Sebuah jebakan kotor dari mantan kekasih memaksa Jenara, wanita karier yang mandiri dan gila kerja, untuk melepas keperawanannya dalam pelukan Gilbert, seorang pria yang baru dikenalnya. Insiden semalam itu mengguncang hidup keduanya.
Dilema besar muncul ketika Jenara mendapati dirinya hamil. Kabar ini seharusnya menjadi kebahagiaan bagi Gilbert, namun ia menyimpan rahasia kelam. Sejak remaja, ia didiagnosis mengidap Oligosperma setelah berjuang melawan demam tinggi. Diagnosis itu membuatnya yakin bahwa ia tidak mungkin bisa memiliki keturunan.
Meskipun Gilbert meragukan kehamilan itu, ia merasa bertanggung jawab dan menikahi Jenara demi nama baik. Apalagi Gilbert lah yang mengambil keperawanan Jenara di malam itu. Dalam pernikahan tanpa cinta yang dilandasi keraguan dan paksaan, Gilbert harus menghadapi kebenaran pahit, apakah ini benar-benar darah dagingnya atau Jenara menumbalkan dirinya demi menutupi kehamilan diluar nikah. Apalagi Gilbert menjalani pernikahan yang dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TILU PULUH LIMA
Dunia maya mendadak gempar. Sebuah portal berita hiburan dan bisnis terkemuka mengunggah sebuah headline dengan judul bombastis: Cinta Lama Bersemi Kembali? CEO Digdaya Guna Terpergok Mesra dengan Arsitek Kelas Dunia di Kantin Perusahaan.
Berita itu segera menjadi viral dalam hitungan menit. Foto yang ditampilkan sangat provokatif, diambil dari sudut yang memperlihatkan Albani seolah sedang menggenggam erat tangan Jenara, sementara Jenara menatapnya dengan senyum yang terlihat sangat intim. Sebagai salah satu CEO wanita paling berpengaruh dan berpotensi tahun ini, setiap gerak-gerik Jenara adalah konsumsi publik. Kolom komentar segera dipenuhi spekulasi, banyak yang memuji keserasian mereka, namun tak sedikit pula yang mulai meragukan profesionalitas Jenara.
Di kantor Gema Kreasi Group, Althaf melangkah dengan terburu-buru menuju ruang kerja Gilbert. Tanpa mengetuk, ia masuk dan menemukan Gilbert yang sedang bersandar di kursi kerjanya, menatap langit-langit dengan ekspresi datar yang sulit dibaca.
"Kau sudah lihat ini?" Althaf menyodorkan tablet miliknya tepat di depan wajah Gilbert.
Gilbert menurunkan pandangannya ke layar. Ia melihat foto istrinya bersama Albani. Matanya hanya terpaku selama beberapa detik, lalu ia mengalihkan pandangan kembali ke jendela besar di belakangnya. Tidak ada teriakan, tidak ada bantingan barang, tidak ada kemarahan yang meledak.
"Lalu?" tanya Gilbert singkat.
Althaf mengerutkan kening, sedikit tidak percaya dengan reaksi sahabatnya. "Lalu? Gilbert, ini berita jahat! Mereka menyerang Jenara dari sisi personal. Lihat foto ini, mereka terlihat seperti sedang kencan di depan umum. Kau tidak khawatir?"
Gilbert menghela napas panjang, suaranya tenang namun mengandung kekuatan yang dalam. "Aku tahu Jenara seperti apa, Althaf. Dia bukan wanita yang akan mengkhianati komitmen, apalagi pria itu jauh di bawahnya. Meski aku akui dia cukup tampan. Itu hanya berita sampah yang sengaja digoreng oleh pihak yang ingin melihatnya jatuh."
Althaf menarik kursi dan duduk di hadapan Gilbert. "Kau terlalu tenang. Apa kau tidak ingin mengumumkan pernikahan kalian sekarang saja? Agar semua spekulasi ini berhenti? Agar pria-pria di luar sana, termasuk si arsitek itu tahu batas mereka?"
Gilbert menggelengkan kepalanya dengan mantap. "Belum saatnya. Situasinya terlalu berisiko. Saat ini banyak musuh yang mengincar Jenara, baik dari depan maupun dari belakang. Jenara terlalu lurus dalam menjalani bisnisnya, dia tidak punya banyak trik kotor. Sebelum aku menemukan siapa saja yang menjadi duri dalam perjalanannya, pernikahan ini harus tetap menjadi rahasia kita. Aku ingin menjadi tameng yang tak terlihat baginya, bukan malah membuatnya menjadi target yang lebih besar."
Althaf mengangguk paham, meski hatinya masih merasa cemas. "Lalu bagaimana dengan proyek Semarang? Aku dengar ada masalah."
Gilbert sedikit tersenyum sinis. "Hanya masalah kecil. Perusahaan Jenara disabotase oleh pesaing pada lahan yang lama. Jadi, aku memberikan lahan milikku untuknya. Biarkan pesaingnya sibuk dengan tanah sengketa itu, sementara Jenara membangun di tempat yang jauh lebih baik."
Althaf tertawa keras, menepuk bahu Gilbert dengan kencang. "Nah! Akhirnya kau ada gunanya juga untuk istrimu. Ternyata kau bisa menjadi pahlawan kesiangan yang efektif."
"Diamlah, teman sialan," gerutu Gilbert, meski ia tidak menepis tangan Althaf.
Drrt... drrt...
Ponsel Gilbert bergetar di atas meja. Sebuah pesan WhatsApp masuk dari Jenara. Gilbert membukanya dan menemukan sebuah foto buket bunga Lily dan Mawar yang sangat cantik.
“Terima kasih untuk bunganya, Gilbert. Aku tidak menyangka pria es batu sepertimu bisa melakukan hal semanis ini di pagi hari yang berat ini. It means a lot to me.”
Althaf, yang memang dasarnya tidak bisa menjaga jarak privasi, ikut mengintip layar ponsel Gilbert. Ia langsung bersiul panjang. "Wow! Sejak kapan kau belajar menjadi pria romantis, Gil? Pakai kirim bunga segala?"
Wajah Gilbert yang tadinya tenang mendadak berubah menjadi tegang. Alisnya bertaut. "Aku tidak mengirimkan bunga apa pun, Althaf. Jangankan bunga, aku bahkan belum sempat memesan makanan untuk diriku sendiri hari ini."
Tawa Althaf berhenti seketika. "Kalau bukan kau... lalu siapa? Pengagum rahasia?" Althaf kembali meledek, namun kali ini dengan nada yang lebih serius. "Lihat, Gil. Sekalinya kau dekat dengan wanita, sainganmu bukan kaleng-kaleng. Banyak pria sukses yang mendamba menjadi pasangan Jenara. Hati-hati, jangan sampai Jenara diambil oleh pria lain yang mungkin lebih tampan darimu."
"Soal tampan, itu subjektif," sahut Gilbert dingin.
"Benar, tapi soal mapan, kau memang tidak perlu diragukan. Tapi ingat pesanku satu hal," Althaf berdiri, bersiap meninggalkan ruangan. "Genggam hati Jenara dengan kasih sayang, tapi jangan terlalu erat. Wanita hebat seperti dia tidak suka dikekang oleh cinta yang posesif, tapi dia butuh pelabuhan yang pasti. Cari tahu siapa pengirim bunga itu, sebelum Jenara benar-benar mengira itu darimu."
Setelah Althaf pergi, Gilbert merenung. Ia menatap foto bunga di ponselnya dengan tatapan tajam. Ada perasaan tidak nyaman yang merayap di dadanya. Jika bukan dia, berarti ada orang lain yang sedang mencoba masuk ke dalam kehidupan Jenara dengan cara yang sangat halus.
Di sisi lain kota, Jenara baru saja kembali ke ruang kerjanya setelah makan siang yang berantakan. Ia memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. Perutnya mulai merasa mual lagi, mungkin karena ia hanya makan sedikit tadi. Baru saja ia ingin menyandarkan punggungnya untuk beristirahat lima menit, pintu ruangannya terbuka dengan kasar.
Alexa masuk dengan napas yang memburu, wajahnya menunjukkan kepanikan yang nyata. "Bu Jenara... gawat! Ini benar-benar gawat!"
Jenara mengembuskan napas lelah. "Ada apa lagi, Alexa? Bisa kau tenang sedikit? Ingat, kau itu sekretaris CEO, bukan pembawa berita kriminal."
Alexa tidak mempedulikan sindiran itu. Ia langsung menyodorkan tabletnya yang memuat headline berita online tentang Jenara dan Albani.
Jenara membaca setiap kata dalam berita itu dengan mata yang membelalak. Tangannya mengepal hingga buku-bukunya memutih. "Siapa... siapa yang berani mengambil foto ini secara diam-diam dan menyebarkannya?" desis Jenara dengan suara rendah yang penuh amarah.
"Dilihat dari sudut pengambilannya, ini dilakukan dari balkon atas kantin, Bu," jelas Alexa cepat. "Saya menduga ada mata-mata di dalam perusahaan kita. Tidak mungkin orang luar bisa masuk ke area kantin karyawan dan mengambil gambar setenang itu tanpa dicurigai."
Jenara berdiri, rasa mualnya berganti menjadi dorongan adrenalin. "Alexa, perketat keamanan mulai detik ini. Ganti semua petugas keamanan yang berjaga di area privasi. Selidiki setiap karyawan yang menunjukkan gelagat mencurigakan dalam seminggu terakhir. Lakukan dengan sangat diam-diam, aku tidak mau ada kegaduhan lebih lanjut."
Alexa mengangguk patuh, namun ia tetap diam di tempatnya, tampak ragu untuk mengatakan sesuatu.
"Apa lagi?" tanya Jenara tajam.
"Bu... bagaimana dengan Pak Gilbert? Apakah dia sudah melihat berita ini? Saya khawatir... suami Ibu akan terpengaruh. Berita ini membuat Ibu terlihat seperti sedang berselingkuh dengan mantan calon tunangan."
Jenara terdiam sejenak. Ia teringat pesan yang baru saja ia kirimkan kepada Gilbert tentang bunga. Ia teringat betapa posesifnya Gilbert semalam. Namun, ia segera menepis keraguan itu.
"Gilbert bukan orang bodoh, Alexa. Dia punya kejeniusan yang lebih baik dari media sampah ini. Seharusnya dia tahu bahwa ini hanya upaya murahan untuk menjatuhkan harga diriku di tengah proyek besar kita," jawab Jenara tegas, meski di dalam hatinya ia mulai merasa was-was. Apakah Gilbert akan benar-benar percaya padanya? Ataukah pria itu akan kembali menjadi gunung es yang tak tersentuh?
,, pokokny kalian berdua akn terus dihantui malam penuh ehem itu dn membuat kalian gk bisa tenang /Grin/
minimal tertantang bang, kamu ice king dia ice queen,, ayo lawan! jangan kasih kendor /Determined/