NovelToon NovelToon
Rempah Sang Waktu

Rempah Sang Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Cinta Istana/Kuno / Reinkarnasi / Cinta Beda Dunia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author:

Seorang Food Vlogger modern yang cerewet dan gila pedas, Kirana, tiba-tiba terlempar ke era kerajaan kuno setelah menyentuh lesung batu di sebuah museum. Di sana, ia harus bertahan hidup dengan menjadi juru masak istana, memperkenalkan cita rasa modern, sambil menghindari hukuman mati dari Panglima Perang yang dingin, Raden Arya.

Season 3 Warisan Darah Majapahit : 05 Hilangnya Pusaka

Pukul 14.30 WIB. Jalanan Jakarta Selatan.

Mobil SUV Arya membelah kemacetan Jakarta dengan kecepatan gila. Klakson berbunyi panjang, menyuruh minggir kendaraan lain. Di kursi belakang, Kirana memeluk Bumi yang masih tertidur lelap (efek obat Nyi Roro), sementara Dimas di kursi depan sibuk dengan ponselnya.

“Dimas, cek CCTV rumah! Sekarang!” Perintah Arya sambil membanting setir ke kiri.

Dimas mengutak-atik aplikasinya dengan jari gemetar. “Loadingnya lama, Kakang. Sinyalnya dijamming… tunggu.”

Layar ponsel Dimas akhirnya menyala menampilkan live feed dari empat kamera di rumah Arya.

“Kamera depan aman. Pagar tertutup,” lapor Dimas. “Kamera ruang tamu… kosong. Kamera dapur… kosong.”

Arya menghela napas sedikit lega. “Kamera ruang kerja?”

Dimas menekan tombol kamera 4. Layarnya statis. Semut abu-abu.

“Rusak,” desis Dimas. “Cuma kamera ruang kerja yang mati total. Last online 13.15 tadi.”

“Sial!” Arya menginjak gas lebih dalam. Jam 13.15 adalah saat Ki Seto meninggalkan restoran.

Pukul 15.00 WIB. Rumah Arya & Kirana.

Mobil berhenti mendadak di depan pagar dengan bunyi ban berdecit. Arya melompat keluar, tidak menunggu pagar otomatis terbuka. Ia memanjat pagar besi setinggi dua meter itu dengan gesit, lalu berlari ke pintu depan.

Terkunci.

Arya menempelkan jempolnya ke smart lock. Pintu terbuka.

Ia berlari langsung menuju ruang kerjanya di lantai bawah, diikuti Dimas. Kirana tetap di mobil menjaga Bumi, mengunci semua pintu mobil dari dalam sesuai instruksi Arya.

Arya mendobrak pintu ruang kerja.

Ruangan itu dingin. Sangat dingin, padahal AC mati. Aroma bunga kantil yang menyengat—bau kematian—memenuhi udara, membuat perut mual.

Brankas di dinding masih tertutup lukisan. Terlihat normal.

Arya menggeser lukisan itu dengan kasar. Lampu indikator brankas masih hijau. Tidak ada tanda-tanda congkelan paksa.

“Masih terkunci,” gumam Dimas. “Mungkin cuma gangguan sinyal?”

Arya tidak menjawab. Tangannya gemetar saat memindai sidik jari.

KLIK. WUUSH.

Pintu brankas terbuka.

Kosong.

Bantalan beludru merah di dalamnya kosong melompong. Keris Kyai Sengkelat hilang.

Hanya ada secarik kertas kuno yang tergeletak di sana, ditindih oleh sekeping uang logam bolong (uang keping Cina kuno).

Arya mengambil kertas itu. Tulisannya menggunakan Aksara Jawa, tapi ditulis dengan cairan merah yang belum kering. Darah.

Dimas mendekat, membaca tulisan itu:

“Gembok pertama sudah hancur. Pintunya mulai terbuka.”

Arya meremas kertas itu hingga hancur. Ia memukul dinding brankas sekuat tenaga. BUGH!

“Bagaimana bisa?!” Teriak Arya frustasi. “Ini baja Jerman! Tebalnya 5 centi! Dan kuncinya digital! Bagaimana dia bisa mengambilnya tanpa membuka pintu?!”

Dimas memungut uang kepeng di dalam brankas itu. Ia mengamatinya.

“Pencurian ghaib, Ar,” kata Dimas pelan, wajahnya pucat. “Dia tidak pakai linggis atau bor. Dia pakai Tuyul atau Khodam tingkat tinggi yang bisa menembus materi padat. Teknologi nggak bisa lawan sihir macam ini.”

Arya terduduk lemas di lantai. Kehilangan Kyai Sengkelat bukan sekedar kehilangan senjata. Itu adalah separuh jiwanya. Tanpa keris itu, kekuatan tempur supranatural nya berkurang drastis. Dan yang lebih parah: satu pelindung Bumi sudah hilang.

Di Dalam Mobil (Luar Pagar).

Kirana duduk meringkuk memeluk Bumi. Ia melihat Arya dan Dimas berlari masuk tadi, dan sampai sekarang belum keluar.

Tiba-tiba, suhu di dalam mobil turun drastis. Kaca mobil mulai berembun.

Bumi menggeliat dalam tidurnya. Kelopak matanya bergerak-gerak cepat.

“Panas…” rintih Bumi dalam tidur.

“Bumi? Sayang?” Kirana menepuk pipi anaknya.

Bumi membuka mata.

Mata itu… bukan mata bumi. Pupilnya melebar hingga menutupi sebagian cokelat, menyisakan warna hitam legam yang kelam.

Bumi duduk tegak kaku. Ia menatap Ibunya, tapi tatapannya tembus pandang.

Lalu, mulut kecil itu terbuka, mengeluarkan suara yang bukan suara anak-anak. Itu suara berat, serak, dan berwibawa. Suara seorang pria tua.

“Nyai…” panggil sosok di dalam tubuh Bumi itu. “Nyai Ratu…”

Kirana menjerit tertahan, mundur menempel ke pintu mobil. Cincin di jarinya menyala terang benderang, panasnya membakar kulit.

“Keluar! Keluar dari anakku!” Teriak Kirana sambil menempelkan cincin itu ke dahi Bumi.

HISS!!

Terdengar suara mendesis seperti ular terbakar. Bumi kejang-kejang, lalu terbatuk-batuk hebat. Asap tipis keluar dari mulutnya, lalu menghilang menembus atap mobil.

Bumi jatuh pingsan lagi di pangkuan Ibuunya.

Pintu mobil digedor dari luar. Kirana menjerit kaget.

Ternyata Arya. Wajahnya panik.

Kirana membuka kunci pintu dengan tangan gemetar. Langsung menghambur memeluk suaminya sambil menangis.

“Mas! Tadi ada yang masuk… dia panggil aku Nyai Ratu… suaranya serem banget, Mas!”

Arya memeluk istri dan anaknya sekaligus. Ia menatap Dimas yang berdiri di belakangnya.

“Kerisnya hilang,” kata Arya pada Kirana. “Satu gembok lepas. Makanya makhluk itu bisa masuk sebentar tadi.”

“Terus kita harus gimana?” Isak Kirana. “Kita nggak mungkin diem aja nunggu Bumi diambil!”

Arya melepaskan pelukan. Wajahnya keras, matanya gelap.

“Kita nggak nunggu. Dimas, kamu dapat alamat di kartu nama tadi?”

Dimas mengangguk sambil membuka peta di ponselnya. “Jalan Alas Roban No.13. Itu kawasan tua di pinggiran Jakarta yang terkenal angker. Gudang tua bekas pabrik gula.”

“Siapkan mobil,” perintah Arya. “Kita kesana sekarang.”

“Mas, bahaya! Kita nggak punya senjata!” Cegah Kirana.

Arya menatap Kirana. Ia mengambil tangan istrinya, mencium Cincin Merah Delima itu.

“Kita masih punya satu gembok. Kamu,” Arya menatap mata Kirana tajam. “Kamu kuncinya sekarang, Na. Dan aku…”

Arya berjalan ke bagasi mobil, membukanya. Ia mengeluarkan sebuah tas golf tua. Dari dalamnya, ia bukan mengeluarkan stik golf, melainkan beberapa batang besi beton dan sebuah Pedang panjang (replika katanya yang tajam) yang pernah ia beli untuk koleksi.

Bukan Keris pusaka memang. Tapi di tangan Panglima Majapahit, batang kayu pun bisa mematikan.

“Aku akan rebut kembali apa yang jadi milikku. Meskipun harus membakar seluruh kota Jakarta,” sumpah Arya.

Mobil mereka berputar arah, meninggalkan rumah yang sudah tidak aman itu, menuju sarang musuh di mana kegelapan pekat sudah menunggu.

1
Roro
yeee ketemu lagi arya sama kirana
Roro
keren sumpah
NP
Makasih banyak ya kak 🥰🔥
Roro
wahhh ternyata nanti berjodoh di masa depan 😍😍😍
NP: 🤣🤣 tadinya mau stay di masa lampau kirana nya galau 🤭
total 1 replies
Gedang Raja
tambah semangat lagi ya Thor hehehe semangat semangat semangat
Roro
akan kah kirana tinggal
Roro
ayo thor aky tungu update nya
Roro
gimana yah jadinya, apa kita akan bakal pulang atau bertahan di era masa lalu.
NP: Hayoo tebak, kira kira Kirana pilih tinggal di masa lalu atau masa depan?
total 1 replies
Roro
Arya so sweet
Roro
panglima dingin.. mancair yah
NP
Ditunggu ya kak hehehe.. makasih udah suka cerita nya😍
Roro
aku suka banget ceritanya nya Thor, aku tunggu lanjutan nya
Roro
lanjut thor
Roro
kok aku suka yah sama karakter Kirana ini
Roro
ahhhsetuju Kirana
Roro
bagus ceritanya aku suka
Roro
keren thor
Roro
keren jadi semngat aku bacanya, kayak nya tertular semangat nya Kirana deh
NP: Makasih banyak kak Roro😍🙏
total 1 replies
Roro
fix Kirana berada di abad ke 14
Roro
jangan jangan Kirana sampai ke abad 14
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!