NovelToon NovelToon
Bola Kuning

Bola Kuning

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:812
Nilai: 5
Nama Author: Paffpel

Kisah tentang para remaja yang membawa luka masing-masing.
Mereka bergerak dan berubah seperti bola kuning, bisa menjadi hijau, menuju kebaikan, atau merah, menuju arah yang lebih gelap.
Mungkin inilah perjalanan mencari jati diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Paffpel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Beberapa hari terlewati sejak aksi Arpa dan Depa yang menghajar seluruh anggota PG. Mulai saat itu Arpa dan Depa berkeliling sekolah setiap harinya, mereka memperingati anggota PG untuk jangan memukuli atau memalak orang lagi.

Karena ancaman dari Arpa dan Depa. Perlahan-lahan, SMA Kuantama jadi lebih damai dan tenang.

Arpa dan Depa jalan bareng di lorong sekolah, mereka menuju kelas. Depa nyenggol pelan Arpa. “Ar, Nanti gua duduk di depan lu ya.”

Arpa memiringkan kepalanya. “Ar? Panggil aja Rap. Terus juga di depan gua udah ada yang nempatin.”

Depa nguap. Dia menutup mulutnya. “Kemarin gua udah ngomong sama dia, katanya boleh gua duduk di situ.”

“Ohh gitu, yaudah,” kata Arpa.

Tiba-tiba ada yang menyentuh bahu Arpa. Ternyata itu Juan, dan ada Rian di belakangnya. “Rap,” kata Rian.

Arpa nengok ke belakang. “Oi, Jun, Yan.”

Depa ngelirik Juan dan Rian. Di nyengir. “Yah ada pengganggu, kabur ah,” Depa langsung jalan cepat menuju kelas.

Mulut Juan dan Rian terbuka sedikit. Arpa ketawa kecil sambil ngerangkul Juan dan Rian. “Haha, dia emang gitu, udah ayo ke kelas.”

Juan dan Rian nyengir. Mereka pun lanjut melangkah ke kelas.

Saat sampai di kelas Arpa ngeliat Depa duduk di depan kursinya. Dia senyum tipis.

Juan dan Rian ngelirik Depa. Mereka memiringkan kepalanya.

Mereka pun jalan ke tempat duduk mereka masing-masing. Rian nyentuh bahu Arpa. “Rap, itu si Depa kok duduk di depan lu?”

“Iya, katanya dia mau duduk di situ, dia udah ngomong sama yang duduk di situ sebelum dia kemarin,” kata Arpa.

Depa nengok ke belakang sambil nepuk pelan meja. “Ngomongin gua nih?”

Arpa tersentak kecil. Dia ngelirik Depa sambil nyengir. “Santai aja kali Dep.”

“Ya siapa tau gua di gosipin yang buruk-buruk lagi,” Depa mukul pelan Arpa.

Arpa ketawa kecil. ”Haha, lu mah emang udah buruk.”

Arpa dan Depa ketawa bareng. Mereka lanjut ngobrol, berdua. Rian memperhatikan mereka. Hatinya sedikit gelisah.

Sedangkan Rinaya, dia melirik-lirik Dipa. Dia menghampiri Dipa sambil membawa kursinya. Dia duduk di samping Dipa. “Dip, cara melukis atau menggambar itu kayak gimana sih? Gua nggak pernah gambar atau melukis, hehe,” Rinaya menggaruk kepalanya.

Kepala Dipa sedikit mundur. Alisnya terangkat tipis. “H-hah? Lu masuk ekskul seni rupa, tapi nggak tau apapun tentang melukis atau menggambar, gitu?”

Rinaya ngangguk sambil senyum. “Iya, hehe, aneh ya? Sebenarnya gua suka banget sama lukisan atau gambar hasil orang lain, gua nggak tau kenapa, tapi rasanya nenangin dan kagum aja, jadi gua pengen coba belajar melukis atau menggambar,” pandangan Rinaya menurun, tapi senyumannya nggak memudar.

Mulut Dipa terbuka sedikit, dia menekan bibirnya. “M-maaf.”

Kepala Rinaya terangkat. “Kenapa lu malah minta maaf?” Rinaya ketawa kecil.

“Yaudah, pokoknya nanti ajarin gua ya,” kata Rinaya sambil senyum. Dia kembali ke tempatnya.

Guru pun masuk kelas. Pelajaran dimulai seperti biasanya. Guru menjelaskan. Murid menyimak, walaupun ada beberapa yang nggak peduli.

Tidak terasa jam istirahat berbunyi. Rian ingin menyentuh bahu Arpa, dia tersenyum. Tapi ternyata Depa sudah duluan memanggil Arpa.

Depa berdiri sambil natap Arpa. “Rap, kantin yo.”

“Gas lah,” Arpa bangun, dan jalan bareng Depa. Meninggalkan Juan dan Rian.

Senyum Rian langsung memudar. Matanya membesar dan alisnya sedikit mengkerut.

Juan melihat semuanya. Dia menghampiri Rian. Dia menyentuh Rian dengan lembut. “Keliling sekolah yo, Yan,” Juan senyum, tapi matanya nggak ikut senyum.

Rian melirik Juan, dia mengangguk pelan. Dia berdiri. Dan mereka pun pergi, tanpa tujuan.

Di sisi Rinaya dan Dipa, mereka sedang berjalan menuju ruangan ekskul seni rupa.

Kali ini jalan Dipa lebih cepat, dia tidak tertinggal oleh Rinaya lagi.

Rinaya dan Dipa pun sampai di depan pintu ruangan ekskul seni rupa. Rinaya membuka pintu. Hanya ada Aran.

Aran melirik mereka. Dia senyum. “Oh, selamat datang kalian berdua.”

Rinaya dan Dipa pun masuk. Rinaya mendekati Aran yang sedang melukis. “Bang, ini kita nggak ada kegiatan apa-apa gitu? Cuman gini-gini aja?”

Tangan Aran berhenti sejenak. Dia menatap Rinaya. “Nggak ada. Kalian bebas mau ngapain. Menggambar, melukis, atau santai pun boleh, kalian juga boleh kapan aja ke sini kalau mau,” Aran nyengir.

“Ohh gitu ya bang, yaudah gua pengen nyoba melukis deh!” Rinaya mengangkat tangannya yang mengepal. Matanya berapi-api.

Aran ketawa kecil. “Haha, iya, iya. Silakan, ambil aja alat-alatnya di situ. Kalau kesulitan saat melukis bilang aja ya.”

Rinaya dan Dipa mengangguk. Mereka pun mempersiapkan alat untuk melukis. Rinaya dan Dipa selesai bersiap-siap. Mereka duduk dan menatap kanvas kosong di depan mereka.

Dipa menyentuh kuas. Tangannya bergetar halus. Dia menarik dalam napasnya. Dia menggenggam erat kuasnya dan menatap fokus kanvas kosong itu. Dipa pun mulai melukis.

Sedangkan Rinaya, dia menatap fokus kanvas kosong di depannya. Tapi kadang pandangannya berpindah-pindah. Dia memegang dagunya. “Hmm, melukis apa ya?” gumamnya.

Setelah berpikir lumayan lama, Rinaya pun mendapatkan ide. Dia mulai melukis. Keadaan ruangan itu sunyi dan tenang. Kadang Rinaya mengintip lukisan Dipa dan dia terkagum-kagum.

Dipa pun selesai melukis, lalu Rinaya menyusul. Rinaya menatap lukisan Dipa. “Wow! Dip, Itu gila kerennya!”

Dipa menggaruk kepalanya sambil tersenyum. “Makasih, hehe. Coba gua mau liat lukisan lu juga,” Dipa mencoba untuk melihat lukisan Rinaya.

Tapi Rinaya langsung membalik kanvasnya ke arah yang lain. Dia memalingkan mukanya. “J-jangan, jelek banget tau hasilnya.”

Dipa menyentuh bahu Rinaya dengan lembut. “Gapapa kok, kan lu baru pertama kali melukis,” Dipa senyum.

Rinaya melirik Dipa pelan-pelan. Dia pun menunjukkan hasil lukisannya.

Dipa terdiam sebentar. “Itu… cukup bagus kok,” Dipa senyum canggung sambil mengusap tengkuknya.

Rinaya langsung menundukkan kepalanya. “Jelek kan?”

Alis Dipa naik pelan. Dia mengepalkan tangannya. “Nggak kok, namanya juga baru mulai, kan nggak mungkin langsung bagus. Yang penting lu konsisten aja. Ya?”

Rinaya pelan-pelan mengangkat kepalanya. “Yaudah deh, iya.”

“Semangat ya, Rinaya,” kata Dipa sambil tersenyum kecil.

Sedangkan Aran. Dia dari awal memperhatikan mereka berdua. Dia senyum tipis. “Dasar anak muda."

1
cacelia_chan~
Arpa lari pagi, lupa pamit, lupa pintu… paket lengkap 😭
Mike_Shrye ❀∂я⒋ⷨ͢⚤
hayoloh lupa kan jadinya....
Alyaaa_Lryyy.
org pendiam klw mrh gk main2 yah , pliss klian shabtan aj🤗
Greta Ela🦋🌺
Yeayy jadi Arpa, Juan, dan Rian🤭
Greta Ela🦋🌺
Wahh Rian udah baik kah?🤭
Greta Ela🦋🌺
Awas nanti sakit
Queen Naom
kasihan Rian🥺
Tina
Ada rasa bombay dan haru di bab ini 😊
Tina
kayak bocil malah asik maen, lupa tujuan awal 🤣
Tina
patahin jarinya rap 😆
Greta Ela🦋🌺
Lah, jadi Rian ini anak broken home?😭
Greta Ela🦋🌺
Lah, gimana sih Rian, gak jelas amat
Greta Ela🦋🌺
Iya bener yang kamu lakuin ini Arpa. Jangan mau diam terus kalau dihina. Sekeali tonjok juga udah bagut itu
Queen Naom
arpa jangan baper ya😄
Queen Naom
beliau ini terlalu jujur
Queen Naom
kalau di real life udah di katain pacaran tuh🤣
Queen Naom
kasihan arpa🤣
Alexander BoniSamudra
ajak pelukan bang👍
Alexander BoniSamudra
ternyata di semua sekolah sama aja
Alexander BoniSamudra
Parah si susi mah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!