NovelToon NovelToon
Wanita Mantan Narapidana

Wanita Mantan Narapidana

Status: tamat
Genre:Single Mom / Janda / Selingkuh / Bad Boy / Chicklit / Tamat
Popularitas:30.8k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Lembayung Senja, namanya begitu indah, namun, tak seindah nasib hidupnya.

Pernikahannya bahagia, tapi rusak setelah seorang wanita hadir diantara dirinya dan sang suami.

Fitnah yang kejam menghampirinya, hingga ia harus berakhir di penjara dengan tuduhan membunuh suaminya sendiri pada malam pertengkaran terakhir mereka.

Kelahiran bayi yang seharusnya menjadi hadiah pernikahannya bersama Restu Singgih suaminya, justru harus di warnai tangis nestapa, karena Lembayung melahirkan bayinya di balik jeruji penjara. Dua puluh tahun berlalu, Lembayung mendekam di penjara atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.

Setelah bebas, Albiru justru berkata bahwa ia malu memiliki Ibu seorang mantan narapidana.

Akankah Lembayung menemukan kembali kabahagiannya setelah sekian lama menanggung derita tanpa berbuat dosa? Bagaimana Lembayung memperbaiki hubungan dengan Biru yang kini telah sukses? Pembalasan apa yang akan Lembayung lakukan pada orang-orang yang telah mengkhianatinya dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Minta Izin memberikan Bantuan

#22

“Terima kasih, Bu.” 

Gunawan dan Ibu Kepala lapas bersalaman, tanda serah terima jenazah yang kemudian akan diserahkan pada keluarga Risma. 

“Sama-sama, Pak Gunawan.” 

Gunawan tersenyum tipis, agak misterius, terutama karena ia harus berpura-pura diam demi sejumlah rupiah. 

Pria itu berbalik, melangkah keluar menuju mobilnya sendiri. Guna mengawal ambulance yang akan membawa Risma ke kampung halaman wanita itu. 

Namun belum sempat ia tiba di mobilnya, sebuah mobil mewah memasuki ruang parkir lapas. Sejenak Gunawan terdiam manakala melihat siluet wajah mantan istrinya, Giana. 

Maka Gunawan pun berhenti sejenak, demi memastikan penglihatannya tak salah. Dan beberapa saat kemudian, Giana keluar dari kursi kemudi, karena hari ini ia sendirian tanpa asisten maupun Mahar, asisten sang Ayah sekaligus sopirnya. 

Giana cukup terkejut melihat mantan suaminya berada di lapas, ya memang bukan hal aneh mengingat apa pekerjaan pria itu. Namun, Giana bersikap acuh, terlalu malas menyapa mantan suaminya. 

“Apa kabar, Gi?” 

“Baik.” Giana terus melangkah, tak peduli pada Gunawan yang tersihir dengan perubahan tampilan modis Giana saat ini. 

Memang dulu pun Gunawan sudah paham apa pekerjaan mantan istrinya, tapi kini setelah melihat perubahan drastis Giana, tak dapat disangkal membuat hatinya bergejolak. Apalagi yang di rumah tak lagi menggoda dan menggairahkan seperti dulu. 

“Gi, kau tak menanyakan kabarku?”

“Tak ada guna, aku tanya kabar kau. Pasti sudah semakin tua, kan?” ejek Giana sinis. Kemudian melangkah masuk guna melanjutkan kegiatan mengajarnya hari ini. 

Gunawan pun pasrah saja membiarkan Giana pergi dari hadapannya, namun tak bisa disangkal hatinya berkata. 

“Kau semakin cantik, Gi.” 

Pujian yang terlambat, dan tak berguna, apalagi setelah pengkhianatannya. Dengan langkah tanpa suara, Gunawan berbalik pergi meninggalkan lapas. 

Sementara itu, Giana telah tiba di ruangan kelasnya, di sana pula telah menunggu para wanita yang mengikuti kelas desain pakaian yang diisi olehnya. Giana menatap seluruh murid-muridnya, namun, ia tak melihat keberadaan Ayu yang biasanya berada di barisan depan. Dengan wajahnya yang penuh antusias. 

Tapi kelas harus terus berjalan, dengan ada atau tiada keberadaan Ayu di sana. Jadi Giana pun secara profesional segera memulai pelajaran hari ini, agar ia bisa menyelesaikan semua jadwal pembelajaran secara tepat waktu. 

Rupanya hingga kelas berakhir, Ayu tak jua muncul, membuat Giana heran dan bertanya-tanya. 

“Kemana Ayu?” tanya Giana pada para peserta yang hadir kali ini. 

“Oh, iya, kemana Ayu?” Alih-alih menjawab, mereka justru bertanya-tanya, karena semula Ayu biasa-biasa saja. 

“Apa jangan-jangan, Ayu terlampau sedih dengan tragedi yang menimpa Risma?” 

Yang lain mulai berspekulasi, karena sebagian dari mereka tahu, bagaimana Ayu dahulu. 

Setelah semua peserta pelatihan pergi, Giana berkeliling, siapa tahu melihat Ayu. Tak lupa wanita itu bertanya pada beberapa orang yang ia temui. 

Hingga Giana melihat Ayu justru sedang sibuk di kebun yang berada di dalam lapas, wanita itu terlihat cekatan mencampur tanah dengan pupuk kompos. Giana pun mendekat hendak bertanya ada apa gerangan dengan Ayu yang tiba-tiba bolos. 

Sementara itu, Ayu tengah sibuk dengan aktivitasnya, sekaligus sibuk bergulat dengan pemikirannya sendiri. Hingga wanita itu tak sadar dengan kehadiran Giana. 

“Ehm!” 

Ayu segera mendongak, dan cukup terkejut melihat keberadaan Giana. Namun, Ayu berusaha tersenyum walau canggung. 

“Eh, Bu Giana.” 

“Kau baik-baik saja?” tanya Giana secara langsung. 

Ayu menghentikan pergerakan tangannya, kemudian meletakkan sekop mini yang ia pergunakan untuk mengaduk tanah dan pupuk kompos. “Bohong rasanya, bila saya menjawab saya baik-baik saja.” 

Giana paham, wanita itu pun mencari tempat untuk duduk agar bisa  berbincang dengan nyaman. 

“Saya sedang mencoba membesarkan hati, Bu.” Ayu mulai bicara, kemudian mendudukkan dirinya tepat di sisi Giana. 

“Adakah yang bisa membuat wanita hebat sepertimu berkecil hati?” Giana sedikit memuji Ayu, hingga wanita itu tersenyum pahit. 

“Saya mulai bisa menerima keberadaan saya disini, Bu. Tapi kemarin, hati saya serasa dicabik kenyataan. Bahwa ada yang bernasib lebih Tragis dari saya,” ujar Ayu mulai berkisah. 

Ayu menarik nafas berat, sejenak ingin melepaskan beban hatinya. “Apakah nasib orang yang tidak mampu harus sedemikian tragis? Kami dituduh, kemudian ditumbalkan untuk kesalahan yang tak pernah kami lakukan.” 

Kedua mata Ayu berkaca-kaca, namun, air mata itu tak sampai meleleh. Mencoba menguatkan hati agar tekadnya pun sekuat baja. Namun hati baja yang mulai terbentuk itu, seolah kembali rapuh setelah dihantam kenyataan pahit. 

Giana menepuk perlahan pundak Ayu, “Napi yang ditemukan meninggal pagi tadi, bercerita padaku, mengaku bahwasannya dirinya tak bersalah. Tapi, karena dirinya hanya dipandang sebagai orang rendahan, maka akhirnya ia di tumbalkan. Bukankah mirip dengan saya?” 

“Tapi, apa Ibu tahu hal yang paling membuat saya marah?”

“Apa?” tanya Giana penasaran. 

Srek! 

Srek! 

Suara gesekan antara alas kaki yang Ayu pakai dengan tanah berpasir. Ayu menolehkan wajahnya ke arah Giana. “Pengacaranya.”

Giana tak terkejut, karena sudah lama ia mengetahuinya. Namun, masih ada yang membuatnya penasaran. “Ada apa dengan pengacaranya?” Giana menanti jawaban Ayu. 

“Dia pengacara yang sama dengan pengacara saya pada saat itu. Pria yang hanya diam seribu bahasa ketika vonis seumur hidup dijatuhkan pada saya. Padahal— seharusnya dia bersikap selayaknya seorang pengacara yang membela hak-hak kliennya. Untuk itulah negara membayar dirinya menjadi pengacara publik.”

Wajah Ayu berubah merah menyala seperti tomat segar, otot-otot wajahnya mengeras pertanda emosinya sedang memuncak. 

Dalam hatinya, Giana pun memendam amarah, pria yang dahulu begitu tulus dan jujur, nyatanya dengan mudah terpedaya dengan rayuan dunia. Apalagi ditambah lekukan tubuh wanita. 

“Sejujurnya, saya pun rasanya ingin mengakhiri hidup pada saat itu, tapi saya masih memiliki anak saya sebagai penyemangat hidup, dan juga harapan menjadi wanita yang lebih tegar dan kuat dari sebelumnya.” 

“Bagus, lakukan saja, Bu. Kau harus kuat dan terus bertambah kuat, agar putramu bangga memiliki ibu sepertimu.” Giana memberikan suntikan semangat. 

Tangis Ayu mulai reda beberapa saat kemudian, wanita itu mengusap kasar air matanya. “Bu, kenapa ibu tenang sekali, seolah-olah Ibu sudah mengetahui semuanya?” 

“Karena aku memang sudah tahu sejak lama. Tentang kau, dan tentang pengacara durjana yang sedang kau bicarakan.” 

Kini berganti Giana yang tersenyum pahit. “Pengacara itu, adalah mantan suamiku, Bu.” 

Deg! 

“Bu Giana—” Ayu tak mampu melanjutkan kalimatnya. 

“Maafkan aku, Bu Ayu. Karena—”

“Kenapa Bu Giana yang minta maaf, Anda tak salah apa-apa, Bu—” 

Giana memegang kedua sisi lengan Ayu, “Aku, ingin memberimu bantuan. Tolong izinkan aku,” mohon Giana yang membuat Ayu merasa heran. 

“B-bantuan, bantuan apa, Bu?” 

Raut wajah Ayu semakin dibuat heran akibat ucapan Giana yang ambigu. 

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sekarang baru terasa ya😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
memudar
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Pantes aja desainnya hasil curian semua karena emang otaknya ga mampu😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Didikan yg salah 😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
setuju 👍🏻
Eva Karmita
ayu kamu harus kuat 😭😭😭😭
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
bagusss
Rahmawati
oke, lanjutttt
Endang Sulistia
Alhamdulillah ya yu...
Bun cie
karya yg bagus👍 cerita ttg ketidakadilan perselingkuhan fitnah dan kasih sayang ibu anak yg dikemas dengan baik.
trims kak thor
Er Ri
tetap lanjut dooonkk😄
Aditya hp/ bunda Lia
disini kekuasaan dan uang mengalahkan segalanya
R⁵
astaghfirullah othor bikin jantungan.. tau2 end wae😓
Patrick Khan
q kira tamat beneran..😁😁ternyata ada lanjutan nyok pindah tempat
DozkyCrazy
kaggettt 😁😁
Esther Lestari
dilanjut di judul yang lain....mampir ah
Siti Siti Saadah
baru di balas anak nya aja udah makjleb. gimana kalau ayu dah beraksi😄
Reni
huaaaaaa meluncur kak
Miranda mengutamakan cinta buta mungkinkah bakal cinta mati sama biru kita tunggu disebelah
Sh
ayoooo.. loyo makan apa ? atau dikasih koyo cabe biar the end sekalian😅😅
Nar Sih
ayu pasti jdi wanita hebat dgn bantuan juga arahan dri madam giana ,org yg sama,,terluka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!