaporkan Rafael, yang sebenarnya sudah terlambat dilakukan.
"Seharusnya jika tak cinta, tak perlu menikahinya yang menyebabkan luka."
"Aku tidak tahu harus apa, waktu itu orang tua menjodohkanku. Dan ternyata aku menikahi monster." Ucap Maureen berusaha menyembunyikan kegugupannya.
"Nona Maureen... Apa kalau ada pria biasa yang datang melamar, Anda mau menerimanya?" Tanya Hendry sambil menunduk menyembunyikan ketakutannya sendiri. Takut ditolak, takut dimaki, takut dihina dan takut dengan kenyataan.
"Apa mungkin masih ada pria yang mau dengan barang bekas? Aku seorang Janda, apa yang bisa aku banggakan dari diriku."
"Nona Maureen... Saya mencintai Anda. Maukah Anda menikah dengan saya. Seorang pria biasa yang tidak punya kuasa apalagi harta benda." Ucap Hendry lirih, bahkan tidak berani untuk menatap wanita pujaannya.
"Melamar di Kantor Polisi tanpa cincin tanda keseriusan. Jangan bercanda." Ucap Maureen terkekeh geli sendiri.
"Cincinnya masih ada di toko, lupa dibawa pulang dari kemarin. Tapi kalau lamaran ini diterima, jangankan sebuah cincin bahkan tokonya belum tentu bisa aku beli. Karena aku hanya membawa hati yang masih utuh terukir namamu."