NovelToon NovelToon
Memorable Love

Memorable Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Selingkuh / Nikah Kontrak / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Obsesi / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:131
Nilai: 5
Nama Author: Eva Hyungsik

Siapa yang sanggup menjalani sebuah hubungan tanpa cinta? Apalagi pasangan kalian masih belum usai dengan masa lalunya. Dua tahun Janice menjalani hubungan dengan seorang pria yang sangat ia cintai, dan hidup bersama dengan pria tersebut tanpa ikatan pernikahan. Selama dua tahun itu Stendy tidak pernah membalas cinta Janice. Bahkan Stendy sering bersikap dingin dan acuh pada Janice. Sampai akhirnya wanita di masa lalu Stendy kembali, hingga membuat Janice terpaksa mengakhiri hubungannya dan melepaskan pria yang selama ini sangat ia cintai. Semua Janice lakukan, hanya untuk membuat Stendy bahagia bersama wanita yang dicintainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Hyungsik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memorable 21

Hari ini adalah keberangkatan Jason dan Naomi ke negara P. Janice mengantarkan kedua orang tuanya itu. Bukan hanya Janice saja, tapi ada juga Tuan dan Nyonya Wister. Sementara Owen, tidak bisa ikut mengantarkan karena ada pasien yang harus dioperasi. 

“Maafkan aku yang harus merepotkan kamu dan juga Kak Leo, untuk menjaga Janice.” kata Naomi, merasa tidak enak hati pada Rania. 

“Tidak apa-apa, jangan sungkan begitu. Janice sudah aku anggap putriku sendiri. Apalagi sebentar lagi dia juga akan menjadi bagian dari keluar kami,” jawab Rania, sambil tersenyum hangat. 

Pesawat yang ditumpangi Jason dan Naomi pun, sudah berangkat beberapa menit yang lalu. Leo dan Rania mengajak Janice untuk ikut bersama mereka. Namun di pertengahan jalan, Leo mendapat kabar dari asistennya harus menghadiri rapat. Terpaksa sang sopir mengantarkan Leo ke kantor terlebih dahulu, setelah itu baru mengantarkan Rania dan Janice. 

Mobil kembali berangkat dari perusahaan milik keluarga Wister. Janice tadi sempat tertegun saat mengetahui bahwa keluarga Wister adalah pemilik perusahaan yang bergerak di bidang farmasi dan teknologi di bidang kesehatan. Mungkin ini alasan, mengapa Owen memilih menjadi dokter, batin Janice. 

Dahi janice berkerut, ketika jalan yang ditujunya bukanlah jalan ke arah pulang. Dia pun menoleh ke arah Rania. 

“Maaf, Bibi. Sebenarnya kita mau kemana. Bukankah kita akan ke rumah Bibi?” tanya Janice dengan lembut. 

Rania tersenyum, dan digenggamnya tangan Janice. “Kita akan menemui Owen terlebih dahulu. Kita ke rumah sakit tempatnya bekerja, untuk makan siang bersama,” jawab Rania, yang membuat Janice terkejut. 

Janice mendesah pelan. “Ke rumah sakit tempat Owen bekerja? Itu artinya aku akan bertemu dengannya lagi,” kata Janice di  dalam hatinya. 

Padahal Janice sejak kemarin sengaja tidak ingin bertemu dengan Owen. Sebab setiap kali dirinya dekat dengan pria itu, Janice sering merasakan dadanya bergetar hebat. Seperti saat dirinya dekat dengan Stendy dulu. 

Kemudian Janice memperhatikan penampilannya yang terlihat sangat santai. Dia hanya mengenakan kemeja putih dengan celana jeans biru telor asin, yang dipadukan dengan sepatu kets putihnya. Lalu dia melirik penampilan Rania yang terlihat begitu anggun dan cantik dengan balutan dress berwarna peach. Begitu kontras dengan warna kulitnya. Bahkan Rania semakin terlihat sangat cantik dan awet muda. 

Janice memejamkan matanya dan berdecak lirih. Membuat Rania menoleh dan mengerutkan dahinya. 

“Kamu kenapa, sayang?” tanya Rania, ekspresi wajahnya begitu khawatir terhadap Janice. 

Janice tersentak dan salah tingkah. “Eh, eum.. itu, Bi. A-aku hanya…” Janice berpikir sejenak. “Oh, aku baru teringat kalau kita belum membeli atau memesan makanannya. Bukankah tadi Bibi mengatakan kalau kita akan makan siang bersama Kak Owen,” kata Janice, sambil tersenyum kaku. 

Rania bernafas lega, dan tersenyum. “Ya Tuhan. Bibi kira kamu kenapa. Kamu tenang saja, aku sudah memesan makanan untuk kita. Mungkin sebentar lagi akan sampai. Biar Owen yang mengurusnya,” jawab Rania, dengan masih tersenyum. 

“Oh, ya, Janice. Boleh aku minta sesuatu padamu?” tanya Rania. 

“Apa, Bibi?” 

Rania tersenyum dan semakin menggenggam tangan Janice. “Mulai sekarang, tolong jangan panggil aku Bibi. Panggil aku Mama, seperti Owen memanggilku. Begitupun juga pada Paman Leo, panggil dia Papa saja,” kata Rania. 

Janice terdiam sejenak, sambil menatap wajah Rania yang masih menunggu jawaban darinya. 

Janice tersenyum dan mengangguk. “Baik, Ma.” 

Rania semakin melebarkan senyumannya, kemudian ia pun memeluk Janice dari samping. 

“Mama merasa bahagia sekali. Akhirnya keinginan Mama terwujud,” ujar Rania. 

Janice mendongakkan kepalanya. “Memangnya Mama menginginkan apa?” tanya Janice. 

“Sejak dulu Mama sangat ingin memiliki anak perempuan. Tapi takdir berkata lain. Mama hanya diperbolehkan memiliki anak laki-laki. Karena rahim Mama sudah diangkat setelah Mama melahirkan Hansel,” jawab Rania, sambil merenggangkan pelukannya. 

Janice merasa bersalah karena telah bertanya hal demikian. “Maafkan Janice, Ma. Bukan maksud Janice mengingatkan Mama akan kejadian itu,” 

Rania menggeleng, sambil tersenyum dengan tangan yang satunya mengusap pipi Janice. 

“Jangan merasa bersalah seperti itu. Justru Mama sangat senang bisa berbagi salah satu  kisah hidup Mama,” ucap Rania. 

“Janice,” Rania menarik nafas, dan menghembuskannya pelan. “Mama harap perjodohan ini berjalan lancar, lalu kalian menikah. Mama sangat ingin melihat Owen bahagia dan tersenyum kembali seperti dulu, saat dirinya masih sekolah. Mama juga berharap kamu bisa menerima Owen dengan segala kekurangannya. Mama tahu pernikahan ini akan terasa berat bagimu, sebab tidak adanya cinta di dalam pernikahan kalian. Tapi, Mama yakin kamu dan Owen dapat melaluinya bersama-sama. Apapun yang terjadi, Mama berharap baik kamu maupun Owen akan selalu bersama. Percaya pada pasangan kalian, karena itu adalah kunci dari segala kelanggengan rumah tangga,” 

Janice tergugu mendengar keinginan Rania. Tapi, ada satu hal yang mengganjal dalam hati Janice. Yaitu, dirinya harus menerima segala kekurangan Owen, dan membuat pria itu selalu tersenyum. Sebenarnya apa yang terjadi pada Owen. Mengapa Rania begitu menginginkan Owen bahagia dan kembali tersenyum seperti dulu. Jenice hendak bertanya kembali, namun mobil milik keluarga Wister telah tiba di rumah sakit. Akhirnya dia mengurungkan niatnya itu. 

Rania dan Janice memasuki rumah sakit tempat Owen bekerja. Janice sempat terperangah sebab rumah rakit itu terlihat sangat besar. Seorang petugas keamanan pun, tersenyum dan menyapa Rania. Kemudian dibalas anggukan dan senyuman dari wanita itu. Keduanya berjalan menuju lift. 

“Nyonya Wister,” 

Rania menoleh dan tersenyum kecil. “Apa kabar, Dokter Kresya?” 

Wanita bernama Kresya itu pun tersenyum. “Aku baik, Nyonya. Bagaimana dengan Anda dan Tuan Wister?” 

Rania mengangguk, masih menampilkan senyuman tipisnya. “Puji Tuhan kami pun baik-baik saja,” jawab Rania. 

Kresya tersenyum agak canggung, karena memang aura Rania begitu dingin. Membuat siapapun yang berbicara dengannya akan merasa canggung. Akan tetapi berbeda sekali saat wanita itu sedang berada di dekat Janice. Kresya pun, melirik ke arah Janice yang terlihat sedang di rangkul lengannya oleh Rania. 

“Dia siapa, Nyonya?” tanya Kresya yang begitu spontan. Menyadari pertanyaannya itu kurang sopan, Kresya pun sedikit menundukkan kepalanya. 

“Perkenalkan ini  calon menantuku. Namanya Janice,” jawab Rania, berbicara sedikit sombong. Seolah begitu bangga memiliki menantu seperti Janice. 

Janice pun tersenyum pada Kresya, sedangkan Kresya sendiri terlihat begitu terkejut. 

“Halo, Dokter Kresya. Aku Janice dan salam kenal,” kata Janice, sambil mengulurkan tangan kanannya. 

Kresya yang masih syok pun, dengan tergesah langsung membalas uluran tangan Janice. 

“K-Kresya,” kata Kresya sedikit gugup. 

Kresya tersenyum kikuk. Tiba-tiba saja hatinya merasa begitu sakit, karena selama ini dirinya memendam perasaan pada Owen. Semenjak Owen pindah tugas di rumah sakit ini beberapa bulan yang lalu, membuat Kresya kagum akan sosok Owen. Setiap hari Kresya secara diam-diam sering memperhatikan Owen dari jarak dekat maupun jauh. 

Pintu lift terbuka, ketiganya dibuat terkejut saat melihat Owen yang muncul dari dalam lift. Owen pun tersenyum menyambut kedatangan dua wanita yang sejak tadi ditunggu olehnya. Kresya tersentak saat melihat Owen tersenyum pada Janice. Bahkan interaksi Owen yang menyambut kedatangan Janice pun tak luput dari perhatian Kresya. Membuat wanita itu merasa kesal dan cemburu. 

“Dokter Kresya, apakah kau akan tetap disini atau ikut naik lift ini?” 

Pertanyaan Rania membuat Kresya kembali tersadar dari lamunannya. Dia baru sadar kalau tinggal dirinya lah yang masih berada di luar. 

“Ah, iya, a-aku lupa ada perlu di bagian farmasi,” jawab Kresya, sambil membungkukkan tubuhnya sebentar lalu ia pun pergi menghindari Owen, Rania dan Janice. 

Kresya berbohong soal keperluannya di bagian farmasi, sebenarnya dia pergi ke toilet. Di dalam toilet ia meluapkan kekesalannya sambil memukul wastafel. Rasa kesalnya masih menguasai dirinya, dan berkali-kali dia juga mengatur pernafasannya, agar amarah dan rasa kesalnya mereda. 

Dia mencuci wajahnya, untuk meredam emosinya. Di rasa sudah cukup reda, Kresya pun keluar dari toilet. Baru beberapa langkah saja, tiba-tiba dia mendengar bisik-bisik dari beberapa perawat yang berjalan berlawan arah dengannya. Kresya pun menghentikan langkahnya, dan mencoba mendengar ucapan para ners tersebut. 

“Tadi aku tidak sengaja melihat Dokter Owen menggandeng tangan seorang wanita cantik,” 

“Benar, wanita itu datang bersama Nyonya Wister.” 

“Hei, aku dengar saat di lift tadi kalau wanita itu adalah calon istri Dokter Owen.” 

“Wah, sepertinya kita para wanita akan patah hati  massal,” 

“Hahaha, kau ini bisa saja.”  

Kresya mencoba mengabaikan obrolan mereka dan kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangannya. 

Sementara itu di dalam ruang pribadi Owen, ketiganya sedang menata makanan yang baru sejak tadi tiba. Setelah makanan tiba tadi, Owen hendak menjemput Rania dan Janice dj lobby. Namun, ternyata mereka malah bertemu di depan lift. 

“Ayo, sudah waktunya kita makan. Mama sudah sangat lapar,” kata Rania, sambil tertawa tawa kecil. Membuat Janice dan Owen tersenyum. 

Baru satu suapan masuk ke dalam mulut mereka, tiba-tiba saja pintu ruangan Owen diketuk. 

“Masuk.” 

Setelah mendapat persetujuan dari Owen, orang yang berada diluar sana pun segera masuk. Seorang pria  berseragam sama dengan Owen, pun terkejut melihat kedatangan Rania dan Janice. 

“Oh, maafkan saya, Dokter Owen. Saya tidak tahu kalau ada…” 

“Tidak apa, Dokter Mark.” Owen segera memotong ucapan Mark. “Ada apa Dokter? Apa kau sudah makan siang?” tanya Owen. 

Mark masih merasa canggung dengan adanya Rania dan Janice. Rania yang sedang menikmati makanannya pun langsung memperhatikan Mark. 

“Sebaiknya Anda duduk dulu, Dokter. Kalau kamu belum makan siang, sebaiknya makanlah bersama kami. Jangan canggung seperti itu saat ada saya maupun calon istri Owen,” kata Ranja yang membuat Mark menjadi salah tingkah. 

Mark tersenyum kikuk, sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Owen pun tersenyum, dan mengajak Mark untuk makan siang bersama. Mereka harus lekas makan, sebab masih ada pasien yang harus segera mereka tangani. 

Mark sesekali mencuri pandang ke arah Janice. Seolah sedang memikirkan sesuatu. Tanpa diketahui oleh Mark, Owen juga memperhatikan Mark yang sesekali tertangkap mata sedang memperhatikan calon istrinya.  Saat itu sebenarnya Owen ingin sekali menegur Mark, namun ditahan olehnya. Biar nanti saja owen menegurnya pada saat Janice dan mamanya pulang. 

Owen dan Mark segera pergi dan meninggalkan Rania bersama Janice. Mereka harus segera menangani pasien. Saat memasuki ruang UGD, pasien tersebut baru saja masuk ke ruangan tersebut. 

Owen dan Mark segera bergerak menangani pasien tersebut. Dapat Owen lihat di bagian perut pasien masih terdapat pisau yang menancap. Petugas yang membawa pasien tersebut memberitahukan bahwa pasien mendapat luka tusukan setelah berkelahi dengan orang yang tak dikenal.

“Bagaimana detak jantungnya?” tanya Owen memeriksa pasien 

“Dia masih pingsan dan detak jantungnya lemah,” jawab salah satu Ners yang ikut membantu Owen. 

“Tolong ambilkan aku  stetoskop,” kata Owen dengan terus memperhatikan kondisi pasien yang memiliki luka tusukan di bagian perut. 

Wajahnya terlihat sangat serius, terlebih di bagian tengah dada pasien ada sebuah memar biru keunguan. Owen pun segera memastikannya, dan benar dugaannya. 

“Ada gumpalan darah di perikardium yang menekan jantungnya,” ucap Owen. 

Dia melepas stetoskopnya bersamaan dengan keluarnya helaan nafas berat. Kemudian dia juga menarik pelan pisau yang masih menancap di perut pasien berjenis kelamin laki-laki tersebut. Dengan cepat perawat memberikan tumpukan perban pada Owen, untuk menutup luka tusukan tersebut. 

“Tamponade jantung,” lirihnya. “Panggilkan dokter ahli bedah kardiotoraks, dan siapkan ruang operasinya,” titah Owen. 

“Siap, Dokter.” 

Tidak menunggu lama perawat yang diperintahkan Owen pun kembali ke UGD bersama dokter ahli bedah jantung yang diminta Owen. 

“Ada yang bisa saya bantu Dr. Owen?” 

Owen menoleh dan mengangguk, dan menjelaskan apa yang terjadi. Dokter wanita yang tak lain adalah Kresya itu pun segera memastikannya apa yang barusan Owen katakan. Benar saja, memang ada gumpalan darah di dekat jantungnya. Yang membuat detak jantung pasien melemah. 

“Baiklah aku akan melakukan penusukan di area itu untuk mengeluarkan darah yang tersumbat. Aku butuh jarum suntik,” kata Kresya yang segera dibantu oleh Owen. 

Kresya pun mulai melakukan pekerjaannya, setelah pengambilan darah tersebut dan memastikan detak jantung pasien membaik. Kresya dan Owen pun membawa pasien tersebut ke ruang operasi yang sudah disiapkan. 

Owen dan team juga mempersiapkan diri mereka, dari berganti melepas almamater sampai membersihkan kedua tangan mereka. Karena di dalam ruang operasi semuanya harus steril. 

Owen mulai melakukan operasi tersebut, karena tadi  pasien sempat mengeluarkan darah cukup banyak. 

Owen mulai membedah perut pasien di bagian yang terkena tusukan. Lagi-lagi dugaannya benar saat dirinya menemukan penyebab darah pasien terus keluar. Mark dapat melihat ekspresi wajah Owen yang sedikit berubah. 

“Apa yang terjadi Dr. Owen?” tanya Mark, yang selalu membantu Owen saat menangani operasi. Karena Mark adalah dokter anestesi. 

“Cabang arteri limpa terpotong. Itulah sebabnya darah terus keluar,” jawab Owen. 

“Dokter Kresya, bantu aku untuk mengikatnya. Agar darahnya tidak terus keluar,” 

“Baik, Dokter.” 

Mereka pun bekerja sama dan bekerja keras dalam menangani pasien. Bagi Owen, dia akan selalu memastikan bahwa tidak ada kematian yang tidak masuk akal  terjadi kembali di rumah sakit itu. 

Owen dan semuanya yang berpartisipasi dalam operasi hari ini dapat bernafas lega. Sebab operasi kali ini berjalan lancar. 

“Terima kasih atas kerja keras kalian semua,” ujar Owen, sambil sedikit membungkukkan tubuhnya. 

“Dengan senang hati, dokter.” Semuanya menjawab sambil tersenyum pada Owen. 

Setelah operasi, pasien segera dipindahkan ke Ruang Pemulihan (Recovery Room) atau ke Unit Perawatan Pasca-Anestesi (PACU) untuk pemantauan ketat efek anestesi dan tanda vital. Kemudian jika kondisi pasien sudah stabil,  maka dia akan dipindahkan ke Ruang Perawatan (Rawat Inap). 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!