Dilarang memplagiat karya!
"Pernikahan kontrak yang akan kita jalani mencakup batasan dan durasi. Nggak ada cinta, nggak ada tuntutan di luar kontrak yang nanti kita sepakati. Lo setuju, Aluna?"
"Ya. Aku setuju, Kak Ryu."
"Bersiaplah menjadi Nyonya Mahesa. Besok pagi, Lo siapin semua dokumen. Satu minggu lagi kita menikah."
Aluna merasa teramat hancur ketika mendapati pria yang dicinta berselingkuh dengan sahabatnya sendiri.
Tak hanya meninggalkan luka, pengkhianatan itu juga menjatuhkan harga diri Aluna di mata keluarga besarnya.
Tepat di puncak keterpurukannya, tawaran gila datang dari sosok yang disegani di kampus, Ryuga Mahesa--Sang Presiden Mahasiswa.
Ryuga menawarkan pernikahan mendadak--perjanjian kontrak dengan tujuan yang tidak diketahui pasti oleh Aluna.
Aluna yang terdesak untuk menyelamatkan harga diri serta kehormatan keluarganya, terpaksa menerima tawaran itu dan bersedia memainkan sandiwara cinta bersama Ryuga dengan menyandang gelar Istri Presiden Mahasiswa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 35 Kemenangan
Happy reading
Hari ini, Ryuga beserta seluruh anggota BEM berkumpul di depan tanah milik Kunto yang dikelilingi pagar ilegal berupa lembaran seng.
Aluna menyusul bersama Lingga dan Hani yang baru saja tiba di Desa Bantul. Mereka bersiap meliput perjuangan jajaran pengurus BEM Universitas Cakrawala dan orang-orang yang berempati pada Kunto, melawan keserakahan oknum mafia tanah--Durjana Anggajaya.
Tak berselang lama, Darma datang bersama Hafidz, Danu, dan ratusan warga.
Mereka tidak datang dengan tangan kosong, melainkan membawa kain katun berwarna putih--berukuran empat meter yang siap dibubuhi tanda tangan.
Kain itu bertuliskan petisi yang berisi tuntutan keadilan dan pengembalian tanah milik Kunto.
"Bapak, Ibu, tanah ini adalah tanah milik Mbah Kunto yang harus kita perjuangkan. Bukan milik oknum mafia yang serakah dan culas!" Darma berseru--menggunakan megafon. Suaranya terdengar lantang dan berapi-api. Mengobarkan semangat juang warga yang dipimpinnya.
Bersamaan dengan itu, Tara membagikan selebaran yang berisi fakta kasus. Sementara Nofiya dan Elisabeth memastikan barisan warga tetap rapat dan kondusif.
Seluruh warga membubuhkan tanda tangan--sebagai bentuk dukungan kepada Kunto sekaligus wujud penolakan praktik mafia tanah di Desa Bantul. Bahkan, para pemangku jabatan pun tidak mau ketinggalan.
Mereka berdiri di belakang Kunto--turut memperjuangkan hak yang diambil paksa oleh mafia tanah dengan cara culas dan menyalahi hukum.
Di sayap lain, Ryuga--Sang Ketua BEM berdiri paling depan sambil melipat kedua tangan di dada. Wajahnya terlihat datar. Namun sorot matanya tajam--tersirat ancaman.
Di sisi kirinya, Hafidz dari LBH Tentrem siap dengan dasar hukum yang matang. Namun, 'senjata' pamungkas ada di tangan Danu, pegawai BPN yang telah berjanji untuk turut memperjuangkan hak Kunto.
"Anda tidak mempunyai hak atas tanah ini, Pak Durjana! Jadi, segera robohkan pagar ilegal yang berdiri di tanah Mbah Kunto, atau kami yang merobohkan." Tenang, Ryuga mengucap kalimat itu. Namun tegas dan penuh penekanan.
Durjana tersenyum miring. Mengacungkan map tepat di hadapan Ryuga. "Saya punya sertifikat sah! Kalian ini cuma bocah-bocah kemarin sore yang berlagak sok jadi pahlawan."
"Sah menurut siapa? Kami dari LBH Tentrem sudah mengumpulkan bukti, bagaimana Anda memanfaatkan ketidakmampuan Mbah Kunto membaca dan menulis untuk menandatangani dokumen pengalihan hak. Itu bukan transaksi, tapi penipuan." Hafidz menyahut. Suaranya terdengar keras dan penuh emosi.
Ia teramat membenci manusia serakah seperti Durjana dan berkeinginan untuk segera menyeretnya ke penjara.
"Pak Durjana, BPN telah memverifikasi bahwa tanah ini adalah milik sah Mbah Kunto. Sertifikat yang Anda pegang itu sudah kami blokir secara administratif karena terbukti didapat dengan cara yang culas dan melanggar prosedur hukum. Secara hukum, kertas di tangan Anda itu tidak lebih dari sampah." Danu turut bersuara. Nada suaranya terdengar santai, tapi menghujam.
Aluna, Lingga, dan Hani dari Cakrawala Media sigap mengabadikan setiap momen. Lensa kamera Lingga terus membidik wajah Durjana yang mulai terlihat pucat. Sementara Aluna dan Hani mencatat poin-poin penting untuk berita utama mereka--esok pagi.
"Masuk ke frame, Lingga! Pastikan latar belakang pagar sengnya terlihat jelas," pinta Aluna--sedikit berbisik.
Mendapati dirinya tersudut oleh hukum dan disorot oleh media, nyali Durjana menciut. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipis.
Ingin membalas argumen, tapi suaranya tercekat. Tangannya mendadak meremas dada kiri. Napasnya memburu dan pendek-pendek.
"Kalian tidak bisa melawan sa --" Durjana tak kuasa melanjutkan kata yang ingin terucap. Tubuhnya terhuyung dan hampir limbung.
Beruntung, dua pria berbadan tegap yang sedari tadi berdiri di belakangnya--sigap menangkap.
Suasana berubah riuh. Ryuga dan Hafidz segera memberikan pertolongan pertama, sementara Danu bergegas menghubungi rumah sakit terdekat supaya mengirim mobil ambulans.
Meski Durjana dilarikan ke rumah sakit karena serangan jantung, hal itu tidak menghentikan langkah hukum yang sudah berjalan.
Mafia tanah harus tetap dijatuhi hukuman yang setimpal.
Disaat warga mulai membongkar pagar ilegal yang berdiri di tanah Kunto, Dimas--Sang Ketua Advokasi fokus menatap layar ponsel. Dengan satu klik yang telah dipersiapkan matang, ia merilis petisi online bertajuk #KawalKeadilanUntukMbahKunto
"Sudah tayang," ucap Dimas pada tim-nya.
Dalam hitungan menit, angka dukungan melonjak dari ratusan hingga ribuan. Netizen mulai membanjiri kolom komentar dan membagikan ulang bukti-bukti kecurangan yang dilakukan oleh Durjana yang diunggah Dimas.
Kasus mafia tanah di Desa Bantul Viral.
Tekanan bukan hanya datang dari warga desa, para mahasiswa, LBH, dan pegawai BPN yang berintegritas, tapi dari seluruh penjuru negeri yang mengawasi kasus ini secara real-time.
Setelah mobil ambulans yang membawa Durjana menjauh pergi, Danu menyerahkan map hijau berisi dokumen resmi kepada Hafidz sebagai kuasa pendamping.
Kunto, yang sejak tadi duduk gemetar di bawah pohon kelapa, dipapah oleh Tara dan Nofiya--berjalan pelan mendekati tanahnya.
Ryuga menghampiri, lalu berlutut di hadapan Kunto. Memperlihatkan sebaris senyum--tulus.
"Mbah, tanah ini sudah kembali. Pak Durjana tidak bisa lagi mengganggu. Sertifikatnya sudah diblokir dan status kepemilikan Mbah sudah aman di sistem negara," tutur Ryuga--tanpa memudar senyum.
Kunto terdiam. Atensinya terkunci pada hamparan tanah yang selama ini menjadi sumber keresahan.
Sepasang matanya mengembun. Kerutan di wajahnya yang renta tampak bergetar.
Tanpa aba-aba, Kunto melepas pegangan tangan Tara dan Nofiya. Lantas duduk bersimpuh di atas tanah berdebu.
Di hadapan semua orang, di depan kamera Cakrawala Media yang masih merekam, dan di bawah naungan langit senja--Kunto bersujud. Wajahnya menempel di tanah yang hampir saja hilang--diambil paksa oleh Durjana.
Hening
Senyap
Semua bibir terkatup.
Biarkan semesta menyuarakan pujian, memperdengarkan suara lembut Sang Bayu.
"Gusti Allah mboten sare. Keadilan ngadeg, ngalahake angkara. Matur nuwun, Gusti. Matur nuwun --" Bibir Kunto bergetar. Air matanya luruh--membasahi tanah kelahiran.
Aluna tak kuasa menahan butiran kristal bening yang jatuh membasahi pipi. Namun buru-buru diseka dengan jemari tangan.
Meski haru mendekap erat, Lingga tetap mengabadikan momen itu. Mencipta foto yang nantinya akan menjadi simbol kemenangan rakyat kecil melawan mafia tanah.
Hafidz berjalan--mendekati Kunto, kemudian membantunya berdiri.
"Mbah, setelah ini kita ke kantor LBH untuk merapikan berkas laporan kepolisian. Meskipun Durjana di rumah sakit, laporan penipuan yang dilakukannya tetap masuk ke penyidikan."
Kunto mengangguk lemah--mengindahkan ucapan Hafidz.
Sedikit lega.
Itu yang dirasakannya saat ini.
Beban yang beberapa purnama menghimpit dada sekaligus menghantam pundak, kini seolah terangkat bersama robohnya pagar-pagar seng ilegal yang dibongkar oleh warga dan para mahasiswa.
Warna jingga memudar seiring lantunan kalam cinta yang mulai terdengar. Memandu insan untuk segera memenuhi panggilan Sang Maha Rahman. Bersujud, bersyukur, dan memuji keagungan.
La tahzan innallaha ma ashobirin.
Jangan bersedih, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
🍁🍁🍁
Bersambung
Yang setitik itu terkadang yg sangat frontal
spil tipis² Bu..🤭
kalau saja ada pegawai desaku yg ikut baca..🤭🤭