NovelToon NovelToon
Jangan Panggil Ibukku Wanita Gila

Jangan Panggil Ibukku Wanita Gila

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Selingkuh
Popularitas:40.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Ardina Larasati, sosok gadis cantik yang menjadi kembang desa di kampung Pesisir. Kecantikannya membuat seorang Regi Sunandar yang merupakan anak pengepul ikan di kampung itu jatuh hati dengannya.

Pada suatu hari mereka berdua menjalin cinta hingga kebablasan, Ardina hamil, namun bukannya tanggung jawab Regi malah kabur ke kota.

Hingga pada akhirnya sahabat kecil Ardina yang bernama Hakim menawarkan diri untuk menikahi dan menerima Ardina apa adanya.

Pernikahan mereka berlangsung hingga 9 tahun, namun di usia yang terbilang cukup lama Hakim berkhianat, dan memutuskan untuk pergi dari kehidupan Ardina, dan hal itu benar-benar membuat Ardina mengalami gangguan mental, hingga membuat sang anak yang waktu itu berusia 12 tahun harus merawat dirinya yang setiap hari nyaris bertindak di luar kendali.

Mampukah anak sekecil Dona menjaga dan merawat ibunya?

Nantikan kelanjutan kisahnya hanya di Manga Toon.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Ardina masih berada di dalam kamar, menatap lorong rumah sakit dari jendela kamarnya, tidak ada yang aneh semuanya terlihat seperti biasa, namun tidak lama kemudian, ia melihat dua staf rumah sakit berjalan terburu-buru, entah apa yang sedang terjadi.

  Ya dua orang itu adalah auditor yang datang ke RSJ dengan langkah terukur. Setelan mereka rapi, wajahnya serius, dan map tebal di tangan mereka seolah menyimpan beban yang terlalu berat untuk dibicarakan dengan suara keras.

Tidak ada keributan, semuanya nampak tenang, tidak ada teriakan, hanya langkah mereka saja yang tergesa, dan juga tidak ada kejar-kejaran seperti layaknya berita kriminal.

Yang terdengar hanya bunyi sepatu mereka, menyusuri lorong rumah sakit jiwa, sesampainya di ruang adminitrasi pintu langsung dikunci, ruang arsip dibuka komputer dimatikan lalu dihidupkan kembali dengan akses yang dibatasi.

Manajer RSJ diminta duduk, dengan wajah yang pucat, dan tampak pasrah, ia duduk dengan kaku, kursi yang biasa ia duduki penuh dengan wibawa, hari ini terasa terlalu rendah.

Dokumen-dokumen ditarik dari laci. Berkas lama yang jarang disentuh dikeluarkan begitu saja, tanda tangan yang dulu dianggap formal kini dibaca ulang dengan teliti, tanpa bisa ia mencegah atau melarangnya, lidahnya terasa keluh, tubuhnya serasa seperti patung yang hanya bisa diam melihat kehancurannya sendiri.

 Siang ini, tanpa pengumuman besar, manajer RSJ resmi dinonaktifkan, meskipun tidak ada surat yang dibacakan di depan staf ataupun salam perpisahan, namanya hanya dihapus dari daftar struktur organisasi, kunci ruangannya diminta kembali, akses sistem dicabut sepenuhnya, seolah ia tidak pernah ada.

Dan bagi sebagian orang, hukuman paling kejam memang bukan teriakan, melainkan dilupakan.

Di lorong, para perawat berdiri saling berpandangan, mereka bukan takut tertangkap, karena merasa bersalah, hanya saja mereka menyimpan satu pertanyaan yang menggantung di benak mereka semua.

"Berapa lama ini terjadi tanpa kami sadari?"

Berapa lama pasien-pasien itu minum obat bukan karena kebutuhan, tapi karena pesanan? Berapa lama keputusan medis dipengaruhi sesuatu yang tidak pernah tertulis di sumpah profesi?

Semua wajah nampak tertunduk dan pucat, bukan karena sakit, melainkan karena menelan rasa bersalah yang datang dengan terlambat.

Sementara di ujung lorong, Dokter Rendra berdiri diam, sambil menggenggam map tipis berisi catatan medis yang terpisah, matanya menatap pada tulisan RSJ pada papan yang cukup besar. Nama yang dulu ia banggakan dan tempat yang diyakini sebagai ruang penyembuhan.

Namun kenyataan tak seindah seperti nama yang bertengger di depannya itu, dadanya terasa perih, melihat kasus ini, ia tidak merasa menang disaat kasus ini terkuak, tidak ada kepuasan ataupun rasa lega yang membuncah.

Yang ada hanya kesadaran pahit, bahwa tempat yang seharusnya melindungi orang-orang rapuh, pernah dipakai untuk menghancurkan satu di antaranya secara perlahan.

Seorang suster mendekat dengan langkah ragu. Suaranya nyaris berbisik, seolah takut didengar tembok.

“Jadi…” ia menelan ludah, “Bu Ardina… tidak pernah separah itu?”

Dokter Rendra tidak langsung menjawab.

Ia menunduk, menatap lantai putih yang terasa terlalu bersih untuk menyimpan semua kesalahan yang baru saja terungkap.

“Dia sakit,” ucapnya akhirnya, pelan namun tegas. “Tapi dia tidak pernah hilang.”

Suster itu terdiam.

“Bu Ardina,” lanjut Dokter Rendra, “bertahan lebih lama dari yang kita kira.”

Kalimat itu jatuh pelan, namun menghantam keras, bukan sebagai pembelaan melainkan sebagai pengakuan.

Bahwa di balik laporan, dosis, dan grafik medis, ada seorang perempuan yang tetap berjuang untuk tetap sadar, tetap menjadi ibu, meski dunia berulang kali mencoba memadamkannya.

☘️☘️☘️☘️☘️

  Malam mulai datang, masih di dalam motel yang sama, Regi duduk berhadapan dengan putri kecilnya yang nampak sudah lelah, karena aktivitasnya seharian ini.

"Sayang, kau terlihat lelah, lebih baik kamu tidur saja dulu," ucap Regi dengan lembut.

"Aku gak bisa tidur Pa, rasanya pingin sekali bertemu Ibu lagi," sahut Dona.

"Sabar ya Nak, doakan saja semoga Ibu bisa segera kumpul dengan kita," ungkap Regi.

"Pa, apa selamanya kita akan tinggal di motel ini?" tanya Dona.

Regi menggeleng dengan senyuman ia baru sadar jika dirinya sudah terlalu lama tinggal di motel ini. "Begini Nak, kalau semua sudah aman dan Ibu kembali ke pelukan kita, Papa akan bawa kalian berdua di kota, kita akan hidup bertiga di sana." papar Regi.

"Hah! Di kota, apa di sana dekat pantai? Apa di sana Ibu dan aku akan aman?" tanya anak itu sedikit khawatir.

"Kamu tenang saja Nak, di sana tidak akan ada yang berani gangguin kamu lagi, Papa akan pastikan kamu hidup bahagia bersama Ibu," sahut Regi.

Anak itu mengangguk paham, ada kilatan bahagia yang tidak bisa ia sembunyikan, namun malam semakin larut anak kecil itu langsung beranjak dari kursi lalu naik ke ranjangnya.

☘️☘️☘️☘️

Pagi itu, obat Ardina datang pada jam yang semestinya, tidak lebih cepat ataupun terlambat, dan tidak banyak seperti biasanya.

Suster yang datang bukan Maya, melainkan seorang perawat senior bernama Bu Ratna rambutnya disanggul sederhana, suaranya lembut, tidak terburu-buru.

“Bu Ardina,” ucapnya sambil duduk sejajar, bukan berdiri menatap dari atas.

“Ini obat pagi. Kalau Ibu mau minum setelah sarapan, tidak apa-apa.”

Ardina mengangkat kepala, kalimat sederhana itu membuat dadanya sesak, bukan karena obatnya, melainkan karena dia merasa diberi pilihan tidak ditekan seperti sebelumnya.

“Iya, Bu,” jawab Ardina pelan.

Bu Ratna tersenyum kecil, bukan senyum profesional yang dipelajari di pelatihan, melainkan senyum orang yang benar-benar hadir.

"Ya sudah kalau begitu aku keluar dulu ya," pamitnya dengan nada yang ramah.

☘️☘️☘️☘️☘️

Siang hari, pintu taman kembali dibuka, dan hal ini benar-benar,-benar membuat Ardina senang, pada akhirnya ia bisa kembali melihat udara luar meskipun masih di kelilingi pagar pembatas.

Tidak lama waktu di taman hanya 20 menit saja. Namun Ardina mampu duduk di bangku batu dengan punggung tegak, menatap langit yang bersih. Burung-burung kecil kembali hinggap di pagar besi.

Ia tidak iri pada kebebasan mereka lagi, karena saat ini, ia sedang belajar bahwa kebebasan tidak selalu tentang pergi, kadang tentang tidak lagi ditekan.

Dokter Rendra berdiri agak jauh, tidak mendekat, tidak mengawasi berlebihan, ia hanya mencatat perkembangan Ardina dari kejauhan.

Pasien mampu duduk tenang di ruang terbuka. Afek stabil. Tidak ada tanda disosiasi.

Catatan itu singkat. Namun jujur.

☘️☘️☘️☘️☘️

Sore harinya, sesi terapi berlangsung tanpa paksaan, tidak ada pertanyaan yang menjebak. Tidak ada nada menginterogasi.

“Kalau hari ini Ibu hanya ingin diam, itu juga tidak apa-apa,” ujar terapis.

Ardina menatap tangannya sendiri.

“Aku… ingin bicara sedikit,” katanya.

Bukan karena diminta. Bukan karena dipaksa, melainkan karena ia merasa aman.

“Aku capek dianggap rusak,” ucapnya lirih.

“Aku sakit, iya. Tapi aku masih di sini.”

Terapis itu mengangguk, tidak menyela, ia mempersilahkan Ardina untuk berbicara bebas.

“Aku ibu,” lanjut Ardina, matanya berkaca.

“Dan aku ingin sembuh bukan supaya terlihat normal, tapi supaya anakku tidak kehilangan ibunya dua kali.”

Tidak ada yang mencatat itu sebagai gejala, melainkan petugas terapis sadar akan kemajuan pasiennya itu, dan hari ini kalimat Ardina dicatat sebagai tujuan hidup.

Bersambung ....

Selamat Pagi semoga suka ya ....

1
kaylla salsabella
nah gimana hakim masih mau lanjut
Lisa
good job Dona..sekarang Hakim mengakui klo dia salah sasaran..udh berhenti Hakim..akhiri permainanmu..
Dew666
🪻🪻🪻🪻🪻
Sugiharti Rusli
semoga kamu berpikir ulang kalo akan menghancurkan Ardina yang sedang menggapai kebahagiaannya sekarang bersama cinta pertamanya dulu yang kembali memperbaiki kesalahannya,,,
Sugiharti Rusli
entah dulu rasa sayang kamu ke Dona tulus atau tidak sebagai ayah sambung, kamu kalo mendengar perjuangan seorang anak kecil harus merawat dan juga mencari nafkah buat diri dan ibunya yang tidak bisa apa" setelah kamu tinggalkan😔😔😔
Sugiharti Rusli
kamu salah kalo mau menghancurkan mantan istri kamu yang dulu terpuruk akibat perbuatan kamu Hakim,,,
Sugiharti Rusli
hantaman yang kamu rasakan pasti lebih menonjok kan tibang kamu dihajar secara fisik oleh seseorang,,,
Sugiharti Rusli
apalagi secara gamblang Dona bilang ibunya menjadi hilang kewarasannya saat dia pergi meninggalkan mereka b-2 dulu,,,
Sugiharti Rusli
pengakuan jujur dari seorang anak sekaligus saksi mata kehancuran sang ibu memang sangat menusuk kan Kim,,,
kaylla salsabella
semoga misi mu berhasil dona
Sugiharti Rusli
sekarang Regi jadi paham ke arah mana bola sekarang si Hakim lontarkan dan sasaran yang empuk ke Ardina yang sekarang di bawah perlindungannya,,,
Sugiharti Rusli
padahal tanpa Dona ketahui sang papa sejatinya sudah nendapat tekanan dalam bentuk intinidasi terselubung di tempat kerjanya dari orang yang sama,,,
Sugiharti Rusli
Dona mendiskusikan segala sesuatu ke ayahnya terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu dan berterus-terang ke Regi tentang aktivitas mantan ayah sambungnya selama ini ke ibunya,,,
Lisa: ya sikap yg bagus banget supaya Regi juga tahu langkah yg akan diambilnya utk menghentikan si Hakim itu..
total 1 replies
Sugiharti Rusli
Dona memang anak yang cerdas yah, dia ga gegabah membuat sang ibu khawatir dengan mengatakan kalo selama ini mereka diintai,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya si Hakim tahu kalo Dona tidak akan diam saja ketika sang ibu terancam yah,,,
Wanita Aries
lanjut thorrr penasarann
Susi Akbarini
waahhh..
raka yaaa
Kasih Bonda
next Thor semangat
Wien Daffa
Semangat.....Kakak
cepet ke bongkar hakimnya.
Dengan masa lalu Regi.
Semoga ada kebaikan.....ke depannya.
Kasih Bonda
next Thor semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!