Rania menjalani kehidupan yang monoton. Penghianatan keluarga, kekasih dan sahabatnya. Hingga suatu malam, ia bertemu seorang pria misterius yang menawarkan sesuatu yang menurutnya sangat tidak masuk akal. "Kesempatan untuk melihat masa depan."
Dalam perjalanan menembus waktu itu, Rania menjalani kehidupan yang selalu ia dambakan. Dirinya di masa depan adalah seorang wanita yang sukses, memiliki jabatan dan kekayaan, tapi hidupnya kesepian. Ia berhasil, tapi kehilangan semua yang pernah ia cintai. Di sana ia mulai memahami harga dari setiap pilihan yang dulu ia buat.
Namun ketika waktunya hampir habis, pria itu memberinya dua pilihan: tetap tinggal di masa depan dan melupakan semuanya, atau kembali ke masa lalu untuk memperbaiki apa yang telah ia hancurkan, meski itu berarti mengubah takdir orang-orang yang ia cintai.
Manakah yang akan di pilih oleh Rania?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunFlower, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#34
Happy Reading..
.
.
.
Setelah seluruh administrasi selesai dibayarkan, Rania tidak menunggu lebih lama. Ia segera meninggalkan area rumah sakit dengan langkah cepat, seolah jika ia berlama-lama di sana, hatinya akan kembali goyah. Sebelum benar-benar pergi, ia sempat meminta pihak rumah sakit untuk memindahkan Alisa ke ruangan VVIP. Permintaannya diterima tanpa banyak pertanyaan. Rania juga meninggalkan nomor ponselnya kepada petugas administrasi, dengan pesan singkat namun tegas agar pihak rumah sakit segera menghubunginya jika sewaktu-waktu dibutuhkan tambahan biaya.
“Semua biaya bisa langsung dikonfirmasikan ke saya.” ucap Rania saat itu, berusaha terdengar setenang mungkin.
Petugas rumah sakit hanya mengangguk hormat. “Baik, Bu. Terima kasih.”
Begitu berada di dalam mobil, Rania menghembuskan napas panjang. Tangannya masih sedikit gemetar saat ia menyalakan mesin. Namun, di balik kelelahan dan kekacauan emosinya, ada sesuatu yang perlahan muncul.. kelegaan. Cukup untuk membuat dadanya tidak lagi sesesak tadi.
Sepanjang perjalanan, Rania membiarkan pikirannya mengembara. Semarah dan sekecewa apa pun dirinya kepada Melisa dan Alisa, nyatanya ia tidak mampu sepenuhnya menutup mata. Ia telah mencoba membangun tembok setinggi mungkin, tetapi satu kabar tentang kondisi adiknya saja sudah cukup untuk meruntuhkan sebagian besar pertahanannya.
“Aku benar-benar lemah.” gumam Rania lirih pada dirinya sendiri. Bibirnya membentuk senyum pahit. “Atau mungkin aku hanya masih seorang manusia.”
Namun, di tengah kelegaan itu, ada sesuatu yang terus mengganjal di hatinya. Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan, membuat kepalanya terasa penuh. Rania mengerutkan kening, jemarinya mencengkeram kemudi sedikit lebih erat.
“Kenapa mereka ada di Bandung?” batinnya. “Kenapa tidak tinggal di rumah?”
Setahunya, rumah lama mereka masih ada. Meski penuh kenangan pahit, rumah itu tetaplah tempat yang seharusnya menjadi tujuan terakhir jika hidup sedang terpuruk. Lalu mengapa Melisa dan Alisa justru berada jauh dari sana, bahkan harus dirawat di rumah sakit dengan kondisi yang begitu memprihatinkan?
Pertanyaan itu belum sempat terjawab, muncul lagi satu hal yang membuat dadanya kembali sesak.
“Dan Jordi..” Rania mendecakkan lidahnya pelan. “Kenapa dia ada di tengah-tengah semua ini?”
Keberadaan Jordi terasa janggal. Ia bukan bagian dari keluarganya, bukan pula orang yang seharusnya tahu sedalam itu tentang kondisi mereka. Lalu apa hubungan sebenarnya antara Jordi dengan Melisa dan Alisa selama ini? Kenapa justru Jordi yang menjadi perantara, yang meminta dan yang memohon kepadanya?
Rania menatap jalanan di depannya tanpa benar-benar melihat. “Apa yang sebenarnya terjadi selama hampir lima tahun ini?” tanyanya dalam hati.
Mobil terus melaju, membawa Rania menjauh dari rumah sakit, namun tidak dari kegelisahan di kepalanya. Ia sadar, keputusannya hari ini mungkin bukan akhir dari segalanya. Justru bisa jadi, ini adalah awal dari sesuatu yang lebih rumit.. Sesuatu yang cepat atau lambat akan memaksanya kembali berhadapan dengan masa lalu yang selama ini ia coba kubur dalam-dalam.
Rania kembali menghela napas. Untuk saat ini, ia memilih fokus pada satu hal yang pasti. Alisa akan mendapatkan perawatan terbaik.
.
.
.
Setelah kepergian Rania dari rumah sakit, suasana di lantai rawat inap kembali dipenuhi kesibukan. Dokter dan para perawat segera mengatur jadwal operasi untuk Alisa. Berkas-berkas medis diperiksa ulang, hasil pemeriksaan sebelumnya di observasi kembali.
Beberapa jam kemudian, seorang perawat mendatangi ruangan rawat tempat Alisa berada. Pintu ruangan dibuka perlahan, disertai senyum ramah yang tidak biasa. Melisa yang sedang duduk di sisi ranjang putrinya langsung berdiri, sementara Alisa menatap perawat itu dengan raut bertanya.
“Selamat siang, Bu..” sapa perawat tersebut dengan suara lembut. “Kami ingin menyampaikan informasi terkait perawatan selanjutnya.”
“Ada apa, Suster?” tanya Melisa dengan nada cemas.
Perawat itu membuka map di tangannya. “Pasien atas nama Alisa akan segera dipindahkan ke ruangan VVIP hari ini. Selain itu, operasi pada ginjal dan sumsum tulang belakang sudah dijadwalkan dua hari lagi.”
Ucapan itu seketika membuat Melisa dan Alisa saling menatap dengan mata membulat. Alisa bahkan sempat mengangkat tubuhnya sedikit, seolah ingin memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
“VVIP?” ulang Alisa lirih. “Operasi.. dua hari lagi?”
Melisa menelan ludahnya dengan susah payah. “Suster.. apa ini tidak salah?” tanyanya ragu. “Kami belum membayar biaya apa pun. Bahkan.. kami belum sanggup hanya untuk membayar separuhnya dari biaya operasi..”
Perawat itu tersenyum tipis, namun kali ini senyum itu terasa lebih berhati-hati. “Untuk masalah administrasi, semuanya sudah diselesaikan, Bu. Ibu tidak perlu mengkhawatirkannya.”
“Siapa?” tanya Melisa cepat, suaranya sedikit meninggi. “Siapa yang membayarnya?”
Perawat itu terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan. “Maaf, Bu. Kami tidak bisa memberikan informasi tersebut. Pihak yang bersangkutan secara khusus meminta agar identitasnya dirahasiakan.”
Jawaban itu justru membuat dada Melisa semakin sesak. Namun sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, perawat itu pamit untuk mengurus proses pemindahan ruangan. Pintu kembali tertutup, meninggalkan keheningan yang terasa berat di antara ibu dan anak itu.
Beberapa detik berlalu tanpa sepatah kata pun. Alisa menatap langit-langit kamar, sementara Melisa kembali duduk dengan tubuh yang terasa lemas. Akhirnya, Melisa memecah keheningan itu.
“Jangan-jangan.. Jordi.” ucap Melisa pelan.
Alisa langsung menoleh cepat. “Tidak mungkin, Ma.” bantahnya tegas. “Jordi tidak akan melakukan itu tanpa ada imbalan..”
Melisa mengerutkan kening. “Maksudmu?”
Alisa menatap ibunya dengan tatapan sendu. “Mama sendiri tahu. Selama ini, setiap kali dia membantu, selalu ada imbalannya. Tidak pernah benar-benar gratis.”
Melisa terdiam. Ucapan Alisa memang ada benarnya. Jordi bukan tipe orang yang menolong tanpa pamrih. Namun jika bukan Jordi, lalu siapa?
Alisa menghela napas panjang, lalu menatap ibunya dengan ragu. “Ma.. apa mungkin.. Kak Rania?”
Nama itu meluncur begitu saja dari bibir Alisa, namun cukup untuk membuat Melisa membeku. Wajah wanita paruh baya itu langsung memucat. Ia menggeleng cepat, seolah menolak kemungkinan itu.
“Tidak.” bantah Melisa lirih namun pasti. “Tidak mungkin Rania.”
“Kenapa Mama begitu yakin?” tanya Alisa hati-hati.
Melisa menundukkan kepalanya. “Mama masih ingat tatapan itu....” Ucapnya dengan suara bergetar. “Rania masih sangat marah. Tatapannya dingin. Kata-katanya.. menyakitkan.” Melisa menelan ludahnya, mencoba menahan rasa perih yang kembali menyeruak. “Mama bisa merasakan, dia masih sangat membenci kita.”
Alisa menggigit bibirnya. “Tapi.. kalau bukan Kak Rania, lalu siapa lagi, Ma?”
Pertanyaan itu menggantung di udara, tak terjawab. Melisa hanya menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca. Di dalam hatinya, ada secercah harapan yang sebenarnya ingin ia pegang erat, harapan bahwa Rania, anak yang selama ini ia lukai, masih memiliki kepedulian. Namun di saat yang sama, rasa bersalah dan ketakutan membuatnya menolak untuk berharap terlalu jauh.
“Siapa pun itu...” ucap Melisa akhirnya lirih. “Mama hanya ingin kamu sembuh.”
.
.
.
Jangan Lupa LIKE dan komen...
raka itu siapa
gaaaas pol
beneran baru nemu yg alur'a spt ini
lanjutkaaan
susah nyari yg begini
💪💪💪rania
ish... kasian, hidup segan mati tk mau💪